KINERJA PERBANKAN SyARIAh MASIh CUKUP BAIK NAMUN RISIKO PEMBIAyAAN MASIh CUKUP TINGGI
4.1. ASESMEN KONDISI DAN RISIKO SEKTOR PERBANKAN
4.1.2. Asesmen Kondisi dan Risiko Intermediasi
Intermediasi perbankan pada semester II 2017 mengalami perbaikan walau masih terbatas. Hal tersebut ditandai oleh pertumbuhan kredit yang membaik, walaupun pertumbuhan DPK masih mengalami perlambatan. Hal ini menyebabkan
Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan mengalami kenaikan. Membaiknya pertumbuhan kredit pada semester II 2017 secara sektoral ditopang oleh kredit di sektor lain-lain terutama Kredit Rumah Tangga Keperluan Multiguna dan Kredit Rumah Tangga Pemilikan Rumah Tinggal tipe 22 – 70. Meningkatnya permintaan pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah juga turut mengurangi dampak lemahnya permintaan kredit baru dari korporasi. Sebagian besar proses konsolidasi perbankan telah selesai, seiring penurunan NPL bank.
Rasio Al/NCD (%)
2015 2016 2017
jun Des jun Des jun Des BuKu 1 90,12 100,51 120,99 112,80 127,14 119,72 BuKu 2 86,10 88,69 100,19 108,49 121,40 124,99 BuKu 3 102,93 103,44 107,08 115,54 114,09 118,32 BuKu 4 88,11 88,89 90,94 94,45 89,31 88,88 INDuSTRI 92,50 93,44 97,40 102,57 101,26 102,05
Penambahan Al per Semester (Rp T)
2015 2016 2017
jun Des jun Des jun Des BuKu 1 1,29 (1,20) 4,08 (2,66) 5,69 (3,60) BuKu 2 9,68 (7,61) 27,91 2.55 40,00 (1,64) BuKu 3 27,88 5,59 19,93 41,42 0,09 31,12 BuKu 4 (62,88) 40,28 21,13 72,87 (23,56) 45,19 INDuSTRI (24,04) 37,06 73,05 114,19 22,21 71,06
Sumber: Bank Indonesia
*) Penggolongan Bank menggunakan BuKu OjK per Nov 2017
Sumber: Bank Indonesia
*) Penggolongan Bank menggunakan BuKu OjK per Nov 2017
Grafik 4.3. Pertumbuhan Likuiditas Perekonomian dan Rasio likuiditas Perbankan
25 102,05% 12,38% 8,60% 140 20 120 15 100 10 80 5 60 40 20 0 0%
Mar Mar Mar Mar Mar Mar 2012 2013 2014 2015 2016 2017
jun Sep Des jun Sep Des jun Sep Des jun Sep Des jun Sep Des jun Sep Des
M2 (%yoy) M1 (%yoy) Al/NCD (%) - (Skala kanan)
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 4.4. Net Ekspansi Pemerintah
250 Rp Triliun, Ytd % yoy % 135 194 157 171 130 200 150 100 50 -50 0
jan Feb Mar Apr Mei jun jul Agt Sep Okt Nov Des
2013 2014 2015 2016 2017
B ANK INDON e SI A K A jIAN S TABI lIT AS Keu AN g AN No. 30, Mar et 2018
Perbaikan pertumbuhan kredit juga terkonfirmasi dengan penurunan indeks lending standard2 pada semester II 2017 yang lebih rendah dibandingkan semester I 2017. Pelonggaran terutama pada aspek suku bunga kredit yang lebih rendah, jangka waktu kredit yang lebih panjang, dan biaya persetujuan kredit yang lebih murah.
perkembangan Dana pihak Ketiga (DpK)
Pada semester II 2017, pertumbuhan DPK industri perbankan melambat menjadi 9,35% (yoy), dari sebelumnya 10,30% (yoy) pada semester I 2017.
Melambatnya pertumbuhan DPK salah satunya disebabkan oleh kontribusi base effect akibat masuknya dana tebusan dan repatriasi program
tax amnesty hingga akhir Maret 2017.
Berdasarkan valuta, terdapat peningkatan pertumbuhan DPK rupiah menjadi 10,99% (yoy) dari sebelumnya sebesar 10,48% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan DPK valas tercatat mengalami penurunan dari 9,26% (yoy) di semester I menjadi 0,38% (yoy) di semester II 2017.
