BAB II MATERI UNIT KOMPETENSI MENJELASKAN PROGRAM PERIKANAN
4.4 Aspek Pengetahuan: Menjelaskan isu prioritas yang perlu ditangani oleh
Tahap pertama dalam mengembangkan tujuan dan strategi yang efektif untuk pengelolaan perikanan atau ekosistem harus dimulai dengan mengidentifikasi masalah-masalah yang berdampak pada perikanan. Setelah itu, membuat urutan prioritas masalah sehingga tingkat aksi manajemen dilakukan sesuai dengan pentingnya masalah. Langkah ini ditujukan untuk mengidentifikasi potensi konsekuensi, baik positif dan negatif, bahwa perikanan yang ada dan potensi alat manajemen alat mungkin untuk ekosistem dan para pemangku kepentingan.
Adopsi pendekatan ekosistem berbasis manajemen secara signifikan membantu kita mengidentifikasi lebih banyak masalah yang relevan karena tidak hanya spesies target yang kita perhatikan tetapi juga dampak perikanan terhadap spesies bycatch dan habitat ikan, serta dampak langsung dari penangkapan ikan terhadap ekosistem secara lebih luas. Oleh karena itu, permasalahan perikanan ini harus mencakup tinjauan terhadap aspek-aspek ekologi dan sosial-ekonomi perikanan, serta hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan manajemen saat ini atau masa depan, yaitu kemampuan untuk mencapai tujuan pengelolaan. Dampak perikanan yang dipertimbangkan tidak hanya pemanfaatan spesies target secara berkelanjutan bagi manusia tetapi dampak dan manfaat perikanan bagi ekosistem secara keseluruhan. Misalnya efek langsung perikanan terhadap spesies bycatch dan habitat, serta efek tidak langsung dari perikanan terhadap struktur ekosistem dan proses-proses yang terjadi di salamnya, misalnya perubahan keseimbangan antara predator dan mangsa atau kompetisi di antara berbagai spesies. Berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan manajemen saat ini atau masa depan juga harus dikaji.
Analisis terhadap masalah-masalah umum harus dimulai dan diarahkan oleh tujuan kebijakan tingkat tinggi, yaitu tujuan nasional atau regional. Tujuan kebijakan ini dapat diketahui dari peraturan perundang-undangan, seperti undang-undang perikanan dan lingkungan hidup.
Pengelola perikanan di Indonesia dan negara-negara Coral Triangle lainnya telah mengidentifikasi beberapa masalah penting yang mengancam perikanan. Hal ini akan dijelaskan di bagian berikut ini.
4.4.1 Isu perikanan ikan karang hidup yang tidak diatur2
(1) Ikan karang hidup merupakan komoditas perdagangan yang penting di Asia dan Pasifik. Ikan karang hidup ini mencakup empat kategori produk perdagangan, yaitu:
Ikan yang ditangkap, dikapalkan dan dibawa hidup untuk konsumsi. (2) Ikan hias yang ditangkap untuk industri akuarium.
(3) Karang yang dijual untuk industri hobi (meskipun karang bukan ikan, tetapi sering dimasukan dalam kalkulasi perdagangan ikan hidup).
(4) Batuan hidup, substrat keras dengan alga yang berwarna-warni atau karang.
Sebuah penilaian global terkini terhadap 200 perikanan di seluruh dunia menyimpulkan bahwa perikanan karang di Pasifik Barat dan Asia Tenggara tergolong sebagai jenis perikanan yang paling terancam. Hal ini disebabkan tingginya permintaan ikan karang dan penggunaan s ianida untuk menangkap ikan ini. Di Amerika Serikat, diperkirakan 50-60% ikan akuarium yang diimport dari Filipina dan 90% dari Indonesia ditangkap dengan menggunakan sianida.
Amerika Serikat merupakan importir terumbu karang untuk jenis makanan, perhiasan dan akuarium. AS adalah pengguna 60% kebutuhan dunia untuk produk karang hias hidup, 70% -90% dari karang
Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi
Dasar-Dasar Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan
Kode Modul KKP.KP.03.001.01
hidup, dan 95% dari batuan hidup (dengan batu karang dengan algae tumbuh di atasnya).
Perdagangan komoditas ini diperkirakan akan meningkat sebesar 10%-20% per tahun. Spesies yang diekspor dari negara-negara Pasifik untuk akuarium laut mencakup lebih dari 150 jenis ikan karang, seperti ikan kepe-kepe, ikan anemone, angelfish, dan wrasse dan lebih dari 60 jenis karang hidup. Perdagangan ikan karang hidup untuk konsumsi (khususnya jenis ikan kerapu) terutama ditujukan untuk pasar di Hong Kong dan Cina Selatan. Asia Tenggara dan Australia adalah pemasok utama dari komoditas ini, namun nelayan harus semakin jauh dan semakin lama menangkap ikan, seperti terjadi pada nelayan di bagian barat Pasifik termasuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. Menurut laporan TRAFFIC Asia Timur dan WWF Hong Kong, total nilai tahunan ikan karang hidup yang diimpor Hong Kong untuk konsumsi diperkirakan lebih dari US$ 400 juta.
