• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutananan, Penyuluhan merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraan, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Sistem penyuluhan pertanian selanjutnya disebut penyuluhan yang mengembangkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, serta pengetahuan pelaku utama dan pelaku usaha.

1.3.2. Tujuan Penyuluhan Pertanian

Menurut Kusnadi (2011), menyatakan bahwa penyuluhan pertanian mempunyai dua tujuan yang akan dicapai yaitu: tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka pendek adalah menumbuhkan perubahan-perubahan yang lebih terarah pada usaha tani yang meliputi: perubahan pengetahuan, kecakapan, pengetahuan dan tindakan petani keluarganya melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan pengetahuan. Berubahnya perilaku petani dan keluarganya, diharapkan dapat mengelola usahataninya dengan produktif, efektif dan efisien.Tujuan jangka panjang yaitu meningkatkan taraf hidup dan meningkatkan kesejahteraan petani yang diarahkan pada terwujudnya perbaikan teknis bertani

(better farming), perbaikan usahatani (better business), dan perbaikan kehidupan petani dan masyarakatnya (better living).

1.3.3. Sasaran Penyuluhan Pertanian

Menurut UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, sasaran penyuluhan adalah pihak yang memperoleh manfaat penyuluhan yang meliputi sasaran utama (pelaku utama dan pelaku usaha) dan sasaran antara (pemangku kepentingan). Mardikanto (2009), mengubah istilah sasaran penyuluhan menjadi penerima manfaat penyuluhan (beneficiaries) yang dikelompokkan atas:

A. Pelaku utama

Pelaku utama terdiri dari petani dan keluarganya yang selain sebagai juru tani, sekaligus sebagai pengelola usaha tani yang berperan dalam memobilisasi dan memanfaatkan sumber daya tercapainya peningkatan dan perbaikan mutu produksi, efisiensi usaha tani serta perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lain.

B. Penentu kebijakan

Terdiri dari aparat birokrasi pemerintahan sebagai perencana, pelaksana, dan pengendali kebijakan pembangunan pertanian, termasuk elit masyarakat dari arah terbawah (desa) yang secara aktif dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan pembangunan pertanian.

C. Pemangku kepentingan lain

Dalam hal ini adalah mereka yang mendukung atau memperlancar kegiatan pembangunan pertanian.Termasuk dalam kelompok ini adalah

peneliti, produsen sarana produksi, pelaku bisnis, pers, aktivis LSM, tokoh masyarakat, artis, dan budayawan.

1.3.4. Materi Penyuluhan Pertanian

Menurut UU No. 16 Tahun 2006 materi penyuluhan dibuat berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pelaku utama dan pelaku usaha dengan memperhatikan kemanfaatan dan kelestarian sumber daya pertanian, perikanan, dan kehutanan yang berisi unsur pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan modal sosial serta unsur ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, ekonomi, manajemen, hukum, dan pelestarian lingkungan. Materi penyuluhan pada hakekatnya merupakan segala pesan yang ingin dikomunikasikan oleh seorang penyuluh kepada masyarakat penerima manfaatnya. Pesan yang disampaikan kepada pelaku utama dan pelaku usaha harus mendapat rekomendasi dari lembaga pemerintah, kecuali teknologi yang bersumber dari pengetahuan tradisional.

Ditinjau dari sifatnya terdapat 3 (tiga) macam materi penyuluhanyaitu:

berisi pemecahan masalah yang sedang dan akan dihadapi, petunjuk dan rekomendasi yang harus dilakukan dan materi yang bersifat instrumental atau mempunyai manfaat jangka panjang misal peningkatan dinamika kelompok (Mardikanto, 2009). Pemilihan materi penyuluhan harus selalu mengacu pada kebutuhan sasaran, akan tetapi dalam prakteknya seringkali penyuluh kesulitan untuk memilih dan menyajikan materi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Oleh karena itu, pendalaman terhadap kebutuhan sasaran menjadi salah satu kunci ketepatan pemilihan materi penyuluhan.

1.3.5. Metode Penyuluhan Pertanian

Metode diartikan sebagai “cara”, sedangkan teknik adalah“prosedur”.

Metode dan teknik merupakan cara dan prosedur yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode dan teknik penyuluhan pertanian merupakan cara dan prosedur yang ditempuh oleh seorang penyuluh dalam rangka mencapai tujuan penyuluhan pertanian. Menurut Permentan Nomor 52 Tahun 2009 tentang metode penyuluhan pertanian, tujuan dari metode penyuluhan yaitu :

1. Mempercepat dan mempermudah penyampaian materi dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian.

2. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan dan pelaksanaan penyuluhan pertanian.

3. Mempercepat proses adopsi inovasi teknologi pertanian.

Sedangkan metode penyuluhan pertanian berdasarkan teknik komunikasi, jumlah sasaran dan indrapenerimaan digolongkan menjadi :

1. Berdasarkan teknik komunikasi, metode penyuluhan pertanian digolongkan menjadi :

a. komunikasi langsung (direct communication/face to face communication), contoh: obrolan di sawah, obrolan di balai desa, obrolan di rumah, telepon/HP,kursus tani, demonstrasi karyawisata, pameran;

b. komunikasi tidak langsung (inderect communication), pesan disampaikan melalui perantara (medium atau media), contoh : publikasi dalam bentuk cetakan,poster, siaran radio/TV, pertunjukan film.

