Penyaluran kredit ke sektor UMKM juga terus tumbuh, sehingga pangsa kredit UMKM terhadap total kredit tetap terjaga di atas 30%
4.1 Stabilitas Keuangan Daerah
4.1.3 Asesmen Sektor Institusi Keuangan (Perbankan) 17
4.1.3.1 Perkembangan Kelembagaan
Dari sisi kelembagaan, pada triwulan II 2016, jumlah bank umum di Sulsel tidak berubah dibandingkan triwulan sebelumnya.Jumlah bank umum pada triwulan II 2016 tercatat sebanyak 52 bank, sedangkan jumlah BPR masih tetap sebanyak 29 bank. Jumlah kantor juga tidak mengalami penambahan. Jumlah kantor keseluruhan mencapai 977 kantor.
Tabel 4.13. Perkembangan Kelembagaan Bank Umum dan BPR
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah
4.1.3.2 Aset Perbankan
Pertumbuhan total aset bank umum pada triwulan II 2016 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Aset perbankan tercatat sebesar Rp122,71 triliun, tumbuh 13,30% (yoy) lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya 15,14% (yoy) (Tabel 4.12). Perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan aset di kelompok bank pemerintah dari 21,85% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 18,48% (yoy) di triwulan II 2016.
Perlambatan juga terjadi pada pertumbuhan total aset bank swasta nasional dari 6,20% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 6,17% (yoy) di triwulan II 2016. Di sisi lain, total aset bank asing dan bank campuran kembali mengalami kontraksi -16,716% (yoy), lebih baik dibandingkan kontraksi di triwulan sebelumnya -23,57% (yoy).
Tabel 4.14. Aset Bank Umum Menurut Kelompok Bank
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah
4.1.3.3 Intermediasi Perbankan
Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum pada triwulan II 2016 mengalami percepatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Dana yang dihimpun mencapai Rp82,09 triliun atau tumbuh 19,21% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya 17,95% (yoy). Percepatan terjadi di komponen Tabungan dan Deposito yang masing-masing tumbuh dari16,08% (yoy) dan 21,44% (yoy) di triwulan I 2016, menjadi 22,16% (yoy) dan 23,09% (yoy) di triwulan II 2016. Sementara itu, Giro tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan dari 26,98 (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 3,24% (yoy) di triwulan II 2016.
17Data perbankan lokasi bank
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan| Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel
75
Tabel 4.15. Penghimpunan Dana dan Penyaluran Kredit Bank Umum
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah
Kredit yang disalurkan perbankan juga tercatat mengalami percepatan pertumbuhan pada triwulan II 2016. Kredit tercatat tumbuh 16,06% (yoy) menjadi Rp101,62 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh 12,05% (yoy). Secara penggunaan, percepatan pertumbuhan didorong oleh percepatan penyaluran kredit di kelompok investasi dan konsumsi. Kelompok kredit investasi tumbuh 26,04% (yoy) lebih tinggi dari pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang tercatat 21,59% (yoy). Sementara itu, kredit konsumsi mengalami akselerasi pertumbuhan dari 7,53%
(yoy) di triwulan I 2016 menjadi 13,35% (yoy) di triwulan II 2016. Di sisi lain, kredit modal kerja tercatat sedikit melambat dari 14,44% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 14,13% (yoy) di triwulan II 2016. Secara sektoral, percepatan pertumbuhan kredit didorong oleh percepatan penyaluran kredit di sektor Industri Pengolahan dan sektor Konstruksi yang masing-masing tumbuh 56,44% (yoy) dan 21,94% (yoy) di triwulan II 2016.
Dengan pertumbuhan kredit yang rendah dibandingkan pertumbuhan DPK, indikator intermediasi perbankan (LDR) semakin seimbang, sedangkan risiko perbankan (NPL) terlihat semakin membaik. Kedua indikator tersebut tercatat masing 123,78% dan 3,05% pada triwulan II 2016, lebihbaik dibandingkan triwulan I 2016 yang tercatat masing-masing 122,94% dan 3,36%.
