Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim terbesar di dunia memiliki banyak keanekaragaman agama, budaya, ras, suku dan adat istiadat. Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia hidup di tengah-tengah berbagai macam perbedaan. Sehingga, dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut seringkali memudahkan dalam memicu berbagai konflik di tengah- tengah kehidupan mereka jika tidak disertai dengan beberapa sikap yang positif, yakni rasa persaudaraan, perdamaian, toleransi, keadilan, saling menghormati satu sama dengan yang lain dan saling menghargai perbedaan yang ada.
Sejarah mencatat, konflik-konflik yang pernah terjadi di Indonesia diantaranya ialah, konflik yang terjadi di Aceh, kekerasan terhadap etnis cina di Jakarta pada Mei 1998, pembunuhan besar-besaran terhadap masa pengikut partai komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965, perang Islam Kristen di Maluku Utara pada tahun 1999-2003, Perang etnis antar warga Dayak dan Madura yang terjadi sejak tahun 1931 hingga tahun 2000 (Chanifah, 2012:3). Yang baru-baru ini terjadi di tahun 2016, aksi ricuh unjuk rasa pengemudi taxi yang diwarnai tawuran dan aksi lempar batu dengan pengemudi ojek online terkait konflik adanya wajah baru transportasi online yang dianggap merugikan
transportasi model lama (konvensional), tawuran antar warga Johar Baru Jakarta Pusat, terjadi di 3 lokasi sekaligus yang hanya berselang satu jam lamanya (Liputan6.com 19/05/2016). Kasus-kasus yang lain seperti, banyaknya tawuran baik antar warga dalam sebuah komuditi maupun antar pelajar tingkat SMP dan SMA, bentrok kerusuhan di kalangan mahasiswa dan politisi, serta tidak ketinggalan aksi bom-bom terorisme yang acapkali mengatasnamakan agama.
Fenomena seperti di atas menurut peneliti memberikan gambaran bahwa di dalam diri masyarakat Indonesia masih belum memiliki sikap persaudaraan, perdamaian, saling menghormati, dan persamaan sesuai dengan ajaran al-Qur’an. Karena sampai pada hari ini masih saja dijumpai kasus-kasus pertikaian dan permusuhan di tengah-tengah masyarakat, baik itu yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, maupun perbedaan ras, golongan, maupun keyakinan. Seperti yang terjadi di Ambon, Aceh, Tolikara, Tanjung Balai, dan lain sebagaianya. Hal tersebut memberikan bukti bahwa kesadaran maupun perhatian masyarakat untuk mempelajari dan mengamalkan pesan- pesan al-Qur’an sebagai pedoman hidup masih sangat rendah dan juga nilai- nilai kemasyarakatan yang ada dalam al-Qur’an khususnya surat al-Hujurat ayat 9-13 belum sepenuhnya diaktualisasikan oleh masyarakat Indonesia. Sehingga menurut peneliti, masih sangat penting dan relevan bila nilai-niai kemasyarakatan yang bersumber dari al-Qur’an ini diaktualisasikan oleh masyarakat Indonesia yang memiliki banyak keanekaragaman agama, budaya, ras, suku dan adat istiadat dengan mayoritas masyarakatnya muslim.
Begitu juga dengan dampak yang ditimbulkan dari adanya konflik- konflik tersebut di atas pasti akan dirasakan oleh masyarakat luas, baik yang secara langsung terlibat maupun yang tidak. Dampak-dampak yang diakibatkan oleh konflik dapat berupa kehancuran dari aspek fisik maupun infrastruktur. Akan tetapi yang paling berbahaya ialah menghancurkan mentalitas masyarakat dan bangsa yang berpotensi mengganggu keutuhan dan mengikis persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Dampak yang lain dari konflik yang terjadi, seharusnya masyarakat harus lebih dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan. Semua itu dijadikan
ibroh ataupun refleksi bahwa adanya konflik merupakan keadaan yang tidak enak dirasakan agar dapat diantisipasi sehingga tidak terjadi konflik lagi dikemudian hari.
Dalam konteks tersebut, masih pentingnya arti nilai-nilai
kemasyarakatan dari tafsir ayat 9 sampai dengan ayat 13 surat al-Hujurat dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat yang mengkaji berhubungan dengan pembinaan masyarakat dan juga surat al-Hujurat sendiri merupakan salah satu dari beberapa surat yang intens dan fokus pada pembahasan mengenai aspek akhlak dan pergaulan hidup manusia. Allah mewahyukan surat tersebut untuk memberikan pengajaran dan sekaligus meletakkan aturan tingkah laku umum serta seperangkat moral ideal bagi orang-orang muslim maupun kemanusiaan global.
