Umur 18 Tahun Menurut Provinsi (Persen)
5. Deskripsi Data ke lima
Setelah validasi rater, maka sudah diperoleh konstruk, aspek, dan indikator beserta item-item instrumen yang telah divalidasi dengan pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif. Item-item yang telah tervalidasi tersebut selanjutnya menjadi materi utama langkah berikutnya, yaitu penyusunan skala.
Tahap ini bertujuan untuk menentukan tipe skala, termasuk di dalamnya randomisasi atau pengacakan item dalam skala, dan kemudian mengujicobakan pada potential-testee. Pada tahap ini akhirnya diperoleh item yang memiliki korelasi dengan item-item yang cukup tinggi serta nilai kestabilan skor hasil ukur. Try-out yang dilakukan kepada sejumlah orang dewasa yang belum menikah atau sedang memasuki usia pernikahan untuk menentukan item-item
93
yang valid dan reliable sehingga dapat digunakan mengukur skala kesiapan menikah.
Terdapat 843 responden yang berpartisipasi mengisi skala online melalui google form, terdiri dari 161 laki-laki dan 682 perempuan. Hasil uji coba direkapitulasi untuk menghitung daya beda item. Daya beda digunakan untuk membedakan kondisi individu satu dengan individu lain yang diteliti.
Penghitungan daya beda dalam penelitian ini mengguakan metode corrected item total correlation dengan bantuan program Statistical of Package for Social Science (SPSS) versi 19.0.
Hasil uji daya beda pada skala kesiapan menikah, dari 92 item yang diujicobakan didapatkan 62 item yang memiliki daya beda item baik dengan koefisien item total mulai dari 0,018 sampai 0,5. Ke-62 item tersebut dapat dilihat pada table 4.17 berikut
Table 4.17 Item Skala Valid
Item 1 0,222
Item 2 0,23
Item 3 0,312
Item 4 0,361
Item 5 0,24
Item 6 0,332
Item 7 0,268
Item 8 0,367
Item 9 0,245
Item 10 0,449
Item 11 0,319
Item 12 0,452
94
Item 13 0,5
Item 14 0,397
Item 15 0,03
Item 16 0,019
Item 17 0,033
Item 18 0,08
Item 19 0,059
Item 20 0,018
Item 21 0,049
Item 22 0,073
Item 23 0,173
Item 24 0,182
Item 25 0,087
Item 26 0,388
Item 27 0,362
Item 28 0,15
Item 29 0,295
Item 30 0,33
Item 31 0,399
Item 32 0,437
Item 33 0,412
Item 34 0,276
Item 35 0,221
Item 36 0,062
Item 37 0,066
Item 38 0,437
Item 39 0,349
Item 40 0,394
Item 41 0,325
Item 42 0,43
Item 43 0,361
Item 44 0,354
95
Item 45 0,364
Item 46 0,468
Item 47 0,404
Item 48 0,446
Item 49 0,39
Item 50 0,257
Item 51 0,361
Item 52 0,21
Item 53 0,373
Item 54 0,259
Item 55 0,282
Item 56 0,344
Item 57 0,348
Item 58 0,329
Item 59 0,253
Item 60 0,413
Item 61 0,384
Item 62 0,416
Selain proses dan prosedur yang telah disampaikan di atas dalam konteks menuju tujuan penelitian yang utama, yaitu pengembangan alat ukur kesiapan menikah. terdapat data menarik yang dapat dianalisis lebih jauh. Data yang dimaksud adalah, khususnya yang diperoleh dari studi empiris pada potential testee dalam rangka mengidentifikasi kasawan ukur konstruk, yaitu penilaian sentralitas aspek dan indikator.
Analisis GLM
Analisis berikutnya adalah menggunakan GLM (general-linear-model) terhadap kesembilan aspek. Pertama dilakukan analisis GLM dengan variabel independennya adalah Jenis Kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa diperoleh perbedaan
96
signifikan pada bila dilihat dari jenis kelamin yaitu: kesiapan finansial, keterampilan komunikasi, kemampuan menjalin hub sosial. Analisis tersebut menghasilkankorefisien nilai F dan taraf signifikansinya berturut-turut: 6.308 (0.012), 12.764 (0.000), dan 9.151 (0.003). Sementara keenam aspek lain tidak menunjukkan hasil koefisien nilai F yang signifikan.
