BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
3. Audit Expectation Gap
Salehi et al. (2009) menyatakan bahwa audit pada dasarnya mempercayai tugas
pelaporan yang sebenarnya dalam laporan keuangan dan kebenarannya adalah
harapan pengguna informasi akuntansi. Bagaimanapun, auditor tidak mungkin
membuktikan kebenaran dan kebenaran ini mungkin menyentuh sedikit dari
harapan pengguna. Defisit dalam efektivitas audit ini secara luas disebut sebagai
audit expectation gap. Sebagian besar pengguna laporan keuangan
mempertimbangkan laporan auditor menjadi bukti yang sempurna. Maka harapan
dari pengguna laporan keuangan terhadap auditor melebihi dari apa yang
seharusnya mereka lakukan. Expectation gap terjadi ketika ada perbedaan di
antara apa yang diharapkan publik dari auditor dan apa auditor mampu
memberikannya.
Salehi dan Rostami (2009) menambahkan bahwa banyak pemakai laporan
commit to user
konteks opini tidak memenuhi syarat. Beberapa pemakai laporan keuangan
percaya bahwa opini tidak memenuhi syarat berarti bahwa entitas mempunyai
laporan keuangan yang dibuat dengan bukti atas kesalahan atau kegagalan.
Beberapa pemakai laporan keuangan menyatakan bahwa auditor semestinya tidak
hanya menyediakan suatu opini audit, tetapi juga menginterpretasikan laporan
keuangan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk mengambil
keputusan.
Pemakai laporan keuangan mengharapkan auditor untuk melaksanakan
beberapa dari prosedur audit sementara melakukan fungsi atestasi seperti
menyusup ke dalam skandal entitas, melakukan pengawasan manajemen dan
mendeteksi tindakan ilegal atau fraud pada bagian manajemen. Itu adalah
harapan yang tinggi pada pihak pemakai laporan keuangan yang menciptakan
suatu gap antara auditor dan pemakai laporan keuangan. Para pemakai laporan
keuangan juga menempatkan tanggung jawab untuk membatasi gap pada auditor
dan pihak lainnya melibatkan dalam menyiapkan dan mempresentasikan laporan
keuangan (Salehi dan Rostami, 2009).
Berbagai studi telah menetapkan keberadaan audit expectation gap. Istilah
expectation gap biasanya digunakan untuk mendeskripsikan situasi dimana
terdapat perbedaan dalam harapan yang muncul di antara suatu kelompok dengan
keahlian tertentu dengan suatu kelompok yang mana percaya terhadap
keahliannya. Persepsi publik dari suatu tanggung jawab auditor berbeda dengan
profesinya dan perbedaan ini dikenal sebagai expectation gap (Salehi dan
commit to user
Salehi et al. (2009) menyatakan bahwa salah satu dari diskusi pertama
mengenai expectation gap pada laporan keuangan dilakukan oleh Liggio pada
tahun 1974. Profesi akuntan telah dikritik kualitas kinerja profesionalnya sejak
akhir tahun 1960. Kritik tersebut dilakukan dengan alasan adanya kesediaan yang
lebih besar untuk memegang akuntabilitas lainnya khususnya profesionalitas
untuk mengetahui kelakuan yang tidak benar dan expectation gap sebagai faktor
dari tingkatan kinerja yang diharapkan oleh akuntan independen dan pemakai
laporan keuangan. Perbedaan di antara tingkatan kinerja yang diharapkan adalah
expectation gap.
Salehi et al. (2009) menambahkan bahwa definisi expectation gap yang telah
didiskusikan Liggio pada tahun 1974 diperluas di dalam Komisi Cohen pada
tahun 1978. Komisi Cohen mempertimbangkan apakah suatu gap mungkin
muncul di antara apa yang masyarakat harapkan atau butuhkan dan apakah auditor
dapat dan pasti bijaksana dalam merealisasikannya. Mereka tidak
mempertimbangkan adanya kinerja di bawah standar. Hal tersebut merupakan
pendapat bahwa gap yang memberikan permulaan untuk memberikan kritikan
auditor bahwa di antara apa yang masyarakat harapkan dan apakah mereka
mendapatkannya dari mereka. Oleh karena itu selanjutnya gap lebih baik apabila
diberi judul “audit expectation performance gap” yang didefinisikan sebagai gap
di antara harapan masyarakat dari auditor dan kinerja auditor yang disadari
commit to user
Salehi et al. (2009) menyatakan bahwa berdasarkan definisi yang telah
dikembangkan Komisi Cohen, diindikasikan bahwa gap mempunyai dua
komponen utama:
a. gap antara apa yang diharapkan masyarakat dari auditor untuk dicapai dan
apakah mereka dapat mengharapkan akan dipenuhi secara layak oleh auditor
(yang ditunjuk gap kebijaksanaan); dan
b. gap antara apa yang masyarakat selayaknya harapkan dari auditor untuk
dipenuhi dan apa yang auditor rasakan untuk dicapai (yang ditunjuk gap
kinerja).
Salehi dan Rostami (2009) menyatakan bahwa komponen-komponen dari audit
expectation gap dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
a. gap di antara yang layak diharapkan dari auditor dan auditor menampilkan
kewajiban sebagaimana dijelaskan dalam undang-undang;
b. gap di antara standar kinerja auditor yang diharapkan auditor dan tugas-tugas
yang diharapkan dan dirasa oleh masyarakat.
Hasil penelitian yang dilakukan Best et al. (2001) menemukan adanya
expectation gap yang sangat luas, terutama dalam hubungannya dengan tingkatan
dan jenis tanggung jawab auditor. Expectation gap telah ditemukan terutama
pada isu tanggung jawab auditor untuk pencegahan dan pendeteksian fraud, dan
tanggung jawab auditor untuk memelihara rekaman akuntansi dan melatih
pertimbangan dalam menyeleksi prosedur audit.
Untuk jangkauan yang lebih luas, expectation gap juga ditemukan berkenaan
commit to user
mana laporan keuangan memberi suatu pandangan yang benar dan adil,
persetujuan auditor dengan kebijakan akuntansi yang digunakan dalam laporan
keuangan dan kegunaan laporan keuangan yang sudah diaudit dalam monitoring
kinerja entitas (Best et al., 2001).
Yuliati et al. (2007) menyatakan bahwa di Indonesia keberadaan expectation
gap telah diteliti oleh beberapa peneliti. Hasil penelitian Saifulah (2003) dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa
akuntansi sebelum dan sesudah mendapatkan mata kuliah Auditing terhadap
tanggung jawab relatif auditor dan persiapan laporan keuangan, sedangkan
tanggung jawab untuk mendeteksi kecurangan tidak terdapat perbedaan.
Mahasiswa akuntansi setelah mendapatkan mata kuliah Auditing mendapatkan
keyakinan bahwa laporan keuangan yang diaudit oleh auditor tersebut andal.
Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa sebelum
mendapatkan mata kuliah Auditing dengan mahasiswa setelah mendapatkan mata
kuliah Auditing. Tetapi ada beberapa persamaan persepsi mahasiswa terhadap
tanggung jawab untuk mencegah kecurangan, mendeteksi kecurangan, dan
mendeteksi kecurangan kecil.
Yuliati et al. (2007) menyatakan bahwa Marsono pada tahun 2004 menyelidiki
keberadaan expectation gap antara pemakai laporan keuangan, auditor, dan
mahasiswa akuntansi dalam isu auditor dan proses audit dan kasus-kasus khusus.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ada perbedaan persepsi yang signifikan
antara pemakai laporan keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi terhadap
kasus-commit to user
kasus khusus, tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemakai laporan
keuangan, auditor, dan mahasiswa akuntansi.
Yuliati et al. (2007) menyatakan bahwa dalam sektor publik, keberadaan
expectation gap pernah diteliti oleh Nugroho pada tahun 2004. Penelitian tersebut
dilakukan untuk melihat adanya perbedaan persepsi antara auditor pemerintah
dengan pemakai laporan keuangan auditan pemerintah, antara pemakai laporan
audit sektor swasta dengan pemakai laporan keuangan auditan pemerintah, antara
pemakai laporan keuangan auditan pemerintah di daerah satu dengan daerah yang
lain. Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa terdapat perbedaan persepsi
antara auditor pemerintah dengan pemakai laporan keuangan auditan pemerintah
(anggota DPRD), ada perbedaan persepsi antara pemakai laporan keuangan
auditan sektor swasta dengan pemakai laporan keuangan pemerintah, dan tidak
ada perbedaan persepsi antara pemakai laporan keuangan pemerintah di sektor
pemerintahan daerah satu dengan pemakai laporan keuangan pemerintah daerah
lain, hal ini di karenakan tingkat pendidikan anggota DPRD satu daerah dengan
daerah lain relatif sama.
Hasil penelitian Rusliyawati dan Halim (2008) dapat disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan persepsi antara auditor BPK dengan pengguna laporan
keuangan daerah yaitu anggota DPRD, pemerintah daerah dan masyarakat dari
sisi pelaporan. Hal ini menunjukkan eksistensi audit expectation gap di antara
pengguna laporan keuangan daerah. Perbedaan persepsi yang terbesar terjadi
antara auditor BPK dan masyarakat. Hasil pengujian hipotesis kedua dapat
commit to user
pengguna laporan keuangan daerah yaitu anggota DPRD, pemerintah daerah dan
masyarakat dilihat dari akuntabilitas. Perbedaan ini menunjukkan eksistensi audit
expectation gap antara BPK dan pengguna laporan keuangan daerah. Perbedaan
persepsi yang terbesar terjadi antara auditor BPK dan masyarakat.
Hasil pengujian hipotesis 3a dalam penelitian Rusliyawati dan Halim (2008)
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara auditor BPK dengan
pengguna laporan keuangan daerah yaitu anggota DPRD, pemerintah daerah dan
masyarakat dilihat dari independensi. Perbedaan persepsi yang terbesar terjadi
antara auditor BPK dan masyarakat. Hasil Pengujian hipotesis 3b dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara auditor BPK dengan
pengguna laporan keuangan daerah yaitu anggota DPRD, pemerintah daerah dan
masyarakat dilihat dari kompetensi. Perbedaan ini menunjukkan eksistensi audit
expectation gap di antara pengguna laporan keuangan daerah. Perbedaan persepsi
yang terbesar terjadi antara auditor BPK dan masyarakat.
Hasil Pengujian hipotesis 3e dalam penelitian Rusliyawati dan Halim (2008)
terdapat perbedaan persepsi antara auditor BPK dengan pengguna laporan
keuangan daerah yaitu anggota DPRD, pemerintah daerah dan masyarakat dari
sisi pendapat wajar. Perbedaan persepsi juga terjadi antara BPK dengan
masyarakat. Perbedaan persepsi yang terbesar terjadi antara auditor BPK dan
pemerintah daerah. Hasil Pengujian hipotesis 3f terdapat perbedaan persepsi
antara auditor BPK dengan pengguna laporan keuangan daerah yaitu anggota
DPRD, pemerintah daerah dan masyarakat dilihat dari audit kinerja. Perbedaan
commit to user
eksistensi expectation gap di antara pengguna laporan keuangan daerah.
Perbedaan persepsi yang terbesar terjadi antara auditor BPK dan masyarakat.
Hasil penelitian Yuliati et al. (2007) berdasarkan analisis hipotesis
menggunakan independent sample t-test, dapat diketahui bahwa terdapat
expectation gap antara pemakai laporan keuangan pemerintah dan auditor
pemerintah mengenai peran dan tanggung jawab auditor pemerintah. Auditor
pemerintah mempunyai persepsi yang lebih tinggi terhadap peran dan tanggung
jawabnya dibanding pemakai laporan keuangan pemerintah. Hasil pengujian per
faktornya menunjukkan bahwa:
a. tidak terdapat expectation gap antara pemakai laporan keuangan pemerintah
dan auditor pemerintah mengenai peran dan tanggung jawab auditor
pemerintah pada faktor mendeteksi dan melaporkan kecurangan;
b. tidak terdapat expectation gap antara pemakai laporan keuangan pemerintah
dan auditor pemerintah mengenai peran dan tanggung jawab auditor
pemerintah pada faktor mempertahankan sikap independensi;
c. terdapat expectation gap antara pemakai laporan keuangan pemerintah dan
auditor pemerintah mengenai peran dan tanggung jawab auditor pemerintah
pada faktor mengkomunikasikan hasil audit;
d. terdapat expectation gap antara pemakai laporan keuangan pemerintah dan
auditor pemerintah mengenai peran dan tanggung jawab auditor pemerintah
pada faktor memperbaiki keefektivan audit. Auditor pemerintah mempunyai
persepsi yang lebih baik daripada pemakai laporan keuangan pemerintah
commit to user