2. Berdasarkan jumlah sasaran yang dicapai digolongkan menjadi:

a. Pendekatan perorangan, contoh: kunjungan rumah, kunjungan usaha tani, surat-menyurat, hubungan telepon;

b. Pendekatan kelompok, contoh: diskusi kelompok, demonstrasi (cara atau hasil), karyawisata, temu Lapangan, kursus tani;

c. Pendekatan masal, contoh: pameran, pemutaran film, siaran

pedesaan/TV,pemasangan poster, pemasangan spanduk, penyebaran bahan bacaan (folder,leaflet, brosur).

3. Berdasarkan indera penerima digolongan menjadi:

a. Indera penglihatan, contoh: poster, film, pemutaran slide;

b. Indera pendengaran, contoh: siaran TV/radio, pidato, ceramah, hubungan telepon;

c. Beberapa indera, contoh: demonstrasi (caraatau hasil), siaran TV, pameran.

1.3.6. Media Penyuluhan Pertanian

Media penyuluhan adalah alat bantu penyuluh dalam melakukan penyuluhan yang dapat merangsang sasaran suluh untuk dapat menerima pesan-pesan penyuluhan, dapat berupa media cetak, proyeksi, visual ataupun audio-visual dan komputer (Pangerang, 2016). Media penyuluhan sangat diperlukan agar penyuluh memberi manfaat sehingga penetapan bentuk penyuluhan diharapkan berdasarkan atas pertimbangan waktu, penyampaian, isi, sasaran dan pengetahuan sasaran (Levis, 1996).

Penyuluhan dalam prakteknya menurut Kartasapoetra (1994), dapat dilaksdaun dengan menggunakan media penyuluhan langsung dan tidak langsung. Media penyuluhan langsung yaitu dimana penyuluh dengan petani dapat berhadapan untuk mengadakan acara tukar pikiran yang memungkinkan penyuluh dapat berkomunikasi secara langsung dan memperoleh respon

langsung dari sasaran dalam waktu yang relatif singkat. Media penyuluhan tidak langsung, lewat perantara orang lain, surat kabar atau media lain yang tidak memungkinkan penyuluh dapat menerima respon dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat. Media tidak langsung menurut bentuknya dapat dibagi atas : 1). Media elektronik, yaitu TV, radio, film, slide ; 2). Media cetak berupa pamflet, leaflet, folder, brosur, placard, dan poster.

1.3.7. Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian

Menurut Hanarko (2010), menyatakan bahwa pelaksanaan penyuluhan pertanian merupakan tindakan nyata dari apa yang telah ditetapkan dalam programa penyuluhan yang disusun. Kegiatan penyuluhan pertanian melibatkan sasarannya. Teknik tersebut meliputi surat menyurat, pendekatan individu, kunjungan, karyawisata, demokrasi dan lain-lain.

Melaksdaun kegiatan penyuluhan merupakan wujud dari penggunaan atau penerapan metoda dan teknik penyuluhan maka uraian kegiatan dalam LPM harus sesuai dengan sintaksis, metoda dan teknik penyuluhan yang digunakan atau diterapkan. Pelaksanaan penyuluhan pada dasarnya mengimplementasikan segala unsur penyuluhan yang meliputi : sasaran, masalah, tujuan, materi, metode, teknik, media, sumber biaya, penanggung jawab serta keterangan lain yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penyuluhan.

1.3.8. Evaluasi Penyuluhan Pertanian

Menurut Padmowiharjo dkk. (2006) menyatakan bahwa evaluasi penyuluhan pertanian adalah sebuah proses yang sistematis untuk memperoleh informasi yang relevan tentang sejauh mana tujuan program penyuluhan pertanian di suatu wilayah dapat dicapai dan menafsirkan informasi atau data yang didapat sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang kemudian digunakan untuk

mengambil keputusan dan pertimbangan-pertimbangan terhadap program penyuluhan yang dilakukan.

1.3.9. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan keseluruhan dari kumpulan elemen yang memiliki sejumlah karakteristik umum, yang terdiri dari bidang-bidang untuk di teliti. Atau, populasi adalah keseluruhan kelompok dari orang-orang, peristiwa atau barang-barang yang diminati oleh peneliti untuk diteliti (Malhotra : 1996 dalam Amirullah, 2015).

Menurut Supardi (1993) sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang dijadikan subyek penelitian sebagai"wakil" dari para anggota populasi.

Teknik sampling adalah suatu cara atau teknik yang dipergunakan untuk menentukan sampel penelitian. Teknik sampling dalam penelitian secara garis besar dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu teknik dengan probability sampling dan teknik dengan non probability sampling.

Teknik probability sampling sering juga disebut dengan random sampling, yaitu pengambilan sampel penelitian secara random. Teknik sampling ini cocok dipilih untuk populasi yang bersifat finit, artinya besaran anggota populasi dapat ditentukan lebih dahulu.Teknik probability sampling ini ada beberapa model yaitu simple random sampling (acak sederhana maupun bilangan random), sistematik random sampling dan stratified random sampling dan cluster random sampling.

