domeStik jerman
boks 1.1 Survei risiko Sistemik bank indonesia Semester ii - 2017 10
Bank Indonesia mengadakan Survei Risiko Sistemik11 dalam rangka pelaksanaan mandat sebagai otoritas makroprudensial. Survei tersebut diharapkan dapat melengkapi upaya BI dalam mengidentifikasi sumber risiko sistemik dalam sistem keuangan Indonesia yang terbagi atas 2 (dua) hal, yaitu identifikasi sumber tekanan (shocks) dan identifikasi kerentanan (vulnerabilities). Risiko diyakini akan termaterialisasi ketika shock berinteraksi dengan vulnerability. Survei Risiko Sistemik juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas sistem keuangan di Indonesia. Informasi yang didapatkan dari survei ini diharapkan dapat mendukung proses perumusan kebijakan.
Survei Risiko Sistemik pertama kali dilakukan pada tahun 2015 dan terus mengalami pengembangan. Sejak tahun 2017, survei ini telah dilakukan secara rutin satu kali dalam setiap semester. Survei dilakukan kepada pakar ekonomi, institusi keuangan, korporasi, akademisi dan pihak-pihak yang memiliki pemahaman yang memadai atas isu terkini dalam sistem keuangan. Pada survei yang dilakukan pada bulan September-Oktober 2017 terdapat 167 responden dengan tingkat partisipasi 71,1%.
sumber tekanan dalam sistem Keuangan indonesia
Bagian ini ditujukan untuk memperoleh pandangan responden mengenai kemungkinan terjadinya
shocks beserta potensi dampak yang ditimbulkan di sistem keuangan Indonesia dalam 6 (enam) bulan ke depan. Daftar sumber tekanan (shock) yang disampaikan pada kuesioner, terdapat pada bagian akhir box ini.
Dari 18 (delapan belas) daftar shocks yang disurvei, terdapat 5 (lima) sumber tekanan baik dari sisi eksternal maupun domestik yang menjadi perhatian responden karena kemungkinan terjadi yang tinggi serta berpotensi memberikan dampak yang besar bagi sistem keuangan Indonesia (kuadran kanan atas pada grafik boks 1.1.1.). Shocks yang berasal dari eksternal yaitu pertumbuhan
10 Hasil survei yang ditampilkan dalam boks ini didasarkan pada jawaban responden atas survei, dan tidak merepresentasikan pandangan Bank Indonesia 11 Penjelasan umum mengenai Survei Risiko Sistemik Bank Indonesia telah disampaikan pada Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.28 Maret 2017
Tabel Boks 1.1.1. Rekapitulasi Responden
Responden jumlah Pangsa
akademisi 20 12%
Bank 60 36%
Institusi Keuangan Non Bank 21 13%
Kamar dagang & asosiasi Profesi 13 8%
Korporasi 25 15% Lembaga Internasional 2 1% Lembaga Riset 7 4% Media 2 1% Pakar ekonomi 17 10% Total 167 100%
Ba NK IN do N e SIa Kaj Ia N S Ta BILIT a S Ke U a NG a N No. 30, Mar et 2018
ekonomi global yang terbatas (1), volatilitas harga komoditas utama termasuk harga minyak mentah dunia (5), dan isu politik dan ekonomi luar negeri (6). Sedangkan shocks yang berasal dari domestik yaitu pertumbuhan ekonomi domestik yang tidak setinggi perkiraan (7), serta penurunan kapasitas fiskal untuk menstimulasi perekonomian (9).
