Peta 8.9 . Jaringan Air Bersih
F. Aspek Peran Serta Masyarakat
Masyarakat tentunya memiliki peran yang besar dalam pengelolaan sampah di sekitar tempat tinggalnya, mereka harus sadar dan bisa mengelolah sampah yang mereka hasilkan dengan baik, selain itu juga perlunya kesadaran yang cukup tinggi untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Perlunya kesadaran ini dikarenakan masyarakat selama ini menggunakan lahan-lahan kosong untuk membuang sampah, saluran drainase, maupun sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini bisa mengakibatkan dampak negatif bagi masyarakat seperti banjir, tejadinya genangan air yang bisa menyebabkan jalan rusak, dan sebagainya.
Selain itu masyarakat juga harus mendukung program pemerintah yang berkaitan dengan kebersihan dan kelestarian lingkungan. Pemerintah menyediakan berbagai sara-prasarana persampahan pada titik tertentu yang memungkinkan masyarakat bisa mengelolah dan merawatnya dengan baik, dengan adanya sarana-prasarana tersebut masyarakat perlu ikut andil dalam meberikan retribusi kepada pemerintah jika masyarakat belum memiliki tanggapan terhadap sarana-prasarana yang ada tersebut.
G. Permasalahan Yang Dihadapi
1. Sasaran Penyediaan Prasarana dan Sarana Pengelolaan Sampah
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengelola perkotaan adalah penanganan masalah persampahan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya pertambahan penduduk dan arus urbanisasi yang pesat telah menyebabkan timbulan sampah pada perkotaan semakin tinggi, kendaraan pengangkut yang jumlah maupun kondisinya kurang memadai, sistem pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan, dan belum diterapkannya pendekatan reduce, reuse dan recycle (3R). Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung maupun tidak langsung bagi penduduk kota. Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak langsungnya diantaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai. Selain itu, permasalahan yang dihadapi dalam penanganan persampahan di Kabupaten Bangkalan yaitu, ketidakmampuan teknologi dan pengolahan yang diterapkan oleh Badan Lingkungan Hidup dalam menangani dan mengolah limbah buangan dari Industri yang mengandung zat berbahaya B3.
2. Rumusan Masalah
Persoalan mendasar yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat sekarang ini adalah persoalan mengenai kesadaran tentang pengelolaan persampahan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dinas kebersihan atau dinas terkait sudah menyediakan sarana-prasarana untuk mengelolah sampah-sampah tersebut akan tetapi masih juga terjadi kesalahan-kesalahan yang sama seperti membuang sampah di jalan, sungai, saluran drainase, disembarang tempat dan sebagainya. Akan lebih meningkat lagi kapasitas produksi sampah maka mengakibatkan dampak negatif yang lebih apabila sungai menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah industri yang ada. Adapun persoalan mendasar dalam pengelolaan dan pengolahan persampahan yang dihadapi Kabupaten Bangkalan yaitu :
• Cakupan pelayanan perangkutan dan pengelolaan persampahan yang terbatas
• Lahan untuk TPA yang terbatas dan pengelolaannya yang masih belum optimal
• Limbah B3 baik dari sampah rumah tangga dan fasilitas sosial terutama dari industri kulit yang masih belum tertangani dan terkelola dengan baik
• Minimnya ketersediaan sarana dan prasarana yang dapat disediakan oleh pemerintah
• Daya tampung TPS di beberapa tempat kurang memadai, dan pemeliharaannya kurang baik
• Keterbatasan jumlah kendaraan angkutan serta kondisinya yang perlu perawatan dan permajaan
8.4.2.3.Analisa Kebutuhan Persampahan A. Analisa Permasalahan
Sampah akan menjadi suatu permasalahan yang komplek bagi lingkungan terutama bagi suatu wilayah perkotaan terutama yang memiliki luas wilayah terbatas sedangkan intensitas kegiatanya didalamnya
semakin tinggi. Pertambahan penduduk yang disertai dengan tingginya arus urbanisasi ke perkotaan telah menyebabkan semakin tingginya volume sampah yang harus dikelola setiap hari. Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung maupun tidak langsung bagi penduduk kota. Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak langsungnya diantaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai. Hal tersebut bertambah sulit karena keterbatasan lahan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Pengangkutan sampah ke TPA juga terkendala karena jumlah kendaraan yang kurang mencukupi dan kondisi peralatan yang telah tua. Masalah lainnya adalah pengelolaan TPA yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ramah lingkungan.