2 Lending Standard adalah kebijakan yang ditetapkan sebagai pedoman umum pemberian kredit kepada calon debitur dalam suatu institusi keuangan. Lending standard dapat berbeda antar satu institusi keuangan dengan institusi keuangan lainnya dan antar wilayah. Indeks lending standard mengukur pelonggaran atau pengetatan pedoman dalam pemberian pinjaman kepada debitur secara industri perbankan.
Grafik 4.5. Pertumbuhan DPK (yoy) dan Kredit (yoy)
15 % yoy 10 10,30% 9,35% 7,75% 8,24% 5 0
Sem I 2016 Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017 DPK Kredit
Sumber : Otoritas Jasa Keuangan, diolah
Tabel 4.3. Perkembangan lDR per Kelompok BuKu
Keterangan Sem I 2016 Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017 BuKu 1 Kredit (Rp T) 47,02 48,33 51,13 54,22 DPK (Rp T) 58,46 52,94 67,85 61,24 lDR (%) 80,43 91,30 75,36 88,55 BuKu 2 Kredit (Rp T) 577,80 595,45 613,74 641,14 DPK (Rp T) 656,39 631,10 731,76 721,05 lDR (%) 88,03 94,35 83,87 88,92 BuKu 3 Kredit (Rp T) 1.522,39 1.556,40 1.578,00 1,643,56 DPK (Rp T) 1.538,62 1.618,04 1.646,22 1.715,92 lDR (%) 98,95 96,19 95,86 95,78 BuKu 4 Kredit (Rp T) 2.021,09 2.177,01 2.248,51 2.399,04 DPK (Rp T) 2.321,20 2.534,68 2.599,83 2.791,01 lDR (%) 87,07 85,89 86,49 85,96 Industri Kredit (Rp T) 4.168,31 4.377,19 4.491,37 4.737,37 DPK (Rp T) 4.574,67 4.836,76 5.045,65 5.289,21 lDR (%) 91,12 90,50 89,01 89,58
*) Penggolongan Bank menggunakan BuKu OjK per Nov 2017
Sumber : Otoritas Jasa Keuangan, diolah
Grafik 4.6. Perkembangan Lending Standard
25 30 35 20 15 10 5 -5 -10 -15 0 Kredit Investasi lebih Ketat Tidak Berubah lebih
longgar Kredit Modal
Kerja KonsumsiKredit Total Survei Tw-IV 2017 ekspektasi Tw-I 2018 Survei Tw-III 2017
Survei Tw-II 2017
Struktur DPK perbankan masih didominasi oleh DPK dengan jangka waktu pendek. Hal tersebut menyebabkan risiko mismatch terhadap pembiayaan perbankan yang sebagian besar berjangka panjang. Selain itu, ketergantungan perbankan pada deposan inti dan sumber dana mahal masih cukup besar. Ketergantungan terhadap dana mahal relatif stabil meski perbankan terus berusaha untuk menambah sumber pendanaan dan mengalihkannya ke CASA3. Hal ini dapat menjadi sumber kerentanan dan risiko perbankan terutama bank kecil yang harus berkompetisi untuk memperoleh pendanaan dengan harga yang lebih mahal dibanding bank besar. Namun, tentunya terdapat trade off antara berkurangnya maturity
mismatch dengan peningkatan biaya bunga terkait dengan upaya bank untuk memperpanjang jangka waktu sumber pendanaannya.
Perlambatan DPK secara nominal pada semester II 2017 terjadi di seluruh kelompok BUKU bank kecuali pada kelompok BUKU 2. Bank BUKU 4 mengalami perlambatan pertumbuhan DPK dari 12,11% pada Semester I 2017 menjadi 10,11%. Hal ini disebabkan faktor base effect dimana kelompok Bank BUKU 4 merupakan bank penerima dana tax amnesty. Bank BUKU 2 mengalami pertumbuhan DPK sebesar 14,28% (yoy) lebih tinggi dibandingkan semester I 2017 yang tercatat sebesar 11,48% (yoy). Hal ini diperkirakan karena besarnya dana pemerintah daerah yang mengendap di BPD akibat realisasi anggaran yang tidak maksimal hingga akhir tahun.
