• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kredit Perbankan kepada Sektor Rumah Tangga

Penyaluran kredit ke sektor UMKM juga terus tumbuh, sehingga pangsa kredit UMKM terhadap total kredit tetap terjaga di atas 30%

4.1 Stabilitas Keuangan Daerah

4.1.1 Asesmen Sektor Rumah Tangga 16

4.1.1.4 Kredit Perbankan kepada Sektor Rumah Tangga

Dari sisi kredit perbankan, sektor rumah tangga masih mendominasi porsi penyaluran kredit di Sulawesi Selatan. Hal ini tercermin dari rasio kredit perseorangan yang mencapai 72,73% terhadap total kredit di Sulawesi Selatan pada triwulan II 2016. Sebagian besar kredit perseorangan tersebut disalurkan untuk tujuan konsumsi yaitu sebesar 55,10%, sedangkan sisanya digunakan untuk keperluan produktif baik modal kerja maupun investasi. Bila dilihat lebih dalam, kredit konsumsi oleh perseorangan lebih banyak disalurkan dalam bentuk kredit multiguna yang mencapai 41,01%. Sementara porsi kredit konsumsi perseorangan yang disalurkan dalam bentuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) masing-masing mencapai 30,56% dan 9,16%.

Di sisi lain, porsi kredit perseorangan yang digunakan untuk keperluan produktif cukup besar, yaitu mencapai 44,89%

di triwulan II 2016.Besarnya porsi kredit perseorangan untuk keperluan produktif menunjukkan perseoranganyang juga menjalankan UMKM, sehingga belum menggunakan badan usahanya dalam mendapatkan fasilitas pembiayaan dari perbankan. Pada triwulan II 2016, jumlah kredit modal kerja yang diakses oleh UMKM mencapai 79,75%, sementara di kredit investasi mencapai 55,80% (Grafik 4.14). Tingginya rasio kredit perseorangan yang diakses oleh UMKM, menjadi salah satu indikasi salah satu sumber risiko yang patut diwaspadai pada stabilitas keuangan di sektor rumah tangga.

66

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel

Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik 4.12. Komposisi Kredit Perseorangan Sulsel Grafik 4.13. Komposisi Penggunaan Kredit Perseorangan di Sulsel Dari sisi pertumbuhan, kredit perseorangan mengalami percepatan pertumbuhan.Pertumbuhan kredit perseorangan meningkat dari 13,81% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 16,26% (yoy) di triwulan II 2016. Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatnya kredit konsumsi terutama kredit multiguna yang mampu tumbuh 20,19% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang mencapai 16,43% (yoy). Di sisi lain, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) tercatat mengalami penurunan di triwulan II 2016 sebesar -14,99% (yoy), melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung sejak triwulan II 2015. Demikian pula Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mengalami perlambatan sebesar 5,21% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya 5,71% (yoy).

Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik 4.14. Komposisi Penggunaan Kredit Produktif Perseorangan

oleh UMKM

Grafik 4.15.Pertumbuhan Kredit Perseorangan di Sulsel

Dilihat dari sisi suku bunga, suku bunga kredit perseorangan menunjukkan arah yang relatif stabil dan mulai mengarah ke suku bunga yang lebih rendah. Pada triwulan II 2016, suku bunga tertimbang kredit perseorangan di Sulsel mencapai 12,90% per tahun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 13,21% per tahun. Penurunan ini diikuti oleh penurunan suku bunga rata-rata kredit konsumsi dari 13,90% per tahun di triwulan I 2016 menjadi 13,62% per tahun di akhir triwulan II 2016.

Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Grafik 4.16. NPL dan Suku Bunga Kredit Perseorangan di Sulsel

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan| Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel

67

Di sisi lain, risiko kredit rumah tangga tercatat masih terjaga di level yang aman.Hal ini dapat dilihat dari rasio NPL kredit perseorangan di triwulan II 2016 sebesar 2,31% lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya 2,34%. Risiko yang jauh lebih terkendali terjadi pada kredit konsumsi perseorangan yang tercermin dari rasio NPL sebesar 1,83%lebih rendah dibandingkan posisi NPL triwulan sebelumnya 1,92%.