Analisis GLM berikutnya dilakukan dengan Status Pernikahan Sebagai variabel independen. Analisis menunjukkan hasil bahwa dari sembilan Aspek Pernikahan enam diantaranya memiliki taraf signifikansi di bawah 0.05.
Selanjutnya juga dilakukan analisis GLM dengan variabel independen Tingkat Pendidikan. Dari analisis diperoleh hasil bahwa dari kesembilan Aspek terdapat 5 aspek yang menunjukkan koefisien nilai F dengan taraf signifikansi di bawah 0.05.
Hasil analisis GLM terhadap keenam Aspek Pernikahan dengan variabel independen Jenis Kelamin, Status Pernikahan, dan Tingkat Pendidikan lebih detail disajikan pada tabel 4.18 berikut.
Tabel 4.18 Hasil Analisis General Linear Model
Sumber V. Dependen F Sig.
jenis kelamin kecukupan usia .239 .625
kesiapan finansial 6.308 .012
kesiapan mental-emosi 1.262 .262
keagamaan-spiritualitas .776 .379
kemampuan berbagi peran 1.653 .199
keterampilan komunikasi 12.764 .000
kemampuan fisik-seksual-reproduksi .061 .806 kemampuan menjalin hub sosial 9.151 .003 kemampuan memecahkan masalah 3.424 .065 status
pernikahan
kecukupan usia 11.741 .000
kesiapan finansial 4.690 .010
97
kesiapan mental-emosi 7.325 .001
keagamaan-spiritualitas 8.275 .000
kemampuan berbagi peran 8.500 .000
kemampuan fisik-seksual-reproduksi 9.466 .000 kemampuan menjalin hub sosial 1.015 .363 kemampuan memecahkan masalah 2.288 .102 tingkat
pendidikan
kecukupan usia 2.692 .020
Kesiapan finansial 1.133 .342
kesiapan mental-emosi 3.271 .006
keagamaan-spiritualitas 1.804 .110
kemampuan berbagi peran 4.530 .000
keterampilan komunikasi 1.764 .119
kemampuan fisik-seksual-reproduksi 3.470 .004 kemampuan menjalin hub sosial 1.272 .275 kemampuan memecahkan masalah 2.812 .016
Analisis Post-Hoc
Analisis Post-Hoc, yang dimaksudkan untuk melihat lebih jauh perbandingan antar masing-masing kelompok dalam variabel independen hanya dilakukan pada variabel independen Tingkat Pendidikan. Analisis Post-Hoc tidak dilakukan pada variabel independen jenis kelamin, karena hanya terdapat dua kelompok, dan tidak dilakukan pada variabel independen Status Pernikahan karena jumlah kasus untuk kelompok ketiga yaitu status pernikahan Cerai hanya terdapat kasus yang sangat kecil pada data.
Hasil analisis post-hoc untuk Tingkat Pendidikan dilihat lebih lanjut pada aspek-aspek yang menunjukkan taraf signifikansi kurang dari 0.05. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbandingan antar kelompok pendidikan untuk penilaian mengenai aspek Kecukupan Usia, hanya terdapat perbedaan antara kelompok SLA
98
dengan kelompok Pascasarjana. Sedangkan antarkelompok yang lain tidak menunjukan perbedaan yang signifikan. Hasil yang sama juga diperoleh untuk penilaian terhadap aspek Kesiapan Mental-Emosi. Untuk penilaian Berbagi Peran, perbedaan terjadi pada kelompok SLA dengan Sarjana dan pada kelompok SLA dengan Pascasarjana.
Penilaian terhadap dua Aspek yang lain, yaitu aspek Kemampuan Fisik dan Seksual-Reproduksi serta aspek Kemampuan Memecahkan Masalah, tidak diperoleh perbedaan yang signifikan antar kelompok pendidikan yang ada.
Analisis Korelasi
Pertama, dengan maksud untuk melihat apakah penilaian terhadap kesembilan aspek kesiapan menikah berhubungan dengan usia partisipan, maka dilakukan analisis korelasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa usia memiliki korelasi dengan lima penilaian aspek kesiapan pernikahan yaitu: Kecukupan Usia, Kesiapan Mental-Emosi, Keagamaan-Spiritualitas, Kemampuan Berbagi Peran, dan Kemampuan Fisik-Seksual-Reproduksi, dengan nilai koefien korelasi dan taraf signifikansi berturut-turut: 0.175 (0.000), 0.126 (0.004), 0.142 (0.001), 0.130 (0.003), dan 0.141 (0.001). Sedangkan untuk hubungan antara usia partisipan dengan penilaian aspek pernikahan yang lain tidak menunjukkan hasil adanya korelasi yang signifikan.