Berdasarkan pangsa, tabungan mengalami peningkatan sementara giro dan deposito mengalami penurunan. Pangsa tabungan pada Pertumbuhan DPK (yoy) 30 20 10 10,99% 9,35% 0,38% 0 -20 -10
Pertumbuhan DPK Rupiah (yoy) Pertumbuhan DPK Valas (yoy)
Sumber : Bank Indonesia
2015 2016 2017
Sem II Sem I Sem II Sem I Sem II 90 100 60 80 50 70 20 30 40 0 10 75,6% 24,4% 26,6% 73,4% 24,3% 75,7% 26,5% 24,6% 73,5% 75,4%
Non Deposan Inti Deposan Inti
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank IndonesiaSumber : Bank Indonesia
Tabel 4.4. Pertumbuhan DPK per BuKu (%, yoy)
BuKu Sem I 2016 Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017 Semester II 2017 (%)Pangsa Pasar Posisi BuKu 1 (1,42) 3,75 16,05 15,68 1,16 BuKu 2 2,58 6,99 11,48 14,25 13,63 BuKu 3 2,52 6,96 6,99 6,05 32,44 BuKu 4 9,50 12,18 12,00 10,11 52,77 Industri 5,90 9,60 10,30 9,35 100,00
Tabel 4.5. Penerimaan Dana Tax Amnesty per BuKu
BuKu
s/d Desember 2016 s/d Maret 2017 Dana Tax Amnesty (Rp M) Dana Tax Amnesty (Rp M) Tebusan Repatriasi Total Tebusan Repatriasi Total
BuKu 1 - - - - -
-BuKu 2 4,521 7,985 12,506 4,556 8,030 12,586 BuKu 3 22,675 40,321 62,996 22,867 44,909 67,776 BuKu 4 68,154 50,181 118,335 69,340 62,022 131,362 Industri 95,350 98,487 193,837 96,762 114,962 211,724
*) Penggolongan Bank menggunakan BUKU OJK per Nov 2017
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, diolah Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, diolah
3 CASA adalah current account – saving account (giro dan tabungan).
Agt Sep Okt Nov Des jan Feb Mar April Mei OktNov jan Feb Mar April Mei OktNov jan Feb Mar April Mei OktNov jan Feb Mar April Mei OktNov Sem I
2014 2015 2016 2017
Sem I Sem I Sem I
Sem II Sem II Sem II Sem II jun julAgt Sep Des jun jul Agt Sep Des jun julAgt Sep Des jun julAgt Sep Des
B ANK INDON e SI A K A jIAN S TABI lIT AS Keu AN g AN No. 30, Mar et 2018
semester II 2017 sebesar 32,16% dari total DPK, meningkat dibanding semester I 2017 yang sebesar 30,81%. Penurunan pangsa deposito terjadi baik pada deposito >Rp2 miliar maupun deposito ≤ Rp2 miliar. Penurunan pangsa deposito merupakan hasil dari upaya bank untuk mengurangi ketergantungannya pada sumber dana mahal.
Berdasarkan golongan pemilik dana, perlambatan DPK didorong oleh melambatnya pertumbuhan DPK di sektor swasta perorangan dibandingkan
semester sebelumnya. Hal ini disebabkan kontribusi base effect akibat masuknya dana tebusan dan repatriasi program tax amnesty hingga akhir Maret 2017.
Secara spasial, penurunan pertumbuhan DPK terjadi di wilayah Jawa, Sumatera, Bali & Nusa Tenggara. Di semester II 2017, penghimpunan DPK masih terpusat di Pulau Jawa sebesar 78,08% dari total DPK. Hal itu sejalan dengan kegiatan bisnis dan perputaran uang yang berpusat di Jawa, khususnya di DKI Jakarta.
Grafik 4.10. Pangsa Komposisi DPK Perbankan
Deposito<=2M Deposito>2M Tabungan giro Sem I 23,44% 31,02% 15,16% 30,38% 23,24% 32,08% 14,42% 30,25% 23,64% 30,81% 14,10% 31,45% 23,32% 32,16% 13,85% 30,66% Sem I 2016 2017 Sem II Sem II
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 4.11. Perkembangan DPK Berdasarkan Golongan Pemilik
150 -150 200 250 Rp T 100 -100 50 -50 0 Pemerintah
Pusat PemerintahDaerah PerseoranganSwasta - Swasta -IKNB PerusahaanSwasta -Non lembaga
Keuangan
Swasta
-lainnya ResidenNon
Sem I 2017 Sem II 2017 Sem II 2016
Sem I 2016
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 4.9. Pertumbuhan DPK Berdasarkan Jenis Simpanan (yoy)
50 40 30 20 10 -20 -10 0 9,63% 9,72% 10,86% 5,04%
giro Tabungan Deposito<=2M Deposito>2M
Sumber: Bank Indonesia
Okt
OktNov Feb Nov OktNov OktNov OktNov FebMar AprilMei jan Mar AprilMei FebMar AprilMei FebMar AprilMei FebMarAprilMei
jan jan jan jan
Sem I Sem I
2014
2014 2015 2016 2017
Sem I Sem I Sem I Sem II
Sem II jun Sem II Sem II Sem II jun julAgt Sep Des julAgt Sep Des junjulAgt Sep Des junjulAgt Sep Des jun julAgtSep Des % yoy
perkembangan Kredit
Kredit mengalami pertumbuhan walau masih terbatas. Pada semester laporan, kredit perbankan tercatat tumbuh sebesar 8,24% (yoy), meningkat dibanding semester I 2017 yang sebesar 7,75% (yoy). Peningkatan kredit tersebut ditopang oleh sektor lain-lain, perdagangan, dan industri pengolahan. Adapun pada sektor lain-lain yang paling tinggi peningkatannya berasal dari kredit rumah tangga untuk keperluan multiguna dan kredit rumah tangga untuk pemilikan rumah tinggal tipe 22 s/d 70. Sementara peningkatan kredit terbesar dari sektor perdagangan berasal dari subsektor perdagangan besar barang-barang keperluan rumah tangga lainnya. Pada sektor industri pengolahan, peningkatan berasal dari subsektor industri rokok dan industri minyak goreng dan kelapa sawit mentah. Di sisi
lain, meskipun terjadi peningkatan PDB sektor pertambangan pada semester II 2017 namun kredit di sektor pertambangan mengalami kontraksi yang cukup dalam sebesar 10,07% (yoy) dibandingkan semester I 2017 yang tumbuh sebesar 2,07% (yoy). Hal ini diperkirakan karena perbankan masih bersikap berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru dan menghindari sektor yang memiliki risiko kredit yang relatif tinggi seperti sektor pertambangan.
Berdasarkan jenis mata uang, membaiknya pertumbuhan kredit terutama didorong oleh kredit rupiah yang tumbuh sebesar 8,25% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan semester I 2017 yang sebesar 7,59%. Di sisi lain, pertumbuhan kredit valas mengalami sedikit penurunan dari 8,74% (yoy) menjadi 8,22% pada semester laporan. Pulau
Pertumbuhan YOY DPK (%)
Pangsa DPK (%)
Sem I 2017 Pangsa DPK (%)Sem II 2017 Sem I 2016 Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017
jawa 6,27 10,70 10,82 9,30 77,28 78,08
Sumatera 3,05 7,81 10,88 10,49 11,35 11,10
Kalimantan 0,58 4,06 5,38 7,85 4,11 3,93
Sulawesi 14,07 3,32 4,24 8,96 3,03 2,95
Bali & Nusa Tenggara 7,87 5,02 13,32 10,36 2,76 2,56
Papua & Kepulauan Maluku 6,13 3,32 2,20 4,52 1,46 1,37
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 4.12. Pertumbuhan Kredit Perbankan (yoy)
jan jan jan jan jan
Sem I Sem I Sem I Sem I Sem I
2013 2014 2015 2016 2017
Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II
jun jul Des jun jul Des jun jul Des jun jul Des jun jul Des 40 % 30 20 10 -20 -10 0 8,25% 8,24% 8,22%
Pertumbuhan Kredit (yoy) Pertumbuhan Kredit Rupiah (yoy) Pertumbuhan Kredit Valas (yoy)
B ANK INDON e SI A K A jIAN S TABI lIT AS Keu AN g AN No. 30, Mar et 2018
Berdasarkan jenis penggunaan, membaiknya pertumbuhan kredit didorong oleh meningkatnya Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Konsumsi (KK). Peningkatan KMK didukung oleh peningkatan pada modal kerja perusahaan manufaktur serta transportasi. Sedangkan peningkatan kredit konsumsi didukung peningkatan KPR dan Kredit Tanpa Agunan (KTA). Sementara Kredit Investasi (KI) masih tumbuh melambat dari 6,50% pada semester I 2017 menjadi 4,82% pada semester II 2017. Perusahaan masih banyak bersikap wait and
see dalam melakukan investasi dengan melihat perkembangan ekonomi global terutama terkait perkembangan harga dan permintaan terhadap komoditas. Sementara itu penyaluran kredit perbankan masih didominasi kredit yang bersifat produktif yakni Kredit Modal Kerja (KMK) dengan
pangsa sebesar 46,92% pada semester II 2017. Pangsa KMK meningkat dibanding semester I 2017 yang sebesar 46,81%.
