KAJIAN ST
ABILIT
AS KEUANGAN
No. 30, Maret 2018
Penguatan SSK Dalam Upaya
Penerbit :
Informasi dan Order:
Kajian Stabilitas Keuangan (KSK)
ini disusun sebagai bagian daripelaksanaan kewenangan Bank Indonesia di bidang pengaturan dan pengawasan Makroprudensial sebagaimana tercantum pada Undang-undang No. 21 Tahun 2011.
KSK diterbitkan secara semesteran dengan tujuan untuk:
• Meningkatkan wawasan publik dalam memahami stabilitas sistem keuangan • Mengkaji risiko-risiko potensial terhadap stabilitas sistem keuangan
• Menganalisa perkembangan dan permasalahan dalam sistem keuangan
• Merekomendasikan kebijakan untuk mendorong dan memelihara sistem keuangan yang stabil Bank Indonesia
Jl. MH Thamrin No.2, Jakarta Indonesia
KSK ini terbit pada bulan Maret 2018 dan didasarkan pada data dan informasi per Desember 2017, kecuali dinyatakan lain.
Dokumen KSK lengkap dalam format pdf tersedia pada web site Bank Indonesia:
http://www.bi.go.id
Sumber data adalah dari Bank Indonesia, kecuali jika dinyatakan lain.
Permintaan, komentar dan saran harap ditujukan kepada:
Bank IndonesiaDepartemen Kebijakan Makroprudensial Jl. MH Thamrin No.2, Jakarta, Indonesia
Email : [email protected]
Pengarah
Erwin Rijanto - Filianingsih Hendarta - Linda Maulidina - Retno Ponco Windarti
Koordinator dan Editor Umum
Rozidyanti – Agustin Sulistyaningsih – Viana Sari – Nur M. Adhi
Tim Penyusun
Clarita Ligaya Iskandar, Kurniawan Agung, Ita Rulina, Indra Gunawan, Ndari Suryaningsih, Cicilia A. Harun, Agus Fadjar Setiawan, Sri Noerhidajati, Reska Prasetya, Minar Iwan S, Agung Bayu Purwoko, Sagita Rachmanira, Risa Fadila, Hero Wonida, Sigit Setiawan, Faried Caesar Nugroho, Bayu Adi Gunawan, Susana Wibisana, Heny Sulistyaningsih, Lisa Rienellda, Vienella Zharmida, Arifatul Khorida, Zulfia Fathma, Anita, Dhanita Fauziah Ulfa, Ibrahim Adrian Nugroho, Revol Ulung Bisara Tamba, Anindhita Kemala D, Apsari Anindita N.P, Rani Wijayanti, Adhi Nugroho, Faizal Rachman, Haris Dwi Putra, Vergina Hapsari, Agus Seno Aji, Saraswati, Ardo Prayoga, Abdul Khalim, , Rakhma Fatmaningrum, Fransiskus Xaverius Tyas Prasaja Donny Ananta, Arlinda Sukma Dewi, Veny Tamarind, Aulia Intani, Diana Yumanita, Zulmi Ramdy
KONTRIBUTOR
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Departemen Surveilans Sistem Keuangan (DSSK) Departemen Pengembangan UMKM (DPUM)
Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS)
Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran (DKSP) Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran (DPSP)
Departemen Elektronifikasi Dan Gerbang Pembayaran Nasional (DGPN) Departemen Statistik (DSta)
Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK)
PENGOLAH DATA, LAYOUT, DAN PRODUKSI
BANK INDONESIA KAJIAN ST ABILIT AS KEUANGAN No. 30, Mar et 2018
1. Kondisi Stabilitas Sistem Keuangan
1.1. Perkembangan Risiko di Pasar Keuangan Global dan Regional 1.2. Perkembangan Risiko pada Perekonomian Domestik 1.3. Kondisi Umum Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia 1.4. Ketidakseimbangan Keuangan Domestik
Boks 1.1. Survei Risiko Sistemik Semester I 2017 Boks 1.2. Potensi Kerentanan Global SCAV
2. Pasar Keuangan
2.1. Peran Pasar Keuangan Sebagai Sumber Pembiayaan Perekonomian 2.2. Asesmen Kondisi dan Risiko di Pasar Keuangan
2.3. Asesmen Kondisi dan Risiko Pasar Keuangan Syariah
Boks 2.1. Pengaturan Lembaga Pendukung Pasar Uang Yang melakukan Kegiatan Terkait Surat Berharga Komersial Di Pasar Uang
3. Rumah Tangga dan Korporasi
3.1. Asesmen Kondisi dan Risiko Sektor Rumah Tangga 3.2. Asesmen Kondisi dan Risiko Sektor Korporasi
Boks 3.1. Survei Neraca Rumah Tangga
4. Perbankan dan IKNB
4.1. Asesmen Kondisi dan Risiko Perbankan
4.2. Asesmen Kondisi dan Risiko Industri Keuangan Non Bank 4.3. Asesmen Asesmen Kondisi dan Risiko Perbankan dan IKNB Syariah
Boks 4.1. Respon Suku Bunga Perbankan terhadap Perubahan Suku Bunga Kebijakan BI Boks 4.2. Dinamika Fintech Asia dan Indonesia: Studi Literatur, Perkembangan dan
Potensi Risiko 5 7 11 16 23 27 33 37 50 54 88 112 120 124 129 3 31 61 66 81 59 85 Kata Pengantar Ringkasan Eksekutif XVI XX
7. Tantangan, Prospek dan Arah Kebijakan SSK ke Depan
Artikel
7.1. Tantangan Stabilitas Sistem Keuangan 7.2. Prospek Ketahanan Perbankan dan SSK 7.3. Arah Kebijakan SSK dan Makroprudensial
Boks 7.1. Kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial
Boks 7.2. Blueprint Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia
Artikel 1. Instrumen Makroprudensial Berbasis Likuiditas Artikel 2. Kajian Debt to Income
6. Respons Kebijakan Bank Indonesia Dalam Mendukung Stabilitas Sistem Keuangan
6.1. Evaluasi Kebijakan Makroprudensial selama Semester II 2017 6.2. Koordinasi Kebijakan BI dengan Otoritas Lainnya
6.3. Protokol Manajemen Krisis
Boks 6.1. Pengaturan Pelayanan Perizinan Terpadu Terkait Hubungan Operasional Bank Umum dengan Bank Indonesia
Boks 6.2. Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan dengan Pemeriksaan Tematik Boks 6.3. Pilot Project Survei Laporan Keuangan UMKM (SLKU)
189 190 192 195 198 204 218 161 170 173 176 179 182 159 187
BANK INDONESIA KAJIAN ST ABILIT AS KEUANGAN No. 30, Mar et 2018
1. Kondisi Stabilitas Sistem Keuangan
Tabel 1.1 Outlook Perekonomian Dunia 6
Tabel Boks 1.1.1. RekapitulasiResponden 23
2. Pasar Keuangan
Tabel 2.1. Pembiayaan Perbankan dan Non Bank (Rp
Triliun)
33
Tabel 2.2. Sumber Penghimpunan dan Penyaluran
Dana Berdasarkan Volume
35
Tabel 2.3. Sumber Penghimpunan dan Penyaluran
Dana Berdasarkan Jumlah Bank
36
Tabel 2.4. Perbandingan Rata-Rata Spread NDF
Negara Kawasan
41
Tabel 2.5. Yield SBN 10 Tahun Kawasan (%) 42
Tabel 2.6. Volatilitas Yield SBN 10 Tahun di Negara
Kawasan (%)
42
Tabel 2.7. Komposisi Kepemilikan SBN (%) 43
Tabel 2.8. Kepemilikan Obligasi Korporasi 44
Tabel 2.9. Volatilitas Indeks Sektoral 47
Tabel 2.10. Jumlah Pelaku di PUAS 50
Tabel 2.11. Volatilitas Indeks Total Return Sukuk
Pemerintah & BCR
51
Tabel 2.12. Pekembangan Unit RDS 53
3. Rumah Tangga dan Korporasi
Tabel 3.1. Komposisi DSR Berdasarkan Tingkat
Pengeluaran per Bulan
63
Tabel 3.2. Kredit Perseorangan Berdasarkan Jenis
Penggunaannya
65
Tabel 3.3. Indikator Kinerja Keuangan Korporasi
Nonkeuangan
69
Tabel 3.4. Indikator Kinerja Keuangan Korporasi
Komoditas Utama
71
Tabel 3.5. Kredit Korporasi menurut Sektor Ekonomi 74
Tabel 3.6. Kredit Berdasarkan Komoditas Utama
Ekspor
74
Tabel 3.7. ULN Restru Korporasi Nonkeuangan
Berdasarkan Sektor Ekonomi
78
Tabel 3.8 Posisi dan Jumlah Fasilitas Berdasarkan
Jenis ULN Restru Korporasi Nonkeuangan
79
Tabel Boks 3.1.1. Neraca Rumah Tangga 81
Tabel Boks 3.1.2. Kondisi Keuangan Rumah Tangga 82
4. Perbankan dan Intitusi Keuangan Non Bank (INKB)
Tabel 4.1. AL/NCD per BUKU 89
Tabel 4.2. Pola Penambahan AL per Semester 89
Tabel 4.3. Perkembangan LDR per Kelompok BUKU 90
Tabel 4.4. Pertumbuhan DPK per BUKU (%, yoy) 91
Tabel 4.5. Penerimaan Dana Tax Amnesty per BUKU 91
Tabel 4.6. Pangsa DPK per Pulau 93
Tabel 4.7. Pertumbuhan Kredit Per Sektor Ekonomi 94
Tabel 4.8. Pangsa Kredit Berdasarkan Lokasi Proyek 95
