KAJIAN PUSTAKA
A. Ketas tan Beragama
4. Aspek Ketaatan Beragama
Ciri-ciri dari ketaatan beragama adalah apabila seseorang dapat
n
■
syahadat, mengerjakan sholat lima waktu sehari semalam,
melaksanakan puasa dalam bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah
hj ji bagi yang mampu. Hal ini berdasarkan Hadist Nabi SAW. Dari
s£ habat umar rodhiyallaahu anhuma, Rosullah SAW bersabda
“ rslam diteakkan di atas lima dasar: kesaksian bahwa tidak ada
7 uhan selain Allah, dan Muhammad adlah utusan Allah, mendirikan
saolat, menunaikan zakat, haji dan puasa ramadhan “(HR. Bukhari).
F adist di atas dijelaskan bahwa islam menggambarkan sebagai sebuah
bingunan gedung yang dilandasi lima landasan yang harus ada dan
dilaksanakan setiap orang islam agar menjadi orang yang taat
beragama.(Muhammad, - :29).
a. Syahadattain
Syahadattain artinya dua kalimat syahadat yaitu syahadat
Tauhit dan Syahadat Rosul. Syahadat artinya pernyataan bahwa
Allah adalah adalah Tuhandan Nabi Muhammad adalah
Rosulullah.
Dua kalimah syahadat ialah dua perkataan pengakuan yang
diucapkan dengan lisan dan dibenarkan oleh hati untuk menjadikan
33
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.
Sholat adalah salah satu sarana komunikasi antara hamba
dengan Tuhannya. Sebagai bentuk ibadah yang didalamnya
merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan
perbuatan yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan
salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan
syara’. Saholat merupakan rukun islam yang wajib bagi setiap
muslim untuk mengerjakannya.
“ setiap orang islam wajib mengeijakan sholat, maka mereka wajib
mengetahui mengetahui syarat-syarat dan rukun sahnya sholat.
Sholat merupakan ibadah yang tujuanya mendekatkan diri
kepada Allah, merupakan ibadah yang tinggi nilainya disisi Allah
SWT karena dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar,
seperti dijelaskan dalam firman Allah qur’an surat Al-Ankabut :45.
“Dan dirikanlah shalat sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (Assayuthi, 1998 : 30-
31). b. Sholat
Oleh karena itu setiap umat islam yang sudah akil baligh wajib mengerjakan shalat fardlu lima waktu yaitu, subuh, dzuhur, ashar, maghrib, isya’, dengan khusu’ dan ikhlas.
c. Puasa Ramadhan
Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan dari
segalahal yang membatalkan puasa serta mengendalikan diri dari
hawa nafsu mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Puasa dibulan ramadhan merupakan ibadah wajib
dilaksanakan oleh setiap muslim dengan sebaik-baiknya karena
termasuk salah satu rukun islam yang ketiga. Dengan melakukan
puasa ramadhan maka akan memperoleh manfaat yang sangat
besar yaitu bertambahnya ketaqwaan kepada Allah, badan menjadi
sehat, mempertajam akal, serta timbul rasa peka, terhadap orang-
orang miskin dan terhadap penderitaan yang dialami oleh orang
lain (Taswin dkk, 2007 : 143-146).
d. Zakat
Zakat adalah memberikan sebagian harta kepada yang
berhak menerimanya dengan cara dan kadar yang telah ditentukan.
Sedangkan zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan bagi setiap
muslim,baik laki-laki maupun perempuan dan baik orang merdeka
maupun hamba sahaya. Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi
umat islam yang mampu setelah melaksanakan ibadah puasa di
35
pokok yang mengenyangkan atau uang yang seharga dengan makanan pokok tersebut
Tujuan dari zakat fitrah adalah menyucikan orang yang
berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan tidak berguna dan juga
untuk memberimakan orang-orang miskin.
Antara sholat dan zakat tidak dapat dipisahkan, seperti dalam
qur’an Al-Baqoroh ayat 43 :
“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku"’(Tasm n dkk, 2007: 127 & 133 ).
Haji asal maknanya adalah menyengaja sesuatu, yang
dimaksud disisni adalah sengaja mengunjungi ka’bah (rumah
Allah) untuk melakukan beberapa amal ibadah, dengan syarat-
syarat yang tertentu.
Ibadah haji dilaksanakn pada bulan zulhijjah, bagi orang
yang kuasa dan mampu diwajibkan haji satu kali seumur hidupnya.
Firman Allah dalam al-qur’an surat Ali-Imron ayat 97. e. Haji
“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke
Baitullah’'’(Rasyid, 1998 : 247).