Dari sisi spasial, pada semester II 2017 seluruh wilayah di Indonesia mengalami kenaikan pertumbuhan kredit kecuali Bali & Nusa Tenggara yang mengalami penurunan pertumbuhan kredit dari 8,33% (yoy) pada semester I 2017 menjadi 6,61% (yoy). Sementara itu wilayah dengan pertumbuhan kredit tertinggi terjadi di Papua & Kepulauan Maluku. Membaiknya pertumbuhan kredit terutama bersumber dari kredit konstruksi (infrastruktur). Pangsa kredit perbankan masih terpusat di Pulau Jawa (70,02%), diikuti oleh Sumatera (14,50%) dan Kalimantan (5,92%).
Tabel 4.7. Pertumbuhan Kredit Per Sektor ekonomi
Sektor Pertumbuhan Kredit Nominal (Rp T) Pertumbuhan Kredit (yoy) Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017 Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017
Perdagangan 56,26 31,26 48,57 6,40% 3,43% 5,20% lain-lain 92,71 104,52 124,89 8,27% 9,01% 10,29% Industri 21,70 39,42 42,35 2,85% 5,29% 5,42% Pengangkutan -5,75 -3,60 10,83 -3,24% -2,03% 6,31% Konstruksi 41,82 41,57 44,17 24,18% 21,58% 20,57% Pertanian 29,50 31,45 35,34 11,18% 11,42% 12,05% js. Dunia usaha 54,49 45,52 32,16 15,59% 12,05% 7,96% jasa Sosial 1,28 14,48 24,48 1,27% 14,86% 24,05% Pertambangan -8,94 2,48 -12,72 -6,61% 2,07% -10,07% listrik 36,01 15,96 10,67 36,21% 14,36% 7,88% Total 319,07 323,07 360,75 7,86% 7,75% 8,24%
Sumber: Bank Indonesia
Grafik 4.13. Pertumbuhan Kredit per Jenis Penggunaan (yoy) Grafik 4.14. Pangsa Kredit per Jenis Pengunaan
KMK 7,30% 12,03% 8,84% 6,93% 8,64% 8,76% 7,19% 6,50% 9,87% 8,48% 4,82% 11,04% KI KK Sem I 2017 Sem II 2017 Sem II 2016 Sem I 2016 46,92% 24,90% 25,10% 28,19% 28,08% Sem I 2017 Sem II 2017 46,81% KMK KI KK
Sumber: Bank Indonesia
Bank BUKU 1, 2, dan 3 mencatatkan pertumbuhan kredit yang membaik dibanding semester I 2017. Pertumbuhan kredit tertinggi berasal dari Kredit BUKU 1 yang tumbuh sebesar 12,19% (yoy) pada semester laporan, membaik dibanding semester lalu yang sebesar 8,72% (yoy). Sementara kredit BUKU 4 tercatat tumbuh terbatas sebesar 10,20% (yoy), dibanding 11,25% (yoy) pada semester I 2017.
Untuk mendorong pertumbuhan kredit, perbankan mulai melakukan penurunan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga kredit tersebut terjadi pada semua kelompok BUKU seiring dengan penurunan suku bunga DPK yang mencerminkan efektivitas transmisi suku bunga kebijakan BI.
Perkembangan Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan menengah (umKm)
Penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semester II 2017 tercatat sebesar Rp942,4 triliun, meningkat dari posisi semester I 2017 sebesar Rp888,5 triliun. Kredit UMKM tersebut tumbuh 10%, meningkat dibandingkan semester I 2017 yang sebesar 7,4%. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan jumlah Bank Umum yang mencapai target rasio kredit UMKM pada semester II 2017 (51 bank) dibandingkan dengan posisi semester I 2017 (47 bank). Rasio kredit UMKM terhadap total kredit juga meningkat dari 20,77% pada semester I 2017 menjadi 20,87% pada semester II 2017.