Tabel 4.9. Pertumbuhan Kredit per BUKU (%, yoy) 95
Tabel 4.10. Perkembangan Nominal dan Rasio NPL
Gross Per Sektor Ekonomi (%)
99
Tabel 4.11. NPL Gross dan Pangsa Kredit per Wilayah
(%)
100
Tabel 4.12. Rasio NPL Gross per BUKU (%) 100
Tabel 4.13. Nilai Kepemilikan SBN oleh Perbankan
per BUKU
103
Tabel 4.14. Pangsa Kepemilikan SBN Perbankan per
BUKU (%)
104
Tabel 4.15. Perkembangan Laba/Rugi Industri
Perbankan (Triliun Rp)
107
Tabel 4.16. Rincian Pos Pendapatan (Triliun Rp) 108
Tabel 4.17. Rincian Pos Biaya (Triliun Rp) 108
Tabel 4.18. Perkembangan CAR Berdasarkan BUKU 110
Tabel 4.19 Asumsi Utama dan Parameter Shock 111
Tabel 4.20. Keterkaitan Perbankan dengan Perusahaan
Pembiayaan
Tabel 4.25. Perkembangan AL/NCD BUS per BUKU 121
Tabel Boks 4.1.1. Tren Suku Bunga Deposito Rp – 1 Bulan
per BUKU
124
Tabel Boks 4.1.2. Suku Bunga Deposito Rp BUKU 4
berdasarkan Tenor
125
Tabel Boks 4.1.3. Suku Bunda Deposito Rp BUKU 3
Berdasarkan Tenor
126
Tabel Boks 4.1.4. Perkembangan Suku Bunga Kredit Rp 127
Tabel Boks 4.2.1. Komparasi Perkembangan dan Regulasi
Fintech di Asia
132
5. Infrastruktur Sistem Keuangan
Tabel 5.1. Perkembangan Sistem BI-RTGS, BI-SSSS,
dan SKNBI
140
Tabel 5.2. Perkembangan Transaksi menggunakan
APMK dan Uang Elektronik
142
Tabel 5.3. Queue Transaction Semester II 2017 143
Tabel 5.4. Bank yang menjadi Top Lender dalam
Sistem BI-RTGS
145
6. Respons Kebijakan Makroprudensial
Tabel 6.1. Perkembangan KPR per Tipe 162
Tabel 6.2. Perkembangan KPR per Kegiatan Bank 162
8. Artikel 1:
Tabel Artikel 1.1. Tabel Matriks Kategori Sinyal 210
9. Artikel 2:
Tabel Artikel 2.1. Confusion Matrix ThresholdDTI/DSTI
terhadap Sinyal FM
223
Tabel Artikel 2.2. Model Logit Rasio DTI dan DSTI terhadap
Financial Margin (FM)
226
Tabel Artikel 2.3. True Positive Rate (TPR) dan False Positive
Rate (FPR) Berdasarkan Batasan Rasio DTI
227
Tabel Artikel 2.4. Batasan Rasio DTI Berdasarkan Policy
Preference (Before Shock)
227
Tabel Artikel 2.5. Batasan DTI Berdasarkan Policy Preference
(After 10% Income Shock)
BANK INDONESIA KAJIAN ST ABILIT AS KEUANGAN No. 30, Mar et 2018
1. Kondisi Stabilitas Sistem Keuangan
Grafik 1.1. Perkembangan Harga Minyak 6
Grafik 1.2. Perkembangan Harga Energi dan
Non-Energi 6
Grafik 1.3. IHSG dan Indeks Bursa Global Semester II
2017 vs Semester I 2017 6
Grafik 1.4. Perkembangan VIX 6
Grafik 1.5. Perkembangan CDS 7
Grafik 1.6. Inflasi 9
Grafik 1.7. Pertumbuhan Ekonomi 9
Grafik 1.8. Neraca Pembayaran Indonesia 9
Grafik 1.9. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah 9
Grafik 1.10. Apresiasi dan Depresiasi terhadap Dolar
AS 9
Grafik 1.11. Volatilitas Rupiah 9
Grafik 1.12. Perkembangan Komponen Penerimaan
Semester II 2017 11
Grafik 1.13. Perkembangan Komponen Belanja
Semester II 2017 11
Grafik 1.14. Perkembangan Komponen Belanja
Pemerintah Pusat Semester II 2017 11
Grafik 1.15. Perkembangan Defisit dan Keseimbangan
Primer 11
Grafik 1.16. Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) 15
Grafik 1.17. Indeks Risiko Sistemik Perbankan (IRSP) 15
Grafik 1.18. Pangsa Aset Lembaga Keuangan 15
Grafik 1.19. Pertumbuhan Ekonomi dan Kredit 16
Grafik 1.20. Siklus Keuangan 16
Grafik 1.21. Komposisi ULN Berdasarkan Kelompok
Peminjam dan Komposisi Terhadap PDB 19
Grafik 1.22. Perkembangan ULN Swasta Nonbank
Berdasarkan Jangka Waktu Asal 19
Grafik 1.23. Perkembangan Debt Service Ratio (DSR) 19
Grafik 1.24. Kepemilikan SBN Investor Nonresiden 21
Grafik 1.25. Kepemilikan Saham Investor Nonresiden 21
Grafik 1.26. Kepemilikan SBI Asing dan Domestik 22
Grafik 1.27. Perkembangan Harga dan Volume
Transaksi Saham 22
Grafik 1.28. Perkembangan Harga dan Volume
Transaksi SBN 22
Grafik Boks 1.1.1. Sumber Tekanan Sistem Keuangan
Indonesia 24
Grafik Boks 1.1.2. Karakteristik Kerentanan dalam Sistem
Keuangan Indonesia 24
Grafik Boks 1.1.3. Sumber Tekanan Sistem Keuangan
Indonesia 26
2. Pasar Keuangan
Grafik 2.1. Volume IPO dan Right Issue di Pasar
Saham 33
Grafik 2.2. Perbandingan Yield Curve Obligasi
Korporasi dan Rata-Rata Suku Bunga KI dan KMK
34
Grafik 2.3. Nominal Emisi Obligasi 34
Grafik 2.4. Nominal Outstanding MTN dan NCD 34
Grafik 2.5. Outstanding MTN dan NCD Jatuh Tempo 34
Grafik 2.6. Nominal Issuance MTN dan NCD 34
Grafik 2.7. Volatilitas Pasar Keuangan 37
Grafik 2.8. Aliran Dana Asing di Saham, SBN, dan SBI 37
Grafik 2.9. Suku Bunga PUAB Rupiah O/N 38
Grafik 2.10. Volatilitas Suku Bunga PUAB O/N 38
Grafik 2.11. Perkembangan PUAB Rupiah 38
Grafik 2.12. Pola Transaksi PUAB Rupiah 38
Grafik 2.13. Perkembangan PUAB Valas 39
Grafik 2.14. Volatilitas Suku Bunga PUAB Valas 39
Grafik 2.15. Suku Bunga PUAB Valas O/N 39
Grafik 2.16. Perilaku Transaksi PUAB Valas 39
Grafik 2.17. Transaksi Repo Antar Bank 40
Grafik 2.18. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah 40
Grafik 2.19. Premi Risiko Pasar Valas 40
Grafik 2.20. Komposisi Pasar Valas Domestik 41
Grafik 2.21. Yield Curve SBN 41
Grafik 2.22. Rebased Yield SBN per Tenor 41
Grafik 2.23. Volatilitas Yield SBN Per Tenor 42
Grafik 2.24. Komposisi Kepemilikan SBN 43
Grafik 2.25. Net Flow Asing di SBN dan IDMA 43
Grafik 2.26. Net Flow Asing di Obligasi Korporasi dan
Porsi Kepemilikannya 44
Grafik 2.33. Net Beli/Jual Asing di Pasar Saham &
Level IHSG 46
Grafik 2.34. Perbandingan PER Indeks Kawasan 46
Grafik 2.35. Turnover Pasar Saham 46
Grafik 2.36. Kapitalisasi IHSG dan LQ45 47
Grafik 2.37. Pergerakan EBITDA dan IHSG 47
Grafik 2.38. Perkembangan Reksadana 48
Grafik 2.39. NAB Reksadana Berdasarkan Jenis 48
Grafik 2.40. Volatilitas NAB Reksadana Per Jenis 48
Grafik 2.41. Growth Reksadana (yoy) 48
Grafik 2.42. Profil Risiko Produk Reksadana 49
Grafik 2.43. NAB Reksadana Open Ended dan Close
Ended 49
Grafik 2.44. Volatilitas & TI SIMA O/N 50
Grafik 2.45. RRH Volume PUAS Rupiah 50
Grafik 2.46. Porsi Kepemilikan SBSN dan Proporsi
SBSN terhadap SBN 51
Grafik 2.47. Proporsi dan Kompisisi Sukuk Korporasi 52
Grafik 2.48. Volatilitas Indeks Syariah 53
Grafik 2.49. Nilai Kapitalisasi Indeks Syariah 53
Grafik 2.50. NAB dan Pertumbuhan NAB RDS 53
3. Rumah Tangga dan Korporasi
Grafik 3.1. Kontribusi Konsumsi RT Terhadap PDB 61
Grafik 3.2. Indeks Keyakinan Konsumen, Indeks
Kondisi Ekonomi Saat Ini, Indeks Ekspektasi Konsumen
62
Grafik 3.3. Indeks Ekspektasi Harga pada 3 Bulan
Mendatang 62
Grafik 3.4. Indeks Ekspektasi Harga pada 6 Bulan
Mendatang 62
Grafik 3.5. Porsi Konsumsi dan Debt to Service (DSR)
Rumah Tangga 63
Tangga
Grafik 3.10. Perkembangan NPL Kredit Konsumsi
Rumah Tangga per Komponen 65
Grafik 3.11. Komposisi Kredit Konsumsi Rumah Tangga
per Jenis 66
Grafik 3.12. Perkembangan Harga Beberapa
Komoditas 67
Grafik 3.13. Perkembangan Ekspor dan Impor
Indonesia 67
Grafik 3.14. Perkembangan Realisasi dan Perkiraan
Dunia Usaha 68
Grafik 3.15. Kapasitas Produksi Terpakai 68
Grafik 3.16. Indikator Kunci Kinerja Keuangan
Korporasi Nonkeuangan 69
Grafik 3.17. Perkembangan Kinerja Keuangan
Korporasi Publik Nonkeuangan 70
Grafik 3.18. Perkembangan Kemampuan Membayar
Korporasi Nonkeuangan 71
