• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

4. Peran Auditor

Auditor mempunyai peran yang sangat strategis dan tanggung jawab yang

sangat penting. Pendapat yang dinyatakan auditor akan berguna bagi pihak

pemakai laporan keuangan hasil auditan untuk membuat keputusan ekonomi

(Yuliati et al., 2007). Auditor berperan untuk meningkatkan kredibilitas

informasi pertanggungjawaban dari pihak manajemen kepada pihak prinsipal dan

stakeholders lainnya (United Nations Development Programme, 2009). Peran

eksternal auditor adalah mendorong peningkatan akuntabilitas pengelolaan

keuangan daerah (Rondo, 2006). Tanggung jawab utama dari auditor adalah

untuk memverifikasi apakah laporan keuangan memaparkan pandangan yang

benar dan adil (Salehi et al., 2008).

Salehi et al. (2008) menyatakan bahwa berdasarkan fakta pihak ketiga

menginginkan auditor eksternal dapat menjamin keakuratan dari rekening yang

ditampilkan, maka dalam kondisi ini mereka menginginkan bahwa tujuan dari

audit sebagai berikut:

a. mendeteksi kecurangan,

b. mendeteksi kesalahan teknik,

c. mendeteksi kesalahan yang prinsip.

Pihak ketiga mempunyai persepsi bahwa tanpa mendeteksi kecurangan maka tidak

ada gunanya praktek audit, sedangkan profesi audit mempercayai tanggung

jawabnya terbatas untuk merencanakan audit.

Bisri (2008) menyatakan bahwa auditor BPK berperan dalam upaya

commit to user

nepotisme kepada penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan Agung, dan Komisi

Pemberantasan Korupsi). Pandangan Bawasda atas peran eksternal auditor (BPK)

dalam mendorong akuntabilitas penyelenggaraan keuangan daerah adalah sebagai

berikut:

a. eksternal auditor berperan independen dan satu-satunya lembaga negara

(BPK) sesuai Undang-undang Nomor 15 tahun 2004 yang berhak memeriksa

dan menilai dengan cara memberikan opini terhadap laporan keuangan

pemerintah daerah sebelum disampaikan kepada DPRD;

b. eksternal auditor membantu pemerintah daerah dalam mengungkapkan

kelemahan-kelemahan manajemen pengelolaan keuangan daerah terhadap

pemeriksaan belanja setiap tahun termasuk mengungkapkan keuangan daerah

serta melanjutkan dengan audit investigasi bila ditemukan unsur-unsur tindak

pidana korupsi.

c. membantu DPRD untuk mengawasi tindak lanjut hasil pemeriksaan melalui

penyampaian setiap laporan hasil pemeriksaan BPK kepada DPRD sesuai

MoU yang telah disepakati (STAR-SDP, 2006).

Ikatan Akuntan Indonesia (2001) dalam Standar Profesional Akuntan

Publik-Standar Auditing Seksi 110 menyatakan bahwa auditor berperan dalam

merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai

tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang

disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan. Oleh karena sifat bukti audit dan

karakteristik kecurangan, auditor dapat memperoleh keyakinan memadai, namun

commit to user

jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan

bahwa salah saji terdeteksi, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan

yang tidak material terhadap laporan keuangan.

Ikatan Akuntan Indonesia (2001) dalam Standar Profesional Akuntan

Publik-Standar Auditing Seksi 110 menambahkan bahwa auditor tidak bertanggung

jawab terhadap laporan keuangan, tanggung jawab auditor adalah menyatakan

pendapat atas laporan keuangan. Auditor tidak bertanggung jawab memelihara

pengendalian intern, pengetahuan auditor tentang masalah dan pengendalian

intern terbatas pada apa yang diperolehnya melalui audit.

Ikatan Akuntan Indonesia (2001) dalam Standar Profesional Akuntan

Publik-Standar Auditing Seksi 310 menyatakan bahwa auditor dapat membuat

pengaturan tentang keikutsertaan spesialis atau auditor intern jika diperlukan dan

membuat pengaturan tentang keikutsertaan auditor pendahulu. Standar Auditing

Seksi 315 menambahkan perlunya permintaan keterangan kepada auditor

pendahulu. Review yang dilakukan oleh auditor pengganti terhadap kertas kerja

auditor pendahulu dapat berpengaruh terhadap sifat, saat, dan luasnya prosedur

auditor pengganti yang berkaitan dengan saldo awal dan konsistensi prinsip

akuntansi.

Ikatan Akuntan Indonesia (2001) dalam Standar Profesional Akuntan

Publik-Standar Auditing Seksi 316 menyatakan bahwa auditor wajib untuk menaksir

secara khusus risiko salah saji sebagai akibat kecurangan dan menyediakan

golongan faktor risiko kecurangan yang harus dipertimbangkan oleh auditor.

commit to user

untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan. Manajemen harus bertanggung

jawab untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan

Pemeriksa Keuangan memuat aturan bahwa BPK wajib menggunakan Standar

Pemeriksaan sebagai patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan negara yang meliputi standar umum, standar

pelaksanaan pemeriksaan, dan standar pelaporan. Dalam menjalankan tugas-tugas

auditnya auditor menggunakan keahliannya dalam pengumpulan bukti-bukti

termasuk dengan judgment. Auditor membuat judgment dalam mengevaluasi

pengendalian intern, menilai risiko audit, merancang dan mengimplementasikan

pemilihan sampel dan menilai serta melaporkan aspek-aspek ketidakpastian.

Auditor secara eksplisit maupun implisit memformulasikan suatu hipotesis terkait

dengan tugas-tugas judgement mereka.

Andryan (2010) menyatakan bahwa secara konstitusional BPK diatur dalam

UUD 1945 Pasal 23 E dan diperkuat dengan dikeluarkannya Undang-undang

Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK. Pada Pasal 6 menyatakan bahwa BPK

bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang

dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya,

Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan

Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan

negara. Dalam ketentuan itu, maka peran BPK sangat membantu dalam

menanggulangi kerugian negara akibat pengelolaan keuangan oleh

commit to user

Andryan (2010) menambahkan bahwa lingkup pemeriksaan yang menjadi

tugas BPK meliputi pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara, dan

pemeriksaan atas tanggung jawab mengenai keuangan negara. Pemeriksaan

tersebut mencakup seluruh unsur keuangan negara sebagaimana yang termaktub

dalam Pasal 2 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Pemeriksaan keuangan negara oleh BPK juga dikaitkan oleh objek pemeriksaan

pertanggungjawaban hasil pemeriksaan yang lebih luas dan melebar. BPK juga

diharuskan menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada DPR, DPD dan DPRD

sesuai dengan kewenangan masing-masing. Bahkan, dalam hal hasil pemeriksaan

itu mengindikasikan perlunya penyelidikan dan penyidikan diproses secara hukum

oleh lembaga penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan, KPK).

Dokumen terkait