• Tidak ada hasil yang ditemukan

survei neraca rumah Tangga Tahun 2017

Dalam dokumen KAJIAN STABILITAS KEUANGAN (Halaman 109-114)

risiko Pasar keuangan syariah

boks 3.1 survei neraca rumah Tangga Tahun 2017

Dalam rangka memelihara stabilitas sistem keuangan Indonesia, Bank Indonesia setiap tahun melakukan Survei Neraca Rumah Tangga (SNRT) untuk mengukur dan memonitor risiko keuangan rumah tangga di Indonesia. Pada tahun 2017, SNRT dilakukan kepada 4.000 rumah tangga yang tersebar di 61 Kabupaten/Kota di 15 Provinsi, yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Maluku. Survei dilakukan melalui wawancara langsung (face to

face interview) kepada rumah tangga yang dipilih dengan metode multistage random sampling.

Neraca Rumah Tangga

Pada tahun 2017, hasil SNRT mengindikasikan bahwa kekayaan bersih/networth (total aset dikurangi total utang) rumah tangga mengalami peningkatan sebesar 20,6% yang didorong oleh

kenaikan aset yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan utang (Tabel Boks 3.1.). Rata-rata total aset rumah tangga pada tahun 2017 sebesar Rp704,8 juta, meningkat sebesar Rp120,8 juta dibandingkan posisi tahun 2016. Kenaikan nilai aset terjadi pada semua jenis aset, dengan kenaikan nilai terbesar pada aset tetap (seperti: tanah, lahan, rumah, bangunan) dan aset yang dibatasi penggunaannya (seperti: dana pensiun, tabungan berasuransi, tabungan khusus/haji). Sementara itu, utang rumah tangga rata-rata mengalami kenaikan sebesar Rp3,9 juta menjadi Rp21,4 juta pada tahun 2017, terutama berasal dari utang jangka panjang.

Kondisi Keuangan Rumah Tangga

Kondisi keuangan rumah tangga dilihat dari likuiditas (kemampuan melunasi utang jangka pendek) dan solvabilitas (kemampuan melunasi utang jangka panjang) masih cukup baik, dan tidak terjadi perubahan signifikan dibandingkan

tabel Boks 3.1.1. Neraca Rumah tangga

jenis Nominal (juta Rp) Perubahan (%) 2016 2017 Selisih total aset 584,1 704,8 120,8 20,7 aset Lancar 46,5 52,7 6,3 13,5

aset Dibatasi Penggunaannya 5,2 24,5 19,2 368,4

Investasi 1,0 5,9 4,8 477,7

aset tetap 520,5 614,3 93,8 18,0

aset Lainnya 10,8 7,5 -3,3 -30,9

total utang 17,5 21,4 3,9 22,4

Jangka Pendek (≤12 bulan) 6,2 6,8 0,5 8,3 jangka Panjang (>12 bulan) 11,2 14,6 3,4 30,2

Net Worth 566,6 683,5 116,9 20,6

Ba NK IND o N e SIa Kaj Ia N St a BILI ta S Keua N ga N No. 30, Mar et 2018

tahun sebelumnya. Indikasi tersebut tercermin dari current ratio (rasio aset lancar terhadap utang lancar) dan cash ratio (kemampuan melunasi utang jangka pendek dengan menggunakan kas dan setara kas) masing-masing sebesar 7,4 dan 3,6. Sementara dari sisi solvabilitas, nilai utang rumah tangga jika dibandingkan dengan kekayaan, aset, maupun pendapatan masih relatif rendah.

Kerentanan Keuangan Rumah Tangga

Daya tahan keuangan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh penghasilan utama. Hal ini tercermin dari daya tahan keuangan jika rumah tangga tersebut mengalami shock kehilangan penghasilan utama. Pada tahun 2017, sebanyak 57,9% rumah tangga hanya mampu bertahan selama 1 bulan, 30,5% rumah tangga mampu bertahan 1-3 bulan dan 11,7% bertahan lebih

dari 3 bulan. Namun demikian, hasil survei juga mengindikasikan bahwa rumah tangga yang memiliki aset tetap dan tabungan cenderung memiliki daya tahan keuangan yang lebih baik dibandingkan rumah tangga yang tidak memiliki aset tetap dan tabungan.