Grafik 3.19. Perkembangan Kinerja Keuangan
Korporasi Komoditas Utama 72
Grafik 3.20. Pergerakan Kinerja Korporasi Berdasarkan
Altman Z-Score 72
Grafik 3.21. Pergerakan Korporasi Berisiko Dengan
GDP 72
Grafik 3.22. Kredit Korporasi per BUKU 73
Grafik 3.23. Perkembangan DPK Korporasi 75
Grafik 3.24. DPK Korporasi per BUKU 75
Grafik 3.25. Pangsa ULN Indonesia 76
Grafik 3.26. Pertumbuhan dan Nominal ULN Swasta 76
Grafik 3.27 Perkembangan ULN Restru Korporasi
Nonkeuangan 77
Grafik 3.28 Perkembangan ULN Restru Korporasi
Nonkeuangan Berdasarkan Karakteristik 78
Grafik 3.29 Perkembangan Pangsa ULN Restru
Korporasi Nonkeuangan Berdasarkan Karakteristik
BANK INDONESIA KAJIAN ST ABILIT AS KEUANGAN No. 30, Mar et 2018
Grafik 3.30 Perkembangan Pembayaran Bunga dan
Pokok ULN Restru Tone Positif dan Negatif 80
Grafik Boks 3.1.1. Daya Tahan Keuangan Rumah Tangga (%
responden) 83
Grafik Boks 3.1.2. Kesulitan Keuangan Rumah Tangga (%
responden) per Kategori Pendapatan 83
Grafik Boks 3.1.3. Kesulitan Keuangan Rumah Tangga (%
responden) per Wilayah 83
4. Perbankan dan Institusi Keuangan Non Bank (IKNB)
Grafik 4.1 Rasio Likuiditas Perbankan 88
Grafik 4.2 Perkembangan Alat Likuid Perbankan 88
Grafik 4.3 Pertumbuhan Likuiditas Perekonomian
dan Rasio Likuiditas Perbankan 89
Grafik 4.4 Net Ekspansi Pemerintah 89
Grafik 4.5 Pertumbuhan DPK (yoy) dan Kredit (yoy) 90
Grafik 4.6 Perkembangan Lending Standard 90
Grafik 4.7 Pertumbuhan DPK (yoy) 91
Grafik 4.8 Pangsa DPK berdasarkan Deposan Inti/
Nondeposan Inti 91
Grafik 4.9 Pertumbuhan DPK Berdasarkan Jenis
Simpanan (yoy) 92
Grafik 4.10 Pangsa Komposisi DPK Perbankan 92
Grafik 4.11 Perkembangan DPK Berdasarkan
Golongan Pemilik 92
Grafik 4.12 Pertumbuhan Kredit Perbankan (yoy) 93
Grafik 4.13 Pertumbuhan Kredit per Jenis
Penggunaan (yoy) 94
Grafik 4.14 Pangsa Kredit per Jenis Pengunaan 94
Grafik 4.15 Suku Bunga Kredit Rupiah Per BUKU 95
Grafik 4.16 Pertumbuhan Kredit UMKM pada 6 Sektor
Ekonomi 96
Grafik 4.17 Pencapaian Realisasi KUR terhadap Target 97
Grafik 4.18. Penyaluran KUR berdasarkan Wilayah 97
Grafik 4.19. Penyaluran KUR berdasarkan Sektor 98
Grafik 4.20. Perkembangan Rasio NPL 99
Grafik 4.21. Rasio NPL Gross per Jenis Penggunaan 99
Grafik 4.22 NPL Gross Kredit UMKM Berdasarkan
Klasifikasi Usaha 100
Grafik 4.23 NPL Gross Kredit UMK Berdasarkan
Kelompok Bank 100
Grafik 4.24 NPL Gross Kredit UMKM Berdasarkan
Sektor Ekonomi 101
Grafik 4.25 Perkembangan Suku Bunga Kredit dan
DPK 102
Grafik 4.26 Total dan Rasio PDN per BUKU 102
Grafik 4.27 Yield Harian SBN 10 tahun 103
Grafik 4.28 Pertumbuhan ULN Bank 105
Grafik 4.29 ULN per Kelompok Bank 105
Grafik 4.30 Janga Waktu Utang Luar Negeri Bank 105
Grafik 4.31 Rasio ULN Bank Jangka Pendek terhadap
Modal Bank 105
Grafik 4.32 Profil Jatuh Tempo ULN Jangka Panjang
Bank 106
Grafik 4.33. Komposisi Jatuh Tempo ULN Jangka
Panjang 106
Grafik 4.34. ROA per BUKU 107
Grafik 4.35. NIM Per BUKU 107
Grafik 4.36. Rasio BOPO per BUKU (%) 109
Grafik 4.37. Rasio CIR per BUKU (%) 109
Grafik 4.38. Perkembangan CAR Perbankan (%) 109
Grafik 4.39. Rasio Tier I Perbankan (%) 109
Grafik 4.40. Hasil Stress Test Aggregat 112
Grafik 4.41 Aset & Pembiayaan PP 113
Grafik 4.42 Pembiayaan PP per Jenis Kegiatan Usaha 113
Grafik 4.43. Pembiayaan berdasarkan Jenis Valuta 114
Grafik 4.44. Rasio NPF PP (%) 114
Grafik 4.45 Growth Pembiayaan & Pendanaan 114
Grafik 4.46 Sumber Dana 114
Grafik 4.47 Leverage 115
Grafik 4.48. Pangsa Pinjaman PP Berdasarkan Suku
Bunga yang Diberikan 115
Grafik 4.49. Perkembangan Utang Luar Negeri PP 116
Grafik 4.50. Perkembangan ROA, ROE, dan BOPO PP 116
Grafik 4.51. Pangsa Aset Asuransi per Jenis 117
Grafik 4.52. Aset dan Investasi Asuransi 117
Grafik 4.53. Komposisi Aset Investasi Perusahaan
Asuransi 118
Grafik 4.60. Perkembangan PYD Berdasarkan Jenis
Penggunaan 122
Grafik 4.61. Tingkat Imbal Hasil PYD 122
Grafik 4.62. NPF 122
Grafik 4.63. ROA Bank Syariah 123
Grafik 4.64. BOPO 123
Grafik 4.65. CAR 123
Grafik Boks 4.1.1. Tren Suku Bunga Deposito Rp – 1 Bulan 124
Grafik Boks 4.1.2. Suku Bunga Deposito Rp BUKU 4
Berdasarkan Tenor 125
Grafik Boks 4.1.3. Suku Bunga Deposito Rp BUKU 3
Berdasarkan Tenor 126
Grafik Boks 4.1.4. Perkembangan Suku Bunga Kredit Rp per
BUKU 127
Grafik Boks 4.1.5. ROA, NPL, dan Spread Suku Bunga 128
Grafik Boks 4.1.6. Pengaruh Capping ke Suku Bunga Kredit
& DPK 128
Grafik Boks 4.2.1. Keyakinan Konsumen Terhadap Produk
Fintech Payment 134
Grafik Boks 4.2.2. Persepsi Konsumen Terhadap Produk
Fintech dibandingkan Produk Bank 134
Gambar 4.1 Penyaluran Kredit UMKM Berdasarkan
Wilayah 96
Gambar Boks 4.2.1 Holding Jasa Keuangan Fintech di
Tiongkok 131
5. Infrastruktur Sistem Keuangan
Grafik 5.1. Rata-Rata Harian Transaksi SP BI 2017 141
Grafik 5.2. Perkembangan Bulanan Uang Elektronik 142
Grafik 5.3. Transaksi Dalam Rangka Penempatan
Operasi Moneter (OM) 143
Grafik 5.4. Turn Over Ratio 143
Grafik 5.9. Perkembagan Jumlah Pemegang Uang
Elektronik Registered pada Agen LKD (Juta)
147
Gambar 5.1 Pelaksanaan Uji Coba Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) Nontunai Tahun 2017
149
Gambar Boks 5.1.1. Sepuluh Besar Market Capitalization
Virtual Currency 152
Grafik Boks 5.1.1. Harga Virtual Currency Bitcoin 153
Gambar Boks 5.1.2. Transaksi Kejahatan dan Kasus Fraud
terkait Virtual Currency 2013-2017 153
Gambar Boks 5.1.3. Kebijakan Bank Indonesia Terkait Virtual
Currency 153
Gambar Boks 5.2.1. Pihak Dalam Gerbang Pembayaran
Nasional (GPN) 157
6. Respons Kebijakan Makroprudensial
Grafik 6.1. Perkembangan KPR 161
Grafik 6.2. Perkembagan KPR per Tipe 161
Grafik 6.3. Perkembangan KPR per Kegiatan Bank 164
Grafik 6.4. Perkembangan NPL KPR 164
Grafik 6.5. Perkembagan NPL KPR per Tipe 164
Grafik 6.6. Pertumbuhan KPR per Provinsi 165
Grafik 6.7. Perkembangan NPL KPR per Provinsi 165
Grafik 6.8. Kesenjangan Kredit terhadap PDB 166
Grafik 6.9. Perkembangan LDR dan LFR 167
Grafik 6.10. Perkembangan Kredit, DPK, dan SSB yang
diterbitkan Bank 167
Grafik 6.11. Distribusi Jumlah Bank Berdasarkan LFR 168
Gambar 6.1. Skema Kredit UMKM 169
Gambar 6.2 Struktur Organisasi Sekretariat KSSK 175
Gambar Boks 6.3.1. Desain Laporan Perolehan Data Keuangan
BANK INDONESIA KAJIAN ST ABILIT AS KEUANGAN No. 30, Mar et 2018
7. Tantangan, Prospek, Dan Arah Kebijakan Stabilitas Sistem Keuangan Ke Depan
Grafik 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Kredit 191
Grafik 7.2 Proyeksi Pertumbuhan DPK 191
Grafik Boks 7.1.1. Ilustrasi Kebijakan RIM 195
Grafik Boks 7.1.2. Siklus Keuangan dan Penyesuaian Siklus
Keuangan dengan RIM 197
Gambar Boks 7.2.1. Kerangka Strategi Pengembangan
Blueprint Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah
200
8. Artikel 1:
Grafik Artikel 1.1. Prosiklikalitas Dutch LCR 206
Grafik Artikel 1.2. Prosiklikalitas Pertumbuhan Alat Likuid
Perbankan Indonesia 206
Grafik Artikel 1.3. Gap Kandidat Utama terhadap Tren
Jangka Panjang 212
Grafik Artikel 1.4. Threshold Gap HQLA/TA (14400) 213
Grafik Artikel 1.5. Threshold Gap HQLA/DPK Jk Pendek