Jadi telah jelas bahwa mengerjakan haji merupakan kewajiban bagi
orang yang mampu untuk melaksanakannya. Karena merupakan
rukun islam yang kelima.
B. Kedisiplinan
1. P engertian Kedisiplinan
Elizabeth B. Hurlock disiplin adalah sebagai suatu proses dari
l. tihan atau belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan
perkembangan(Gunarsa, 1993 : 81). Menurut Moeliono (1993 :208)
disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tatat tertib,
a;uran, dan lain sebagainya.
Disiplin juga dapat diartikan sebagi semacam pengaruh yang
dirancang untuk membantu anak mampu menghadapi tuntutan dari
1 ngkungan (Semiawan, 2008 : 89). Sedangkan pengertian kedisiplinan
adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,
I* epatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Kedisiplinan dalam
proses pendidikan sangat diperlukan karena bukan hanya untuk
nenjaga kondisi suasana belajar dan mengajar dengan lancar, tetapi
juga untuk menciptakan pribadi yang kuat bagi setiap siswa. Disiplin
kecenderungan dan keinginan individu untuk berbuat sesuatu yang dapat dan ingin ia peroleh dari orang lain, atau kaema situasi kondisi teetentu dengan pembatasan peraturan yang diperlukan terhadap dirinya oleh linhgkungan dimana dia hidup.
Disiplin didunia pendidikan tidak dapat dilihat terlepas dari pertumbuhan disiplin anak sejak dini dirumah, kwalitas emosional yeng habitual (sudah menjadi kebiasaan) akan ikut menentukan bagaimana ia menyesuikan dirinya kemudian di sekolah dan berlanjut
di masyarakat sebagai dasar yang diperoleh sebelumnya (Semiawan,
2008 : 89-90).
2. T ajuan Kedisiplinan
Menurut Bemhad (1964:31) tujuan disiplin adalah
rr engupayakan perkembangan minat anak dan mengembangkan anak
rr enjadi manusia yang baik, yang akan menjadi sahabat tetangga, dan
w arga negara yang baik.
Menurut Durkheim (1990:35 ) disiplin mempunyai tujuan ganda yaitu:
i . Mengembangkan suatu keturunan tertentu dalam tidak-tanduk
manusia dan memberinya suatu sasaran tertentu yang sekaligus
juga membatasi cakrawalanya.
b. Disiplin mengembangkan sikap yang lebih mengutamakan hal-hal
yang merupakan kebiasaan dan juga membatasinya
Tujuan disiplin bukan untuk melarang kebebasan atau
megadakan penekanan, melainkan memberi kebebasan dalam dalam
batas kemampuannya untuk ia kelola. Disiplin membantu anak
menyadari apa yang diharapkan dan apa yang tidak diharapkan
darinya, dan membantunya bagaimana mencapai apa yang diharapkan
darinya tersebut. Disiplin teijadi bila pengaruh diberikan oleh
seseorang yang memberikan rasa aman dan tumbuh dari pribadi yang
berwibawa serta dicintai
Bagi anak disiplin bersifat abitrair, artinya suatu konfirmitas
pada tututan eksternal, namun bila dilakukan dalam suatu suasana
smosional yang emosional yang positif, menjadi proses pendidikan
yang menimbulkan keikhlasan dari dalam dirinya untuk berbuat sesuai
seraturan tanpa merasa dirinya takut atau terpaksa.
Disiplin membantu anak menyadari apa yang diharapkan dan apa apa
yang tidak diharapkan dirinya, dan membantunya bagaimana mencapai
tpa yang diharapkan darinya (Semiawan, 2008 : 93).
3. 7ungsi Disiplin
Disiplin mempunyai kegunaan yaitu untuk mencegah
perbuatan-perbuatan tertentu, diluar tindakan preventif, kegunaan
disiplin sebagai sosial dalam dan pada diri sendiri, terlepas sama
sekali dari peruatan-perbuatan yang diperintahkan. Melalui disiplin
kita dapat membatasi keinginan dan mengendalikan diri dari
39
dietapkan baik disekolah maupun dilingkungan masyarakat
(Eoirkheim, 1990 : 27 & 36).
Disiplin dapat membentuk kejiwaan pada anak untuk m emahami peraturan sehingga ia mengerti kapan saat yang tepat untuk melaksanakan peraturan, dan kapan harus mengesampingkan. Disiplin juga akan membantu anak untuk mengembangkan kontrol dirinya dan membantu anak mengenali perilaku yang salah lalu mengoreksinya.(
Nizar, 2009:22).