Pulau Pertumbuhan YOY Kredit (%) Pangsa Kredit (%) Sem I 2017 Pangsa Kredit (%) Sem II 2017 Sem I 2016 Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017
jawa 8,66 8,16 8,22 8,51 69,73 70,02
Sumatera 8,13 6,32 5,90 7,16 14,62 14,50
Kalimantan 5,19 4,48 7,93 8,53 6,04 5,92
Sulawesi 15,05 8,95 6,75 9,44 5,07 5,03
Bali & Nusa Tenggara 10,88 10,96 8,33 6,61 3,26 3,21 Papua & Kepulauan Maluku 12,74 14,99 8,84 11,38 1,28 1,32
Sumber: Bank Indonesia
Tabel 4.9. Pertumbuhan Kredit per BuKu (% yoy) Grafik 4.15. Suku Bunga Kredit Rupiah Per BUKU
BuKu Sem I 2016 Sem II 2016 Sem I 2017 Sem II 2017 Sem II 2017 (%)Pangsa Posisi BuKu 1 6,46 6,61 8,72 12,19 1,14 BuKu 2 7,71 6,05 6,22 7,67 13,53 BuKu 3 3,99 3,77 3,65 5,60 34,69 BuKu 4 13,32 11,56 11,25 10,20 50,63 Industri 8,89 7,86 7,75 8,24 100,00 17 18 13,70 11,72 10,16 9,94 % 16 15 14 13 12 10 11 Sem I
Sem I Sem I Sem I Sem I Sem I
2013
2012 2014 2015 2016 2017
Sem II
Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II
BuKu 1 BuKu 2 BuKu 3 BuKu 4
Sumber: Bank Indonesia
*) Penggolongan Bank menggunakan BuKu OjK per Nov 2017
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan, diolah
B ANK INDON e SI A K A jIAN S TABI lIT AS Keu AN g AN No. 30, Mar et 2018
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit UMKM baik dari sisi Kredit Modal Kerja (KMK) maupun Kredit Investasi (KI) mengalami peningkatan. Pada semester II 2017, KMK tumbuh sebesar 11,9%, lebih tinggi dibanding semester I 2017 yang sebesar 9,7%. Sementara itu, KI tumbuh sebesar 4,9%, lebih tinggi dibanding semester I 2017 yang sebesar 1,5% namun lebih rendah dibanding semester II 2016 yang sebesar 6,3%. Pertumbuhan KMK yang lebih tinggi pada semester II 2017 didorong oleh KMK pada sektor real estate yang tumbuh sebesar 20%. Hal ini disebabkan oleh pemulihan secara bertahap pada pasar properti, sejalan dengan menguatnya harga properti, khususnya di pasar sekunder.
Meningkatnya pertumbuhan kredit UMKM pada semester II 2017 juga terjadi pada seluruh klasifikasi usaha. Kredit usaha menengah, yang memiliki pangsa kredit UMKM terbesar, tumbuh 8,0% dari 7,4% pada semester I 2017. Demikian pula dengan kredit usaha kecil, dan usaha mikro yang tumbuh sebesar masing-masing 10,7% dan 13,2%, lebih tinggi dibanding semester sebelumnya yang sebesar 7,9% dan 6,7%.
Kredit UMKM pada semester II 2017 sebagian besar disalurkan ke 6 sektor utama, yaitu sektor perdagangan besar dan eceran dengan pangsa sebesar 51,2%, industri pengolahan sebesar 10,3%, pertanian dan kehutanan sebesar 8,8%, konstruksi sebesar 6,7%, serta real estate dan jasa kemasyarakatan masing-masing sebesar 4,9%. Dari 6 sektor terbesar tersebut, seluruhnya mengalami pertumbuhan kredit UMKM. Khusus untuk sektor
real estate, terjadi akselarasi pertumbuhan yang cukup signifikan. Pertumbuhan kredit UMKM sektor real estate pada semester II 2017 menjadi sebesar 10,7%, setelah tumbuh negatif (-5,1%) pada semester I 2017.