Responden memandang shock yang bersumber dari volatilitas harga komoditas utama termasuk harga minyak mentah dunia memiliki dampak yang paling signifikan terhadap sistem keuangan Indonesia (5). Sebaliknya shock kebijakan Pemerintah yang bersifat sektoral (10) dipandang memiliki dampak yang lebih rendah dibandingkan dengan shock lainnya. Berdasarkan kemungkinan terjadinya, survei memperlihatkan bahwa shock pertumbuhan ekonomi global yang terbatas (1) merupakan shock yang paling mungkin terjadi. Sementara itu, shock keadaan yang mengganggu
operasional sistem keuangan (13) dipandang memiliki tingkat kemungkinan terjadi yang rendah. Selain itu beberapa sumber shock lainnya yang ditambahkan oleh responden dalam pertanyaan terbuka antara lain: melambatnya pertumbuhan kredit, rendahnya penyerapan anggaran pemerintah daerah, volatilitas nilai tukar rupiah, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.
tingkat Kerentanan dalam sistem Keuangan indonesia
Bagian ini ditujukan untuk mendapatkan pandangan responden mengenai tingkat keparahan dan karakteristik dari sumber kerentanan (vulnerability) di sistem keuangan Indonesia dalam 6 (enam) bulan ke depan. Daftar sumber kerentanan yang disampaikan dalam survei, dapat dilihat pada bagian akhir boks ini.
Grafik Boks 1.1.1. Sumber Tekanan Sistem Keuangan Indonesia12 Grafik Boks 1.1.2. Karakteristik Kerentanan dalam Sistem Keuangan Indonesia13
Tinggi
Kemingkinan Terjadi
Rendah
Kecil dampak Risiko Besar
5 7 6 1 4 3 2 8 9 10 11 12 13 Mengkhawatirkan Tingkat Keparahan Tidak Mengkhawatirkan
Temporer Sifat Risiko Struktural 5 7 6 1 16 15 4 3 2 8 9 10 11 14 12 13
12 Penomoran pada Grafik Boks 1.1.1 merujuk pada daftar shocks di bagian akhir boks ini 13 Penomoran pada Grafik Boks 1.1.2 merujuk pada daftar vulnerabilities di bagian akhir boks ini
Dari 16 (enam belas) sumber kerentanan yang disurvei, terdapat 4 (empat) sumber kerentanan yang dipandang penting karena bersifat struktural dan memiliki tingkat keparahan yang tinggi (kuadran kanan atas pada grafik boks 1.1.2.). Keempat sumber kerentanan tersebut adalah pangsa dan volatilitas dana asing di pasar keuangan Indonesia yang tinggi (1), kredit yang terkonsentrasi pada sektor tertentu (8), ketergantungan pada bahan baku impor (15), serta tingginya Loan at Risk perbankan Indonesia (16).
Responden berpandangan bahwa kerentanan dominasi bank besar dalam penyaluran kredit (3) merupakan sumber kerentanan yang paling struktural di sistem keuangan Indonesia namun, di sisi lain sumber kerentanan tersebut tidak dipandang memiliki tingkat keparahan yang mengkhawatirkan. Kerentanan kurangnya mitigasi kredit infrastuktur (10), prosiklikalitas pertumbuhan kredit (7), dan peningkatan aktivitas
shadow banking (12) dipandang sebagai sumber kerentanan yang kurang struktural. Berdasarkan tingkat keparahannya, kerentanan tingginya Loan
at Risk (16) dipandang sumber kerentanan yang memiliki tingkat keparahan yang tinggi. Sebaliknya kerentanan meningkatnya interkoneksi antar-institusi keuangan (4) dipandang memiliki dampak yang paling tidak mengkhawatirkan.