Perdagangan ikan untuk konsumsi dan ikan hias ini dapat berdampak negatif terhadap lingkungan sebagai akibat dari praktek-praktek yang merusak. Sebagai contoh, sianida adalah bahan kimia yang umum digunakan untuk membuat ikan pingsan. Walaupun tidak membunuh ikan, tapi sianida dapat membunuh organisme dan terumbu karang yang ada di sekitarnya. Ikan kerapu jenong dan wrasse sangat mudah mengalami overfishing karena pertumbuhan ikan-ikan ini lambat dan perlu waktu lama untuk mencapai tingkat dewasa ketika dapat memijah. Karena overfishing, humphead wrasse sekarang masuk dalam daftar Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Perdagangan ikan ini, baik ekspor maupun impor, harus diatur secara ketat.
Karena industri perdagangan ikan ini bernilai tinggi, ada keinginan yang kuat untuk mengidentifikasi praktek-praktek perikanan yang berkelanjutan. The Marine Aquarium Council (MAC) berperan untuk membantu para penggemar atau pemilik hobi ikan hias untuk memperoleh produk yang bersertifikat ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain itu, International Marinelife Alliance (IMA), The Nature Conservancy (TNC), dan MAC bekerja sama dengan Kamar Dagang Makanan Laut Hongkong untuk mengembangkan standar yang berlaku untuk perdagangan ikan karang hidup konsumsi. Kamar Dagang tersebut mewakili 90 persen dari pembeli ikan karang hidup konsumsi di Hong Kong dan akan dapat mempengaruhi praktek penangkapan ikan menjadi lebih baik.
Hand-out 5.4: Perikanan ikan karang hidup tidak diatur
Hand-out 5.5: Kapasitas penangkapan ikan dan IUU di Indonesia
4.4.2 Isu kelebihan kapasitas penangkapan ikan3
Salah satu ancaman penting terhadap perikanan di Asia Tenggara adalah kapal ikan sudah terlalu banyak sementara jumlah ikan yang tersedia sudah sedikit. Sebagai akibatnya, banyak konflik yang timbul di antara para pelaku bisnis perikanan. Meskipun sumber daya ikan cukup untuk menyediakan kesempatan kerja dan pangan bagi banyak orang namun upaya penangkapan ikan yang berlebihan telah menyebab persaingan di antara para pelaku untuk menangkap ikan yang semakin hari semakin sedikit jumlahnya. Pertumbuhan penduduk yang cepat sering mendorong nelayan untuk menggunakan teknologi yang lebih efektif, tetapi merusak.
3
http://www.rsis-ntsasia.org/resources/publications/policy-briefs/inaugural-Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi
Dasar-Dasar Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan
Kode Modul KKP.KP.03.001.01
Kapasitas penangkapan ikan yang berlebihan ini adalah sebuah situasi di mana kemampuan armada untuk menangkap sudah melebihi target produksi yang seharusnya boleh diambil. Kapasitas penangkapan yang berlebih ini telah terjadi di Bangladesh, India dan Sri Lanka. Untuk perikanan di laut Jawa, Indonesia, besarnya kelebihan ini diperkirakan sebanyak 428 unit kapal trawl yang berukuran 25 GT pukat. Untuk perikanan Vietnam, peningkatan total daya mesin sebesar tiga kali lipat dalam periode 1987-1999 hanya menghasilan peningkatan produksi ikan sebesar 1,81 kali. Status sumber daya ikan yang mengkhawatirkan di negara-negara tersebut memerlukan tindakan segera yaitu mengelola kelebihan kapasitas penangkapan ikan. Pada tahun 1995, kapasitas penangkapan ikan negara-negara Asia Timur diperkirakan mencapai 78% dari kapasitas global, yaitu berupa 980,000 unit kapal perikanan (PEMSEA 2003).
Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia telah menanggapi masalah ini dan telah mendorong pembentukan beberapa forum regional untuk melakukan langkah-langkah yang terbaik guna mengurangi kelebihan kapasitas penangkapan ikan, memerangi penangkapan ikan ilegal dan mempromosikan praktek-praktek penangkapan ikan yang bertanggung jawab.
4.4.3 Isu illegal, unreported and unregulated fishing - IUU Fishing4
Penerapan manajemen perikanan yang efektif untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan memerlukan berbagai jenis informasi dalam jumlah besar tentang produksi atau hasil tangkapan dari kegiatan penangkapan ikan, dan data biologi, ekologi, oseanografi, ekonomi dan sosial budaya. Informasi yang tidak lengkap pada perikanan yang dikelola merupakan kompromi dalam pengelolaan perikanan. Tidak adanya informasi pada perikanan yang tidak dikelola akan membatasi kemampuan para manajer untuk menyusun pengelolaan di masa yang akan datang. IUU fishing meny ebabkan kekurangan informasi sehingga informasi yang berasal dari pelaku non-IUU fishing menjadi kurang berguna.