Tabel 4.16. Kredit Bank Umum Menurut Sektor Ekonomi
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah
4.1.3.4 Bank Syariah
Aset perbankan syariah mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya. Aset perbankan syariah pada triwulan II 2016 tercatat tumbuh 8,13% (yoy) menjadi Rp6,69 triliun, lebih rendah dari triwulan I 2016 yang tumbuh 16,96%. Perlambatan pertumbuhan disebabkan oleh perlambatan kinerja Bank Pemerintah dan Bank Swasta Nasional. Aset Bank Pemerintah tercatat tumbuh melambat dari 50,55% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 18,32% (yoy) di triwulan II 2016. Sementara aset perbankan swasta tumbuh melambat dari 9,42% (yoy) menjadi 5,85% (yoy).
76
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi SulselPenghimpunan DPK menunjukkan peningkatan pertumbuhan di triwulan II 2016. DPK mengalami akselerasi pertumbuhan dari 10,33% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 10,45% (yoy) di triwulan II 2016. Akselerasi DPK syariah di dorong oleh perbaikan kinerja Deposito yang menunjukkan peningkatan pertumbuhan dari 22,90% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 24,49% (yoy) di triwulan II 2016. Sementara itu, terjadi penurunan kinerja tabungan yang di tunjukan oleh perlambatan pertumbuhan dari 18,36% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 14,20% (yoy) di triwulan II 2016. Di sisi lain, giro kembali mengalami kontraksi -29,65% (yoy) melanjutkan tren kontraksi diperiode sebelumnya -38,04% (yoy).
Pada bagian pembiayaan, terjadi penurunan yang signifikan di triwulan II 2016. Total pembiayaan syariah di triwulan II 2016 tercatat sebesar Rp5,74 triliun tumbuh 2,90% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 11,05% (yoy). Dengan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pembiayaan, mengakibatkan Financing to Deposit Ratio (FDR) mengalami penurunan. Di triwulan II 2016, FDR mencapai 158,23% lebih rendah dari triwulan sebelumnya 165,43%. Sementara itu, kualitas pembiayaan terlihat semakin membaik yang tercermin dari penurunan rasio non performing financing (NPF) dari 4,39% di triwulan I 2016 menjadi 3,87% pada triwulan II 2016.
Tabel 4.17. Perkembangan Indikator Bank Umum Syariah
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah
4.1.3.5 Bank Perkreditan Rakyat
Kinerja BPR (termasuk BPR Syariah) juga cenderung meningkat di triwulan II 2016. Dari indikator aset, aset BPR di triwulan II 2016 tumbuh 21,89% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 19,01% (yoy). DPK tumbuh 34,23%
(yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 40,123%% (yoy), sementara Kredit tercatat tumbuh 27,25% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 20,76% (yoy). Dengan peningkatan kredit tersebut, loan to deposit ratio (LDR) sedikit mengalami peningkatan. Pada triwulan II 2016 LDR BPR tercatat 131,67%, sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 123,73%.
Sumber: LBPR Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Sumber: LBPR Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Grafik 4.29. Perkembangan Aset BPR Grafik 4.30. Perkembangan Intermediasi BPR
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan| Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel
77
4.1.3.6 Perbankan per Kabupaten/Kota
Perbankan di Kabupaten Bantaeng mencatat pertumbuhan aset tertinggi (40,12%; yoy) di triwulan II2016. Namun demikian, perbankan di Kota Makassar dengan kepemilikan aset yang paling besar tetap menjadi pendorong utama perekonomian di Sulsel. Total aset perbankan di Makassar pada triwulan II 2015 mencapai Rp84,68 triliun atau porsinya 69,01% dari total aset perbankan di Sulsel. Sementara pangsa aset perbankan di 23 kab/kota lainnya terhitung relatif masih sangat kecil, rata-rata kurang dari 5% dari total aset perbankan di Sulsel. Pertumbuhan aset perbankan di Kota Makassar tercatat 11,65% (yoy). Pertumbuhan aset 5 daerah tertinggi lainnya terjadi di Kabupaten Bantaeng (40,12%;
yoy), Jeneponto (37,58%; yoy), Luwu Utara (36,44%; yoy), Maros (30,62%; yoy), dan Luwu (29,83%; yoy).