Oleh karena itu dalam konteks seperti saat ini, dapat terealisasikannya nilai-nilai yang terdapat dalam surat al-Hujurat ayat 9-13 di tengah-tengah masyarakat merupakan solusi agar dapat terwujudnya kesejahteraan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, teraktualisasinya nilai-nilai
yaitu, Islah (perdamaian), adil, ukhuwah (persaudaraan), ta’aruf (saling
mengenal), musawah (persamaan derajat), tidak mengolok-olok, tidak
mengejek, tidak panggil memanggil dengan gelar-gelar buruk, tidak
berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak menggunjing diharapkan dapat mengubah keadaan masyarakat menjadi lebih aman, tentram,
damai menuju kehidupan masyarakat Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan telaah terhadap nilai-nilai kemasyarakatan yang
terdapat dalam surat al-Hujurat ayat 9-13 kajian Tafsir al-Misbah maka dapat
ditarik kesimpulan, yaitu:
Pertama, nilai-nilai kemasyarakatan yang terdapat dalam surat al- Hujurat ayat 9-13, penulis menemukan sebanyak 11 nilai yang ada, terbagi dalam dua kategori, yakni dalam bentuk perintah dan larangan. Dalam bentuk
perintah, yaitu; Islah (perdamaian), adil, ukhuwah (persaudaraan), ta’aruf
(saling mengenal), dan musawah (persamaan derajat). Sementara dalam bentuk
larangan, yaitu; mengolok-olok, mengejek, panggil memanggil dengan gelar- gelar buruk, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing.
Menurut penulis, pesan al-Qur’an melalui surat al-Hujurat ayat 9-13 pada intinya adalah menyuruh umat manusia untuk menciptakan persaudaraan, perdamaian, keadilan, persatuan umat dan sikap saling menghormati serta melarang semua perbuatan yang dapat menimbulkan pertiakaian maupun perpecahan yang dapat merusak tatanan hubungan antar sesama manusia dalam masyarakat.
Kedua, menurut penafsiran Quraish Shihab, bahwa nilai-nilai dan pesan yang Allah SWT sampaikan melalui surat al-Hujurat ayat 9-13 merupakan suatu isyarat yang sangat jelas bahwa persatuan dan kesatuan serta hubungan harmonis antar –anggota masyarakat kecil atau besar akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana buat mereka. Dengan demikian, manusia hendaknya memperhatikan apa yang telah dipesankan oleh sang Pencipta manusia Yang Maha Mengetahui dan mengenal mereka juga kemaslahatan mereka.
Kesimpulan dari pesan yang disampaikan dalam surat al-Hujurat,
Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya al-Misbah membagi pesan intinya
menjadi tiga bagian besar. Pertama, menjelaskan perintah untuk melakukan
ishlah terhadap kelompok/golongan yang bertikai atau berselisih. Kedua, menjelaskan beberapa hal yang harus dihindari untuk mencegah timbulnya pertikaian. Ketiga, menjelaskan tentang prinsip dasar hubungan antar manusia.
Bagian pertama: perintah untuk melakukan ishlah terhadap kaum
mukminin yang bertikai.
1. Mendamaikan dua kelompok/golongan yang bertikai dalam bentuk
sekecil apapun. Dengan ishlah berarti menghentikan kerusakan atau
meningkatkan kualitas sesuatu sehingga manfaatnya lebih banyak lagi.
2. Dalam melakukan ishlah lakukanlah dengan adil. Adil yakni
menyenangkan satu pihak. Adil dalam hukum berarti memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan.
3. Ishlah perlu dilakukan dan ditegakkan, karena semua manusia pada hakikatnya adalah bersaudara. Terlebih persaudaraan yang dijalin oleh keimanan, persaudaraan sesama makhluk Allah, sesama manusia, seketurunan dan sebangsa.
Bagian kedua: beberapa hal yang harus dihindari untuk mencegah timbulnya pertikaian.
1. Larangan mengolok-olok, yakni menyebut kekurangan pihak lain
dengan tujuan menertawakan yang bersangkutan, baik dengan ucapan, perbuatan, atau tingkah laku. Karena belum tentu orang atau kelompok yang diperolokkan lebih buruk (jelek) daripada dirinya dan atau kelompoknya.