(14400) 213
Grafik Artikel 1.6. Pengerakan Indeks IDMA dengan
Indikator Utama 214
Grafik Artikel 1.7. Pergerakan Spread PUAB & DF 214
Grafik Artikel 1.8. Skema Aktivasi CCB dan MPLB 215
9. Artikel 2:
Gambar Artikel 2.1. Sumber Utang dan Tujuan Berhutang 224
Grafik Artikel 2.2. Perbandingan Rasio DTI Beberapa Negara 224
Grafik Artikel 2.3. Rata-rata Rasio DTI/DSTI Agregat 224
Grafik Artikel 2.4. Indikator Kerentanan Rumah Tangga
Berdasarkan Kelompok Pendapatan 225
Grafik Artikel 2.5. Kurva Receiver Operating Characteristic
AFS : Available for Sale
AIPEG : Australia-Indonesia Partnership for Economic Governance
AKSI : Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia
AL : Alat Likuid
APMK : Alat Pembayaran Menggunakan Kartu
AS : Amerika Serikat
ASPI : Asosiasi Sitem Pembayaran Nasional
ASEAN : Association of Southest Asian Nations
ATM : Automatic Teller Machine
ATMR : Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
BBM : Bahan Bakar Minyak
BCBS : Basel Committee on Banking Supervision
BCR : Bid to Cover Ratio
BIS : Bank for International Settlement
BI-RTGS : Bank Indonesia Real Time Gross Settlement BI-SSSS : Bank Indonesia Scripless Securities
Settlement System BI 7-DRR : BI 7-Day (Revers) Repo Rate
BIF : ASEAN Banking Integration Framework
BOJ : Bank of Japan
BOS : Bantuan Operasional Sekolah
BOPO : Rasio Biaya Operasional terhadap
Pendapatan Operasional
BPD : Bank Pembangunan Daerah
BPNT : Bantuan Pangan Non Tunai
BPR : Bank Perkreditan Rakyat
bps : Basis point
BUKU : Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha
CAR : Capital Adequacy Ratio
CASA : Current Account Saving Account
CDS : Credit Default Swap
CDM : Cash Depost Machine
CFI : Cybersecurity Fortification Initiative
CIR : Cost to Income Ratio
CMS : Cash Management System
CKPN : Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
CPO : Crude Palm Oil
DER : Debt to Equity Ratio
DPK : Dana Pihak Ketiga
D-SIB : Domestic SystemicallyImportant Banks
DSR : Debt Service Ratio
DSIBs : Domeestic Systemically Important Banks
DP : Down Payment
EAPP : Expanded Asset Purchase Program
ECB : European Central Bank
EM : Emerging Market
ETC : Electronic Toll Collection
EDC : Electronic Data Capture
FA : Financial Account
FDI : Foreign Direct Investment
FFR : Fed Funds Rate (FFR)
FedRes : Federal Reverse
FLI : Fasilitas Likuiditas Intrahari
FSB : Financial Stability Board
FSS : Fintech Fortification Initiative
FTV : Financing to Value
G20 : The Group of Twenty
GDP : Gross Domestic Product
BANK INDONESIA KAJIAN ST ABILIT AS KEUANGAN No. 30, Mar et 2018
GNNT : Gerakan Nasional Nontunai
GWM : Giro Wajib Minimum
HKPDA : Hong Kong Monetary Authority
HPDK : Harga Pokok Dasar Kredit
HTM : Hold to Maturity
IDMA : Inter-dealer Market Association
IEK : Indeks Ekspektasi Konsumen
IG : Investment Grade
IHK : Indeks Harga Konsumen
IHSG : Indeks Harga Saham Gabungan
IKE : Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini
IKK : Indeks Keyakinan Konsumen
IKNB : Institusi Keuangan Non Bank
IMF : International Monetary Fund
IPO : Initial Public Offering
IRSP : Indeks Risiko Sistemik Perbankan
ISIK : Indeks Stabilitas Institusi Keuangan
ISPK : Indeks Stabilitas Pasar Keuangan
ISSK : Indeks Stabilitas Sistem Keuangan
ISSI : Indeks Sahan Syariah Indonesia
JIBOR : Jakarta Interbank Offered Rate
JPSK : Jaring Pengaman Sistem Keuangan
KI : KreditI nvestasi
KK : Kredit Konsumsi
KKS : Kartu Keluarga Sehat
KNKS : Komite Nasional Keuangan Syariah
KMK : Kredit Modal Kerja
KPA : Kredit Pemilikan Apartemen
KPMM : Kecukupan Pemenuhan Modal Minimum
KPR : Kredit Pemilikan Rumah
KPwDN : Kantor Perwakilan Bank Indonesia Dalam
Negeri
KPPK : Kepatuhan Pelaporan Prinsip Kehati-hatian
KTA : Kredit Tanpa Angunan
KSSK : Komite Stabilitas Sistem Keuangan
KUR : Kredit Usaha Rakyat
LAR : Loan at Risk
LCR : Liquidity Coverage Ratio
LDR : Loan to Deposit Ratio
LKD : Layanan Keuangan Digital
LKBB : Lembaga Keuangan Bukan Bank
LTV : Loan to Value
LPS : Lembaga Penjamin Simpanan
LSB : Lembaga Selain Bank
L/R : Laba Rugi
Minerba : Pertambangan Mineral dan Batubara
MTM : Marked to market (MTM)
MTN : Medium Term Notes
NAB : Nilai Aktiva Bersih
NCD : Negotiable Certificate of Deposit
NCD : Non-Core Deposit
NDF : non-deliverable (NDF)
NFA : Net Foreign Asset
NFL : Net Foreign Liabilities
NII : Net Interest Income
NIM : Net Interest Margin
NPF : Non Performing Financing
NPG : Non performing guarantee
NPI : Neraca Pembayaran Indonesia
OTC : Over the Counter
OHC : Overhead Cost
PADG : Peraturan Angota Dewan Gubernur
PBOC : Peoples’ Bank of China
PBoC : Public Bank Of China
PD : Probability of Default
PDB : Produk Domestik Bruto
PDN : Posisi Devisa Neto
PIN : Personal Identification Number
PLN : Pinjaman Luar Negeri
PMK : Protokol Manajemen Krisis
PMS : Penanaman Modal Sementara
PP : Perusahaan Pembiayaan
PPTBU : Pelayanan Perijinan Terpadu Bank Umum
PKH : Program Keluarga Harapan
PSP : Pemegang Saham Pengendali
PSG : Prolonged Slow Growth
PUAB : Pasar Uang Antar Bank
PYD : Pembiayaan yang DIberikan
QAB : Qualified ASEAN Banks
O/N : Overnight
RBB : Rencana Bisnis Bank (RBB)
RIM : Rasio Intermediasi Makroprudensial
RRT : Rata Rata Tertimbang
RRH : Rata Rata Harian
SBN : Surat Berharga Negara
SBSN : Surat Berharga Syariah Negara
SBT : Saldo BersihTertimbang
SBK : Surat Berharga Komersial
SD : Sertifikat Deposito
SIMA : Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank
SPPUR : Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang
Rupiah
SK : Survei Konsumen
SKDU : Survei Kegiatan Dunia Usaha
SKNBI : Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia
SNRT : Survei Neraca Rumah Tangga
SUN : Surat Utang Negara
TDL : Tarif Dasar Listrik
TI : Tingkat Imbalan
TMF : Transaksi Modal dan Finansial
TOR : Turn Over Ratio
TPT : Tekstil dan ProdukTekstil
ULN : Utang Luar Negeri
UMKM : Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
UMKMK : Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koprasi
VC : Virtual Currency
WEO : World Economic Outlook
YOY : Year On Year
Bank IndonesIa k aj Ian st a BI lI tas k euangan n o. 30, Mar et 2018
KATA PENGANTAR
Bank IndonesIa ka JI an s Ta BILIT as ke U an G an n o. 30, Mar et 2018Penerbitan Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.30, 2017 merupakan salah satu upaya Bank Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenang di bidang makroprudensial secara transparan dan akuntabel. Secara semesteran, Bank Indonesia menyusun KSK berdasarkan hasil asesmen dan riset terhadap kondisi sistem keuangan. Adapun hasil asesmen tersebut dilakukan secara komprehensif sebagai langkah mitigasi atas potensi risiko sistemik yang muncul akibat gangguan yang menular (contagion) yang berasal dari adanya interaksi faktor ukuran (size) institusi keuangan, kompleksitas usaha (complexity) dan keterkaitan antar institusi dan/ atau pasar keuangan (interconnectedness), serta adanya kecenderungan perilaku yang berlebihan dari institusi keuangan untuk mengikuti siklus perekonomian (procyclicality).