Tabel 4.18. Perkembangan Aset Perbankan per Kabupaten/Kota
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kabupaten Luwu merupakan daerah dengan pertumbuhan kredit tertinggi di triwulan II 2016. Kredit di Kab. Luwu tumbuh 47,08% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 16,52% (yoy). Namun, bila dilihat dari sisi pangsa kredit, kredit terbesar masih berada di Kota Makassar dengan total portfolio sebesar Rp67,75 triliun atau 66,67% dari total kredit di Sulsel. Di triwulan II 2016 ini kredit di Makassar tumbuh 13,34% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 12,80% (yoy). Hal ini menunjukkan, konsentrasi pertumbuhan ekonomi masih terpusat di Kota Makassar.
Tabel 4.19. Perkembangan Kredit Perbankan per Kabupaten/Kota
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kabupaten Takalar merupakan daerah dengan pertumbuhan DPK tertinggi di triwulan II 2016. DPK di Kab. Takallar tumbuh 104,03% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 86,72% (yoy). Namun, bila dilihat dari sisi pangsa, DPK terbesar masih berada di Kota Makassar dengan total portfolio sebesar Rp53,11 triliun atau 64,69%
78
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulseldari total DPK di Sulsel. Di triwulan II 2016 ini DPK di Makassar tumbuh 13,36% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya 12,46% (yoy). Hal ini menunjukkan, konsentrasi pertumbuhan ekonomi masih terpusat di Kota Makassar. Sementara itu, pangsa DPK di 23 kabupaten/kota lainnya masih relatif kecil. Tercatat hanya terdapat 2 kabupaten/kota yang memiliki pangsa DPK di atas 3%, yaitu Parepare (3,20%) dan Palopo (3,49%). Melihat potensi perekonomian yang dimiliki beberapa Kabupaten di Sulsel yang relatif besar, perbankan dapat meningkatkan upaya penghimpunan DPK di luar Kota Makassar, melalui inovasi produk yang semakin menarik atau pengembangan branchless banking.
Tabel 4.20. Perkembangan DPK Perbankan per Kabupaten/Kota
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah Kualitas kredit relatif terjaga di seluruh kab/kota, dengan sebagian besar kabupaten/kota merupakan daerah lending (LDR > 100%). Kualitas kredit yang tercermin dari tingkat NPL di seluruh kabupaten/kota masih dalam level aman. Seluruh kab/kota memiliki tingkat NPL di bawah angka psikologis (5%). Sementara dari sisi intermediasi perbankan, lebih dari separuh daerah merupakan daerah lending, yang tercermin dari LDR lebih dari 100%. Terdapat 15 Kabupaten/Kota yang memiliki LDR di atas 100% yaitu Takalar, Parepare, Jeneponto, Bantaeng, Luwu Utara, Maros, Makassar, Sidrap, Sinjai, Pangkep, Pinrang, Palopo, Gowa, Bulukumba, dan Bone. Untuk perbankan yang berlokasi di 13 kabupaten/kota tersebut, masih memiliki potensi untuk penghimpunan DPK, terutama yang berupa dana murah (tabungan). Sementara daerah funding, dengan LDR kurang dari 100%, masih memiliki potensi yang besar untuk mendorong kredit/pembiayaan.
Tabel 4.21. Perkembangan NPL dan Intermediasi Perbankan per Kabupaten/Kota
Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Bank), diolah
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan| Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel