• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.3. Metode Kajian Teknis

3.3.1. Rancangan Kajian Teknis

Kode Keterangan

P0 Kontrol (tanpa perlakuan) P1 6 kg / petak (bedengan) P2 9 kg / petak (bedengan) P3 12 kg / petak (bedengan) P4 15 kg / petak (bedengan) P5 18 kg / petak (bedengan)

Menurut Hanafiah (2009), rumus dalam menentukan jumlah ulangan adalah sebagai berikut :

(t-1) (n-1) > 15 Keterangan :

t = tratment / perlakuan n = banyaknya ulangan

Sehingga dari rumus diatas maka jumlah ulangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(t-1) (n-1) > 15 (6-1) (n-1) > 15 5n – 5 > 15 5n > 20

n > 4 ulangan Tabel 3.1 Rancangan Perlakuan

Kajian

Dari rumus diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat 6 perlakuan dan 4 ulangan pada setiap perlakuan dengan 4 tanaman setiap ulangan sehingga keseluruhan tanaman yaitu 96 tanaman.

Gambar 3.1. Denah Rancangan Percobaan

Pelaksanaan Kajian Pembuatan Vermikompos dan Pupuk Kandang Sapi A. Vermikompos

1. Alat dan bahan Alat :

a. Wadah pupuk b. Sekop

c. Kuas d. Golok e. Karung Bahan :

a. Cacing jenis Lumbricus Rubellus b. Kotoran sapi 120 kg

P1 P5 P2 P4 P0

P3 P1 P5 P0 P2

P0 P5 P3 P4 P1

P4 P3 P5

P4 P2 P1

P3

P2 P0

U

c. Jerami padi 60 kg

2. Pembuatan Vermikompos

a. Kotoran sapi yang telah disiapkan sebanyak 120 kg dikeringanginkan terlebih dahulu, kemudian jerami padi sebanyak 60 kg dicacah menjadi ukuran lebih kecil dengan golok.

b. Selanjutnya masukkan kotoran sapi dan jerami padi yang sudah dicacah halus secara bergantian ke dalam wadah pupuk yang telah diberikan.

c. Setelah media siap masukkan cacing Lumbricus Rubellus ke dalam wadah pupuk secukupnya dengan pertimbangan semakin banyak cacing maka proses pembuatan vermikompos akan menjadi lebih cepat.

d. Setelah cacing masuk kedalam media selanjutnya tutup wadah pupuk dengan karung dan tempatkan di tempat yang terhindar dari panas maupun hujan serta bolak balik dengan sekop setiap 3 hari sekali.

e. Vermikompos dapat dipanen setelah kurang lebih 2-3 minggu ditandai warnanya hitam kecoklatan, tidak berbau, tekstur remah dan matang. Adapun pemanenannya adalah dengan cara media dibentuk menjadi gunung kemudian di kuas secara perlahan sampai cacingnya turun ke dasar dan menggerombol menjadi satu kemudian diambil dan disisihkan sehingga tinggal vermikomposnya saja.

B. Fermentasi Pupuk Kandang Sapi 1. Alat dan bahan

Alat : a. Terpal b. Sekop c. Gembor

Bahan :

a. Kotoran sapi 120 kg b. EM 4 200 ml

c. Air 20 liter

2. Proses Fermentasi Pupuk Kandang Sapi

a. Siapkan kotoran sapi sebanyak 120 kg yang telah dikeringanginkan, kemudian letakkan merata pada terpal.

b. Campurkan air sebanyak 20 liter dengan EM4 sebanyak 200 ml, kemudian siramkan secara merata dengan gembor ke seluruh kotoran sapi.

c. Selanjutnya tutup media dengan terpal dan aduk setiap 3 hari sekali dengan menggunakan sekop.

d. Pupuk dapat dipanen setelah kurang lebih 2 minggu dengan ciri berwarnal gelap dan baunya hilang.

C. Persiapan Lahan

Lahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah lahan dari salah satu anggota petani mitra organik PT. Lembaga Sahabat Petani dengan luas 120 m2. Adapun lahan yang digunakan peneliti seluas 45 m2 yang dibuat menjadi 24 bedengan dengan luas 120 x 100 cm. Adapun langkah pertama pada persiapan lahan 45 m2 tersebut adalah pembersihan lahan dari gulma.

Selanjutnya lahan disingkal dengan menggunakan cultivator sampai tanah gembur dan dibalik sebelum dibuat bedengan dengan ukuran yang telah ditentukan.

