• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL KAJIAN

4.3 Hasil Parameter Pengamatan .1 Rata – rata Tinggi Tanaman .1 Rata – rata Tinggi Tanaman

Analisis sidik ragam terhadap rata-rata tinggi tanaman berbeda nyata pada umur pengamatan 35 HST dan 42 HST. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji DMRT di sajikan pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Rata-rata Tinggi Tanaman Tomat

Perlakuan Umur Pengamatan

21 HST 28 HST 35 HST 42 HST

P0 42,75 66,75 72,56a 84,75a

P1 42,75 66,93 73,43a 95,87b

P2 44,00 67,12 76,18b 96,93b

P3 43,06 67,81 76,75b 97,68ab

P4 43,50 67,31 80,50c 99,93c

P5 43,43 67,75 81,18c 102,93d

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf (notasi) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5 %.

Berdasarkan Tabel 4.9. terlihat bahwa rata-rata tinggi tanaman tomat pada pengamatan hari ke 35 HST dan 42 HST memberikan hasil yang berbeda. Tinggi tanaman terbaik ditunjukkan oleh perlakuan P5 dan terendah oleh P0. Hal ini diduga bahwa dengan dosis pupuk terbanyak berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Novizan (2012) yang menyetakan bahwa semakin tinggi jumlah pupuk, semakin banyak unsur hara seperti nitrogen, phospor, dan kalium yang tersedia bagi tanaman.

Menurut Mulyadi Sutejo (2008) penggunaan pupuk organik mempunyai sifat lebih baik daripada penggunaan pupuk alam maupun pupuk kimia buatan namun memerlukan proses perombakan terlebih dahulu sebelum akhirnya tanaman dapat menyerap unsur hari dari pupuk tersebut. Maka dari itu pada umur tanaman 21 HST dan 28 HST tanaman masih belum maksimal dalam penyerapan unsur hara pupuk karena pupuk yang diberikan masih dalam proses perombakan oleh mikroba dalam tanah. Sedangkan pada umur 35 HST dan 42 HST pupuk memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman tomat karena pupuk sudah terdekomposisi dengan sempurna dan mudah diserap tanaman. Kandungan unsur hara makro seperti N,P,K Ca dan Mg pada vermikompos dan pupuk kandang sapi

sangat diperlukan tanaman dalam proses pertumbuhan terutama adalah unsur N yang lebih dominan berperan dalam proses pertumbuhan vegetatif.

4.3.2 Jumlah Tandan Tanaman

Analisis sidik ragam terhadap rata-rata jumlah tandan tanaman berbeda nyata pada umur pengamatan 60 HST. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji DMRT di sajikan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10. Rata-rata Jumlah Tandan Tanaman

Perlakuan Jumlah

P0 5,43a

P1 6,87b

P2 7,12bc

P3 7,18bc

P4 7,81cd

P5 8,18d

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf (notasi) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5 %.

Berdasarkan Tabel 4.10. . terlihat bahwa rata-rata jumlah tandan tanaman tomat pada pengamatan hari ke 60 HST memberikan hasil yang berbeda.karena pada perlakuan P0 (kontrol) memiliki rata-rata nilai terendah yaitu 5,43 dibandingkan dengan nilai rata-rata pada perlakuan lainnya pada jumlah tandan tanaman. Adapun perlakuan terbaik adalah perlakuan P5 dengan rata-rata jumlah tandan 8,18 buah. Hal ini diduga karena dengan dosis pupuk terbanyak juga mengandung unsur hara yang banyak sehingga berpengaruh terhadap jumlah tandan tanaman.

Menurut Sabra dan Deckwer (2000) pemberian vermikompos dapat meningkatkan populasi mikroba A.Chroococcum sebesar 123,07 % dan mikroba Azosprillum sp. dimana Mikroba A.Chroococcum berperan dalam mensintesis hormon IAA yang berperan untuk memacu pertumbuhan akar secara langsung sedangkan mikroba Azosprillum sp. berfungsi menyediakan unsur N dan P. Hal

ini sejalan dengan pernyataan Fatahillah (2017) bahwa penggunaan vermikompos memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan vegetatif, semakin tinggi dosis vermikompos yang diberikan maka semakin berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang dan jumlah cabang (batang dan tandan). Selain itu, penggunaan pupuk kandang sapi juga dapat membantu menyeimbangkan kandungan unsur phospor dalam pupuk kombinasi dimana pada pupuk vermikompos memiliki jumlah kandungan yang lebih sedikit dari unsur N.

Maulida (2011) menyetakan bahwa kandungan pupuk kandang sapi terdiri dari Nitrogen 1,81 %, Phospor 2,61 %, dan Kalium 2,34 %.