Teknik non-probability juga disebut dengan teknik non random sampling, yaitu pengambilan sampel penelitian secara random. Teknik sampling ini cocok dipilih untuk populasi yang bersifat infinit, artinya besaran anggota populasi belum atau tidak dapat ditentukan lebih dahulu. Pada teknik sampling ini, penentuan sampel penelitian tanpa (kurang) atau tidak memberikan kemungkinan

(probability) yang sama pada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel terpilih. Dengan demikian pada teknik sampling ini seharusnya alat analisis statistic tidak dapat dipergunakan atau tidak diperlukan untuk membantu penentuan sampel terpilih. Beberapa model teknik non-probability sampling ini adalah accidental sampling, quota sampling dan purposive sampling.

1.3.10. Pengetahuan

Pengetahuan menurut Reber (2010) dalam makna kolektifnya, pengetahuan adalah kumpulan informasi yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok atau budaya tertentu, sehingga pengetahuan adalah faktor penentu bagaimana mausia berfikir, merasa dan bertindak (Oemaarji, 2003). Secara umum pengetahuan adalah komponen-komponen mental yang dihasilkan dari semua proses apapun, entah lahir dan bawaan atau dicapai lewat pengalaman.

Berdasarkan beberapa definisi tentang pengetahuan dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah kumpulan informasi yang didapat dari pengalaman atau sejak lahir yang menjadikan sesorang itu akan sesuatu. Proses tahu tersebut diperoleh dari proses kenal, sadar,insaf,mengerti,dan pandai.

Pengaruh Dosis Kombinasi Pupuk Vermikompos dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap Hasil dan Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum mill)

Identifikasi Potensi dan Masalah di Petani Mitra Organik PT. Lembaga Sahabat Petani

1. Kebutuhan pasar akan sayur organik terutama tomat organik semakin banyak.

2. Kapasitas lahan produksi memadahi namun intensitas panen mengalami penurunan.

3. Aplikasi pupuk susulan (POC / Mol ) kurang diterapkan oleh petani.

4. Belum adanya penyuluhan tentang dosis kombinasi vermikompos dan pupuk kandang sapi terbaik dalam peningkatkan produksi tomat organik .

1. Petani mampu memenuhi kebutuhan sayur organik terutama tomat organik sesuai permintaan pasar.

2. Petani dapat menjaga intensitas hasil panen sesuai dengan kapasitas lahan yang dimiliki.

3. Petani dapat memanfaatkan pupuk padat seperti pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, baik dalam persemaian maupun di lahan tanam.

1. Bagaimana pengaruh dosis kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum mill) ?

2. Bagaimana rancangan penyuluhan tentang pengaruh dosis kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum mill) ?

3. Bagaimana peningkatan pengetahuan petani tentang pengaruh dosis kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum mill) ?

1. Mengetahui pengaruh dosis kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum mill) ?

2. Menyusun rancangan penyuluhan tentang pengaruh dosis kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum mill) ?

3. Mengetahui peningkatan pengetahuan petani tentang pengaruh dosis kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum mill) ?

Kajian

Lahan petani mitra organik PT.

Lembaga Sahabat Petani

Metode eksperimen dengan Rancangan Acak kelompok (RAK) non-faktorial 6 perlakuan dan 4 ulangan

Analisis data kajian menggunakan Analysis of Variance (ANNOVA) pada taraf nyata 5%.

Apabila terdapat perbedaan nyata maka dilakukan dengan uji lanjut dengan menggunakan uji DMRT pada taraf 5

%..Analisis data menggunakan skala Gutman untuk mengetahui peningkatan hasil evaluasi rancangan penyuluhan.

P0 : kontrol P1 : 6 kg / petak P2 : 9 kg / petak P3 : 12 kg / petak P4 : 15 kg / petak P5 : 18 kg / petak

Desain Rancangan penyuluhan

Populasi sebanyak 20 orang anggota petani mitra organik

Petani mitra organik PT. Lembaga Sahabat Petani

Hasil kajian Terbaik

Power point, leaflet, dan media sesungguhnya

Ceramah dan diskusi

Keadaan Sekarang Keadaan yang Diharapkan

Rumusan Masalah Tujuan

Lokasi dan Waktu Metode Analisis Data Penelitian Perlakuan

Populasi dan Sampel Sasaran Materi Media Metode

 Tinggi tanaman

 Jumlah tandan

 Jumlah buah per tanaman

 Bobot buah per buah

 Bobot buah per tanaman

 Produksi buah per hektar Parameter

29 3.1. Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di petani mitra organik PT. Lembaga Sahabat Petani Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pada bulan Februari sampai dengan bulan Mei tahun 2022. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan secara purposive / sengaja dengan pertimbangan bahwa banyak lahan dari petani mitra bertempat di Kecamatan Trawas dan sekitarnya. Selanjutnya kajian penyuluhan dilaksanakan pada petani mitra organik PT. Lembaga Sahabat Petani Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto bulan Mei tahun 2022.