4. PEMBAHASAN
4.1. Audit Secara Umum atas PT X
Ada beberapa hal umum yang terlebih dahulu penting untuk diketahui ketika melaksanakan audit atas PT X dikarenakan hal tersebut memiliki hubungan yang begitu erat untuk melakukan prosedur audit berikutnya.
4.1.1 Estimasi Materiality dan Tolerable Misstatement
KAP Y memiliki standar dan panduan untuk menetapkan estimasi materialitas dan tolerable misstatement pada saat melaksanakan audit atas laporan keuangan. Terdapat 3 (tiga) hal penting yang harus diperhatikan, yaitu planning
materiality (PM), tolerable error (TE), serta summary audit differences (SAD).
Penentuan besarnya nilai dari masing-masing hal tersebut tidak akan terlepas dari
professional judgment, dan relatif terhadap setiap perusahaan tergantung dari
jenis, ukuran, atau kondisi lain yang dimiliki perusahaan.
Planning materiality (PM) merupakan tingkat materialitas awal secara
agregat atas laporang keuangan perusahaan klien. Besarnya nilai PM ini ditentukan dengan dua cara, yakni:
5% dari pre tax income jika perusahaan klien merupakan entitas yang terdaftar dalam bursa saham atau masuk dalam kategori regulated
industries
10% dari pre tax income jika perusahaan klien masuk dalam kategori entitas yang tidak terdaftar dalam bursa saham, atau unregulated industry dan statutory audits of subsidiaries
Tolerable error (TE) merupakan bagian dari Planning materiality (PM)
Universitas Indonesia
yang dialokasikan kepada beberapa saldo akun tertentu. Aplikasi ini digunakan untuk mengurangi kemungkinan salah saji yang tidak terdeteksi secara agregrat melebihi PM. Cara menentukan besarnya tingkat TE dalam pelaksanaan audit ada dua jenis, yakni:
Untuk entitas yang terdaftar dalam bursa saham atau masuk dalam kategori regulated industries, maka TE ditentukan sebesar 50% dari PM.
Jika entitas tidak terdaftar dalam bursa saham, dalam unregulated
industry dan statutory audits of subsidiaries, maka TE ditentukan
sebesar 75% dari PM.
Summary Audit Differences (SAD) merupakan besarnya perbedaan antara amount per audited dengan balance per book atau dengan kata lain, SAD
merupakan besarnya misstatement maksimal yang dapat ditoleransi dalam setiap prosedur audit yang dilaksanakan. Jika besarnya nilai SAD yang terjadi tidak melebihi besar SAD yang telah ditetapkan, maka jumlah temuan tersebut diperkirakan tidak akan memberikan pengaruh material terhadap laporan keuangan jika diakumulasi secara keseluruhan dalam setiap segmen. Nilai SAD tersebut nantinya akan digunakan auditor sebagai dasar pengajuan adjustment
entries kepada klien terkait prosedur audit yang telak dilaksanakan. KAP Y
mempunyai dua cara untuk menentukan besarnya SAD, yaitu:
Ketika TE ditentukan sebesar 50% dari PM, maka SAD ditentukan sebesar 5% dari PM.
Ketika TE ditentukan sebesar 75% dari PM, maka SAD ditentukan sebesar 3% dri PM.
Penentuan nilai-nilai tersebut juga pasti tidak terlepas dari professional
judgment auditor yang telah mempertimbangkan berbagai faktor yang
berpengaruh dengan baik. Pengalaman yang pernah diperoleh saat melakukan audit atas berbagai perusahaan di beberapa industri dapat memberikan suatu ide penting dalam menyusun standar tersebut. Hal itu tercermin dengan dibedakannya cara penentuan nilai materialitas, tolerable error, ataupun summary audit
32
Universitas Indonesia differeces untuk perusahaan publik dan nonpublik. Oleh karena itu, tidak jarang
pada saat melakukan audit di beberapa perusahaan dalam industri yang sama dan sama-sama perusahaan non-publik atau publik memiliki cara yang berbeda dalam penentuan nilai materialitas dan kesalahan yang dapat ditolerir.
Pasti akan sangat berbeda nilai materialitas perusahaan besar dan kecil, begitu juga dengan perusahaan publik dan non-publik. Kesalahan yang diharapkan dalam penyusunan laporan keuangan publik sangat minimal karena menyangkut kebutuhan publik yang berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan perusahaan. Regulated industry, seperti perbankan juga sangat sensitif jika terdapat salah saji material di dalam laporan keuangannya. Investasi masyarakat di industri tersebut sangat penting untuk menjalankan roda perekonomian negara sehingga perlu diatur oleh suatu lembaga tertentu dan informasi keuangan perusahaan juga sangat diharapkan terlepas dari salah saji material. Dengan demikian, nilai tolerable error dan materialitas perusahaan yang termasuk ke dalam regulated indusry dengan yang tidak juga pasti akan berbeda.
Dalam pelaksanaan audit atas PT X sendiri, auditor memutuskan untuk melakukan modifikasi atas persentase PM, TE, dan SAD yang telah ditetapkan karena pertimbangan dan pengalaman auditor dalam pelaksanaan audit PT X di periode sebelumnya. Untuk planning materiality ditetapkan sebesar 7,5% dari pre
tax income senilai Rp4.128.853.760,00 sehingga nilai PM itu sendiri adalah
Rp309.664.032,00. Nilai tolerable error ditetapkan 80% dari PM, sehingga nilai TE itu sendiri adalah Rp 247.731.226,00. Sedangkan untuk summary audit
differences ditetapkan 5% dari PM, sehingga nilai SAD itu sendiri adalah
Rp15.483.202,00.
4.1.2 Pemahaman serta penilaian internal control dan risiko terhadap PT X
Pengujian pengendalian internal (test of control) biasanya wajib dilakukan pada saat periode pertama kali tim audit dari suatu kantor akuntan publik melakukan audit di suatu perusahaan klien. Sedangkan untuk tahun-tahun selanjutnya, dalam praktiknya auditor melakukan up date atas implementasi alur
Universitas Indonesia
transaksi serta internal control dengan tujuan untuk memperbaharui pemahaman auditor atas prosedur pengendalian internal yang dimiliki oleh perusahaan klien.
Tim audit dapat meminta klien untuk memberikan salah satu contoh transaksi dari setiap alur dan kemudian memeriksa kelengkapan pengendalian internalnya. Jika internal control dari contoh transaksi tersebut telah dilaksanakan dengan baik, maka auditor dapat melakukan test of control untuk menguji kefektifan pengendalian tersebut. Namun, jika dari contoh transaksi tersebut tidak menunjukkan terlaksananya internal control dengan baik, maka test of control tidak perlu dilakukan. Aktivitas up date atas implementasi pengendalian internal dilaksanakan hanya sebagai kelengkapan dokumen selama tidak ada perubahaan yang signifikan dalam implementasi tersebut.
Sistem pengendalian intern yang dimiliki oleh PT X dinilai tidak cukup memadai, sehingga tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien dalam mencapai tujuan organisasi. Ketidakcukupan tersebut tercermin dari SOP (Standard of
Operating Procedure) perusahaan yang tidak lengkap, struktur organisasi yang
tidak ada, ataupun pengalaman auditor dalam mengaudit PT X di periode sebelumnya. Untuk periode 30 Juni 2011, PT X juga belum ada membuat atau memperbaharui prosedur kerja perusahaan. Berdasarkan pemahaman atas hal-hal tersebut di atas, maka tim audit berpendapat bahwa sistem pengendalian intern atas utang dan beban sewa kapal memiliki risiko yang sangat tinggi (control risk
at the maximum) sehingga tim audit mengambil keputusan untuk tidak melakukan
prosedur test of control.
Sebagai konsekuensi atas keyakinan auditor bahwa internal kontrol di PT X tidak berjalan dengan efektif, efisien, dan ekonomis adalah terdapat prosedur audit lain yang harus dijalankan lebih intensif, yaitu substantive test of
transaction. Misalnya, memperbanyak jumlah sampel yang akan diuji sehingga
auditor percaya bahwa sampel tersebut akan mencerminkan karakteristik populasi secara keseluruhan. Atau, sebelum melakukan pengujian substantif biasanya auditor dapat melakukan walkthrough transaksi. Prosedur ini dilakukan dengan cara bertanya kepada manajemen tentang alur transaksi atas siklus yang signifikan yang dimiliki perusahaan klien seperti siklus penerimaan, pengeluaran, dan
34
Universitas Indonesia payroll. Prosedur ini mewajibkan auditor untuk melakukan pemeriksaan dan
penelusuran atas dokumen terkait dengan siklus transaksi yang terjadi di perusahaan klien. Akan tetapi, prosedur ini juga tidak dilaksanakan karena tingkat pemahaman auditor yang sudah cukup layak atas alur transaksi karena prosedur ini telah dilakukan di periode sebelumnya.
4.1.3 Dasar penentuan banyaknya sampel yang dipilih untuk diuji
Menentukan banyakanya jumlah sampel yang dipilih merupakan salah satu prosedur audit yang sangat penting karena dengan sampel yang tepat akan mencerminkan keadaan populasi yang sesungguhnya. Sehingga, dalam memilih sampel terdapat beberapa pendekatan yang digunakan oleh auditor, seperti menggunakan program teknologi informasi yang dimiliki kantor akuntan publik yang bersangkutan, menggunakan perkiraan dan pemilihan langsung (misalnya, bergantung dari nilai PM, TE, dan SAD), berdasarkan transaksi dengan jumlah uang terbesar, persentasi dari jumlah populasi, intensitas dilakukannya transaksi dari suatu siklus yang diaudit, atau berdasarkan jumlah yang umumnya diambil dalam setiap prosedur. Akan tetapi, jika jumlah populasi transaksi sedikit, maka tidak menutup kemungkinan dilakukan pemeriksaan terhadap seluruh bukti transaksi.
Selain cara tersebut, banyaknya sampel juga dapat ditentukan berdasarkan hasil penilaian risiko yang telah ditetapkan sebelumnya oleh auditor. Namun, jika
test of control tidak dilaksanakan berarti auditor menilai risiko berdasarkan
pengalaman periode sebelumnya. Jika demikian, maka sampel akan diambil melalui professional judgment dari tim audit dengan memperkirakan titik aman sampel di atas nilai risiko yang telah ditentukan sebelumnya sehingga dengan jumlah tersebut kebutuhan sampel dengan tingkat risiko tertentu dapat terpenuhi.
Pada saat mengaudit akun utang dan beban sewa kapal PT X, tim auditor memeriksa seluruh dokumen transaksi sewa dan pembayaran utang kapal yang terjadi dikarenakan selain nilai nominalnya sangat besar juga jumlah transaksinya yang begitu sedikit, sehingga memungkinkan untuk diperiksa secara menyeluruh dalam waktu yang singkat. Sehingga penggunaan sampling audit dalam audit
Universitas Indonesia
utang dan beban sewa kapal kali ini kurang tepat, karena metode yang digunakan adalah pengujian secara keseluruhan atas semua bukti transaksi. Dengan demikian, hasil dari pemeriksaan tersebut merupakan hasil yang benar-benar terjadi di lapangan dan penggunaan metode ini akan terhindar dari sampling risk.