• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI A. Ketahanan Keluarga

C. Kesiapan Menikah

2. Aspek Kesiapan Menikah

Blood (1976) membagi kesiapan menikah menjadi dua bagian yaitu kesiapan menikah pribadi (personal) dan kesiapan menikah situasi (circumstantial)

a. Kesiapan Pribadi (Personal) 1) Kematangan Emosi

Menurut Kartono (1999), kematangan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan dari segi perkembangan emosional, oleh karena itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan emosional seperti pada masa kanak-kanak. Kapri & Rani

34

(2014) menyebut kematangan emosi tidak berhubungan dengan kematangan fisik, karena hal tersebut berbeda. Menurutnya, Kematangan emosi sebagai seberapa baik seorang individu dapat menanggapi suatu situasi yang sedang dihadapinya, mengendalikan emosi dan berperilaku dewasa ketika berhadapan dengan orang lain.

Individu dewasa memiliki kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan pribadi, mampu mengerti perasaan orang lain (empati), mampu mencintai dan dicintai, mampu untuk memberi dan menerima, serta sanggup membuat komitmen jangka panjang.

Pernikahan berarti sanggup membangun suatru tanggung jawab dan memasuki suatu komitmen. Komitmen jangka panjang merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dalam suatu pernikahan, yang dikaitkan dengan stabilitas kematangan.

Davidof (dalam Asih& Pratiwi, 2010: 36) menyebut kematangan emosi adalah merupakan kemampuan individu untuk dapat menggunakan emosinya dengan baik serta dapat menyalurkan emosinya kepada hal-hal yang bermanfaat dan bukan menghilangkan emosi yang ada dalam dirinya. Murray (1997) mengatakan kematangan emosi adalah suatu kondisi mencapai perkembangan pada diri individu di mana individu mampu mengarahkan dan mengendalikan emosi yang kuat agar dapat diterima oleh diri sendiri dan orang lain.

Di antara kriteria kematangan emosi menurut Murray sebagai berikut.

a) Memiliki kemampuan untuk memberi dan menerima kasih sayang.

Individu yang matang adalah individu yang mampu

35

mengekspresikan rasa kasih sayang yang diberikan orang lain.

Kemampuan ini berlawanan dengan ciri-ciri ketidakmatangan emosi yang bersikap egosentris hanya mau menerima kasih sayang orang lain tetapi tidak mau mengasihi orang lain.

b) Memiliki kemampuan untuk saling memberi dan menerima secara seimbang. Kematangan emosi juga ditandai dengan kemampuan untuk menghargai kemampuan diri sendiri dan kemampuan orang lain. Individu bersedia memperhatikan kebutuhan orang lain dan memberikan kesempatan bagi orang yang dikasihinya untuk meningkatkan kualitas diri, begitu juga dengan dirinya sendiri bersedia menerima dukungan dan saran dari orang lain secara seimbang.

c) Memiliki kemampuan untuk menghadapi kenyataan. Individu yang memiliki kematangan emosi bersedia menghadapi kenyataan dengan cara yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan hidup yang ada, bukan lari dari masalah.

d) Memiliki kemampuan untuk menghadapi peristiwa kehidupan secara positif. Individu yang matang melihat sebuah pengalaman hidup sebagai pembelajaran. Ketika pengalaman itu positif, individu akan menikmatinya. Sebaliknya, jika pengalaman itu negatif, individu akan menerima hal tersebut sebagai tanggung jawab pribadi dan bersedia belajar untuk meningkatkan kualitas diri.

e) Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman. Kemampuan menghadapi kenyataan dan berhubungan secara positif dengan

36

pengalaman hidup dan bersedia untuk belajar dari pengalaman adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu yang memiliki kematangan emosi. Sedangkan individu yang tidak memiliki kematangan emosi adalah individu yang menganggap bahwa pengalaman positif dan negatif itu datang karena takdir dan tidak ada usaha untuk mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

f) Memiliki kemampuan untuk menghadapi peristiwa yang menimbulkan frustrasi. Individu yang matang secara emosi adalah individu yang mempertimbangkan untuk menggunakan pendekatan atau cara lain ketika pendekatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah tidak berhasil. Individu yang matang tidak terpaku pada kegagalan namun bersedia membuka lembaran baru kehidupan.

g) Memiliki kemampuan untuk mengatasi kesukaran secara konstruktif.

yang diartikan sebagai kemampuan untuk tidak menyalahkan orang lain ketika frustrasi.