Selain itu beberapa sumber kerentanan yang ditambahkan oleh responden dalam pertanyaan terbuka antara lain: meningkatnya porsi bank asing dalam intermediasi, regulasi yang berbelit, lambatnya transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga kredit, serta rendahnya tingkat produksi dalam negeri. Berbagai kerentanan tersebut perlu dicermati karena dapat menjadi sumber risiko sistemik apabila terjadi
shock di sistem keuangan Indonesia.
tingkat Kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas sistem Keuangan indonesia
Bagian terakhir dari survei menunjukkan hampir seluruh responden memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi baik dalam jangka pendek (s.d. 6 bulan) maupun jangka panjang (lebih dari 6 bulan) terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia. Hanya 2% responden yang tidak percaya terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia dalam jangka panjang. Dibandingkan dengan survei pada periode sebelumnya, terdapat peningkatan pangsa responden sangat percaya yang diimbangi dengan penurunan pangsa responden percaya terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia dalam jangka pendek dan panjang. Dalam 4 (empat) survei terakhir, pangsa responden yang menjawab sangat tidak percaya dan tidak percaya berada di bawah 5%. Hal ini menunjukan bahwa kinerja otoritas dalam menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia mendapat respon yang positif dari masyarakat.
Ba NK IN do N e SIa Kaj Ia N S Ta BILIT a S Ke U a NG a N No. 30, Mar et 2018
Grafik Boks 1.1.3. Sumber Tekanan Sistem Keuangan Indonesia
Percaya 74% Sangat Percaya 22% Tidak Menjawab 0% Sangat Tidak Percaya
2%
jangka Panjang (lebih dari 6 Bulan) Tidak Percaya 2% Sangat Percaya 57% Tidak Menjawab 2% Sangat Tidak Percaya
0% Tidak Percaya 0% jangka Pendek (s.d. 6 Bulan) Percaya 41%
daftar Shocks dan Vulnerabilities
No. Shock No. Vulnerability
1. Pertumbuhan ekonomi global yang terbatas 1. Pangsa dan volatilitas kepemilikan dana asing yang tinggi dalam investasi
2. Kenaikan FFR diluar ekspektasi 2. Sensitivitas sistem keuangan terhadap pola keuangan pemerintah
3. Reduksi neraca US Federal Reserve yang signifikan 3. dominasi Bank besar dalam perekonomian
4. Pengetatan kebijakan moneter Bank Sentral negara yang memiliki pengaruh
pada perekonomian dunia, seperti: eCB, Boe, Boj 4. Tingkat interkonektivitas antar Insititusi Keuangan semakin meningkat 5. Volatilitas harga komoditas utama dunia, termasuk pergerakan harga minyak
mentah dunia. 5. Segmentasi Pasar Uang antar Bank (PUaB)
6. Isu politik & ekonomi luar negeri, seperti: (i) kebijakan ekonomi US (Trump); (ii) ketidakpastian proses Brexit; (iii) konflik Timur Tengah; serta (iv) larangan import CPo yang tidak ramah lingkungan di Uni eropa
6. Karakteristik sumber pendanaan bank yang mayoritas jangka pendek
7. Pertumbuhan ekonomi domestik yang tidak setinggi perkiraan 7. Prosiklikalitas pertumbuhan kredit
8. Kenaikan administered price 8. Kredit yang terkonsentrasi pada sektor tertentu atau pada debitur-debitur besar
9. Penurunan kapasitas fiskal untuk menstimulasi perekonomian 9. Kecenderungan bank untuk menyalurkan kredit secara value chain
10. Kebijakan Pemerintah yang bersifat sektoral 10. Peningkatan appetite bank dalam kredit infrastruktur yang tidak dibarengi kapasitas mitigasi
11. Isu politik domestik yang dapat mempengaruhi Stabilitas Sistem Keuangan 11. Pasar finansial Indonesia yang relatif masih dangkal
12. Perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang secara khusus berdampak pada
Institusi Keuangan 12. Peningkatan aktivitas shadow banking yang sulit dipantau dan tidak diimbangi dengan pengaturan yang memadai.
13. Keadaan yang mengganggu operasional sistem keuangan 13. Potensi risiko dari perkembangan Financial Technology (Fintech) 14. Ketergantungan pendanaan korporasi terhadap perbankan
15. Banyaknya industri di Indonesia yang bergantung pada bahan baku impor 16. Tingginya Loan at risk di perbankan Indonesia