Dengan berdasar asumsi bahwa tingkat pendidikan memiliki jenis data yang bersifat ordinal, maka dilakukan analisis korelasional Spearman guna melihat apakah tingkat pendidikan memiliki hubungan dengan penilaian atas masing-masing aspek pernikahan. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan aspek Kecukupan Usia, Kesiapan Mental-Emosi, dan
99
Kemampuan Berbagi Peran, dengan koefidien nilai korelasi dan taraf signifikansi secara berturut-turut: 0.134 (0.002), 0.097 (0.025), dan 0.160 (0.000). Sementara itu Tingkat Pendidikan tidak menunjukkan adanya korelasi yang signifikan dengan penilaian terhadap aspek-aspek lainnya.
100 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan sebagaimana terpapar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Arti kesiapan menikah adalah suatu keadaan di mana sesorang telah siap secara fisik dan mental untuk menikah atau dimilikinya kompetensi individu dari calon pasangan pengantin untuk menjalankan peran dan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan pernikahan dalam rangka mewujudkan sebuah keluarga yang ideal (sakinah mawaddah warahmah).
2. Kesiapan menikah calon pengantin dapat dilihat dari 9 (sembilan) aspek kesiapan menikah, yaitu:
a. Keagamaan dan spiritualitas dengan indikator berupa 1) Memiliki keyakinan yang benar, 2) Menjalankan ibadah dengan baik, 3) Memiliki rasa keberagamaan, dan 4) Memiliki pengetahuan agama yang cukup.
b. Kemampuan memecahkan masalah (problem solving), dengan indikator berupa memiliki strategi pemecahan masalah
c. Kemampuan menjalin hubungan sosial, dengan indikator berupa mampu beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungan sosial dan mampu berperan dalam konteks sosial.
d. Keterampilan berkomunikasi, dengan indikator berupa mampu menerima dan memahami gagasan dari orang lain dengan baik dan mampu menyampaikan gagasan dengan cara yang baik
101
e. Kemampuan berbagi peran dengan pasangan, dengan indicator berupa Memahami peran masing-masing dalam keluarga dan kesiapan menerima dan berbagi peran
f. Kecukupan usia, dengan inikator berupa kecukupan usia saat pernikahan.
g. Kemampuan fisik dan seksual-reproduksi, dengan indikator berupa memiliki kemampuan jasmani dan rohani dalam mengurus keluarga, Mampu melakukan hubungan seksual, Laki-laki secara biologis mampu membuahi, Perempuan secara biologis mampu hamil.
h. Kesiapan mental dan emosi dengan indikator berupa Mampu mengendalikan emosi diri dan mampu mengenali emosi diri dan orang lain i. kesiapan finansial (keuangan), dengan indiator berupa Mampu mengelola keuangan rumah tangga, Mampu memenuhi kebutuhan keluarga, Memiliki pekerjaan atau pendapatan tetap guna mencukupi kebutuhan keluarga setelah menikah, dan Memiliki tempat tinggal setelah menikah.
3. Kesiapan menikah pasangan calon pengantin dapat diukur menggunakan intrumen skala kesiapan menikah, yang mana dapat menjadi screening awal mengetahu kesiapan pasangan calon pengantin yang mempersiapkan pernikahan dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Hasil skoring kesiapan menikah ini juga dapat digunakan sebagai bahan asesmen awal serta rekomendasi kepada pembimbing pernikahan atau konselor pernikahan untuk memberikan intervensi bimbingan dan konseling bagi calon pengantin yang memiliki skor rendah dalam kesiapan menikah dalam memewujudkan keluarga ideal yaitu sakinah mawaddah warahmah.
102 B. Saran
Pengembangan intrumen kesiapan menikah tetap perlu dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan baik secara teoritis maupun praktis yang disesuaikan dengan perkembangan aplikasi tehnologi sehingga lebih visible penggunaannya.
Kesiapan menikah calon pengantin merupakan faktor yang penting dalam rangka mewujudkan ketahanan keluarga di Indonesia. Untuk itu berbagai macam usaha dalam berbagai bentuk, model dan cara baik sifatnya preventif maupun kuratif hendaknya terus dilakukan dari berbagai pihak apalagi ditengah tingginya angka perceraian di Indonesia. Untuk itu perlu dukungan dan kerja kolaboratif dari banyak pihak dalam mewujudkan itu.