2. Larangan mengejek siapa pun, baik dengan ucapan, perbuatan, maupun
isyarat. Karena dampak buruk ejekan itu akan menimpa si pengejek, bahkan tidak mustahil ia memperoleh ejekan yang lebih buruk.
3. Larangan panggil memanggil dengan gelar-gelar buruk dalam arti
timbal-balik. Sebagaimana yang terjadi biasanya gelar buruk
disampaikan secara terang-terangan dengan memanggil yang
bersangkutan, sehingga siapa yang tersinggung dengan panggilan buruk itu membalas dengan memanggil yang memanggilnya pula dengan gelar buruk.
4. Larangan berprasangka buruk (Su’u Zann), yakni prasangka/dugaan yang tidak berdasar, dugaan yang tidak memiliki indikator yang cukup dan yang mengantar seseorang melangkah menuju sesuatu yang diharamkan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.
5. Larangan mencari-cari kesalahan orang lain, mencari kesalahan orang
lain berawal dari sebuah prasangka buruk. Yang kemudian dari
prasangka buruk itu timbul ghibah dengan menggunjingkan hasil dari
zann dan tajassus. Melakukan tajassus dapat menimbulkan kerenggangan hubungan karena itu pada prinsipnya ia dilarang.
6. Larangan menggunjing (Ghibah), yakni menyebut orang lain yang tidak
hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh
yang bersangkutan.Larangan menggunjing ini tidak hanya berlaku jika
yang digunjing adalah seorang muslim, melainkan berlaku juga kepada manusia secara umum. Menggunjing salah seorang anggota masyarakat berarti melumpuhkan masyarakat itu sendiri.
Bagian ketiga: prinsip dasar hubungan antar manusia.
1. Al-Musawah (persamaan derajat), Semua manusia derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku, satu bangsa, warna kulit dan yang lain. Tidak ada juga perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan seorang perempuan, karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh sebab itu, tidak wajar seseorang berbangga dan merasa diri lebih tinggi daripada yang lain.
2. Ta’aruf (saling mengenal), Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan perempuan, serta menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya saling mengenal. Dengan saling mengenal mengantar manusia untuk bantu-membantu dan saling melengkapi. Semakin kuat pengenalan satu pihak kepada selainnya, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat, karenannya perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.
Ketiga, bahwa 11 nilai kemasyarakatan yang ada dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 9-13 tersebut, bila dikontekstualkan dengan kehidupan masa kini masyarakat Indonesia yang memiliki banyak keanekaragaman agama, budaya, ras, suku dan adat istiadat dengan mayoritas masyarakatnya muslim masih sangat relevan, Karena sampai pada hari ini masih saja dijumpai kasus- kasus pertikaian dan permusuhan di tengah-tengah masyarakat kita, baik itu yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, maupun perbedaan ras, golongan, maupun keyakinan. Seperti yang terjadi di Ambon, Aceh, Tolikara, Tanjung Balai, dan lain sebagaianya. Hal tersebut memberikan bukti bahwa kesadaran maupun perhatian masyarakat untuk mempelajari dan mengamalkan pesan-pesan al-Qur’an sebagai pedoman hidup masih sangat rendah dan juga nilai-nilai kemasyarakatan yang ada dalam al-Qur’an khususnya surat al-
Hujurat ayat 9-13 belum sepenuhnya diaktualisasikan oleh masyarakat Indonesia.
Dalam kaitanya kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Sejauh penelaahan yang penulis lakukan, ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat yang mengkaji berhubungan dengan pembinaan masyarakat dan juga surat al- Hujurat sendiri merupakan salah satu dari beberapa surat yang intens dan fokus pada pembahasan mengenai aspek akhlak dan pergaulan hidup manusia. Allah mewahyukan surat tersebut untuk memberikan pengajaran dan sekaligus meletakkan aturan tingkah laku umum serta seperangkat moral ideal bagi orang-orang muslim maupun kemanusiaan global.