D. Penyemaian Benih Tomat

Benih tomat yang sudah disiapkan direndam terlebih dahulu selama 15 menit ke dalam air hangat yang diberi ekstrak bawang merah. Hal ini

bertujuan untuk menyeleksi benih tomat yang kurang bagus dan mempercepat perkecambahan dari benih tomat. Setelah direndam selanjutnya benih tomat dikeringaningkan terlebih dahulu agar tidak menempel satu sama lain. Media semai yang digunakan adalah tanah yang diisikan pada polybag berukuran 15 x 15 cm. Benih tomat kemudian dimasukkan kedalam polybag dengan jumlah satu benih per polybag kemudian lakukan perawatan sampai umur 30 hari atau sampai waktu pindah tanam.

E. Penanaman

Bibit tomat yang sudah berumur 30 hari selanjutnya dipindahkan pada bedengan yang telah disiapkan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan jarak 50 x 50 cm. Selanjutnya dalam penelitian ini ada 6 perlakuan dengan 4 ulangan dan 4 tanaman pada setiap ulangan (bedengan) sehingga total tanaman yang ditanam adalah 96 tanaman. Pemindahan bibit tomat dengan cara menyobek polybag yang digunakan dalam penyemaian kemudian meletakkan bibit tanaman tomat kedalam lubang pada bedengan yang telah disiapkan.

F. Perawatan 1. Penyiraman

Penyiraman pada tanaman tomat dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari, namun apabila dalam kondisi musim hujan maka penyiraman dilakukan tiga hari sekali.

2. Penyiangan

Penyiangan pada tanaman tomat dilakukan setiap satu minggu sekali.

Penyiangan dilakukan agar gulma yang tumbuh liar di sekitar tanaman tomat tidak mengganggu pertumbuhan dan produktivitas tanaman tomat.

3. Pemasangan Ajir

Pemasangan ajir pada tanaman tomat dilakukan setelah tanaman memasuki usia tiga minggu setelah tanam. Pemasangan ajir dilakukan dengan cara menancapkan ajir yang terbuat dari belahan bambu dengan panjang 1 meter di samping tanaman tomat. Tujuan pemasangan ajir supaya tanaman tomat kuat dan tidak mudah roboh.

4. Pemangkasan Tunas Air

Pemangkasan tunas air pada tanaman tomat menjadi aktivitas penting dalam proses budidaya karena jika daunnya terlalu rimbun maka akan menghasilkan buah yang kecil karena unsur hara akan terus diserap oleh tunas air yang terus tumbuh. Selain itu pemangkasan menjadi penting untuk menjaga sirkulasi udara sekitar tanaman sehingga menjaga kelembaban tanaman. Adapun teknis pemangkasan tunas air dilakukan dengan cara mematahkan tunas yang tumbuh di sekitar ketiak daun dan hendaknya dilakukan di pagi atau siang hari agar luka bekas pemangkasan segera mengering.

5. Pemupukan

Aplikasi pupuk dilakukan 2 minggu sebelum bibit tanaman tomat dilakukan pindah tanam. Hal ini dilakukan agar pupuk dapat terdekomposisi sehingga pada waktu tanaman dilakukan pindah tanam sudah tersedia unsur hara dari pupuk ysng sudah ada. Adapun cara aplikasinya adalah kedua pupuk tersebut dicampurkan terlebih dahulu kemudian setelah tercampur merata baru

diaplikasikan diatas bedengan yang telah dibuat sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan dan posisinya sesuai dengan denah rancangan yang telah dibuat.

6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang biasa menyerang tanaman tomat adalah kutu kebul sedangkan penyakit yang biasa menyerang adalah layu daun dan busuk buah. Untuk itu pengendalian pada tanaman tomat dilakukan secara organik dengan cara menyemprotkan larutan ekstrak cengkeh dan biji jarak yang dicampurkan dengan air sebagai tindakan pencegahan.

7. Panen

Panen pada tanaman tomat dilakukan pada umur 70-80 hst dengan ciri ciri kulit buahnya sudah berwarna kemerahan, daging buahnya sudah besar, serta sisa tangkai daun dan tangkai putiknya yang sudah mulai menua. Pemanenan pada penelitian ini akan dilakukan sebanyak 4 kali. Menurut lubis (2009) untuk mendapatkan buah tomat yang relatif besar maka perlu dilakukan pemanenan sebanyak 4-6 kali karena produktivitas tanaman tomat akan semakin menurun.

G. Populasi dan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari 6 perlakuan dan 4 ulangan dengan 4 tanaman setiap ulangannya sehingga jumlah populasinya adalah 96 tanaman. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh polulasi dari tanaman tomat.