2) Kesiapan Usia

Kesiapan usia berarti melihat usia yang cukup untuk menikah, menjadi pribadi yang dewasa secara emosi membutuhkan waktu, sehingga usia merupakan hal yang berkaitan dengan kedewasaan. Semakin tua usia seseorang maka semakin dewasa pemikiran seseorang. Sebaliknya, semakin muda usia seseorang maka semakin sulit untuk mengatasi emosi-emosinya. Semakin muda usia pada saat menikah maka semakin tinggi tingkat perceraian yang terjadi.

37 3) Kematangan Sosial

Kematangan sosial dapat dilihat dari:

a) Pengalaman berkencan (enough dating), yang dilihat dengan adanya kemauan untuk mengabaikan lawan jenis yang tidak dikenal dekat dan membuat komitmen dalam membangun hubungan hanya dengan seseorang yang khusus. Saat seseorang letih dengan hubungan yang tidak aman, maka individu secara sosial siap untuk menikah dan hanya terfokus pada orang yang menarik perhatiannya.

b) Pengalaman hidup sendiri (enough single life), yang membuat individu memiliki waktu luang untuk diri sendiri agar mandiri dan waktu bersama orang lain. Seorang individu, khususnya wanita merasa perlu untuk membuktikan pada diri mereka sendiri, orang tua, dan pasangan bahwa mereka mampu untuk mengambil keputusan dan mengatur takdirnya sendiri tanpa harus menyesuaikan dengan keinginan dan pendapat orang lain. Seorang individu harus mengetahui identitas pribadi secara jelas sebelum siap untuk melakukan pernikahan.

4) Kesiapan Model Peran

Banyak orang belajar bagaimana menjadi suami dan istri yang baik dengan melihat figur ayah dan ibu mereka. Kehidupan pernikahan harus dijalani dengan mengetahui apa saja peran individu yang telah menikah sebagai suami istri. Orang tua yang memiliki figur suami dan istri yang baik dapat mempengaruhi kesiapan menikah anak-anak mereka.

38 b. Kesiapan Situasi (Circumstantial)

Kesipan ini berbentuk:

1) Kesiapan Finansial

Kesiapan finansial tergantung dari nilai-nilai yang dimiliki oleh masingmasing pasangan. Menurut Cutright (dalam Dewi, 2006), semakin tinggi pendapatan seseorang semakin besar kemungkinan untuk menikah.

Pernikahan yang masih mendapat bantuan dari keluarga atau orang tua dapat mempengaruhi hubungan pasangan dalam rumah tangga.

2) Kesiapan Waktu

Persiapan sebuah pernikahan akan berlangsung baik jika masing-masing pasangan diberikan waktu untuk mempersiapkan segala hal, meliputi persiapan sebelum maupun setelah pernikahan. Persiapan rencana yang tergesa-gesa akan mengarah pada persiapan pernikahan yang buruk dan memberi dampak yang buruk pada awal-awal kehidupan pernikahan.

Holman,dkk (1994) dalam alat ukur PREP-M dan serta Olson & Larson (2009) dalam alat ukur PREPARE, menyebut kesiapan menikah terdiri dari area-area seperti berikut ini.

a. Komunikasi

Area ini menjadi hal yang sangat penting untuk membangun sebuah hubungan (Seccombe, K., Warner, R., L., 2004). Selain itu, Olson dan DeFrain (2006) menambahkan bahwa komunikasi menjadi sesuatu yang penting untuk setiap hubungan dekat, khususnya hubungan antara suami dan istri. Komunikasi yang baik mencakup keterbukaan dan kejujuran dapat membantu pasangan mencapai kesepahaman bersama tentang

39

pernikahan mereka dan dapat membuat hubungan mereka lebih tahan terhadap semua stressor yang berpotensi mengganggu kestabilan hubungan (Seccombe, K., Warner, R., L., 2004).

b. Keuangan

Keuangan merupakan stressor yang paling umum dirasakan pasangan dan keluarga, terlepas dari berapa banyak uang yang mereka hasilkan (Olson &