Pengumpulan sampah pada lokasi timbulan sampah merupakan hal yang cukup pening, berbagai permasalahan pada kegiatan pengumpulan sampah antara lain banyaknya timbunan sampah yang terkumpul tapi tidak tertangani (diangkut/ditanam) sehingga pada saat sampah tersebut menjadi terdekomposisi dan menimbulkan bau yang akan mengganggu pernafasan dan mengundang lalat yang merupakan pembawa dari berbagai jenis penyakit. Tempat sampah yang memadai menjadi hal yang sangat langka pada kawasan yang padat penduduknya. Sungai dan saluran drainase serta lahan-lahan kosong dianggap merupakan salah satu tempat pembuangan sampah yang paling mudah bagi masyarakat perkotaan. Hal tersebut dilakukan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kemudian, memang untuk sementara sampah yang dihasilkan tidak tertimbun pada lokasi penimbunan sampah tetapi untuk jangka panjang akan menyebabkan berbagai masalah yang tidak kalah besarnya. Selain itu permasalahan yang seringkali muncul adalah terkait dengan ketersediaan serta fungsional prasarana persamapahan berupa Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Pada beberapa daerah yang
padat penduduknya TPS sangat kecil dan tidak cukup untuk menampung sampah yang ditimbulkan. Hal tersebut akan mengakibatkan timbunan sampah yang tidak terangkat, dan bila terdekomposisi akan menimbulkan bau dan akan mengundang lalat.
Berkaitan dengan pengangkutan sampah umumnya dilakukan dengan mengunakan gerobak dan truk sampah yang dikelola oleh kelompok masyarakat maupun dinas kebersihan dan pertamanan. Beberapa hal yang terjadi pada pengangkutan sampah tersebut adalah ceceran sampah maupun cairannya sepanjang rute pengangkutan, atau terhalangnya arus trasportasi akibat truk sampah yang digunakan oleh dinas kebersihan mengangkut sampah. Pengangkutan sampah dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir merupakan hal yang perlu dipikirkan. Memindahkan sampah dari tempat pembuangan sampah sementara yang hanya ditimbun dan tidak ditempatkan pada tempat penampungan akan menyebabkan kesulitan pada saat memindahkan sampah tersebut. Proses pemindahan tersebut harus dilakukan cepat agar tidak menggangu kelancaran lalulintas dan penggunaan truk pengangkut menjadi efisien.
Pengangkutan sampah dari TPS ke TPA banyak yang dilakukan dengan menggunakan truk bak terbuka dan sudah bocor, sehingga sering terjadi sampah dan cairan sampah yang diangkut tersebar disekitar rute perjalanan. Hal ini menjadikan keindahan kota terganggu karena sampah tercecer dan bau yang ditimbulkan akan menggangu pernafasan. Selain itu, banyaknya sampah yang harus diangkut akan memerlukan banyak truk pengangkut, dengan keterbatasan jumlah truk yang dimiliki oleh BLH, ritasi truk pengangkut menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan biaya perawatan truk pengangut akan meningkat dan masa pakai kendaraan pengangkut akan semakin pendek.
Semakin banyaknya volume sampah yang dibuang akan memerlukan TPA yang lebih luas. Sebagai konsekuensinya diperlukan tanah yang luas sebagai tempat pembuangan dan tanah penimbun sampah di TPA. Penanganan sampah di TPA di Kabupaten Bangkalan
masih bersifat konvensional, dimana sistem pengelolaannya yaitu open dumping.