4.3.3 Jumlah Buah Per Tanaman

Analisis sidik ragam terhadap rata-rata jumlah tandan tanaman berbeda nyata pada umur pengamatan 70 HST. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji DMRT di sajikan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11. Rata-rata Jumlah Buah Per Tanaman

Perlakuan Jumlah

P0 19,50a

P1 28,81b

P2 29,18b

P3 29,12b

P4 29,31b

P5 29,50c

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf (notasi) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5 %.

Berdasarkan Tabel 4.11. dapat terlihat bahwa perbedaan pemberian dosis pada kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi memberikan pengaruh nyata terhadap rata-rata jumlah buah per tanaman dengan hasil terbaik pada perlakuan P5 dan hasil terendah adalah P0. Hal ini diduga karena dengan dosis pupuk terbanyak juga mengandung unsur hara yang banyak,terutama unsur hara P dan K sehingga berpengaruh terhadap jumlah buah per tanaman.

Menurut Sri Devika dkk. (2020) pada masa pertumbuhan generatif tanaman untuk tingkat keberhasilannya sangat bergantung dari hasil penyerbukan serbuk sari bunga yang selanjutnya diikuti dengan pembuahan. Pada saat terjadi persaingan memperebutkan unsur hara antara organ vegetatif dan reproduktif, bunga dan buah muda yang terbentuk setelah proses penyerbukan serbuk sari berhasil memiliki potensi dalam menarik gula, garam mineral dan asam amino.

Akan tetapi ketika terjadi penumpukan unsur N yang terlalu tinggi maka akan mengurangi perkembangan dari buah walaupun pertumbuhan batang dan daun meningkat. Berdasarkan hasil analisis pupuk dari laboratorium BPTP Karangploso Malang menunjukkan bahwa kandungan unsur hara tertinggi adalah unsur N dengan nilai 2,25 % dibandingkan dengan unsur P 1,16% dan unsur K 0,41%. Oleh karena itu faktor tersebut membuat pertumbuhan generatif tanaman menjadi kurang maksimal dimana pada fase tersebut seharusnya unsur phospor dan kalium harus dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang besar.

4.3.4 Bobot Buah Per Buah

Analisis sidik ragam terhadap rata-rata bobot buah per buah berbeda nyata pada umur pengamatan 80 HST. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT).

Hasil uji DMRT di sajikan pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12. Rata-rata Bobot Buah Per Buah

Perlakuan Jumlah

P0 36,50a

P1 70,50b

P2 73,50b

P3 71,50b

P4 88,25c

P5 90,00c

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf (notasi) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5 %.

Berdasarkan Tabel 4.12. terlihat bahwa rata-rata bobot buah per buah tanaman tomat terhadap perlakuan pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi memberikan perbedaan yang nyata dengan hasil terbaik P5 dan hasil terendah P0. Hal ini diduga karena dengan dosis pupuk terbanyak juga mengandung unsur hara yang banyak,terutama unsur hara P dan K yang sangat dibutuhkan pada proses pembuahan sehingga berpengaruh terhadap bobot buah per buah.

Menurut Rosmarkam dan Yuwono (2002) unsur K bersifat lambat untuk diserap tanaman dan tidak selalu tersedia di dalam tanah karena unsur K akan menyeimbangkan dengan unsur K bentuk-bentuk lain. Berdasarkan hasil analisis pupuk dari laboratorium BPTP Karangploso Malang menunjukkan bahwa kandungan unsur hara tertinggi adalah unsur N dengan nilai 2,25 % dibandingkan dengan unsur P 1,16% dan unsur K 0,41%. Oleh karena itu faktor tersebut membuat pertumbuhan generatif tanaman menjadi kurang maksimal dimana pada fase tersebut seharusnya kalium harus dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang besar untuk pembesaran buah.

4.3.5 Bobot Buah Per Tanaman

Analisis sidik ragam terhadap rata-rata bobot buah per tanaman berbeda nyata pada pengukuran setelah tanaman dilakukan proses pemanenan sabnyak 4 kali. Selanjutnya untuk mengetahui perbandingan antar perlakuan dilakukan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji DMRTdi sajikan pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13. Rata-rata Bobot Buah Per Tanaman

Perlakuan Jumlah

P0 865,50a

P1 1067,00a

P2 1461,50b

P3 1398,50b

P4 1530,00b

P5 1540,75c

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf (notasi) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5 %.

Berdasarkan Tabel 4.13. terlihat bahwa perbedaan pemberian dosis pada kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi memberikan pengaruh nyata terhadap rata-rata bobot buah per tanaman dengan perlakuan terbaik adalah P5. Hal ini terlihat dari masing-masing perlakuan dimana nilai terendah adalah P0 (kontrol) dengan nilai 865,50 dan P1 dengan nilai 1067,00 lebih sedikit daripada P2 = 1461,50 P3 = 1398,50, P4 = 1530,00, dan P5 = 1540,75. Hal ini diduga karena dengan dosis pupuk terbanyak juga mengandung unsur hara yang banyak,terutama unsur hara P dan K yang sangat dibutuhkan pada proses pembuahan sehingga berpengaruh terhadap bobot buah per tanaman.