Ada bukti yang semakin jelas tentang keengganan pelaku perikanan untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya. Pada skala nasional, kadang ada kepuasan dalam menghadapi ketidak-jelasan asal muasal data, seperti dapat dibuktikan dari metode 'standar' yang diterapkan beberapa negara dalam memperkirakan besarnya kesalahan informasi (analisis statistik, laporan para pengamat lapangan dan dugaan terbaik). Pada skala internasional, terutama ketika ada perjanjian akses bilateral atau regional, jumlah laporan yang salah ketika ada kewajiban membuat laporan sulit untuk dinilai, namun kesalahan laporan diperkirakan dapat mencapai 75%. Untuk kegiatan di laut lepas, dengan menggunakan teknologi yang memungkinkan nelayan mencapai perairan yang lebih dalam atau stok ikan yang kurang diperhatikan, semua kegiatan ini kemungkinan besar tidak dilaporkan.
Penjelasan tentang penangkapan ikan karang hidup yang tak di atur, kapasitas lebih penangkapan (terlalu banyak kapal dan nelayan), dan IUU fishing hanyalah sebagian dari sekian banyak permasalahan di kawasan Coral Triangle. Ada hal lain lagi yang anda pikirkan?
4.4.4 Tinjauan tentang strategi dan perangkat praktis pengelolaan perikanan
Ada beberapa cara dan strategi manajemen yang dapat dipertimbangkan untuk diterapkan dalam pengelolaan perikanan. Beberapa di antaranya yang akan dijelaskan pada bagian berikut ini adalah penutupan kawasan, penutupan musim, perijinan dan sertifikasi, kuota atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dan pembatasan metode penangkapan ikan.
Penutupan kawasan – Sebagian atau seluruh kawasan dapat dinyatakan tertutup untuk kegiatan
penangkapan ikan. Penutupan kawasan ini dilakukan melalui penataan ruang (zonasi). Tujuan dari
Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi
Dasar-Dasar Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan
Kode Modul KKP.KP.03.001.01
penutupan kawasan ini adalah membatasi atau mengurangi intensitas penangkapan ikan. Pada kawasan tersebut, kegiatan perikanan dilakukan dengan teknologi (metode dan alat penangkapan ikan) yang ramah lingkungan. Di dalam sebuah kawasan konservasi laut biasanya terdapat kawasan tertutup yang disebut daerah perlindungan laut atau no-take-zone area. Stok ikan mendapat perlindungan antara lain karena daur hidupnya menjadi lebih terjamin, yaitu i kan dapat melewati masa juvenil, dewasa kemudian melakukan reproduksi. Habitat ikan menjadi terlindung karena tidak ada kegiatan fisik yang terjadi di dalamnya. Secara keseluruhan, pada kawasan tertutup, upaya penangkan ikan dapat diturunkan.
Penutupan musim – Serupa dengan penutupan kawasan, penutupan musim membatasi waktu kegiatan penangkapan ikan hingga jangka waktu tertentu. Penutupan waktu ini dapat mengurangi upaya penangkapan ikan. Perlindungan ini dapat diarahkan untuk memberi kesempatan pada ikan atau biota lainnya untuk melakukan kegiatan biologis dan ekologi sehingga daur hidupnya dapat berjalan dengan lengkap. Misalnya adalah larangan penangkapan pada bulan-bulan ketika ikan banyak yang memijah atau larangan pada bulan-bulan ketika kebanyakan ikan masih muda. Maksud dari penutupan musim ini dapat juga agar stok ikan mendapat kesempatan untuk memulihkan diri.
Perijinan dan sertifikasi - Perijinan dan retribusi dapat digunakan untuk membatasi jumlah nelayan.
Nelayan yang mendapat ijin memiliki jaminan diperbolehkan menangkap ikan. Pendapatan dari penjualan dokumen sertifikat ijin atau retribusi dapat juga digunakan untuk membiayai implementasi manajemen perikanan. Pendapatan tersebut dapat juga dibagikan kepada masyarakat setempat.
Jumlah hasil tangkapan yang diperbolehkan, kuota dan batasan ukuran – Jumlah produksi ikan
atau hasil tangkapan yang diperoleh pelu dibatasi untuk mencegah terjadinya overfishing. Batas maksimum produksi ini biasa disebut kuota. Penentuan batas-batas ini memerlukan penelitian. Salah satu hasil penelitian ini adalah maximum sustainable yield (MSY).
Pembatasan metode penangkapan ikan – Tidak semua jenis metode penangkapan ikan sesuai atau
dapat dioperasikan di kawasan konservasi laut. Pembatasan jenis metode penangkapan ikan ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan eksploitasi terhadap kelompok umur ikan tertentu, terutama juvenil dan ikan-ikan tertentu lainnya.
4.5 Aspek Keterampilan: Mampu mengidentifikasi permasalahan utama perikanan yang terjadi