4. Cara Menanamkan Disiplin
Mendisiplinkan anak bukanlah bertujuan agar anak menjadi
seorang yang penurut, meskipun bisa saja pada permulaan
n emperkenalkan atau menanamkan disiplin diperlukan sikap otoriter
supaya anak menurut, tetapi lambat laun apa yang ditanamkan atau
d tumbuhkan itu harus menjadi sebagian dari tingkahlakunya.
Tingkahlaku yang baik harus dipertahankan dan dipupuk terus sambil
mengurangi dan membuang tingkah laku yang tidak diingikan karena
tidak memberikan kepuasan dan tidak sesuai dengan norma di
s;kitamya.
Cara menanamkan disiplin pada anak adalah sebagai berikut:
a. Cara otoriter
Pada cara ini orangtua menentukan aturan-aturan dan
batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak. Anak harus
kemauan atau pendapatnya sendiri. Orang tua menentukan tanpa memperhitungkan keadaan anak, tanpa menyelami keinginan dan sifat-sifat khusus anak yang berbeda antara anak yang satu dengan yang lain. Anak harus patuh dan menurut semua peraturan dan
kebijaksanaan orangtua.
Dengan cara otoriter, ditambah dengan sikap keras,
menghukum mengancam akan menjadikan anak patuh dihadapan
orang tua, tetapi dibelakangnya anak akan menentang atau
melawan karena anak merasa dipaksa. Cara otoriter bisa diterapkan
pada permulaan penanaman disiplin, tetapi hanya bisa pada hal-hal
tertentu atau ketika sianak dalam tahap perkembangan dini yang
masih sulit menyerap pengertian-pengertian. Dengan cara ini
menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak. Secara umum
kepribadiannya lemah, demikian pula kepercayaan diri pada anak..
I). Cara bebas
Orangtua membiarkan anak mencari dan menemukan
sendiri tatacara yang memberi batasan-batasan dari
tingkah lakunya. Anak telah terbiasa mengatur dan menentukan
sendiri apa yang dianggapnya baik. Karena harus menentukan
sendiri, maka perkembangan kepribadiannya menjadi tidak terarah.
Sedangkan orangtua hanya sebagai polisi yang mengawasi,
41
kesulitan-kesulitan kalau harus menghadapi larangan-larangan yang ada dalam lingkungan sosialnya,
c. Cara demokratis
Cara ini memperhatikan dan menghargai kebebasan anak namun kebebasan yang tidak mutlak dan dengan bimbingn yang penuh pengrtian anatara kedua belah pihak anak dan orangtua. Dengan cara demokratis ini pada anak tumbuh rasa tanggungjawab
untuk memperhatikan sesuatu tingkahlaku dan memupuk
kepercayaan diri. Anak mampu bertindak sesuai dengan norma dan
kebebasan yang ada pada dirinya untuk memperoleh kepuasan dan
menyesuaikan diri.
Penanaman disiplin pada anak dengan cara demokratis
merupakan cara paling ideal namun dalam kenyataannya, dengan
mengingat keadaan pribadi dan tahapan perkembangan anak, cara
otoriter dan cara bebas juga perlu digunakan untuk menanamkan
disiplin pada anak tapi harus lebih banyak menggunakan cara
demokrasi.
Menurut Haimowitz, M.L dan Haimowitz, N mengklasifikasikan
mengenai penanaman disiplin sebagai berikut:
a. Tehnik yang berorientasi pada kasih sayang (love oriented
technique). Memberikan pujian dan menerangkan sebab-sebab
sesuatu tingkahlaku yang boleh atau tidak boleh dilakukan melalui penalaran dengan dasar kasih sayang yang dirasakan oleh anak,
akan memperkembangkan rasa tanggungjawab dan disiplin diri yang baik.
b. Tehnik yang bersifat material. Tehnik ini mempergunakan hadiah-
hadiah yang benar-benar berujud atau hukuman-hukuman fisik.
Tehnik ini juga dikenal dengan menanamkan disiplin dengan
meyakinkan melalui kekuasaan (power-assertive discipline). Anak
patuh karena takut tidak memperoleh apa yang diinginkan (hadiah)
atau takut dihukum.
Dari semua tehnik di atas membutuhkan peran yang aktif dari orangtua
itau tokoh otoriter yang lain yang ingin menanamkan disiplin pada
anak. Orangtua atau tokoh otoriter berperan pasif sebagai tokoh model
antuk diperhatikan, diamati dan kemudian ditiru sebagian atau seluruh
ingkahlakunya oleh anak. Dengan disiplin yang kuat dan rasional,
inak akan mampu menyaring norma-norma mana yang baik yang perlu
diikuti dan yang tidak baik yang tidak perlu diikuti (Gunarsa, 1995 :
52-85).
