• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Analisis Aspek Non Finansial

6.1.1. Aspek Pasar

Aspek pasar merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menentukan kelayakan pada suatu usaha. Tidak tersedianya pasar yang baik dalam menyerap produk yang dihasilkan suatu usaha maka usaha tersebut akan sulit untuk berjalan dengan lancar. Berikut ini adalah analisis lebih lanjut mengenai komponen-komponen dari aspek pasar.

6.1.1.1. Potensi Pasar (Permintaan dan Penawaran)

Terdapat dua jenis permintaan yang terjadi pada pelaku usaha jamur tiram putih di Desa Tugu Selatan, yaitu permintaan log jamur tiram putih dan jamur tiram putih segar. Kedua jenis permintaan tersebut belum mampu terpenuhi oleh pelaku usaha. Saat ini, pelaku usaha dapat menghasilkan log jamur tiram putih sebanyak 32.000 log/bulan, sedangkan permintaan yang diterima mencapai 95.000 log/bulan. Permintaan tersebut berasal dari Cibedug sebesar 16.667 log/bulan, Cipanas sebesar 33.333 log/bulan, Cianjur 5000 log/bulan, dan Kabupaten Bandung sebesar 40.000 log/bulan. Selisih penawaran dan permintaan yang tinggi tersebut menyebabkan log jamur tiram putih yang diproduksi selalu terserap oleh pasar dan menjadi peluang yang baik bagi pelaku usaha jamur tiram putih di Desa Tugu Selatan untuk melakukan pengembangan usaha pembuatan log jamur tiram putih. Pelaku usaha akan melakukan pengembangan usaha produksi log menjadi 52.000 log/bulan untuk mengambil peluang tersebut yang didasarkan pada kapasitas teknologi sterilisasi yang mampu menampung baglog sampai 2000-2200 log.

Pasar jamur tiram putih segar yang menjadi sasaran utama dari pelaku usaha jamur tiram putih Desa Tugu Selatan adalah pasar di Jakarta, Depok, dan

Tangerang. Wilayah tersebut menjadi sasaran pasar utama dikarenakan harga jual yang cukup tinggi mencapai Rp 9000/kg. Permintaan dari pasar di Jakarta, Depok, dan Tangerang masing-masing mencapai 8 ku/hari, 2 ku/hari, dan 4 ku/ hari. Namun, pada saat ini pelaku usaha jamur tiram putih baru mampu memenuhi permintaan tersebut sebesar 6,66 ku/hari. Selisih antara penawaran dan permintaan yang terjadi saat ini sebesar 7,34 ku/hari menyebabkan jamur tiram putih segar selalu terjual habis di pasar. Selain permintaan dari pasar di atas, pada akhir tahun 2011 akan terdapat permintaan baru dari Batam dan wilayah Jawa masing-masing sebesar 2 ku/hari dan 6 ku/hari. Melihat peluang tersebut pelaku usaha akan melakukan pengembangan budidaya jamur tiram putih menjadi sebesar 8,88 ku/hari. Pelaku usaha jamur tiram di Desa Tugu Selatan perlu meningkatkan terus produksinya agar dapat mengisi peluang-peluang pasar tersebut. Berikut merupakan perkembangan produksi jamur di Jawa Barat (Tabel 11).

Tabel 11. Perkembangan Produksi Jamur di Jawa Barat Tahun 2004-2009

Tahun Produksi (kg) Presentase (%)

2004 9.500.000 - 2005 13.662.000 43,81 2006 10.173.800 -25,53 2007 5.133.000 -49,55 2008 5.416.094 5,52 2009 7.306.746 34,91

Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)

Proyeksi produksi pada tahun 2011 diperoleh melalui analisis deret waktu berupa metode kuadrat terkecil dengan persamaan:

dimana, dan

Tabel 12. Perhitungan Proyeksi Perkembangan Jamur di Jawa Barat

Tahun X Y X2 XY 2004 -3 9.500.000 9 -28.500.000 2005 -2 13.662.000 4 -27.324.000 2006 -1 10.173.800 1 -10.173.800 2007 1 5.133.000 1 5.133.000 2008 2 5.416.094 4 10.832.188 2009 3 7.306.746 9 21.920.238 Jumlah (∑) 51.191.640 28 -28.112.374

Dari perhitungan di atas diperoleh persamaan sehingga proyeksi produksi pada tahun 2011 (X=5) sebesar 3.511.873,21 kg. Dengan mengetahui produksi industri dan produksi pelaku usaha dapat diketahui

market share dari usaha jamur tiram putih segar di Desa Tugu Selatan, saat ini dan setelah dilakukan pengembangan.

Market share saat ini(sebelum pengembangan usaha):

= 6,83%

Market share setelah pengembangan usaha:

= 9,11%

Market share yang diterima pelaku usaha jamur tiram putih di Desa Tugu Selatan saat ini sebesar 6,83% dan akan meningkat menjadi 9,11% setelah dilakukan pengembangan usaha. Perhitungan market share tersebut memiliki kelemahan dalam penentuan jumlah produksi jamur industri karena diperoleh dengan asumsi bahwa produksi dan penjualan jamur tiram dilakukan di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat, sehingga jumlah produksi industri didasarkan pada total produksi jamur pada kedua provinsi tersebut.