DeFrain, 2006). Selain itu, para peneliti menemukan bahwa kesulitan ekonomi dan pengangguran dapat merugikan hubungan keluarga (Gomel, et al, dalam Olson & DeFrain, 2006). Masalah yang berkaitan dengan ekonomi memang menjadi suatu hal yang penting dalam kehidupan rumah tangga, di mana kebutuhan hidup dari masing-masing anggota keluarga seperti keperluan rumah, biaya transportasi, makanan, kesehatan, rekreasi, pendidikan dan kebutuhan lainnya diharapkan dapat terpenuhi (DeGenova, 2008).

c. Anak dan pengasuhan

Siap untuk menikah berarti siap pula untuk menjalani berbagai konsekuensi, seperti halnya memiliki anak. Namun ternyata, menjadi orang tua bukanlah tugas yang mudah (DeGenova, 2008). Oleh karena itu, pasangan harus memiliki cara yang disepakati bersama mengenai segala hal yang berhubungan dengan perencanaan yang berkaitan dengan anak dan cara pengasuhan (Fowers & Olson 1989).

d. Pembagian peran suami-istri

Area ini dijelaskan sebagai persepsi dan sikap dalam memandang peran-peran dalam rumah tangga (domestik) dan publik, serta kesepakatan

40

dalam pembagiannya. Fowers dan Olson (1989) menjelaskan bahwa kesepakatan tentang peran dan pembagian tugas yang harus dijalani oleh pasangan menjadi hal yang penting, di mana tipe hubungan peran yang sesuai menjadi kunci bagi keintiman dalam hubungan mereka.

e. Latar belakang pasangan dan relasi dengan keluarga besar

Ketika pasangan menikah, mereka menikah tidak hanya dengan pasangannya tersebut, tetapi juga dengan keluarga dan lingkungan sosial dari pasangan masing-masing (Broderick, 1992, 1993, dalam Olson &

DeFrain, 2006). Selain itu, dalam memilih pasangan hidup, masyarakat di negara- negara timur seperti Cina dan Jepang biasanya bergantung kepada persetujuan keluarga atau orang-orang di sekitarnya (Hatfield, Rapson, &

Martel, 2007, dalam Berk, 2011).

Sebagai salah satu negara yang berada di wilayah timur, Indonesia pun menganut nilai-nilai kolektivitas tersebut. Keluarga besar, khususnya orang tua pasangan, memang masih memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan perkawinan di Indonesia, khususnya dalam pemilihan pasangan untuk dijadikan sebagai suami ataupun istri (Sarwono, 2005). Area ini tercermin dalam latar belakang keluarga, evaluasi terhadap nilai-nilai keluarga besar, sikap keluarga besar terhadap pasangan (sebagai anggota baru dalam keluarga), dan suku bangsa.

f. Agama

Area ini berkontribusi dalam kesuksesan pernikahan, di mana pasangan yang sukses berbagi aktivitas spiritual, kesamaan nilai dan religiusitas, serta pasangan yang memiliki derajat yang tinggi dalam orientasi

41

keagamaan (Hatch, James & Schumm, 1986 dalam DeGenova, 2008).

Orientasi keagamaan dapat mempengaruhi stabilitas perkawinan dan kualitas moral melalui bimbingan dan dukungan sosial, emosional, serta spiritual. Fower dan Olson (1989) mengemukanan bahwa pasangan yang memiliki kesepakatan dalam nilai- nilai agama akan memiliki ikatan yang erat di antara mereka. Kesamaan prinsip agama menjadi hal yang penting dalam pemilihan pasangan di Indonesia karena pencatatan pernikahan hanya dapat dilakukan oleh pasangan yang memiliki kesamaan keyakinan.

g. Minat dan Pemanfaatan Waktu Luang

Arond dan Pauker (1987, dalam Morris & Carter, 1999) menjelaskan bahwa meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas bersama dengan pasangan dapat mengembangkan intimacy. Selain itu, pemanfaatan waktu luang ini juga berkontribusi dalam memprediksi kepuasan individu pada sebuah hubungan (Fowers & Olson, 1989).

h. Perubahan pada Pasangan dan Pola Hidup

Area ini dijelaskan sebagai persepsi dan sikap terhadap perubahan pasangan dan pola hidup, yang mungkin terjadi setelah menika

Dokumen terkait