• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia sebagai makhluk masyarakat. salah satu kehilafan yang sangat umum ialah anggapan, bahwa manusia “menurut kodratnya” adalah egois dan bahwa ia mempunyai kebebasan yang sangat luas. Tiap orang mengenal kekuatan “akunya” sendiri, tetapi hanya sedikit orang yang menginsyafi, betapa erat “aku” ini dengan “kita”. Manusia baru menjadi manusia, karena hidup bersama dengan manusia yang lain. (Bouman, 1976:16)

Bouman (1976:16) dalam bukunya Ilmu Masyarakat Umum,

segenap sifat yang berkembang dalam pergaulan dengan orang lain. Sifat- sifat tersebut kerap kali terdapat dalam pertentangan satu dengan lainnya : perasaan harga diri di samping kecenderungan untuk patuh atau menyerah, simpati dan sifat-sifat penolong di samping nafsu berjuang, hasrat menyampaikan perasaan atau pikiran di samping kecenderungan menyendiri dan menyimpan rahasia. Justru dalam pertentangan-pertentangan inilah tersembunyi kekayaan alam tabiat manusia yang tak ubahnya dengan semua bentuk-bentuk hidup.

Pembawaan sosial memang meperlihatkan beberapa sifat-sifat yang tetap, tetapi hasrat naluri adalah tetap lebih penting, karena ia bersama-sama dengan sifat-sifat yang diperoleh kemudian, menjadi sebab dapat berubah- ubahnya alam tabiat manusia dalam batas-batas tertentu. Bilamana pembawaan sosial manusia tidak dapat berubah dan tidak dapat diolah lagi, maka tidak akan mungkin ada pendidikan dan perkembangan kebudayaan. Maka manusia akan tetap terkurung dalam kehidupan kehewanan yang tidak bersejarah, yang terus berulang-ulang seperti suatu lingkaran yang tak berujung berpangkal. Ini menggambarkan bagaimana alam tabiat manusia baru dapat berkembang setelah ia bergaul dengan sesama manusia. (Bouman, 1976:16-17)

2. Kecenderungan Meniru dan Saling Bergaul (berinteraksi)

Kecenderungan meniru termasuk kecenderungan naluriah, yang berubah-ubah dalam pergaulan masyarakat dan yang banyak mempunyai

peranan yang pentin-penting. Apa yang ada dalam permainan anak-anak masih berupa “peniruan”, jika dilihat dari sudut kemasyarakatan mempunyai dua arti:

a. Mempertahankan bentuk-bentuk kebudayaan dan adat istiadat yang

diambil secara diam-diam oleh keturunan yang satu dari keturunan yang lain. Hal ini terutama berlaku untuk segenap adat sopan-santun.

b. Penghematan tenaga. Tidak semua tindakan dapat didasarkan atas

keputusan kehendak yang bebas. Sebagai ganti pertimbangan yang teliti, dapat diadakan peniruan, untuk memudahkan hidup. (Bouman, 1976:22)

Dalam abad kesembilanbelas, karena pengaruh cara berpikir ilmu pengetahuan alam, orang telah mengemukakan pentingnya naluri bergaul sebagai suatu keharusan hayati, yang rupanya juga dalam zaman purbakala telah menjadi syarat untuk mencari makanan dan untuk keamanan. Barulah kemudian orang mulai memahami golongan sebagai kesatuan kemasyarakatan, di mana antara lain karena kecenderungan manusia untuk bergaul, dalam hal ini pergaulan itu mempuyai peranan sebagai tadi-sekarang dalam arti yang lebih luas- seluruh pembawaan kemasyarakatan tiap orang dapat berkembang, menjadi penolong terbentuknya pribadi seseorang. (Bouman, 1976:24)

3. Tolong-menolong dan Simpati

Simpati ialah kesanggupan untuk dengan langsung turut merasakan apa yang orang lain rasakan. Batas antara ‘aku’ dan ‘kita’ jadi kabur dan

jadilah perasaan suka “mengerti”. Mengerti adalah semacam mengetahui, di samping ‘langsung merasakan’ atau ‘ikut merasakan’. Pada bentuk simpati yang murni, perasaan-perasaan yang tak sadarlah berkuasa. Perasaan- perasaan serupa itu kebanyakan ditimbulkan dalam hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Bila seseorang tidak melihat sesuatu kejadian atau bilamana gambarnya kabur, maka tampaklah bahwa kekuatan perasaan simpati itu berkurang. Hal ini berlaku pula bagi kecenderungan tolong-menolong, yang demikian erat hubungannya dengan simpati.

Kecenderungan naluriah untuk menolong orang lain sebenarnya berdasarkan perasaan simpati daripada perasaan kasihan yang bersifat sepihak saja. Orang yang terjun ke dalam air untuk menolong seseorang yang hendak tenggelam, biasanya bukanlah didorong oleh perasaan kasihan. kebanyakan tolong-menolong terbatas pada pemberian pertolongan kecil- kecil antara seseorang dengan orang lain. Bantu-membantu ini mempererat hubungan antara sesama manusia (jugs hubungsn batin) dan oleh karena itu menjadikan faktor dalam pembentukan perasaan bersatu padu. (Bouman, 1976:24)

4. Hasrat Berjuang

Arti hasrat berjuang ini untuk masyarakat, terutama terletak dalam kenyataan, bahwa oleh karenannya individu menjadi manusia yang sebenarnya. Dalam dirimya tumbuh sifat-sifat yang memungkinkannya untuk mempertahankan diri dalam hubungan golongan. Kedua: hasrat

berjuang ini memperkuat perasaan persatuan, bilamana ia dapat melahirkan pembelaan masyarakat dengan cara tersusun, baik dengan bertindak bersama-sama terhadap ancaman dari luar, maupun dengan mengambil tindakan-tindakan terhadap orang yang membahayakan persatuan dan ketertiban dalam sebuah golongan.

5. Hasrat Memberitahukan dan Mudah Menerima Kesan

Hasrat untuk memberitahukan sebagai kebutuhan untuk

menyampaikan perasaan-perasaan atau pengetahuan sendiri kepada orang lain. Hasrat memberitahukan yang sebenarnya berdasarkan kecenderungan kemasyarakatan untuk mencari hubungan dengan orang lain. Percakapan yang dilakukan dalam kereta api atau dalam toko tentang udara, jarang dimaksudkan untuk betul-betul mempercakapkan keadaan iklim.

Keinginan untuk menyatakan perasaan hati dengan berbagai suara dan isyarat, diperkuat karena adanya sifat mudah menerima kesan dari yang diajak bercakap. Tiap hasrat menyampaikan sesuatu, menghendaki semacam balasan atau resonansi pada orang lain. Di siniah letak arti kecenderungan tersebut untuk kehidupan dalam masyarakat: orang mencari hubungan dan mempererat tali hubungan itu. Kehidupan bergolongan menjadi teguh karenanya. Sifat saling memperhatikan memajukan penyebaran pengetahuan dalam lingkungan masyarakat; rasa ‘asing’ terhadap orang lain dalam masyarakat itu hilang. (Bouman, 1976:29-30)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, dalam kehidupan bermasyarakat terdapat aspek-aspek nilai kemasyarakatan secara umum yang di dalamnya mencakup pembawaan sosial, saling bergaul, saling berinteraksi, mudah menerima kesan, simpati, kerjasama, gotong-royong, memiliki tujuan bersama, saling membutuhkan satu sama lain, serta memiliki rasa persatuan dan kesatuan yang diikat oleh kesamaan budaya, wilayah, identitas, tradisi, sikap dan juga adat istiadat.

Dokumen terkait