Secara umum, kondisi sistem keuangan pada paruh kedua 2017 membaik dibandingkan dengan periode sebelumnya sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dunia dan menurunnya ketidakpastian di pasar keuangan. Hal ini turut ditandai pula dengan Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) yang masih berada jauh di bawah
threshold yaitu sebesar 0,77 dan Indeks Risiko Sistemik Perbankan (IRSP) yang tetap terjaga pada zona normal dengan level 1,28 dari threshold sebesar 3,8. Meskipun sistem keuangan terjaga, masih terdapat sumber ketidakseimbangan yang perlu diwaspadai antara lain berasal dari ULN korporasi nonbank dan porsi kepemilikan
nonresiden di pasar keuangan domestik yang masih cukup tinggi. Untuk merespon munculnya sumber kerentanan tersebut, Bank Indonesia melakukan asesmen untuk melihat risiko-risiko utama terhadap sistem keuangan antara lain pasar keuangan, korporasi, rumah tangga, perbankan, dan IKNB termasuk efektifitas infrastruktur sistem keuangan.
Kondisi sistem keuangan di Indonesia tercermin dari kinerja industri perbankan yang mendominasi hampir 70% pangsa total aset sistem keuangan. Menguatnya tingkat permodalan, membaiknya fungsi intermediasi industri perbankan meskipun masih terbatas, dan memadainya likuiditas perbankan adalah faktor yang memperkuat pondasi sistem keuangan selama semester laporan. Berlanjutnya kondisi tersebut turut memperkuat stabilitas di pasar keuangan domestik seiring dengan terjaganya kondisi makroekonomi di Indonesia dan membaiknya perekonomian global. Sementara itu, pencapaian kinerja sistem keuangan lainnya turut didukung oleh kinerja positif dari IKNB khususnya yang terlihat dari ekspansi kinerja perusahaan pembiayaan meskipun sempat terjadi peningkatan risiko di semester I 2017 namun tingkat profitabilitas dan efisiensi relatif terjaga. Terjaganya kondisi sistem keuangan tersebut tidak terlepas pula oleh dukungan sistem pembayaran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan industri berjalan dengan aman, lancar, efisien dan handal serta meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
“Secara Umum, Kondisi Sistem Keuangan pada Paruh Kedua 2017 Membaik Dibandingkan
dengan Periode Sebelumnya Sejalan dengan Membaiknya Kondisi Perekonomian Dunia dan
Menurunnya Ketidakpastian di Pasar Keuangan.”
Bank IndonesIa k a JI an sT a BILIT as k e U an G an n o. 30, Mar et 2018
Untuk merespon kondisi sistem keuangan dan risiko yang muncul pada periode laporan, Bank Indonesia melakukan evaluasi beberapa kebijakan makroprudensial bersinergi dengan kebijakan moneter dan kebijakan sistem pembayaran-pengelolaan uang rupiah. Evaluasi yang dilakukan antara lain berupa pemantauan kredit pemilikan rumah dengan ketentuan
Loan to Value (LTV)/Financing to Value (FTV), pemantauan terkait implementasi Giro Wajib Minimum (GWM) berdasarkan Loan to Funding
Ratio (LFR), pemantauan terhadap pencapaian rasio kredit UMKM, dan evaluasi terhadap besaran Countercyclical Buffer (CCB). Sinergi kebijakan dilakukan pula pada tahapan eksternal Bank Indonesia dengan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan secara bilateral dengan mengacu pada perjanjian kerja sama antara masing-masing otoritas. Pada ruang lingkup yang lebih luas, Bank Indonesia juga turut melakukan kerja sama dengan otoritas lain dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memperkuat protokol manajemen krisis secara nasional.
Ke depan, menghadapi risiko dan tantangan yang berpotensi kepada ketidakstabilan sistem keuangan, Bank Indonesia akan terus berupaya untuk melakukan inovasi bauran kebijakan sesuai tugas dan wewenang Bank Indonesia serta secara rutin berkoordinasi dan bekerja sama dengan otoritas lain untuk mewujudkan stabilitas sistem keuangan. Sebagai otoritas di bidang makroprudensial, Bank Indonesia akan melanjutkan penguatan kebijakan makroprudensial guna meningkatkan resiliensi sistem keuangan terhadap potensi risiko sistemik di tengah tantangan dan kompleksitas dinamika sistem keuangan yang ada. Penguatan kebijakan makroprudensial tersebut akan difokuskan kepada penguatan likuiditas, penguatan fungsi intermediasi dan peningkatan efektifitas instrumen.
Akhirnya, kami berharap semoga Kajian Stabilitas Keuangan ini dapat memberikan manfaat bagi
stakeholders dan menjadi salah satu referensi mengenai hasil asesmen, risiko, dan prospek sistem keuangan Indonesia di masa yang akan datang. Lebih lanjut, Bank Indonesia tetap terbuka terhadap saran, komentar, dan kritik dari semua pihak untuk penyempurnaan kajian dan analisis sistem keuangan di masa depan.
Jakarta, 30 Maret 2018 Gubernur Bank Indonesia
Bank IndonesIa k aj Ian st a BI lI tas k euangan n o. 30, Mar et 2018
RiNGKAsAN EKsEKuTif
Bank IndonesIa ka JI an s Ta BILIT as ke U an G an n o. 30, Mar et 2018“Pada Semester II 2017, Stabilitas Sistem Keuangan Menunjukkan Perkembangan Yang Lebih
Baik Dibandingkan Dengan Periode Sebelumnya“
Pada semester II 2017, stabilitas sistem keuangan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya meskipun intermediasi perbankan masih tumbuh secara terbatas. Kondisi yang stabil tersebut ditunjukkan oleh pergerakan Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) yang terjaga di zona normal. Perkembangan positif dari SSK tidak terlepas dari pengaruh menurunnya risiko sistem keuangan global pada semester laporan. Hal ini sejalan dengan perekonomian dunia yang membaik dan ketidakpastian di pasar keuangan yang menurun. Akselerasi pemulihan ekonomi global telah meningkatkan optimisme pasar dan menurunkan risiko terjadinya gangguan stabilitas pasar keuangan. Risiko sistem keuangan global yang menurun juga didukung oleh arah kebijakan moneter dari negara maju yang sesuai perkiraan pasar dan risiko geopolitik yang relatif mereda. Perkembangan positif dari global tersebut pada gilirannya memberikan momentum positif bagi perekonomian Indonesia.
Sejalan dengan menurunnya risiko di sistem keuangan global, risiko perekonomian domestik juga menurun pada semester II 2017. Perbaikan ini didukung oleh stabilitas makroekonomi yang terjaga sejalan dengan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Keseimbangan eksternal perekonomian Indonesia cenderung membaik. Neraca pembayaran tercatat
surplus dengan defisit transaksi berjalan yang menurun. Di sisi lain, nilai tukar rupiah cenderung stabil, meskipun sedikit tertekan di akhir tahun. Di tengah membaiknya SSK, masih terdapat beberapa sumber kerentanan yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan keuangan antara lain (i) pergerakan pertumbuhan kredit perbankan yang cenderung prosiklikal dengan pertumbuhan PDB sehingga siklus keuangan masih berada pada fase kontraksi; (ii) cukup tingginya posisi ULN korporasi nonbank; dan (iii) tingginya kepemilikan nonresiden di pasar keuangan domestik. Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat pada akhir semester II 2017 yang disebabkan oleh tingginya kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrakstruktur dan kegiatan produktif lainnya, baik yang berasal dari pemerintah maupun swasta. Dari sisi risiko, rasio ULN terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dipandang cukup terjaga. Hal ini diindikasikan dengan debt
to GDP ratio yang relatif stabil di kisaran 34 – 35%. Porsi ULN korporasi nonbank di Indonesia tercatat cukup tinggi yaitu sebesar 37% dari total ULN. Secara keseluruhan, risiko yang berasal dari porsi ULN korporasi nonbank yang cukup tinggi tersebut masih terjaga dengan didukung oleh struktur ULN yang mayoritas berjangka panjang dan repayment
capacity yang membaik. Namun demikian, potensi risiko ULN korporasi nonbank sebagai sumber kerentanan tetap harus diwaspadai mengingat
Bank IndonesIa k a JI an sT a BILIT as k e U an G an n o. 30, Mar et 2018
pertumbuhan ULN korporasi nonbank selama 2017 sebagian besar disebabkan oleh peningkatan ULN jangka pendek.
Sementara itu, porsi kepemilikan nonresiden baik di pasar SBN maupun di pasar saham masih tergolong tinggi pada semester II 2017. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan investor asing terhadap potensi dan prospek perekonomian Indonesia ke depan masih cukup tinggi. Terlepas dari sisi positifnya, potensi risiko pembalikan arus modal dan volatilitas transaksi juga menjadi cukup besar, apalagi di tengah kondisi sentimen negatif eskternal yang meningkat.
Seiring dengan membaiknya stabilitas sistem keuangan Indonesia, stabilitas di pasar keuangan domestik pada semester II 2017 relatif terjaga. Di tengah sentimen positif yang antara lain didukung oleh kenaikan credit rating Indonesia dan stabilnya kondisi makroekonomi, pemanfaatan pembiayaan dari pasar modal terutama melalui
initial public offering (IPO) dan right issue di
pasar saham serta penerbitan obligasi dan sukuk korporasi cenderung menurun jika dibandingkan dengan semester sebelumnya. Namun demikian, berbagai indikator di pasar modal dan pasar uang secara umum menunjukkan penurunan risiko jika dibandingkan dengan semester sebelumnya.
Pemanfaatan pembiayaan nonperbankan cenderung menurun antara lain dipengaruhi oleh refinancing yang dilakukan di semester sebelumnya, persepsi risiko, dan pola seasonal. Seiring penurunan pemanfaatan pembiayaan dari pasar modal, hal yang sama juga terjadi dengan penerbitan Negotiable Certificate of
Deposit (NCD) yang mengalami penurunan di
semester II 2017. Namun demikian, NCD masih
menjadi alternatif instrumen keuangan bagi perbankan sebagai sumber pendanaan jangka pendek di bawah 1 (satu) tahun. Sementara itu penerbitan instrumen Medium Term Notes (MTN) justru mengalami peningkatan yang didominasi oleh emiten di sektor manufaktur, properti dan infrastruktur dalam rangka memenuhi kebutuhan modal kerja (pengembangan usaha) dan refinancing yang antara lain dipengaruhi persyaratan penerbitan instrumen yang lebih longgar dengan tidak mewajibkan pemenuhan
rating.