Pada saat terjadi persaingan memperebutkan unsur hara antara organ vegetatif dan reproduktif, bunga dan buah muda yang terbentuk setelah proses penyerbukan serbuk sari berhasil memiliki potensi dalam menarik gula, garam mineral dan asam amino. Akan tetapi ketika terjadi penumpukan unsur N yang terlalu tinggi maka akan mengurangi perkembangan dari buah walaupun pertumbuhan batang dan daun meningkat. Kelebihan unsur hara pada tanaman melebihi batas optimal memberikan pengaruh terhadap hasil tanaman. Pada konsentrasi N yang tinggi menyebabkan plasmolisis pada sel-sel daun dan akan mengakibatkan konsentrasi larutan di sekitar sel lebih tinggi dari isi sel nya. Hal ini berdampak pada air sel yang semakin sempit yang akhirnya membuat

pertumbuhan generatif tanaman menjadi terhambat sehingga hasil pembuahan tidak maksimal (Sri Devika dkk., 2020).

4.3.6 Produksi Buah Per Hektar

Perhitungan produksi buah per hektar pada tanaman tomat Bareto F1 dilakukan dengan cara menghitung jumlah tanaman tomat dalam satu hektar sesuai jarak yang dipakai dalam kajian kemudian dikalikan jumlah rata-rata buah per tanaman. Untuk detail perhitungan rumus adalah sebagai berikut :

1 Ha : 10.000 m2

Jarak tanam : 50 x 50 cm ( 0,5 x 0,5 m ) Kapasitas tanam : luas lahan / jarak tanam

: 10000 / 0,25 : 200

: 40.000 tanaman

Dari hasil perhitungan kapasitas tanam tersebut maka untuk rata-rata produksi buah per hektar dapat dilihat pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14. Rata-rata Produksi Buah Per Hektar

Perlakuan Jumlah

P0 34,64a

P1 42,68a

P2 58,48b

P3 55,96b

P4 61,20b

P5 61,60c

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf (notasi) yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5 %.

Berdasarkan Tabel 4.14 dilihat bahwa pemberian dosis kombinasi pupuk vermikompos dan pupuk kandang sapi memberikan pengaruh terhadap rata-rata produksi buah per hektar dengan hasil terbaik pada perlakuan P5 menghasilkan jumlah terbanyak dengan range 60 ton / ha, diikuti dengan perlakuan P2 dan P3

dengan range 50 ton / ha, kemudian perlakuan P1 dengan range 40 ton / ha dan terakhir P0 (kontrol) dengan range 30 ton / ha.

Perhitungan produksi buah per hektar pada tanaman tomat Bareto F1 dilakukan dengan cara menghitung jumlah tanaman tomat dalam satu hektar sesuai jarak yang dipakai dalam kajian kemudian dikalikan jumlah rata-rata buah per tanaman. Pada hasil perhitungan kapasitas tanam dapat diketahui bahwa dalam 1 ha dengan jarak 50 x 50 cm maka tanaman tomat yang dapat ditanam sekitar 40.000 buah. Sehingga dari total kapasitas tanam tersebut rata-rata produksi buah per Ha terbaik adalah pada perlakuan P5 dengan hasil rata-rata 61,60 ton / ha. Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah pemberian dosis pupuk yang tepat. Semakin tinggi jumlah pupuk kandang sapi, semakin banyak unsur hara seperti nitrogen, phospor, dan kalium yang tersedia bagi tanaman. Faktor hara nitrogen berfungsi selaku stimulan untuk perkembangan tumbuhan secara totalitas, paling utama batang, cabang serta daun. Unsur P berfungsi dalam menekan perkembangan sistem perakaran serta penyusunan sistem perakaran yang baik, memungkinkan tumbuhan meresap nutrisi lebih banyak serta membuat tumbuhan berkembang sehat dan kokoh. Peranan faktor kalium yaitu mengaktifkan enzim yang memacu perkembangan meristem(Novizan, 2012).

Sementara Syahputra dkk. (2014) mengatakan bahwa vermikompos/ kascing mempunyai banyak komponen unsur hara baik makro serta mikro. Pupuk kascing mempunyai kandungan faktor hara antara lain N, P, K, Ca, Mg, S, Fe serta faktor yang lain yang diperlukan oleh tumbuhan. Komponen- komponen biologis yang tercantum dalam pupuk kascing merupakan hormon pengatur pertumbuhan yaitu giberallin, sitokinin serta hormon auksin yang juga tidak memiliki dampak negatif terhadap lahan.

64

BAB V