• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi data pertama: Focus Group Discussion (FGD) Pertama

Umur 18 Tahun Menurut Provinsi (Persen)

1. Deskripsi data pertama: Focus Group Discussion (FGD) Pertama

Langkah C-OAR-SE dimulai dengan penetapan konstruk pengukuran, yaitu kesiapan menikah. Penetapan konstruk kesiapan menikah dimulai dengan melakukan kajian literatur. Hasil dari kajian literatur yang berusaha untuk mendefinisikan konstruk kesiapan menikah beserta aspek dan indikator yang mewakili konstruk tersebut, didiskusikan dengan forum yang terdiri dari para pakar dan praktisi dalam bidang pernikahan yaitu dari Kantor Urusan Agama, Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia di wilayah Solo Raya, para akademisi di bidang keilmuan Agama, para akademisi dalam bidang ilmu perilaku, dan para akademisi dalam bidang metodologi pengukuran. Diskusi dilakukan dengan pendekatan Focus-Group Discussion I (FGD-I) .

FGD ke 1 diikuti oleh 23 peserta berasal dari para akademisi psikologi dan bimbingan dan konseling Islam serta dari pelaku bimbingan dan konseling perkawinan/keluarga dari wilayah surakarta dan sekitarnya. Tujuan dari FGD ke 1 ini adalah untuk menentukan konstruk dari kesiapan menikah, aspek-aspek kesiapan menikah serta indikator perilaku dari kesiapan menikah yang di dahului dengan melakukan kajian dari literatur dan dari para ahli perkawinan dan keluarga dari narasumber terkait.

58

Hasil dari FGD ke 1 menghasilkan beberapa rumusan sebagai berikut : a. Rumusan teoritis dari Pengertian Kesiapan Menikah (Marriage Readiness)

- Tinjauan Istilah

1) Kesiapan (readiness)

a) Arti kesiapan secara bahasa

Kesiapan berasal dari kata “siap” yang berarti kecenderungan akan kemampuan (competence) dan kesediaan seseorang untuk melakukan sesuatu (readiness).

Kata “siap” dalam KBBI diartikan dengan; 1 sudah disediakan (tinggal memakai atau menggunakan saja); 2 sudah selesai (dibuat atau dikerjakan):; 3 sudah bersedia (untuk); 4 (dalam aba-aba berarti) berdiri tegak dan mengambil sikap pada waktu berbaris; 5 jaga baik-baik; 6 Olr aba-aba atau seruan kepada para pelari dan sebagainya bahwa pemberangkatan akan segera dimulai (dalam perlombaan lari atau jalan kaki)

b) Cronbach dalam Wasty (2006): “Kesiapan (readiness) merupakan segenap sifat atau kekuatan yang membuat seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu.”

c) Slameto (2010): “Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respon/jawaban dengan cara tertentu terhadap suatu situasi.”

d) Yusnawati (2009),”Kesiapan merupakan suatu kondisi di mana seseorang telah mencapai pada tahapan tertentu atau dikonotasikan dengan kematangan fisik, psikologis, sosial, spiritual dan skill.”

59

e) VandenBos (2009), “Kesiapan (readiness) berarti: 1) suatu keadaan siap untuk bertindak atau berespon terhadap suatu stimulus, atau 2) derajat persiapan untuk melakukan suatu tugas spesifik, atau suatu subjek yang dibutuhkan untuk menghasilkan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning).”

2) Menikah (Marriage)

a) Menikah berasal dari kata “nikah” yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh. Kata “Nikah” sendiri dipergunakan untuk arti persetubuhan (coitus) (Ghazaly, 2006).

b) Pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (UU Nomor 1 tahun 1974 pasal 1 tentang perkawinan.).

- Perspektif Teori:

1) Stinnett (1969), “Kesiapan untuk berhubungan erat dengan kompetensi pernikahan, di mana kompetensi pernikahan diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menjalankan bisnis untuk memenuhi kebutuhan pasangan dalam kehidupan pernikahan.”

2) Blood (1978), “kesiapan menikah terdiri atas kesiapan emosi, kesiapan sosial, kesiapan peran, kesiapan usia, dan kesiapan finansial.”

3) Duvall dan Miller (1985): “Kesiapan menikah adalah keadaan siap atau bersedia dalam berhubungan dengan pasangan, siap menerima tanggung

60

jawab sebagai suami atau istri, siap terlibat dalam hubungan seksual, siap mengatur keluarga, dan siap mengasuh anak.”

