TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Teori Asimetri
Teori asimetri terjadi dimana manajemen lebih banyak mengetahui informasi daripada pemilik. Menurut Putranto (2012:118) dalam Iskandar (2014) bahwa informasi asimetri adalah suatu keadaan dimana salah satu pihak atasan mempunyai pengetahuan yang lebih dari bawahan mengenai unit tanggung jawab bawahan. Bila kemungkinana pertama terjadi, akan muncul tuntutan yang lebih besar dari atasan kepada bawahan mengenai pencapaian target anggaran yang
menurut bawahan anggaran tersebut terlalu tinggi. Namun, bila kemungkinan kedua terjadi bawahan akan menyatakan terget lebih rendah daripada yang dimungkinkan untuk dicapai.
Menurut Scott (2009:13-14) terdapat dua jenis utama dari asimetri informasi, yaitu:
1. Adverse Selection
Adverse Selection merupakan jenis asimetri informasi dimana manajer dan orang dalam lainnya mempunyai lebih banyak informasi dibandingkan pihak luar. Dengan informasi yang lebih tersebut akan memunculkan potensi pengambilan keputusan yang hanya menguntungkan salah satu pihak saja. Sementara pihak lain dirugikan.
2. Moral Hazard
Moral Hazard adalah jenis informasi dimana pemegang saham atau pemberi pinjaman tidak dapat sepenuhnya mengamati kegiatan yang dilakukan oleh manajer dalam menjalankan amanah yang diberikan. Sehingga manajer dapat melakukan tindakan yang dapat berdampak tidak baik bagi perusahaan dan pemegang saham.
Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja agent. Asimetri informasi antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan
manajemen laba (earning management) dalam rangka menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja ekonomi perusahaan.
2.3 Laba
Laba merupakan salah satu informasi potensial yang terkandung di dalam
laporan keuangan dan sangat penting bagi pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Menurut Accounting Pricipal Board (APB) Statement mengartikan laba (rugi) sebagai kelebihan (defisit) penghasilan di atas biaya selama satu periode akuntansi. Sedangkan menurut Financial Accounting Standart Board (FASB) mendefinisikan accounting income atau laba akuntansi sebagai perubahan dalam equity (net asset) dari suatu entity selama suatu periode tertentu yang diakibatkan oleh transaksi dan kejadian atau peristiwa yang berasal bukan dari pemilik (Syafi,2002). Sedangkan menurut Mahmud M. Hanafi (2010:32) dalam Siregar (2016) menyatakan bahwa laba merupakan ukuran keseluruhan prestasi perusahaan, yang didefinisikan sebagai penjualan yang dikurangi biaya-biaya perusahaan.
Menurut Belkauoi (2007:226) dalam Iskandar (2014) menyatakan bahwa Laba adalah hal yang mendasar dan penting dari laporan keuangan dan memiliki banyak kegunaan di berbagai konteks. Laba umumnya dipandang sebagai dasar untuk perpajakan, penentu dari kebijakan pembayaran dividen, panduan dalam melakukan investasi dan pengambilan keputusan, dan satu elemen dalam peramalan. Selanjutnya Belkaoui (2007:226-229) dalam Iskandar (2014) memberikan penjelasan lanjutan mengenai laba, yaitu :
1. Laba adalah dasar untuk perpajakan dan redistribusi kekayaan di antara individu-individu. Satu versi dari laba yang dikenal sebagai laba kena pajak diperhitungkan menurut aturan-aturan yang ditentukan oleh peraturan fiskal pemerintah.
2. Laba dipandang sebagai suatu panduan bagi kebijakan dividen dan retensi perusahaan. Laba yang diakui adalah indikator dari jumlah maksimum yang dapat didistribusikan sebagai dividen ditahan untuk ekspansi atau diinvestasikan kembali kedalam perusahaan.
3. Laba dipandang sebagai panduan umum investasi dan pengambilan keputusan. 4. Laba dianggap sebagai suatu sarana prediktif yang membantu dalam meramalkan laba dan peristiwa-peristiwa ekonomi di masa depan. Bahkan pada kenyataannya, nilai-nilai laba masa lalu, yang didasarkan pada biaya historis dan nilai saat ini, ternyata dapat bermanfaat di dalam meramalkan nilai-nilai masa depan dari kedua versi laba.
5. Laba dapat dilihat sebagai suatu alat ukur efisiensi. Laba adalah ukuran baik dari keahlian kepengurusan manajemen atas sumber daya entitas maupun efisiensinya dalam menyelenggarakan urusan-urusan perusahaan. Hal ini dinyatakan dengan baik di dalam Laporan Kelompok Studi tentang Tujuan-tujuan Pelaporan Keuangan dari FASB, yang memiliki pendapat bahwa "Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dalam menilai kemampuan manajemen memanfaatkan sumber daya yang dimiliki perusahaan secara efektif guna mencapai sasaran utama perusahaan". Dan proses laba terdiri atas usaha-usaha dan pelaksanaan yang
diarahkan untuk menacapai sasaran utama perusahaan berupa pengembalian, dalam beberapa waktu, jumlah maksimum kas kepada para pemiliknya. Sasaran utama manajemen adalah untuk memaksimalkan laba per saham.
Pada awal abad XX Fischer, Lindahl, dan Hick menjelaskan sifat-sifat laba ekonomi mencakup tiga tahap, yaitu sebagai berikut:
1. Physical Income, yaitu konsumen barang dan jasa pribadi yang sebenarnya memberikan kesenangan fisik dan pemenuhan kebutuhan, laba jenis ini tidak dapat diukur.
2. Real Income adalah ungkapan kejadian yang memberikan peningkatan terhadap kesenangan fisik. Ukuran yang dapat digunakan untuk real income ini
adalah “biaya hidup” (cost of living). Dengan perkataan lain, kepuasan timbul karena kesenangan fisik yang timbul dari keuntungan yang diukur dengan pembayaran uang yang dilakukan untuk membeli barang dan jasa sebelum dan sesudah dikonsumsi.
3. Money Income merupakan hasil uang yang diterima dan dimaksudkan untuk konsumsi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Fischer, money income lebih dekat pada pengertian akuntansi tentang income. Lindahl menganggap konsep laba sebagai interest, yaitu merupakan penghargaan yang terus-menerus terhadap barang modal sepanjang waktu. Perbedaan antara interest dengan konsumsi yang diharapkan pada periode tertentu dianggap sebagai saving sehingga laba dianggap sebagai konsumsi ditambah saving.
Menurut Yadiati (2007: 92) dalam Ratnasari (2012) terdapat dua laba akuntansi dari segi pragmantik, yaitu:
1. Laba sebagai alat prediksi
Angka laba dapat memberikan informasi sebagai alat untuk menaksir dan menduga aliran kas untuk pembagian dividen dan sebagai alat untuk menaksir kemampuan perusahaan dalam menaksir earning power dan nilai perusahaan di masa mendatang.
2. Laba sebagai alat pengendalian manajemen
Laba dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi manajemen dalam mengukur kinerja manajer atau divisi dari suatu perusahaan.
Dapat dilihat bahwa laba merupakan salah satu komponen penting dan patut dipertimbangkan dalam laporan keuangan, maka pihak manajer tidak jarang yang melakukan tindakan yang tidak semestinya agar laba yang dilaporkan dapat sesuai harapan.