Selama tahun 2017, jumlah responden rumah tangga pernah mengalami kesulitan membayar utang sebesar 16,1%, menurun dibandingkan 18,6% pada tahun sebelumnya (Grafik.3.1.2). Dirinci berdasarkan kelompok pendapatan, penurunan persentase jumlah responden yang pernah mengalami kesulitan membayar utang terjadi pada kelompok rumah tangga berpendapatan menengah (Rp2,2-5 juta per bulan) dan berpendapatan tinggi (>Rp5 juta per bulan), sebaliknya pada kelompok rumah tangga berpendapatan rendah (<Rp2,2 juta per bulan) mengalami kenaikan dari 24,5% menjadi 25,5% pada tahun 2017. Upaya yang pertama kali dilakukan rumah tangga berpendapatan rendah dalam mengatasi kesulitan membayar utang adalah mengurangi pengeluaran, sedangkan pada untuk rumah tangga berpendapatan tinggi akan menarik uang dari tabungan. Secara regional, penurunan persentase jumlah responden yang pernah mengalami kesulitan membayar utang terjadi di wilayah Sumatera dan Kawasan Timur Indonesia, sedangkan di wilayah Jawa mengalami kenaikan dari 18,9% menjadi 20,8%.

tabel Boks 3.1.2. Kondisi Keuangan Rumah tangga

Ratio 2016 2017 Selisih Likuiditas

Current Ratio 7,8 7,4 -0,4

Cash Ratio 3,2 3,6 0,5 Solvensi

Debt to Equity Ratio (%)* 3,0 3,1 0,1

Debt to Assets Ratio (%)** 2,9 3,0 0,1

Debt Service Coverage *** 0,9 0,9 0,0

Debt to Disposable Income (%)**** 5,4 5,6 0,2 Keterangan:

* Debt to Equity Ratio merupakan rasio jumlah modal yang berasal dari utang relatif

terhadap modal dari kekayaan sendiri.

** Debt to Assets Ratio merupakan rasio perolehan aset yang dibiayai dengan utang.

*** Debt Service Coverage merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan memba-yar utang jangka pendek dengan menggunakan laba operasi yang dihasilkan. **** Debt to Disposable Income merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan melunasi utang jangka pendek dengan menggunakan disposable income (pro-porsi dari penghasilan rumah tangga yang siap untuk dibelanjakan untuk membeli barang dan jasa maupun untuk disimpan dalam bentuk tabungan).

TOTAL Tidak Memiliki Aset

Tetap & Tabungan Memiliki Aset Tetap Memiliki Aset Tetap & Tabungan

38,3 35,7 25,9 61,7 29,2 9,1 57,9 30,5 11,7 93,3 6,7

<1 Bulan 1-3 Bulan >3 Bulan

25 20 10 15 5 0

(% terhadap total responden) 20,2

16,7 18,9 20,8

17,5

12,0

Sumatera jawa Kawasan timur Indonesia 30 20 25 10 15 5 0

(% terhadap total responden)

18,6 16,1 24,525,5 19,8 17,8 11,510,0

total <Rp2,2 juta Rp2,2-5 juta >Rp5 juta

Grafik Boks 3.1.1. Daya Tahan Keuangan Rumah Tangga (% responden)

Grafik Boks 3.1.2. Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

(% responden) per Kategori Pendapatan Grafik Boks 3.1.3. Kesulitan Keuangan Rumah Tangga (% responden) per Wilayah

Sumber: Bank Indonesia, 2017

2016 2017 2016 2017

secara terbatas, dimana DPK tumbuh sebesar 9,35% (yoy), sementara kredit tumbuh sebesar 8,24% (yoy). Total aset perbankan tercatat sebesar Rp7.387,6 triliun, tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan semester sebelumnya, namun masih di atas pertumbuhan tahun sebelumnya. Suku bunga kredit dan DPK cenderung turun sejalan dengan penurunan suku bunga kebijakan. Profitabilitas perbankan masih terjaga, didukung oleh efisiensi yang membaik walaupun NIM turun tipis dibandingkan semester sebelumnya. Ketahanan permodalan juga masih terjaga yang tercermin dari CAR yang meningkat dan mencapai nilai yang cukup jauh di atas ketentuan minimum. Kondisi likuiditas perbankan berada pada level yang memadai, didukung pola ekspansi rekening pemerintah yang lebih baik. Secara umum risiko perbankan masih dapat dijaga pada level yang aman.

Penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tumbuh sebesar 10%, meningkat cukup tinggi dibandingkan semester sebelumnya. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan jumlah Bank Umum yang mencapai target rasio kredit UMKM.

Intermediasi perbankan syariah masih dapat berjalan dengan baik. Risiko pembiayaan masih membayangi perbankan syariah, namun kondisi permodalan yang cukup tinggi dinilai mampu menyerap risiko yang timbul.

Institusi Keuangan Non Bank (IKNB) terus menunjukkan kinerja yang meningkat. Keterkaitan antara perbankan dengan IKNB mengalami peningkatan, tercermin dari naiknya kredit perbankan kepada PP dan naiknya penempatan dana asuransi pada surat-surat berharga bank.

B ANK INDON e SI A K A jIAN S TABI lIT AS Keu AN g AN No. 30, Mar et 2018

Kinerja perBanKan masih relaTif KuaT.

inDiKaTor KeCuKupan moDal & liKuiDiTas : Baik

KINERJA PERBANKAN TERPANTAU STABIL, DAN KINERJA INSTITUSI KEUANGAN

Dalam dokumen KAJIAN STABILITAS KEUANGAN (Halaman 109-114)