Secara umum, risiko di Pasar Uang Antarbank (PUAB), pasar repo antar bank, dan pasar valas menunjukkan penurunan dibandingkan dengan semester sebelumnya. PUAB rupiah dan valas menunjukkan volatilitas suku bunga yang menurun dan volume transaksi yang terjaga. Sementara itu, pada pasar repo antarbank, rata-rata harian suku bunga menurun untuk semua tenor yang menunjukkan semakin efisiennya pasar. Terkait pasar valas, volatilitas spot dan derivatif di semester II 2017 tetap terjaga. Persepsi investor asing terhadap nilai tukar rupiah juga membaik yang tercermin dari cenderung menurunnya spread dari
non-deliverable forward (NDF) terhadap forward
domestik.
Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), penurunan risiko tercermin dari penurunan yield yang terjadi di semua tenor dan terjaganya volatilitas suku bunga. Demikian pula di pasar obligasi korporasi yang juga menunjukkan penurunan yield dibanding dengan semester sebelumnya. Seiring dengan penurunan risiko di pasar obligasi, pasar saham juga mengalami hal yang sama tercermin dari menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan turunnya volatilitas di pasar saham.
reksadana sejalan dengan penguatan harga
underlying aset reksadana di pasar saham dan
SBN berupa pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang lebih tinggi dan penurunan volatilitas NAB dibandingkan dengan semester sebelumnya. Persepsi positif yang ditunjang dari naiknya
credit rating Indonesia dari sejumlah lembaga
pemeringkat, mendorong minat investor asing untuk berinvestasi di pasar obligasi sehingga kepemilikan obligasi oleh investor asing meningkat di semester II 2017. Hal yang berbeda terjadi di pasar saham dengan adanya outflow dari investor asing. Meskipun demikian, IHSG menunjukkan penguatan yang mengindikasikan meningkatnya peranan investor dalam negeri untuk meredam gejolak pasar saham.
Pada semester II 2017, pasar keuangan syariah menunjukkan risiko yang relatif terjaga meskipun dari segi volatilitas cenderung meningkat. Terjaganya risiko di pasar keuangan syariah ditopang oleh faktor-faktor seperti kondisi PUAS dengan penurunan tingkat imbalan Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (SIMA) overnight dan meningkatnya volume transaksi PUAS; meningkatnya minat investor untuk berinvestasi di SBSN; kinerja pasar modal yang membaik tercermin dari Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Indeks (JII) dari segi volatilitas maupun kapitalisasi; serta semakin meningkatnya kinerja reksadana syariah yang tercermin dari NAB, peningkatan volume, dan terjaganya minat investor.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik di semester II 2017, sektor rumah tangga juga menunjukkan pertumbuhan
peningkatan, baik dilihat dari pertumbuhan nilai, proporsi terhadap PDB, maupun pertumbuhan kreditnya. Di sisi lain, kredit konsumsi rumah tangga meningkat dengan risiko yang terjaga, sebagaimana tercermin dari penurunan angka NPL. Sementara itu, sektor rumah tangga tetap menunjukkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan, dengan membaiknya angka Indeks Keyakinan Konsumen.
Secara umum, sektor korporasi menunjukkan kinerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan semester sebelumnya, khususnya pada industri nonmigas. Peningkatan ekspor, investasi, volume perdagangan, dan harga beberapa komoditas mendorong terjadinya peningkatan kinerja sektor korporasi. Sejalan dengan itu, kinerja korporasi publik nonkeuangan juga menunjukkan perbaikan meskipun terbatas. Terdapat kenaikan profitabilitas dan produktivitas sebagaimana ditunjukkan dengan kenaikan laba bersih, serta peningkatan
inventory turnover dan asset turnover. Namun
demikian, korporasi publik nonkeuangan juga mencatat adanya kenaikan utang dan nilai debt
service ratio (DSR).
Sejalan dengan peningkatan utang korporasi publik nonkeuangan, kredit perbankan kepada korporasi dan utang luar negeri sektor swasta menunjukkan pula adanya peningkatan dengan risiko yang terjaga. Kredit perbankan kepada korporasi meningkat didorong oleh banyaknya proyek infrastruktur pemerintah serta perbaikan ekonomi domestik. Sementara itu, risiko kredit perbankan masih terjaga, tercermin dari membaiknya rasio NPL. Utang luar negeri sektor swasta juga meningkat dengan risiko yang terjaga sebagaimana tercermin dari penurunan
Bank IndonesIa k a JI an sT a BILIT as k e U an G an n o. 30, Mar et 2018
utang luar negeri korporasi nonkeuangan yang direstrukturisasi. Nilai ULN restru korporasi nonkeuangan menurun baik untuk tone positif maupun negatif. ULN restru korporasi nonkeuangan tone positif didominasi oleh jenis
refinancing dengan adanya peningkatan ekspansi
usaha, khususnya pada korporasi berorientasi ekspor. Sementara itu, ULN restru korporasi nonkeuangan tone negatif didominasi oleh jenis
reconditioning dan rescheduling.
Sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, intermediasi perbankan pada semester II 2017 mengalami perbaikan walaupun masih terbatas. Hal tersebut ditandai oleh pertumbuhan kredit yang membaik, meskipun pertumbuhan DPK masih mengalami perlambatan yang menyebabkan Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan mengalami kenaikan. Meningkatnya permintaan pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah turut mendukung pertumbuhan kredit di tengah lemahnya permintaan kredit baru dari korporasi. Perbaikan pertumbuhan kredit juga terkonfirmasi dengan penurunan indeks lending
standard, terutama pada aspek suku bunga kredit
yang lebih rendah, jangka waktu kredit yang lebih panjang, dan biaya persetujuan kredit yang lebih murah.
Untuk mendorong pertumbuhan kredit, perbankan mulai melakukan penurunan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga kredit tersebut terjadi pada semua kelompok BUKU seiring dengan penurunan suku bunga DPK yang mencerminkan efektivitas transmisi suku bunga kebijakan Bank Indonesia. Penurunan suku bunga DPK lebih landai dibanding suku bunga kredit yang membuat intermediation
spread menjadi berkurang. Namun demikian
profitabilitas perbankan tetap terjaga karena penurunan spread diimbangi oleh peningkatan efisiensi.
Meskipun terdapat gejolak nilai tukar, risiko nilai tukar di sektor perbankan secara umum relatif terjaga. Hal ini tercermin dari Posisi Devisa Netto (PDN) perbankan yang relatif masih rendah dan didukung oleh ketahanan permodalan. Risiko pasar pada perbankan yang bersumber dari penurunan harga SBN juga relatif masih terjaga. Hal tersebut sejalan dengan yield SBN yang menurun serta IDMA index yang dalam tren peningkatan di sepanjang 2017.
Risiko kredit perbankan di semester II 2017 mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan konsolidasi kredit bermasalah oleh perbankan telah menunjukkan hasil. Berdasarkan sektor ekonomi, penyumbang terbesar penurunan NPL gross perbankan adalah sektor industri dan pertambangan, sejalan dengan peningkatan kinerja kedua sektor tersebut. Sementara itu, tingkat kecukupan permodalan perbankan juga masih terjaga, tercermin dari peningkatan
Capital Adequacy Ratio (CAR) sehingga berada
pada level yang cukup tinggi di atas ketentuan minimum. Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan kredit yang masih diimbangi dengan pertumbuhan modal karena terjaganya profitabilitas perbankan.
Pertumbuhan penyaluran kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di semester II 2017 meningkat cukup tinggi dibandingkan pertumbuhan pada semester sebelumnya. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan jumlah bank umum yang mencapai target rasio kredit
penyaluran kredit UMKM juga berdampak pada peningkatan dari rasio kredit UMKM terhadap total kredit, dibandingkan semester sebelumnya. Penyaluran KUR mendominasi ekspansi kredit UMKM pada tahun 2017. Hal ini tercermin dari penurunan penyaluran kredit UMKM ke sektor perdagangan yang digantikan oleh penyaluran kredit UMKM ke sektor produksi, sebagaimana target KUR. Sejalan dengan penurunan risiko kredit non-UMKM, risiko kredit UMKM juga mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari NPL gross yang lebih rendah dibandingkan kondisi pada semester sebelumnya maupun periode yang sama tahun sebelumnya.
Walaupun risiko pembiayaan masih membayangi, fungsi intermediasi perbankan syariah selama semester II 2017 berjalan dengan baik. Kondisi permodalan yang cukup tinggi dinilai mampu menyerap risiko yang timbul. Pertumbuhan pembiayaan yang lebih lambat dari pertumbuhan DPK menyebabkan FDR perbankan syariah mengalami penurunan dibandingkan semester sebelumnya. Melambatnya pertumbuhan pembiayaan sejalan dengan risiko pembiayaan yang masih dalam proses pembaikan yang menyebabkan bank syariah masih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaannya.
Pada semester II 2017, Institusi Keuangan Non-Bank (IKNB) terus menunjukkan kinerja yang meningkat. Meningkatnya kinerja perusahaan pembiayaan (PP) terlihat dari ekspansi pada sisi pembiayaan dan pendanaan. Sementara itu, risiko pembiayaan PP relatif terjaga, tercermin dari NPF yang menurun. Untuk mendukung pertumbuhan pembiayaan, PP meningkatkan
dari pinjaman dalam negeri. Tingkat profitabilitas dan efisiensi PP relatif terjaga yang terlihat dari peningkatan ROA dan ROE serta penurunan BOPO dibandingkan semester sebelumnya.