Grafik 4.16. Pertumbuhan Kredit UMKM pada 6 Sektor Ekonomi
jan-17
Feb-16
Feb-15 jan-16
jan-15 Mar Feb-17
-16 Mar -15 Mar -17 Apr -16 Apr -15 Apr -17 Mei-16
Mei-15 jun-15 jul-15 Agt-15 Sep-15 Okt-15 Nov-15 Des-15 jun-16 jul-16 Agt-16 Sep-16 Okt-16 Nov-16 Des-16 Mei-17 jun-17 jul-17 Agt-17 Sep-17 Okt-17 Nov-17 Des-17
40% yoy 18,7% 30% 17,7% 20% 17,8% 10% 10,5% -30% -20% -10% 0% 10,7% 6,8%
Pertanian Industri Pengolahan Konstruksi Perdagangan Real Estate js Kemasyarakatan
Sumber: Bank Indonesia
Gambar 4.1. Penyaluran Kredit UMKM berdasarkan Wilayah
6,9% 19,2% 58,8% 7,2% 5,7% 2,1%
masih terfokus pada wilayah yang menjadi pusat aktivitas ekonomi seperti Jawa dan Sumatera, dengan pangsa masing-masing sebesar 58,8%, dan 19,2%. Sebaran penyaluran kredit di wilayah timur seperti Sulawesi dan Papua masih relatif rendah masing-masing sebesar 7,2% dan 2,1%. Berdasarkan kelompok BUKU, penyaluran kredit UMKM pada semester II 2017 didominasi oleh kelompok bank BUKU 4 dengan pangsa sebesar 60%, diikuti kelompok BUKU 3 (23,7%), kelompok BUKU 2 (13,6%), dan kelompok BUKU 1 (2,7%). Dibandingkan dengan posisi semester I 2017, pertumbuhan kredit UMKM pada semester II 2017 didominasi oleh pertumbuhan kredit pada kelompok BUKU 1 dan 4 masing-masing sebesar 61,9% dan 0,8% yang didorong oleh peningkatan jumlah penyaluran Kredit Usaha Rakyat pada kelompok bank tersebut.
Perkembangan Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (Kur)
Sejak tahun 2017, telah dilaksanakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bertujuan untuk
kerja dan/atau investasi kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK). Adapun target penyaluran adalah pada bidang usaha yang produktif dan layak namun belum bankable yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin.
Pada tahun 2017 pelaksanaan KUR dilaksanakan melalui 3 skema yaitu KUR Mikro, KUR Ritel, dan KUR Penempatan TKI. Plafon total KUR tahun 2017 sebesar Rp110 triliun terdiri dari target plafon sebesar Rp106,6 triliun teralokasi kepada lembaga penyalur KUR dan Rp3,4 triliun merupakan plafon yang disediakan untuk penyalur baru KUR. Penyaluran KUR pada tahun 2017 mencapai Rp96,7 triliun atau terealisasi sebesar 90,7% dari target dengan jumlah debitur sebanyak 4,09 juta. Dari realisasi tersebut, 67,4% disalurkan untuk KUR mikro, 32,2% KUR ritel, dan 0,3% KUR Penempatan TKI.
Secara spasial, penyaluran KUR sampai dengan akhir 2017 terutama disalurkan ke wilayah Jawa, khususnya Jawa Tengah (16,90%), diikuti oleh Jawa Timur (16,35%), dan Jawa Barat (12,44%).
Grafik 4.17. Pencapaian Realisasi KUR terhadap Target
jan Feb Mar Apr Mei jun jul Agt Sep Okt Nov Des 90 100 60 80 50 70 20 30 40 0 10 75,86% 94,4% 90,7% 2015 2016 2017
Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia
Grafik 4.18. Penyaluran KUR berdasarkan Wilayah
Di Yogyakarta 1,86 Nusa Tenggara Barat 1,97 Kalimantan Selatan 1,94 Banten 2.04 Sumatera Selatan 2,29 Riau 2,48 Sumatera Barat 2,54 lampung 2,72 DKI jakarta 3,04 Bali 3,34 Sumatera Selatan 4,29 Sulawesi Selatan 5,80 jawa Barat 12,44 jawa Timur 5 10 15 20 Rp T 16,35 lainnya 16,71 jawa Tengah 16,90
Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia
B ANK INDON e SI A K A jIAN S TABI lIT AS Keu AN g AN No. 30, Mar et 2018
Dilihat dari sektor ekonomi, penyaluran KUR terbanyak di sektor perdagangan sebesar 58%, disusul oleh sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar 24% dan sisanya sektor jasa (11%), industri pengolahan (5,6%), perikanan (1,6%) dan konstruksi (0,01%). Sebagai dampak penetapan target penyaluran 40% ke sektor produksi, pangsa KUR di sektor perdagangan semakin menurun sementara pangsa KUR di sektor produksi semakin meningkat. Pada akhir tahun 2017, pangsa KUR ke sektor produksi (termasuk jasa) sebesar 42%, meningkat dari 33,7% di akhir tahun 2016.
kredit UMKM mayoritas berasal dari penyaluran KUR. Hal ini juga tercermin dari penurunan penyaluran kredit UMKM ke sektor perdagangan yg digantikan oleh penyaluran kredit UMKM ke sektor produksi sebagaimana target KUR.