Dengan demikian dalam konteks seperti saat ini, dapat
terealisasikannya nilai-nilai yang terdapat dalam surat al-Hujurat ayat 9-13 di tengah-tengah masyarakat merupakan solusi agar dapat terwujudnya kesejahteraan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain,
teraktualisasinya nilai-nilai yaitu, Islah (perdamaian), adil, ukhuwah
(persaudaraan), ta’aruf (saling mengenal), musawah (persamaan derajat), tidak
mengolok-olok, tidak mengejek, tidak panggil memanggil dengan gelar-gelar buruk, tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak menggunjing diharapkan dapat mengubah keadaan masyarakat menjadi lebih
aman, tentram, damai menuju kehidupan masyarakat Baldatun Thayyibatun Wa
B. Saran-saran
Al-Qur’an merupakan kitab suci universal-berlaku untuk setiap ruang waktu-yang dianugrahkan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Keuniversalan al-Qur’an terletak pada cakupan pesannya yang menjangkau keseluruh lapisan umat manusia, kapan saja dan dimana saja. al-Qur’an al- Karim bagaikan lautan luas yang tidak akan ada habisnya untuk dijelajahi. Isi dan kandungannya terdiri dari berbagai pesan yang dapat membimbing dan mengarahkan manusia untuk mengarungi kehidupannya, dari 114 surat yang ada, kajian terhadapnya tidak pernah kering, salah satu surat dalam al-Qur’an yang mempunyai pesan membentuk kepribadian individu dan masyarakat adalah surat al-Hujurat.
Penelitian penulis ini tentunya tidak dapat berhenti sampai disini saja, tentunya masih banyak pesan atau nilai yang belum terungkap dan tergali. Maka selengkapnya ayat demi ayat, surat demi surat yang ada dalam al-Qur’an perlu dikaji dan digali lebih dalam lagi sebagai wahana khazanah keilmuan
umat Islam untuk menciptakan kondisi masyarakat yang harmonis Dar
assalam sesuai dengan aturan atau nilai yang terdapat dalam al-Qur’an khusunya surat al-Hujurat.
Penulis merasa masih banyak yang belum terungkap dari apa yang ditafsirkan oleh Quraish Shihab mengenai surat al-Hujurat ayat 9-13. Oleh karena itu, penulis menyarankan penelitian lebih lanjut terhadap penafsiran Quraish Shihab yang merupakan salah satu mufasssir ataupun cendekiawan
muslim Indonesia harus tetap dilakukan, baik pada surat al-Hujurat maupun
pada surat-surat yang lain, baik pada tema-tema kemasyarakatan (al-Ijtima’i)
maupun pada tema-tema yang lain.
C. Penutup
Akhirnya demikian penelitian penulis tentang nilai-nilai
kemasyarakatan dalam surat al-Hujurat ayat 9-13 melalui kajian Tafsir al-
Misbah karya Quraish Shihab, semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk diri penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca. Teriring segala puji bagi Allah SWT atas karunia yang diberikan, sehingga penulis diberikan kekuatan, kemudahan, dan kelancaran untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian yang sederhana ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sangatlah penulis harapkan dalam upaya memperbaiki karya ini. Jika ada yang benar dari penelitian ini maka itu datangnya dari Allah SWT, dan jika terdapat banyak kesalahan maka itu datangnya dari penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad Ash-Shaabuuny. 1999. Study Ilmu Al-Qur’an. Cet. I. Bandung:
Pustaka Setia.
Al Farisi, Zaka, dkk. 2009. Asbabun Nuzul. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.
Anwar, Rosihon, dkk. 2014. The Wisdom ; Al-Qur’an Disertai Tafsir Tematis
yang Memudahkan Siapa Saja untuk memahami Al-Qur’an. Bandung: Al- Mizan.
Arifin, Tajul. 2008. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Gunung Djati Press.
Baidan, Nashruddin, 2005. metodologi penafsiran Al-Qur’an. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
. 2010. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bakker, Anton, dkk. 1990. Metode Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Bouman. 1976. Ilmu Masyarakat Umum. Jakarta: Pembangunan.
Budihardjo. 2012. Pembahasan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Yogyakarta: Lokus.
Bungin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Predana Media
Group.
Chanifah, Abu. 2012. Multikulturalisme dalam Perspektif Pendidikan Islam
(Telaah Surah Al-Anbiya’ ayat 107 dan Surah Al-Hujurat ayat 9- 13).
Skripsi. Salatiga: Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga.
Darmawan. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Departemen Agama RI. 2009. Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang
Disempurnakan). Jakarta: DEPAG.
. 1982. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: DEPAG.
Djuretna, A. Imam Muhni. 1994. Moral dan Religi menurut Emile Durkheim &
Henri Bergson. Yogyakarta: Kanisius.