6.1.1.2. Bauran Pemasaran 1. Produk

Pelaku usaha jamur tiram putih di Desa Tugu Selatan menghasilkan produk berupa log jamur tiram putih dan jamur tiram putih segar. Baglog yang saat ini dihasilkan pelaku usaha sebesar 2176 log/hari, dimana sekitar 1067 log untuk dijual dan 1109 log untuk dibudidayakan, sedangkan baglog yang akan dihasilkan pelaku usaha setelah pengembangan sebesar 2843 log/hari, dimana sekitar 1734 log untuk dijual dan 1109 log untuk dibudidayakan. Jumlah baglog

yang akan digunakan untuk kegiatan budidaya tidak meningkat, namun jumlah jamur tiram segar di Desa Tugu Selatan yang saat ini sekitar 666 kg/hari akan

meningkat menjadi 888,18 kg/hari dimana diasumsikan log menghasilkan 5 ons/log pada setiap masa panen. Hal tersebut terjadi dikarenakan terdapat pelaku usaha yang akan melakukan pengembangan usaha dengan membeli log jamur tiram putih untuk dibudidaya yang diperoleh dari petani di sekitar Cisarua, namun diluar dari pelaku usaha yang diteliti. Jamur segar yang dihasilkan pelaku usaha merupakan jamur dengan kualitas baik yaitu segar langsung dijual, berwarna putih dengan sedikit kekuningan, berukuran standar (banyak diminati pasar), dan berdaging tebal, sedangkan untuk baglog jamur yang diproduksi memiliki berat sekitar 1,2 kg dan dapat menghasilkan jamur segar rata-rata 5 ons/log. Masa produktif dari log sekitar 70 hari. Selama masa produktif tersebut log jamur dapat dipanen sebanyak lima kali.

Gambar 4. Baglog Jamur Tiram Putih Gambar 5. Jamur Tiram Putih Segar 2. Harga

Harga jamur tiram putih segar yang diterima pelaku usaha jamur tiram putih di Desa Tugu Selatan sebesar Rp 6.500/kg dengan sistem jual di tempat. Penjualan jamur segar dilakukan dengan sistem penjualan secara langsung ke pedagang pengumpul. Harga jual log jamur tiram putih yang ditetapkan oleh pelaku usaha sebesar Rp 1.800/log. Harga jual tersebut ditetapkan berdasarkan biaya produksi yang diperlukan untuk memproduksi log yang mencapai Rp 1.200/log, sehingga diperoleh selisih sebesar Rp 600/log yang merupakan keuntungan yang diterima pelaku usaha.

3. Tempat (Saluran Distribusi)

Output yang dihasilkan dari usaha ini berupa jamur tiram putih segar dan log jamur tiram putih. Log jamur tiram putih dari pelaku usaha dipasarkan ke daerah sekitar Cibedug, Cipanas, dan Cianjur. Pemasaran dari log jamur tiram putih ini dengan cara mengantarkan log jamur langsung ke konsumen dengan biaya transport Rp 100/log.

Gambar 6. Saluran Distribusi Baglog Jamur Tiram Putih di Desa Tugu Selatan Pemasaran jamur tiram putih segar berbeda dengan baglog jamur tiram putih dimana pelaku usaha tidak menjual langsung jamur tiram putih segar kepada konsumen akhir melainkan melalui pedagang pengumpul. Jamur tiram putih segar dipasarkan ke daerah sekitar Jakarta, Depok, dan Tangerang. Jamur tiram segar yang dijual ke pedagang pengumpul tidak menghasilkan biaya transport bagi pelaku usaha dikarenakan pedagang pengumpul sendiri yang akan datang ke lokasi usaha dan diangkut dengan mobil milik pedagang pengumpul. Berikut distribusi jamur tiram putih segar dari pelaku usaha di Desa Tugu Selatan:

Gambar 7. Saluran Distribusi Jamur Tiram Putih Segar di Desa Tugu Selatan

Pada saluran pertama, jamur tiram putih segar yang dihasilkan dijual ke pedagang pengumpul. Selanjutnya pedagang pengumpul menjual jamur tiram putih segar tersebut ke pedagang pengecer pertama yang berjualan di Pasar Jakarta, Depok, dan Tangerang seperti Ciputat dan Pasar Induk Kramat Jati. Dari pedagang pengecer ini kemudian sampai di konsumen akhir.

Saluran kedua, pelaku usaha tetap menjual kepada pedagang pengumpul dan dari pedagang pengumpul dijual ke pedagang pengecer pertama. Pedagang pengecer pertama kemudian menjual ke pedagang pengecer kedua seperti

Pelaku Usaha di Desa Tugu Selatan

Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer 1 Pedagang Pengecer 2 Konsumen Akhir 1 2 Pelaku Usaha di Desa Tugu

Selatan

Petani Cibedug Petani Cipanas

pedagang di Pasar Pondok Gede dan Pasar Jatinegara. Dari pedagang pengecer kedua kemudian sampai kepada konsumen akhir.

4. Promosi

Promosi merupakan kegiatan memperkenalkan produk yang dihasilkan. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh pelaku usaha jamur tiram putih di Desa Tugu Selatan pada awal usaha yaitu dengan memberikan contoh log jamur tiram putih dan jamur tiram putih segar kepada konsumen atau pasar, sehingga konsumen atau pasar tersebut dapat mengetahui kualitas dari log dan jamur segar tersebut. Saat ini promosi yang terjadi hanya melalui word of mouth karena beberapa pasar sudah mengetahui kualitas yang baik dari log dan jamur segar pelaku usaha di Desa Tugu Selatan.

Berdasarkan uraian tesebut, pada aspek pasar pengembangan usaha jamur tiram putih layak untuk dijalankan. Hal ini disebabkan besarnya potensi pasar dan peluang pasar yang ditunjukkan dengan nilai market share dan selisih antara permintaan dan penawaran yang diperoleh pelaku usaha.