4) Larson (1988): Kesiapan menikah adalah evaluasi subjektif terhadap kesiapan seseorang untuk menerima tanggung jawab dan tantangan dalam pernikahan.”

5) Holman & Li (1997): “Kesiapan untuk menikah merupakan persepsi terhadap kemampuan individu untuk dapat menampilkan dirinya di dalam peran-peran pernikahan.”

6) Badger (2005), “Kesiapan menikah adalah kemampuan untuk membentuk peran-peran, tanggung jawab, serta tantangan pernikahan sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan hubungan pernikahan, dan kesuksesan pernikahan bergantung pada kesiapan individu untuk membentuk peran-peran tersebut.”

7) Carroll, dkk (2009), “Kesiapan menikah adalah keyakinan individu mengenai dirinya yang telah atau belum siap untuk menikah.”

b. Deskripsi Aspek-aspek Kesiapan Menikah dari para ahli

Aspek-aspek kesiapan menikah dari beberapa ahli dapat dilihat pada table 4.3 berikut.

Tabel 4.3 Aspek Kesiapan Menikah Menurut Ahli

Tokoh Aspek Kesiapan Menikah

Holman, Harmer, dan Larson (1994)

kesehatan emosional, kedewasaan emosional, komunikasi yang empati dan terbuka, mandiri, aktivitas keagamaan yang baik, memiliki self disclosure yang baik, memiliki self esteem yang baik

61 Duvall dan Miller

(1985)

Kesiapan berhubungan dengan pasangan, kesiapan menerima tanggung jawab sebagai suami atau istri, kesiapan siap terlibat dalam hubungan seksual, kesiapanmengatur keluarga, dan kesiapan mengasuh anak

Sunarti (2001) Umur yang cukup, Sumber daya ekonomi, Kualitas sumber daya manusia, Kematangan kepribadian

Blood (1978) Kematangan emosi, kesiapan usia, kematangan sosial, Kesiapan model peran, Kesiapan finansial Caroll, dkk (2009 kepatuhan norma, kapasitas keluarga, transisi

peran, kompetensi interpersonal, kompetensi intrapersonal, pengalaman seksual

Ghalili et al (2012) kesiapan dalam usia, fisik, mental, finansial, moral, emosi, kontekstual-sosial, interpersonal, menjalankan peran

Manson (1965, dalam Puspitasari, 1997)

Terdapat tiga dimensi, yaitu: 1) dimensi kepribadian yang terdiri dari subdimensi struktur karakter, subdimensi kematangan emosi, subdimensi kesiapan menikah; 2) dimensi persiapan yang terdiri dari subdimensi pengalaman keluarga, subdimensi keuangan, subdimensi rencana masa depan; 3 dimensi interpersonal yang terdiri dari subdimensi motivasi menikah dan subdimensi kesesuaian.

Fower dan Olson (1989) idealistic distortion, personality issues, communication, conflict resolution, financial management, leisure activities sexual relationship, children and parenting, family and friends , equalitarian roles, dan religious orientation.

Olson, Larson, dan Olson Komunikasi, resolusi konflik, gaya dan kebiasaab

62

(2009) padda patner, teman dan keluarga, pengatuarn keuangan, aktivitas waktu luang, ekspektasi seksual/hebungan seksual, spiritualitas, ekspektasi terhadap pernikahan, peran dalam hubungan, peran dan tanggung jawab, karakter dan trait, dan pemaafan.

Holman, Larson, dan Harmer (1994)

Kesamaan pasangan pada nilai-nlai, sikap dan kepercayaan, kesiapan pribadi, kesiapan pada patner, kesiapan pada pasangan, latar belakang dan lingkungan rumah.

Wiryasti (2004) Komunikasi, keungan, anak dan pengasuhan, pembagian peran suami istri, latar belakang pasangan, agama, minat dan pemanfaatan waktu luang, perubahan pada pasangan dan pola hidup.

Hasil Rumusan Focus Group Discussion (FGD) Pertama

Dalam FGD yang pertama ini fokus merumuskan definisi kesiapan menikah beserta aspek-aspek dalam kesiapan menikah serta indikator perilaku yang membentuk aspek-aspek dalam kesiapan menikah yang sesuai dengan budaya masyarakat di Indonesia.

a. Arti kesiapan menikah.