Erickelman, Dare F, dkk. 2010. Al-Qur’an Sains dan Ilmu Sosial. Terj. Lien iffah
Naf’atu Fina dan Ari Hendri. Yogyakarta: Elsaq Press.
al-Farmawi, Abd al-Hayy. 1988. Metode Tafsir Maudu’i dan Cara
Hamka. 1961. Pandangan Hidup Muslim. Jakarta: Bulan Bintang
Kaelany HD. 2005. Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Kementerian Agama RI. 2012. Etika Berkeluarga, Bermasyarakat, dan Berpolitik
(Tafsir Al-Qur’an Tematik, Edisi yang Disempurnakan). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Koentjaraningrat. 2009. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta:
Djambatan
. 1976. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: UI Press.
Mahfud, Chorul. 2004. Menggagas Pendidikan Multikultural. Surabaya: Radar.
Muhsin. 2004. Bertetangga dan Bermasyarakat dalam Islam. Jakarta: al-Qalam.
Muhaimin. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: trigenda Karya.
Mustaqim, Abdul. 2011. Epistemologi Tafsir Kontemporer. Yogyakarta: LKIS.
Majid, Abd. 2000. Tantangan dan Harapan Umat Islam di Era Globalisasi.
Bandung: Pustaka Setia.
Nata, Abuddin. 2012. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Naim, Ngainun. 2009. Sejarah Pemikiran Hukum Islam: Sebuah Pengantar.
Yogyakarta: Teras.
Nazir, M. 1998. Metode Penelitian. Jakarta:PT. Ghalia Indonesia.
Nurdin, Ali. 2006. Qur’aic Societ: Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam
al-Qur’an. Jakarta: Erlangga.
Poerwadarminta, W.J.S. 1999. Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Qutbh, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zhilalil Qurían. Terj. Asías Yasin. Cet. I. Jilid X
Jakarta: Gema Insani Press.
Raghib, As Siraji. 2010.Cara Cerdas Hafal Al-Qur‟an, Solo: Aqwam.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-
Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
. 1999. Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai
. 2006. Menabur Pesan Ilahi: al-Qur’an dan Dninamika Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Lentera Hati.
. 1996. Membumikan Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu
dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.
. 2012. Al-Lubab: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah
Al-Qur’an. Tangerang: Lentera Hati.
Saleh, Qamarrudin, dkk. 1988. Asbab Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya
Ayat-Ayat Al-Qur’an). Bandung: Diponegoro.
Shadily, Hassan. 1980. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Surabaya:
USANA.
Shalabi, Ahmad. tt. Masyarakat Islam. Surabaya : CV. Ahmad Nabhan.
Subagyo, P. Joko, 1991. Metode Penelitian dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta.
Sukanto. 1994. Dinamika Islam dan Humaniora. Solo: Judika Press.
Sumadi, Suryabrata. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Press.
Soekanto, Soerjono. 2006. Emile Durkheim ; Aturan Aturan Metode Sosiologis.
Jakarta: Rajawali.
Supiana dan Karman M. 2002. Ulumul Quran dan Pengenalan Metode Tafsir.
Bandung: Pustaka Islamika.
Syadali, Ahmad dan Rofi’i, Ahmad. 2000. Ulumul Quran 1. Bandung: CV
Pustaka Setia.
Taneko, Soleman B. 1984. Struktur dan Proses Sosial Suatu Pengantar Sosiologi
Pembangunan. Jakarta: RaJawali.
Toha, Chabib. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Usman. 2009. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Teras.
Yaqin, M. Ainul. 2005. Pendidikan Multikultural: Cross-Cultural Understanding
untuk Demokrasi dan Keadilan. Yogyakarta: Pilar Media.
http://anamko.blogspot.co.id/2013/08/kajian-kitab-tafsir-di-indonesia-tafsir.html. diakses kamis 19 November 2015 pukul 13.03.
id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Quraish_Shihab, diakses kamis 19 November 2015 pukul 13.03.
(http://majelispenulis.blogspot.co.id/2013/12/tafsir-al-quran-al-araf-199.html. diakses senin 8 Agustus 2016 pukul 11.38).
Lidwa Pusaka i-Software - Kitab 9 Imam Hadist.
http://Liputan6.com/19/05/2016/Tawuran-Antar-warga.html, diakses kamis 28 Juli 2016 pukul 10.30.
