Bab II Landasan Teori Landasan Teori
II.2 Kajian Teori
II.2.23 Aspek di dalam Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis)
„Wacana‟ memiliki arti pembicaraan. Di dalam ilmu sastra, wacana merupakan rangkaian kalimat yang serasi, menghubungkan antara kalimat satu dengan kalimat lainnya sehingga membentuk satu kesatuan. Wacana merupakan bentuk praktik pemakaian bahasa (Eriyanto, 2003:3). Selain praktik pemakaian bahasa, praktik pemakaian tanda di dalam komunikasi beriklan juga termasuk wacana. Iklan disusun dengan menghubungkan antara unsur visual satu dengan unsur visual lainnya dalam tatanan komposisi yang artistik. Wacana mengorganisasikan tindakan, posisi, serta identitas orang-orang yang memproduksi teks.
Terdapat tiga cara pandang analisis wacana. Pertama, cara pandang positivis-empiris yang memandang wacana sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Manusia dan objek yang diwacanakan dalam kedudukan terpisah.
Pengalaman-pengalaman manusia terhadap objek di luar dirinya diekspresikan melalui pernyataan-pernyataan yang logis dan memiliki korelasi dengan pengalaman empiris. Salah satu ciri khas dari cara pandangan ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran dalam pemaknaan (Eriyanto, 2003:4). Karakteristik paradigma ini adalah melihat proses komunikasi yang mengarah pada terciptanya konsensus dan kesamaan arti. Penelitian ini menekankan pengaruh media terhadap perilaku memilih atau membeli produk.
Kedua, pandangan konstruktivisme yang dipengaruhi oleh pemikiran fenomenologi.
Subjek sebagai faktor sentral memiliki kemampuan mengkontrol maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna. Analisis wacana bertujuan membongkar maksud dan makna yang terdapat dalam wacana (Eriyanto, 2003:4-5).
Ketiga, pandangan wacana kritis. Analisis Wacana Kritis mengkaji proses produksi dan reproduksi makna, dan di dalamnya terdapat faktor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana. Analisis Wacana Kritis tidak dipusatkan pada
117
kebenaran atau ketidakbenaran struktur tata bahasa. Analisis dipakai untuk membongkar kuasa yang ada di dalam setiap proses bahasa. Yang dimaksud dengan kuasa adalah: suatu sumber yang membuat seseorang mendapatkan hak untuk mengajak, memengaruhi dan meyakinkan orang lain.
Tabel II.2 Arti kekuasaan di dalam Analisis Wacana Kritis No Unsur Kuasa di dalam Analisis Wacana Kritis 1. Bagaimana proses pembentukan subjek di dalam wacana.
2. Tema wacana yang diangkat.
3. Strategi-strategi yang bertujuan mengonstruksi pemaknaan tertentu.
Pandangan yang mempelajari pengaruh kuasa di dalam wacana menjadi point penting di dalam Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) (Eriyanto, 2003:6).
Skema II.13. Visual Discourse Structure (Struktur Wacana Visual)
Skema dalam asistensi disertasi dengan Yasraf Amir Piliang, ITB, Bandung, 2 September 2013.
118
Menurut Fairclough dan Wodak pemakaian bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa gambar, sebagai praktik sosial menyebabkan terjadinya hubungan dialektis di antara peristiwa diskursif yang dikaitkan dengan: situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana juga dapat sekaligus menampilkan efek ideologis.
Praktik wacana memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak seimbang di antara kelas sosial, laki-laki dan perempuan, mayoritas dan minoritas.
Sebagai contoh keadaan yang rasis, seksis, atau ketimpangan dari kehidupan sosial yang dipandang sebagai suatu common sense atau suatu kewajaran, alamiah, dan seperti kenyataan. Di antara kelompok sosial akan saling bertarung mengajukan versinya masing-masing (Eriyanto, 2003:7-8).
Aspek di dalam Analisis Wacana Kritis:
1. Tindakan
Wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action) dan wacana sebagai bentuk interaksi. Wacana dipandang sebagai: pertama, sesuatu yang bertujuan, apakah untuk memengaruhi, mendebat, membujuk, menyanggah, bereaksi, dan sebagainya; dan kedua, wacana sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, bukan di luar kendali. (Eriyanto, 2003:8)
2. Konteks
Analisis Wacana Kritis mempertimbangkan apa yang disebut dengan konteks. Yang dimaksud dengan konteks adalah: latar belakang, situasi, peristiwa, dan kondisi. Di dalam hal ini yang dianalisis adalah: siapa yang mengkomunikasikan, siapa lawan bicaranya, mengapa, dan melalui medium apa. Guy Cook menyebut ada tiga hal sentral di dalam pengertian wacana: teks, konteks, dan wacana. 1.) teks, adalah semua bentuk bahasa tutur maupun bahasa gambar termasuk di dalamnya jenis ekspresi, komunikasi, efek suara, citra, dan gambar; 2.) konteks. Iklan sebagai sebuah teks dianalisis tidak hanya dikaji aspek struktur visualnya saja, akan tetapi iklan dikaitkan dengan konteks. Konteks adalah semua hal di
119
luar teks yang memengaruhi pemakaian bahasa, antara lain:partisipan, situasi, fungsi iklan ketika teks diproduksi. Konteks di sini berarti unsur visual dipakai atau dimanfaatkan untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan. Ada beberapa konteks penting yang berpengaruh terhadap produksi wacana. Pertama, partisipan wacana, yaitu latar belakang siapa yang memproduksi wacana, jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas sosial, etnis, agama, dan banyak hal yang relevan yang menggambarkan wacana. Kedua, setting sosial tertentu, antara lain:tempat, waktu, dan posisi pembicaraan; 3.) wacana, dimaknai sebagai teks dan konteks yang bersama-sama dalam suatu proses komunikasi.