Secara spasial, penyaluran kredit perseorangan masih terkonsentasi di Kota Makassar.Pangsa kredit perseorangan di Makassar sebesar 44,63%, diikuti oleh Kab. Gowa, Kab. Bone, dan Kota Palopo masing-masing dengan pangsa 5,78%, 4,16%, dan 3,75%. Penyaluran kredit perseorangan ini terdiri dari kredit perseorangan konsumtif dan non konsumtif (produktif). Untuk penyaluran kredit perseorangan konsumtif terkonsentrasi di Makassar dengan pangsa 41,32%, diikuti oleh Kab. Gowa, Kota Palopo, dan Kab. Bone masing-masing dengan pangsa 7,42%, 4,62%, dan 3,97%. Penyaluran kredit perseorangan konsumtif di sebagian besar kabupaten/kota didominasi oleh kredit multiguna, kecuali Kota Makassar dan Kab.Gowa yang lebih didominasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR).Hal ini menyebabkan secara keseluruhan kredit perseorangan konsumtif di Sulsel didominasi oleh Kredit Multiguna. Untuk penyaluran kredit perseorangannon konsumtif (produktif), juga terkonsentrasi di Kota Makassar dengan porsi 48,70%, diikuti Kab. Jeneponto, Kab. Bone, dan Kab.

Pinrang masing-masing dengan pangsa 5,20%, 4.39%, dan 3,89%.

Tabel 4.7.Penyaluran Kredit Perseorangan Secara Spasial Posisi Triwulan II 2016

Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah

Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Penyaluran KPR di triwulan II 2016 tercatat 5,21% (yoy) lebih rendah di bandingkan periode sebelumnya 5,71%

(yoy).Berdasarkan jenisnya, perlambatan pertumbuhan KPR disebabkan oleh KPR/KPA tipe sedang (>21-70 m2) dan KPR/KPA tipe besar (>21-70 m2). Di triwulan II 2016, KPR/KPA tipe sedang (>21-70 m2) tumbuh 6,61% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 8,35% (yoy). Sementara KPR tipe besar (>21-70 m2) tumbuh melambat dari 1,57% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 0,54% (yoy) di triwulan II 2016. Sementara itu, pertumbuhan KPR/KPA tipe kecil (s.d 21m2) dan KP Ruko tercatat tumbuh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, yaitu masing-masing dari -2,25% (yoy) dan 8,71% (yoy) di triwulan I 2016 menjadi 0,44% (yoy) dan 11,70% (yoy) di triwulan II 2016.

Dari sisi risiko, terjadi peningkatan risiko kemampuan membayar dari sektor rumah tangga. Meskipun masih dalam tingkat aman, NPL KPR secara keseluruhan sedikit meningkat dari 3,94% menjadi 3,98%. Peningkatan NPL disebabkan oleh memburuknya kualitas kredit KPR/KPA tipe besar (>21-70 m2) dari 3,92% di triwulan I 2016 menjadi 4,51% di triwulan II 2016.

68

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan | Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel

Tabel 4.8.Pertumbuhan dan NPL KPR di Sulsel Tabel 4.9.Pertumbuhan dan NPL KKB di Sulsel

Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah

Kredit Kendaraan Bermotor (KKB)

KKB kembali mengalami kontraksi di triwulan II 2016. Kontraksi KKB di triwulan II 2016 tercatat -14,99% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar -10,39% (yoy). Di sisi lain, kredit perseorangan melalui perantara keuangan (leasing) juga mengalami kontraksi -6,96% (yoy) di triwulan II 2016. Hal ini menunjukkan perilaku rumah tangga di Sulsel dalam melakukan pembiayaan kendaraan bermotor yang cenderung memillih jalur pembiayaan melalui perbankan dibandingkan jalur leasing.