Rumusan Konsep kesiapan menikah yang disepakati dalam FGD adalah sebagai berikut.

Kesiapan menikah adalah sebagai suatu keadaan di mana sesorang telah siap secara fisik dan mental untuk menikah atau dimilikinya kompetensi individu dari calon pasangan pengantin untuk menjalankan peran dan mengambil

63

tanggung jawab dalam kehidupan pernikahan dalam rangka mewujudkan sebuah keluarga yang ideal (sakinah mawaddah warahmah).

b. Kesesuaian aspek kesiapan menikah secara teoritis

Aspek-aspek kesiapan menikah secara teoritis dilakukan dengan mengidentifikasi aspek-aspek kesiapan menikah dari para ahli yang selanjutnya digunakan untuk melihat aspek-aspek kesiapan menikah dalam konteks Indonesia yaitu meliputi :

1) Kesiapan emosi (Blood, 1978; Goleman, 1997) 2) Kesiapan usia (Blood, 1978)

3) Kesiapan sosial (Blood, 1978)

4) Kesiapan peran (Blood, 1978; Holman & Li 1997)

5) Kesiapan seksual (Duval & Miller, 1985; Fower & Olson, 1989)

6) Komunikasi (Duval & Miller, 1985: Fower & Olson, 1989, Holman & Li 1997)

7) Kesiapan agama/spiritual (Fower & Olson, 1989; Holman, Bolby, &

Larson, 1994: Holman & Li 1997, Wiryasti (2004) )

8) Kesiapan finansial (Blood, 1978; Holman & Li 1997; Fower & Olson, 1989)

9) Kemampuan Problem Solving. Kemampuan problem solving dalam FGD dianggap penting untuk ditambahkan menjadi aspek-aspek dalam kesiapan menikah di Indonesia.

Dari kajian tentang aspek-aspek kesiapan menikah tersebut selanjutnya dirumuskan indikator-indikator dari perilaku kesiapan menikah yang diujikan

64

dalam survey kepada responden dari seluruh Indonesia untuk menjadi aspek-aspek kesiapan menikah yang penting dalam konteks Indonesia.

c. Rumusan aspek-aspek dan indikator kesiapan menikah

Rumusan aspek-aspek Kesiapan Menikah dan Indikator perilaku dari masing-masing aspek dalam kesiapan menikah adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Rumusan Aspek-aspek dan Indikator Kesiapan Menikah

No Aspek-aspek Indikator

1. Kesiapan Emosi  Mampu mengendalikan emosi diri

 Mampu mengenali emosi diri dan orang lain

 Mampu memotivasi diri 2. Kemampuan menjalin

hubungan sosial

 Mampu berperan dalam konteks sosial

 Mampu beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungan sosial

3. Kemampuan berbagi peran dengan pasangan

 Memahami peran masing-masing dalam keluarga

 Kesiapan menerima dan berbagi peran 4. Kesiapan finansial  Mampu memenuhi kebutuhan keluarga

 Mandiri dalam hal keuangan (tidak membebani orang tua atau anggota keluarga lain)

 Memiliki pekerjaan atau pendapatan tetap guna mencukupi kebutuhan keluarga setelah menikah

 Memiliki tempat tinggal setelah menikah

 Mampu mengelola keuangan rumah tangga

65 5 Kesiapan

agama/spiritual

 Memiliki pengetahuan agama yang cukup

 Memiliki keyakinan yang benar

 Menjalankan ibadah dengan baik

 Memiliki rasa keberagamaan 6. Kemampuan fisik dan

seksual- reproduksi

 Perempuan secara biologis mampu hamil

 Laki-laki secara biologis mampu membuahi

 Mampu melakukan hubungan seksual

 Memiliki kemampuan jasmani dan rohani dalam mengurus keluarga

7. Kecukupan usia Kesiapan usia, mengacu kepada ketentuan hukum yang berlaku

8. Ketrampilan Berkomunikasi

 Mampu menyampaikan gagasan dengan cara yang baik

 Mampu menerima dan memahami gagasan dari orang lain dengan baik 9 Kemampuan Problem

Solving (memecahkan Masalah)

Memiliki strategi pemecahan masalah

Dokumen terkait