Walaupun porsi KUR dalam ekspansi kredit UMKM merupakan hal yang positif, namun demikian perlu dipertimbangkan dampak dari dominasi penyaluran kredit KUR ini terhadap bank-bank non penyalur KUR (81 Bank Umum dan 1.621 BPR), serta infrastruktur untuk penyaluran kredit UMKM komersial yang telah terbangun selama ini.
Perkembangan Risiko Kredit
Risiko kredit perbankan di semester II 2017 mengalami penurunan. Rasio NPL gross menurun dari 2,96% menjadi sebesar 2,59%. Rasio NPL gross tersebut juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 2,93%. Hal ini menunjukkan konsolidasi kredit bermasalah oleh perbankan telah menunjukkan hasil.
Berdasarkan jenis penggunaan, penurunan risiko kredit perbankan terjadi pada seluruh kategori. Rasio NPL gross KMK, KI, dan KK masing-masing tercatat sebesar 3,18%, 2,63%, dan 1,58% atau menurun dibanding semester sebelumnya yang sebesar 3,49%, 3,37%, dan 1,72%. Penurunan rasio NPL gross KMK dan KK sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kredit masing - masing yang tercatat sebesar 8,48% (yoy) dan 11,04% (yoy), lebih tinggi dibandingkan semester I 2017 sebesar 7,19% (yoy) dan 9,87% (yoy). Sementara itu, penurunan risiko KI sejalan dengan pola musimannya di akhir tahun.
Grafik 4.19. Penyaluran KUR berdasarkan Sektor
Perdagangan 58% jasa-jasa 11% Konstruksi 0,01% Pertanian, Perburuan, dan kehutanan 24% Perikanan 1,6% PengolahanIndustri 5,6%
Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia
Penyaluran KUR pada tahun 2017 mendominasi ekspansi kredit UMKM pada tahun 2017. Dari total 115 bank umum, hanya 63 Bank yg mengalami peningkatan Baki Debet kredit UMKM, dimana 27 bank diantaranya adalah penyalur KUR. Pangsa penyaluran KUR oleh 27 bank tersebut mencapai 74% dari total penambahan Baki Debet kredit UMKM. Di sisi lain, Baki Debet 52 bank lainnya (nonpenyalur KUR) menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa selama 2017 penyaluran
Berdasarkan sektor ekonomi, penyumbang terbesar penurunan NPL gross perbankan pada semester II 2017 adalah sektor industri dan pertambangan, dengan penurunan nominal NPL gross masing-masing sebesar Rp3,05 triliun dan Rp2,58 triliun. Sementara itu, sektor yang memiliki rasio NPL gross terendah pada semester laporan adalah sektor listrik, gas, dan air yang sebesar 1,08%. Hal ini sejalan dengan pola historis beberapa tahun terahir. Penurunan NPL gross sektor industri dan pertambangan sejalan dengan peningkatan kinerja kedua sektor tersebut di semester II 2017. Peningkatan kinerja sektor industri tercermin dari peningkatan pertumbuhan produksi industri manufaktur skala besar-sedang maupun mikro-kecil4. Secara rata-rata, pertumbuhan produksi industri
besar-sedang dan mikro-kecil pada semester II 2017 masing-masing tercatat sebesar 5,33% (yoy) dan 4,97% (yoy) atau meningkat dibanding semester sebelumnya yang sebesar 4,17% (yoy) dan 4,57% (yoy). Sementara itu, perbaikan kinerja industri pertambangan didorong oleh harga komoditas tambang yang cenderung berada dalam level yang cukup tinggi serta penurunan produksi tambang dari Australia di tengah tingginya permintaan dari Tiongkok.
Penurunan rasio NPL gross industri perbankan terjadi di seluruh wilayah Indonesia kecuali wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI). Penurunan NPL gross terbesar terutama terjadi di wilayah Kalimantan sejalan dengan perbaikan kinerja sektor pertambangan.
Sem I
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Sem I Sem I Sem I Sem I Sem I Sem I Sem I Sem I Sem I Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II Sem II 2 3 2,59% 1,17% 4 0 1 NPl Gross NPl Nett 4 2 3 0 1 KMK KI KK Sem I 2017 Sem II 2017 Sem II 2016