Dilihat dari jenis kendaraan yang dibeli, kontraksi pertumbuhan KKB disebabkan oleh memburuknya kinerja kredit di seluruh jenis KKB. KKB mobil roda empat yang memiliki pangsa 85,26% tercatat mengalami kontraksi -14,61% (yoy) di triwulan II 2016, lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya -12,62% (yoy). KKB jenis truk, sepeda motor, dan kendaraan lainnya juga tercatat mengalami kontraksi masing-masing -33,97% (yoy), -8,40% (yoy), dan -61,24%

(yoy) di triwulan II 2016. Selain pertumbuhan yang memburuk, KKB secara agregat juga mengalami penurunan kualitas kredit dari 1,65% menjadi 1,74%. Apabila dilihat lebih dalam, penurunan kualitas kredit jenis KKB ini disebabkan oleh peningkatan NPL di KKB jenis sepeda motor dan kendaraan lainnya dari masing-masing 1,02% dan 1,60% di triwulan I 2016 menjadi 6,97% dan 1,72% di triwulan II 2016.

Kredit Multiguna

Kredit multiguna memiliki pangsa terbesar di seluruh kredit konsumsi perseorangan. Besarnya penggunaan kredit konsumsi perseorangan untuk keperluan multiguna menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan rumah tangga diluar kebutuhan untuk perumahan, kendaraan maupun peralatan rumah tangga masih cukup besar. Salah satu faktor besarnya kredit multiguna adalah proses pengajuan kredit yang cukup mudah.Pada triwulan II 2016, kredit multiguna tumbuh 20,19% (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya 16,43% (yoy).Selain itu, pemanfaatan penggunaan kredit multiguna yang fleksibel seperti renovasi rumah, biaya pernikahan, biaya pengobatan, pembelian barang elektronik, maupun sebagai modal usaha, menyebabkan tingginya minat rumah tangga untuk menggunakan produk pembiayaan ini.

Tabel 4.10.Komposisi Kredit Multiguna Posisi Triwulan II 2016

Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah

Jika dilihat berdasarkan besarnya pinjaman, kredit perseorangan multiguna didominasi oleh kelompok kredit dengan nominal >Rp100 juta – 500 juta berjangka waktu >60 bulan. Kelompok tersebut memiliki pangsa 62,05% dari total kredit multiguna perseorangan di triwulan II 2016. Berdasarkan jumlah rekening, kelompok ini juga memiliki pangsa terbesar yaitu 31,78% terhadap seluruh rekening kredit multiguna perseorangan. Dari sisi risiko, secara keseluruhan kredit multiguna perseorangan masih dalam kondisi aman. Hal ini tercermin dari tingkat NPL yang masih sangat rendah yaitu 0,74%. Namun, penyaluran kredit multiguna <Rp10 jutakhususnya yang berjangka waktu >60 bulan perlu mendapat perhatian khusus, mengingat NPL pada kelompok tersebut berada pada level yang tinggi mencapai 20,34% (Tabel 4.11).

Pangsa (%)

Tw II-2016 Tw I-2016 Tw II-2016 Tw I-2016 Tw II-2016

KPR/KPA s.d 21 9.86% -2.25% 0.44% 3.00% 2.65%

KPR/KPA >21-70 55.84% 8.35% 6.61% 3.89% 3.80%

KPR/KPA >70 21.65% 1.57% 0.54% 3.92% 4.51%

KP Ruko 12.65% 8.71% 11.70% 4.96% 4.90%

Total KPR 100.00% 5.71% 5.21% 3.94% 3.98%

Growth (yoy)

Jenis KPR NPL %

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Selatan| Periode Agustus 2016 Pengembangan Infrastruktur Kemaritiman Sebagai Pendorong Ekonomi Sulsel

69

Tabel 4.11. NPL Kredit Multiguna Posisi Triwulan II 2016

Sumber: LBU Bank Indonesia (Lokasi Proyek), diolah