Wacana dibentuk sehingga harus ditafsirkan dalam kondisi tertentu.
Sebagai contoh pembicaraan di tempat seminar berbeda dengan pembicaraan di kantin. Oleh karena itu, wacana harus dipahami dan ditafsirkan dari kondisi dan lingkungan sosial yang mendasari. (Eriyanto, 2003:8).
3. Historis
Wacana kritis menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti ketika tanpa menyertakan konteks. Konteks historis menjadi alternatif di dalam wacana. Bagaimana situasi ekonomi, sosial budaya, politik ketika melakukan analisis perlu adanya tinjauan mengapa wacana yang berkembang atau mengapa wacana dikembangkan seperti itu, dan mengapa bahasa atau teknis visualisasi yang dipakai juga seperti yang terlihat. (Eriyanto, 2003:10).
4. Kekuasaan
Kemunculan teks bukanlah dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral, namun merupakan bentuk pertarungan kekuasaan.
Konsep kekuasaan atau dominasi kekuatan sosial, politik, ekonomi, dan budaya merupakan salah kunci menganalisis hubungan antara wacana dengan masyarakat. Gaya penuturan menunjukkan kategori sosial tertentu atau bagian dari kelompok tertentu. Sebagai contoh wacana yang dibangun
120
antara pembicaraan majikan dengan sopir bukanlah pembicaraan yang wajar. Apa yang disampaikan sopir tentunya dengan struktur bahasa yang tidak menyinggung majikannya. (Eriyanto, 2003:11-12).
Fungsi telaah kekuasaan di dalam wacana adalah melihat apa yang disebut dengan „kontrol‟. Kontrol di dalam hal ini bukan di dalam bentuk fisik, akan tetapi dalam bentuk kontrol secara mental atau psikis. Kelompok dominan melakukan tindakan yang harus diikuti, disetujui, dan diiyakan oleh kelompok submissive. Kelompok dominan memiliki pengaruh yang signifikan oleh karena selain memiliki uang, pendidikan, dan yang utama adalah memiliki akses. Adanya kontrol ini mengkategorisasikan seseorang berhak bersuara terlebih dahulu, atau terdiam. Dalam dunia jejaring sosial, kesetaraan kekuasaan dilihat dari cara merespon update status orang lain.
Adanya kontrol seperti ini memengaruhi unsur mana yang ingin ditampilkan atau ditonjolkan dalam dalam gaya penuturan iklan. Atau justru sebaliknya terdapat unsur-unsur yang disembunyikan dengan tujuan agar tidak merusak wacana yang sedang dibangun. Pertanyaan lebih lanjut adalah: mengapa unsur visual tertentu harus ditonjolkan menjadi bagian penting untuk dianalisis sedangkan unsur-unsur yang lain harus disembunyikan.
5. Ideologi
Ideologi menjadi konsep utama yang dikaji di dalam Analisis Wacana Kritis. Kemunculan teks, percakapan, adalah pencerminan dari ideologi tertentu. Ideologi dibangun oleh kelompok yang dominan dengan tujuan melegitimasi dominasi mereka. Strategi utama kelompok dominan adalah dengan membuat kesadaran kepada khalayak bahwa dominasi itu diterima secara taken for granted. Strategi yang dipakai dengan cara melalui kelompok mana ideologi disampaikan sehingga tampak absah, benar, dan wajar. Fenomena ini yang disebut van Dijk dengan „kesadaran palsu‟.
Kelompok dominan memanipulasi ideologi melalui kampanye dis-informasi. Sebagai contoh: kasus pertikaian Ambon bisa jadi menjadi
121
wacana kepentingan kelompok dominan yang berkuasa. Agama tertentu dijadikan penyebab kerusuhan atau etnis tertentu selalu dianggap bertindak radikal. Kelompok ini diwacanakan melalui kontrol media.
Apakah peran wacana di dalam ideologi? Ideologi menjadi gagasan atau konsep alasan suatu kelompok untuk bertindak dalam situasi yang sama, memunculkan solidaritas, dan kohesi. Ideologi memberi implikasi pada beberapa hal penting. Pertama, ideologi secara inheren bersifat sosial, tidak personal atau individual, ada share di dalam anggota kelompok, sehingga memunculkan solidaritas dan kesatuan lengkap dalam bertindak dan bersikap. Sebagai contoh ideologi feminist, anti-racist, dan environmentalist. Kedua, ideologi tidak hanya bersifat khusus bagi kelompok tertentu sebagai fungsi koordinatif dan kohesi, akan tetapi ideologi juga membentuk identitas yang bersifat umum dan terkadang abstrak. Wacana yang dibentuk tidak bersifat netral, namun terdapat ideologi yang berebut pengaruh. Sebagai contoh ideologi akan feminisme di tengah pola patriarkal. (Eriyanto, 2003:13)