DAFTAR SATUAN KETERANGAN KEGIATAN(SKK)
NAMA : NUR FAIZIN
NIM : 11112013
FAKULTAS / JURUSAN : TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN / PAI
NO
NAMA KEGIATAN PELAKSANAAN KETERANGAN NILAI
1. OPAK STAIN
Salatiga 2012 dengan
tema “Progresifitas
Kaum Muda, Kunci Perubahan Indonesia” 5-7 September 2012 PESERTA 3 2. OPAK Jurusan Tarbiyah STAIN
Salatiga dengan tema “Mewujudkan Gerakan Mahasiswa Tarbiyah Sebagai Tonggak Kebangkitan Pendidikan Indonesia” 8-9 September 2012 PESERTA 3 3. Orientasi Dasar Keislaman (ODK) dengan tema “Membangun Karakter Keislaman Bertaraf Internasiomal di Era Globalisasi Bahasa” 10 September 2012 PESERTA 2 4. Seminar Entrepreneurship dan 11 September 2012 PESERTA 2
Perkoperasian 2012
dengan tema “Explore
Your
Entrepreneurship Talent”
5. Achievment
Motivation Training
(AMT) dengan tema
“Dengan AMT,
Bangun Karakter Raih Prestasi” 12 September 2012 PESERTA 2 6. UPT Perpustakaan STAIN Salatiga “LIBRARY USER EDUCATION” 13 September 2012 PESERTA 2 7. Musabaqoh Lughoh ‘Arobiyah (MLA) dengan tema “Mewujudkan Potensi Berbahasa Dengan Musabaqoh Lughoh ‘Arobiyah” 17 Oktober 2012 PESERTA 2 8. Penerimaan Anggota Baru JQH dengan tema “Membentuk Paradigma Mahasiswa Qur’ani Dengan Panca Indra, Akal dan Hati”
17-18 November
2012 PESERTA 2
9. Tabligh Akbar
Bertajuk “Tafsir
Tematik Dalam Upaya Menjawab Persoalan Israel dan Palestina Landasan QS. Al- Fath: 26-27”
10. SK Pengangkatan Pengurus Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffadz
(JQH) STAIN Salatiga 2013 31 Januari 2013 PENGURUS (Kaderisasi Bidang Khottul ‘Arobi) 4
11. Tafsir Tematik dengan
tema “Sihir dalam
Perspektif Al-Qur’an dan Hukum Negara”
4 Mei 2013 PESERTA 2
12. “Sosialisasi Bos Bagi
Pondok Pesantren Se Jateng Angkatan 11”
oleh Kementerian
Agama Provinsi Jawa Tengah
21-24 Mei 2013 PESERTA 4
13. Gorah Massal &
Bimbingan Tilawah Nasional 24-25 Mei 2013 PESERTA 8 14. Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke V dengan tema “MTQ Sarana Apresiasi untuk Mencetak Insan Qur’ani” 23 Oktober 2013 PANITIA 3 15. Penerimaan Anggota Baru (PAB) JQH dengan tema “Kristalisasi Nilai Qur’ani Menuju Insan yang Penuh Hikmah”
23-24 November
2013 PANITIA 3
16. SK Pengangkatan
Pengurus Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffadz
(JQH) Al-Furqan STAIN Salatiga 2014 31 Januari 2014 PENGURUS (Staff Dev. Tafsir) 4
17. SK Panitia dan Pemateri Tafsir Tematik JQH Al- Furqan 10 Mei 2014 PANITIA (Ketua) 3 18. SK Panitia, Pemateri, dan Peserta Achievemen Motivation Training
(AMT) OPAK STAIN Salatiga 2014
8 Agustus 2014 PANITIA (Sie.
Perlengkapan) 3
19. SK Penylenggara
Gebyar Seni Qur’ani
JQH Al-Furqan
STAIN Salatiga 2014
5 November 2014 PANITIA 4
20. Gebyar Seni
Qur’aniyy Umum ke- VI Se- Jawa Tengah
dengan tema
“Aktualisasi Makna dan Syi’ar Al-Qur’an Sebagai Sumber Inspirasi”
5 November 2014 PESERTA
(Rebana) 4
21. Penerimaan Anggota
Baru (PAB) JQH Al- Furqan 2014 13-14 Desember 2104 PANITIA 3 22. MUJAROFADZ (Musyawaroh Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffadz) 25 Desember 2014 PANITIA 3
DAFTAR RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI
Nama : Nur Faizin