Kinerja industri asuransi secara umum meningkat tercermin dari pertumbuhan aset dan Investasi di seluruh jenis asuransi terutama asuransi jiwa dan asuransi sosial. Risiko likuiditas asuransi relatif terjaga, namun rasio kecukupan premi terhadap pembayaran klaim bruto cenderung menurun. Penurunan rasio kecukupan premi disebabkan oleh pertumbuhan klaim yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan premi di beberapa jenis asuransi. Hal ini berdampak pada profitabilitas asuransi yang tercermin dari ROA dan ROE yang sedikit menurun dibandingkan semester sebelumnya. Keterkaitan antara perbankan dan IKNB mengalami peningkatan. Keterkaitan antara perusahaan pembiayaan dengan perbankan terutama berasal dari peningkatan kredit perbankan terhadap perusahaan pembiayaan. Sementara meningkatnya keterkaitan perbankan dengan asuransi terutama disebabkan oleh naiknya penempatan dana asuransi pada surat-surat berharga bank.
Terpeliharanya stabilitas sistem keuangan pada semester II 2017 juga didukung oleh sistem pembayaran yang berjalan dengan aman, efisien, lancar, dan handal. Hal ini tercermin dari indikator sistem pembayaran yang secara umum menunjukkan kinerja positif. Risiko sistem pembayaran pun relatif terjaga dengan baik. Risiko setelmen dan likuiditas relatif rendah sebagaimana tercermin dari rendahnya nilai dan volume unsettled transaction serta tidak adanya
Bank IndonesIa k a JI an sT a BILIT as k e U an G an n o. 30, Mar et 2018
penggunaan fasilitas likuiditas intra hari (FLI) atau FLI syariah. Risiko operasional dan sistemik terjaga dengan baik pula. Dari sisi operasional, Bank Indonesia telah melakukan mitigasi risiko dengan mempersiapkan Business Continuity Plan dan infrastruktur sistem cadangan. Sementara itu, dari sisi risiko sistemik, terpantau tiga bank yang menjadi top lender dalam pasar uang antar bank. Operasional sistem pembayaran ketiga bank berjalan lancar. Terdapat gangguan di sistem internal salah satu bank, namun dapat diselesaikan pada hari yang sama.
Sejalan dengan kinerja positif sistem pembayaran, akses masyarakat terhadap layanan keuangan pun menunjukkan peningkatan. Indeks komposit keuangan inklusif meningkat didorong oleh bertambahnya jumlah penyelenggara, agen dan nasabah layanan keuangan digital (LKD), serta peningkatan transaksi uang elektronik yang dilakukan melalui agen LKD. Selain itu, peningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan didorong pula oleh adanya program gerakan nontunai yang dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah, antara lain elektronifikasi penyaluran bantuan dan perluasan eletronifikasi transaksi penerimaan dan pembayaran.
Dalam rangka mendukung terjaganya stabilitas sistem keuangan, pada semester II 2017 Bank Indonesia mempertahankan kebijakan makroprudensial yang bersifat akomodatif di tengah kondisi perekonomian dan perbankan yang masih dalam proses konsolidasi. Menunjang kebijakan tersebut, Bank Indonesia senantiasa melakukan evaluasi terhadap implementasi instrumen makroprudensial, melaksanakan kerja
sama dan koordinasi dengan otoritas lain, serta melakukan penguatan protokol manajemen krisis. Evaluasi yang secara rutin dilakukan terhadap instrumen makroprudensial dimaksudkan untuk memperoleh masukan bagi kebijakan Bank Indonesia khususnya di bidang makroprudensial, antara lain terkait kondisi terkini dari objek yang dievaluasi maupun dari sisi kepatuhan dari bank. Pelaksanaan evaluasi di semester II 2017 meliputi pemantauan kredit pemilikan rumah (KPR) sehubungan dengan ketentuan mengenai Loan to Value (LTV)/Financing to Value (FTV), pemantauan terkait implementasi giro wajib minimum (GWM) berdasarkan Loan to Funding
Ratio (LFR), pemantauan terhadap pencapaian
rasio kredit UMKM, dan evaluasi terhadap besaran Countercyclical Buffer (CCB). Hasil pemantauan dan evaluasi yang telah dilakukan antara lain: Pertumbuhan KPR di semester II 2017 menunjukkan pertumbuhan tertinggi sejak diberlakukannya ketentuan LTV/FTV tahun 2016. Dari segi risiko, terdapat penurunan risiko KPR yang tercermin dari penurunan NPL gross KPR di semester II 2017 meskipun masih lebih tinggi dibandingkan dengan NPL gross industri.
Kebijakan GWM LFR yang berupaya mendorong intermediasi perbankan dengan tetap menjaga kondisi likuiditas bank melalui penetapan rentang LFR sebesar 80% hingga 92% belum dapat sepenuhnya mendorong peningkatan LFR perbankan. Kondisi tersebut disebabkan oleh belum optimalnya penyaluran kredit perbankan di tengah pertumbuhan DPK dan penerbitan surat berharga yang cukup tinggi.
rasio kredit UMKM, maka pada tahun 2017 terdapat kewajiban bank umum untuk memenuhi rasio kredit UMKM terhadap total kredit sebesar 15%. Secara industri, rata-rata rasio kredit UMKM telah mencapai di atas threshold yang ditentukan namun secara individu masih terdapat bank yang belum mencapai target meskipun jumlahnya telah berkurang dibandingkan semester I 2017.
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan mengenai CCB, berdasarkan evaluasi terhadap indikator utama yang didukung dengan indikator pelengkap, secara umum belum terdapat adanya indikasi pertumbuhan kredit yang berlebihan yang dapat menyebabkan terjadinya risiko sistemik. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia pada bulan November 2017 kembali menetapkan besaran tambahan modal bank berupa CCB sebesar 0% yang diharapkan dapat mendorong perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit. Di bidang kerja sama dan koordinasi dengan otoritas lain, sepanjang semester II 2017, pelaksanaan kerja sama dan koordinasi antara Bank Indonesia dengan OJK maupun LPS telah berjalan secara baik dan lancar dengan mengacu pada kesepakatan yang telah dituangkan dalam Petunjuk Pelaksanaan Bersama antara Bak Indonesia dan OJK, maupun dalam Nota Kesepahaman antara Bank Indonesia dan LPS. Kerja sama dan koordinasi dengan OJK yang telah dilaksanakan antara lain meliputi pelaksanaan tugas terkait penyusunan ketentuan, pertukaran informasi, pelaksanaan sosialisasi petunjuk pelaksanaan mekanisme koordinasi (Juklak Mekor), kerjasama pengawasan dan pemeriksaan serta pelaksanaan pertemuan Forum Koordinasi
semua level. Sementara itu, kerja sama dan koordinasi dengan LPS yang telah dilaksanakan antara lain meliputi pertukaran data/informasi baik sosialisasi dan edukasi mengenai pelaksanaan tugas baik Bank Indonesia maupun LPS.
Terkait penguatan protokol manajemen krisis pada semester II 2017, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) telah melaksanakan salah satu program rutin tahunan yaitu simulasi pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan yang melibatkan seluruh anggota KSSK. Fokus utama dari simulasi adalah penanganan permasalahan solvabilitas atau resolusi perbankan. Hasil pelaksanaan simulasi tersebut akan menjadi masukan yang berharga bagi masing-masing otoritas untuk secara kontinyu mengevaluasi dan menyempurnakan mekanisme yang terkait dengan ketentuan pelaksanaan UU PPKSK. Selain simulasi di level nasional yang diselenggarakan KSSK, Bank Indonesia juga menyelenggarakan simulasi di internal Bank Indonesia untuk menguji penerapan fungsi Bank Indonesia sebagai Lender of the Last
Resort, khususnya dalam pemberian Pinjaman
Likuiditas Jangka Pendek (PLJP).
Memasuki tahun 2018, sistem keuangan Indonesia di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi baik di tingkat global maupun nasional masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan baik dari sisi eksternal maupun internal. Perbaikan perekonomian domestik yang ditunjang oleh konsolidasi korporasi dan perbankan, berbagai kebijakan yang ditempuh otoritas, dan persepsi positif di mata investor menjadi modal untuk meningkatkan kinerja pasar keuangan dan perbankan di tahun 2018. Oleh karena itu,
Bank IndonesIa k a JI an sT a BILIT as k e U an G an n o. 30, Mar et 2018
stabilitas sistem keuangan Indonesia di tahun 2018 diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi peluang dan tantangan eksternal, IMF memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global yang tercermin dari produk domestik bruto (PDB) untuk tahun 2018 mengalami perbaikan yaitu sebesar 3,9%. Revisi tersebut mencerminkan adanya peningkatan momentum pertumbuhan ekonomi global serta ekspektasi dampak positif dari perubahan kebijakan perpajakan AS. Namun demikian, perlu diwaspadai potensi kenaikan suku bunga dari AS yang lebih agresif dari proyeksi dan kawasan Eropa yang membuat peluang divergensi kebijakan suku bunga antara negara Advanced
Economies (AE) dibandingkan negara Emerging Market and Developing Economies (EM) menjadi
semakin lebar. Hal ini dapat membuat pilihan investasi ke negara AE menjadi lebih menarik sehingga dapat menjadi pemicu perpindahan dana dari EM ke AE.
Dari sisi internal untuk peluang dan tantangan di tahun 2018, melanjutkan kinerja yang relatif baik di tahun 2017, prospek perekonomian nasional ke depan diperkirakan semakin membaik yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cukup stabil, dan mulai menggeliatnya investasi yang didukung oleh meningkatnya pembiayaan baik dari kredit perbankan maupun pembiayaan nonbank dengan disertai stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang tetap terjaga. Meskipun demikian, terdapat sejumlah faktor domestik yang perlu diwaspadai antara lain terkait dampak penyesuaian harga komoditas yang di bawah kewenangan pemerintah (administered
prices), pengaruh volatile food terhadap inflasi,
peningkatan suhu politik terkait pelaksanaan pilkada dan pilpres, volatilitas nilai rupiah, dan penanganan nonperforming loan.