4. <aktor-faktor menanamkan disiplin
a. Menyadari adanya perbedaan tingkatan kemampuan kognitif anak
sesuai dengan asas perkembangan aspek kognitif, maka cara yang
digunakan perlu disesuaikan dengan tingkatan kemampuan
kognitif. Menanamkan disiplin tidak lepas dari mengembangkan
pengertian-pengertian dank arena itu harus disesuaikan dengan
43
b. Menanamkan disiplin pada anak harus dimulai seawal mungkin, yakni sejak anak mulai mengembangkan pengertian-pengertian dan mulai bisa melakukan sendiri.
c. Dalam usaha menanamkan disiplin perlu dipertimbangkan agar mempergunakan tehnik demokratis sebanyak mungkin. Pendekatan yang berorientasi pada kasih sayang harus dipakai sebagai dasar untuk menciptakan hubungan dengan anak.
d Penggunaan hukuman harus diartikan sebagai sikap tegas, konsekuen dan konsisten dengan dasar bahwa yang dihukum bukan sianak, melainkamn perbuatannya yang melanggar aturan,
e Menanamkan disiplin bukan kegiatan sekali jadi melainkan harus berkali-kali. Melatih dan mendorong perlu dilakukan berulang- rulang sampai tercapai keadaan dimana anak bisa melakukan sendiri sebagai kebiasaan (Gunarsa, 1995 : 86-87).
5. Aspek disiplin disekolah
a Tertib waktu
Tertib dalam melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan
jadwal program merupakan kunci keberhasilan. Demikian pula
siswa yang terlatih menepati waktu kegiatan sekolah, maka
kesuksesanlah yang mereka dapatkan. Tetapi siswa yang terlatih
menempati waktu tersebut kerugian dan kegagalan mereka
o]
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”
b Tertib mengikuti belajar mengajar
Telah menjadi kewajiban pelajar mengikuti proses belajar
mengajar dengan tekun dan secara terus menerus. Dalam proses
belajar mengajar anak juga harus mentaati peraturan yang
diberlakukan di sekolah. Seperti mendengarkan penjelasan guru,
mengerjakan tugas dengan baik dan sungguh-sungguh,
mengumpulkan tugas tepat waktu dan lain sebagainya. Tetapi tidak
semua anak mau mentaati peraturan tersebut yaitu dengan ribut di
kelas, melalaikan tugas dan lain sebagainya ( Crow, 1990 : 113).
Anak yang melanggar peraturan/tidak disiplin akan mendapatkan
hukuman, sebagai kendali untuk dirinya tetapi bukan menggunakan
45
bertujuan agar anak tidak mengulangi perbuatan yang sama dan anak dapat berdisiplin didalam mengikuti pelajaran di sekolahan. .. “Some children need guidance, not strict discipline. Othersneed both. Some exitable students must be handled after class, others can be dealt with on the spot”. “Beberapa anak memerlukan
kendali bukan disiplin yang keras, yang lainnya melakukan
keduanya. Beberapa kekaguman murid dapat ditangani setelah
pelajaran (kelas). Yang lainnya dapat diberikan di area itu” (Davis
& Tom as,: 111).
Dengan belajar secara disiplin dan tekun maka, anak akan
terhindar dari kebodohan. Adapun masalah ini dijelaskan dalam
kitab Ta’lim Muta’alim Abu Hanifah berkata kepada Abi Yusuf, “
Kamu memang bodoh tapi itu bisa kamu usir dengan terus menerus
belajar. Jauhilah sifat malas, sebab malas itu keburukan dan
kerusakan yang amat besar”. Juga dijelaskan dalam qur’an surat
Al-Ankabut ayat 69 :
((3^) 1 1 [y j JLpJ ly wL^l>- j j Ij
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami,
benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami,
dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang
c. Kerapian
Memelihara kerapian dan keindahan diri, suasana dan tempat itu telah diatur oleh islam. Dari sinilah diantaranya yang dapat mendatangkan suatu kenikmatan dalam melaksanakan tugas hidup sehari-hari.
Firman Allah dalam qur’an surat Al-A’raf ayat 31-32.
^ ^ 'i . - „A" • f. * - ' „
j Ijl4=aj J p J c J r 't ♦
I j * o j
“ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap
(memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-
lebihan Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan”
Maka dalam aturan disekolah diterapkan bahwa anak harus
mengenakan pakaian sekolah dengan tertib dan rapi sesuai dengan
ketentuan yang ada di sekolah.