Bank Indonesia memproyeksikan kredit akan tumbuh dalam kisaran 10%-12% yang didukung oleh kinerja korporasi dan pendapatan masyarakat yang membaik serta turunnya risiko kredit. Sementara itu, peningkatan aktivitas perekonomian dan operasi keuangan yang lebih ekspansif akan mendukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sehingga DPK diperkirakan akan tumbuh cukup kuat dalam kisaran 9%-11%. Bersamaan dengan meningkatnya intermediasi perbankan, Bank Indonesia memperkirakan ketahanan perbankan tetap terjaga. Hal ini ditunjang oleh risiko kredit yang stabil dan berpotensi turun sehingga akan berkontribusi pada terjaganya rentabilitas dan ketahanan permodalan. Selain itu, ketahanan likuiditas perbankan diperkirakan cukup baik di tengah berbagai kebijakan dari otoritas untuk memperkuat likuiditas perbankan.
Dalam menghadapi risiko dan tantangan yang berpotensi menimbulkan instabilitas sistem keuangan, Bank Indonesia telah mempersiapkan bauran kebijakan baik di bidang moneter, bidang makroprudensial, dan bidang sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah. Terkait kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia memfokuskan pada tiga aspek penting, yaitu penguatan likuiditas, penguatan fungsi intermediasi, dan peningkatan efektivitas instrumen. Dari aspek penguatan likuiditas, Bank Indonesia akan mengimplementasikan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) yang mewajibkan bank untuk memelihara instrumen likuid dengan
Untuk aspek penguatan fungsi intermediasi, Bank Indonesia akan menerapkan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebagai bentuk penguatan dari kebijakan terkait Loan to Funding Ratio (LFR) dengan besaran RIM ditargetkan dalam kisaran 80-92%. Selain itu, Bank Indonesia juga senantiasa berusaha untuk meningkatkan kapabilitas UMKM dengan menyiapkan kebijakan dan infrastruktur pada berbagai aspek dan memperkuat program pengembangan wirausaha yang telah dilakukan, serta memperkuat komitmen mendorong bank untuk memberikan kredit kepada UMKM.
Bank Indonesia juga akan mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui implementasi blueprint pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang telah diluncurkan pada 2017. Dalam implementasinya, Bank Indonesia memperkuat kerja sama dengan seluruh pemangku kebijakan terkait untuk secara konsisten mendorong tiga pilar strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yaitu (i) pemberdayaan
syariah dan penguatan keuangan syariah untuk pembangunan; dan (iii) penguatan riset, asesmen, dan edukasi untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah.
Melengkapi penetapan kebijakan oleh Bank Indonesia dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait, antara lain dengan OJK dan LPS. Salah satu bentuk koordinasi dengan OJK adalah koordinasi informasi hasil pengawasan bank-bank yang ditetapkan sebagai Bank Sistemik (Domestic
Systemically Important Banks/DIB) yang telah
dilaksanakan secara periodik. Selanjutnya, kerja sama Bank Indonesia dengan LPS juga akan terus diperkuat, termasuk dalam hal pertukaran data dan informasi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh LPS sejalan dengan telah disepakatinya Perjanjian Kerja Sama Pembelian SBN LPS oleh Bank Indonesia.
senantiasa berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah risiko yang berasal baik dari perekonomian domestik dan global.
Stabilitas sistem keuangan pada semester II 2017 menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kondisi yang stabil tersebut ditunjukkan oleh pergerakan Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) yang terjaga di zona normal. Stabilitas sistem keuangan yang terjaga didukung oleh risiko keuangan global yang menurun, sejalan dengan perekonomian dunia yang membaik dan ketidakpastian di pasar keuangan yang menurun. Risiko perekonomian domestik juga menurun yang didukung oleh inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.
Walaupun stabilitas sistem keuangan terjaga, masih terdapat ketidakseimbangan domestik yang dapat menjadi sumber pemicu kerentanan pada sistem keuangan. Salah satu sumber kerentanan tersebut berasal dari Utang Luar Negeri (ULN) korporasi nonbank yang cukup tinggi. Tingkat sensitifitas ULN terhadap pergerakan nilai tukar merupakan faktor penting yang harus dipantau karena fluktuasi pergerakan nilai tukar dapat berpotensi menyebabkan munculnya risiko likuiditas apabila korporasi yang berhutang tidak melakukan lindung nilai (hedging) terhadap kewajibannya. Sumber pemicu kerentanan lainnya berasal dari porsi kepemilikan nonresiden di pasar keuangan domestik yang juga masih tergolong tinggi. Fenomena ini dapat memicu ketidakseimbangan keuangan domestik karena porsi kepemilikan asing yang tinggi terhadap aset suatu negara dapat menjadi transmisi bagi berbagai potensi risiko di pasar keuangan global untuk masuk ke dalam pasar keuangan domestik.
Ba NK IN do N e SIa Kaj Ia N S Ta BILIT a S Ke U a NG a N No. 30, Mar et 2018
StabilitaS SiStem keuangan terpantau cukup baik
Sejalan dengan membaiknya perekonomian global
dan Stabilnya perekonomian domeStik
KetidAKseimBAngAn KeuAngAn
domestiK
domestiK
• Inflasi rendah dan terkendali • Pertumbuhan ekonomi
meningkat
• NPI tercatat surplus dan defisit transaksi berjalan di bawah 3% dari PdB
• Nilai tukar rupiah bergerak stabil hingga triwulan III namun melemah pada triwulan IV • Pertumbuhan kredit terbatas • Kapasitas fiskal menurun
gloBAl
• Pertumbuhan ekonomi dunia membaik • Perekonomian emerging Market meningkat • Harga Komoditas batubara dan logam meningkat • Harga Minyak dunia meningkat
• Harga CPo menurun
Prosiklikalitas Penyaluran Kredit Perbankan dan Kontraksi Siklus
Keuangan
ULN Korporasi Nonbank yang
cukup tinggi Nonresiden di Pasar Keuangan Tingginya Kepemilikan domestik
stABilitAs sistem eKeuAngAn memBAiK
3 1.5 2 0.5 2.5 2.5 2.5 1 0
2002MO1 2002MO8 2003MO3 2003M10 2004M05 2004M12 2005M07 2006M02 2006M09 2007M04 2007M11 2008MO6 2009MO1 2009MO8 2010MO3 2010M10 2011MO5 2011M12 2012MO7 2013MO2 2013MO9 2014MO4 2014M11 2015MO6 2016MO1 2016MO8 2017MO3 2017M10 2017M10
Ditengarai Krisis Normal ISPK ISIK ISSK
0,90 0,57 0,77
Risiko sistem keuangan global pada semester II 2017 menurun. Hal ini sejalan dengan perekonomian dunia yang membaik dan ketidakpastian di pasar keuangan yang menurun. Perekonomian global membaik didukung oleh negara maju dan negara berkembang. Risiko keuangan global yang menurun juga didukung oleh arah kebijakan moneter dari negara maju yang sesuai perkiraan pasar dan risiko geopolitik yang relatif mereda. Perkembangan positif dari global tersebut pada gilirannya memberikan momentum positif bagi perekonomian Indonesia.
Ekonomi global pada semester II 2017 membaik, didukung oleh pemulihan ekonomi negara maju dan berkembang. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) meningkat ditopang oleh pertumbuhan investasi dan konsumsi yang kuat. Ekonomi Eropa tumbuh lebih baik dari perkiraan, didukung oleh perbaikan ekspor, konsumsi, dan investasi. Sejalan dengan itu, ekonomi Jepang diperkirakan tumbuh lebih kuat didorong oleh konsumsi dan investasi swasta yang tumbuh positif, serta net ekspor yang tetap kuat. Sementara itu di negara berkembang, ekonomi Tiongkok tetap tumbuh cukup tinggi didorong oleh ekspor dan konsumsi. Di sisi lain, ekonomi India tumbuh melambat dipengaruhi dampak kebijakan demonetisasi dan penerapan sistem pajak baru yang berdampak negatif terhadap kinerja investasi dan ekspor.
Pemulihan ekonomi dunia yang terus berlanjut mendorong kenaikan harga komoditas global.
permintaan, penawaran, dan situasi politik. Di sisi permintaan, meningkatnya permintaan minyak terutama bersumber dari belahan utara bumi akibat musim dingin yang cukup ekstrim. Sementara itu, di sisi penawaran harga minyak dipengaruhi, antara lain, oleh tingginya tingkat realisasi kepatuhan negara Organization of the Petroleum
Exporting Countries (OPEC) dan non-OPEC terkait pemotongan produksi minyak, penurunan produksi minyak di Venezuela, dan kondisi politik terkait aksi protes di Iran serta ketegangan terkait Korea Utara. Sementara itu, harga batubara masih tercatat meningkat sejalan dengan kondisi batubara dunia yang masih akan mengalami
net-demand akibat tingginya permintaan listrik tenaga
batubara selama musim dingin di Tiongkok dan India. Selain itu, turunnya produksi batubara Indonesia dan gangguan pasokan Australia juga diperkirakan turut mendorong peningkatan harga batu bara.
Dari sisi komoditas non-energi, harga komoditas pertanian masih mengalami tekanan, sementara harga komoditas logam diperkirakan tetap tinggi. Harga Crude Palm Oil (CPO) yang turun sejak awal tahun 2017 berlanjut ke semester II 2017. Hal ini disebabkan membaiknya produksi CPO terutama dari Malaysia dan Indonesia, meningkatnya produksi kacang kedelai yang merupakan produk subsitusi CPO, dan permintaan dari India dan Tiongkok yang menurun. Di sisi lain, harga komoditas logam (tembaga, nikel, timah) tercatat meningkat seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi dunia, terutama Tiongkok. Solidnya pertumbuhan ekonomi berdampak positif terhadap pasar keuangan global. Hal tersebut tercermin dari pasar saham global yang membaik