4. PEMBAHASAN
4.3. Hasil Audit atas Akun Utang Usaha – Utang Sewa Kapal (Bargers)
Berikut ini merupakan hasil audit atas akun utang usaha setelah mengikuti prosedur audit di atas :
a) Nilai dari setiap transaksi akun utang sewa kapal sangat signifikan jika dibandingkan dengan akun lainnya. Proporsi utang sewa kapal itu sendiri terhadap utang lancar adalah 97,57% dan terhadap total utang sebesar 63,05%. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan ketelitian seorang auditor untuk memeriksa kembali general ledger yang telah disajikan oleh PT X. Jika dilihat dari hasil review atas rincian saldo dan penyajian akun utang usaha di neraca, tidak ditemukan sesuatu yang aneh dan semuanya telah sesuai dengan jumlah yang ada di general ledger. Seluruh utang usaha merupakan utang kepada pihak penyedia kapal. Pengklasifikasian atas
44
Universitas Indonesia
akun utang sewa kapal juga telah dilakukan dengan benar karena akun ini memiliki karakter tersendiri yang dihasilkan dari perjanjian kontrak kerja sama sehingga mudah untuk diidentifikasi. Prosedur ini penting untuk dilaksanakan untuk memenuhi tujuan audit terkait saldo, yakni detail tie-in dan juga classification.
b) Aging schedule atas akun utang sewa kapal yang diberikan PT X dihitung berdasarkan tanggal invoice di mana sebagian besar jatuh tempo utang sewa kapal adalah selama 30 hari dari tanggal tagihan. Jika PT X terlambat melakukan pembayaran, maka PT X akan dikenakan denda sebesar 1% dari jumlah tagihan per bulan. Hasil analisis terhadap aging
schedule tersebut diketahui bahwa terdapat beberapa jumlah utang usaha
yang masih outstanding di atas 30 hari dikarenakan pihak yang menagih juga terlambat mengirimkan invoice kepada PT X. Oleh karena itu, keterlambatan pembayaran utang dapat dimaklumi dan pengenaan denda sebesar 1% tidak pernah terjadi. Peristiwa seperti ini hampir selalu terjadi setiap bulannya dimana tagihan perbulan yang seharusnya di terima di awal bulan tetapi tagihan baru diterima PT X beberapa minggu setelahnya. c) Auditor harus membuktikan kebenaran isi buku besar atas akun utang
sewa kapal yang diberikan oleh pihak manajemen PT X. Salah satu caranya adalah dengan melakukan vouching terhadap beberapa bukti transaksi, seperti slip tranfer bank, bank statement, perjanjian kerja sama, ataupun tax invoice. Invoice atas utang sewa kapal didokumentasikan secara terpisah dari tagihan lain untuk mempermudah pemeriksaan. Hasil dari prosedur ini adalah tidak ditemukannya salah saji material di dalam buku besar ataupun laporan keuangan. Setiap bukti transaksi yang ada telah dicatat dengan tepat oleh bagian akuntansi di dalam buku besar sehingga tim audit tidak perlu mengajukan jurnal penyesuaian atas utang sewa ini. Prosedur ini bertujuan untuk memenuhi tujuan audit atas kelengkapan (completeness) akun utang sewa kapal itu sendiri sehingga nilai yang tertera di dalam laporan keuangan dapat dinyatakan benar. d) Karena jumlah populasi yang sangat sedikit, maka tim audit memutuskan
Universitas Indonesia
2011 apakah telah diakui dengan tepat. Setelah dilakukan pemeriksaan termasuk melaksanakan vouching dapat disimpulkan bahwa semua invoice yang diterima sebelum tanggal neraca (30 Juni 2011) telah diakui dan dicatat dengan tepat di buku besar. Begitu juga dengan tagihan yang diterima setelah tanggal neraca atas transaksi yang masih berada dalam periode tanggal neraca telah dicatat dengan benar sehingga tidak ada jurnal penyesuaian yang diperlukan. Prosedur Account Payable Cutoff perlu dilakukan untuk memenuhi tujuan audit terkait saldo, yaitu cutoff. Dengan adanya prosedur ini, maka setiap akun utang usaha dapat diyakini secara material berada dalam periode yang benar.
e) SUREL (Search for Unrecorded Liabilities) atau out-of-period liability
test merupakan salah satu prosedur yang dilakukan ketika mengaudit akun
utang sewa kapal PT X dengan tujuan untuk memeriksa kelengkapan (completeness) seluruh pengakuan utang sewa kapal. Pembayaran utang sewa kapal biasanya dilakukan melalui bank, bahkan PT X mempunyai satu rekening tersendiri untuk melakukan transaksi dengan salah satu vendor penyedia kapal. Transaksi pembayaran tersebut dapat dilihat di dalam bank statement yang dapat diperoleh dari bank yang bersangkutan. Seluruh populasi atas transaksi pengeluaran atau pembayaran utang sewa kapal pada bulan Juli akan diuji apakah terdapat transaksi yang seharusnya di catat dalam periode pembukuan tetapi belum dilakukan. Selain bank
statement, dokumen pendukung seperti daftar jurnal, slip transfer bank,
ataupun surat setoran pajak diperlukan untuk mendukung dilakukannya prosedur ini dengan benar. Setelah dilakukannya prosedur ini, tim audit tidak menemukan adanya utang yang belum tercatat.
f) Untuk memastikan keakuratan saldo utang sewa kapal yang masih
outstanding, maka auditor perlu melakukan konfirmasi kepada pemasok
kapal. Karena jumlah pemasok kapal ke PT X sangat sedikit, yaitu hanya ada 3 pihak, maka semua pihak tersebut dikirimi surat konfirmasi untuk memastikan jumlah yang dicatat perusahaan tidak berbeda dengan yang dicatat pemasok. Namun, sampai kontrak magang penulis berakhir, belum ada pihak yang memberikan tanggapan atas surat konfirmasi tersebut.
46
Universitas Indonesia
Namun, ada prosedur audit lain yang telah dilakukan, seperti subsequent
event dan vouching. Tujuan audit terkait dengan prosedur ini adalah untuk
membuktikan ketepatan (accuracy) atas akun utang yang telah dicatat oleh perusahaan klien.
g) Subsequent event dilakukan guna mengetahui daftar outstanding payable per 30 Juni 2011 yang telah dibayar setelah tanggal neraca tersebut. Terdapat beberapa saldo utang sewa kapal yang telah dibayar di bulan Juli 2011, setelah itu dilakukan penulusuran lebih dalam dengan memastikan tagihan yang diterima telah dibayar melalui bank yang tercantum dalam
bank statement. Pada saat melakukan prosedur ini, tim audit tidak
menemukan kejanggalan dan dapat disimpulkan utang sewa kapal dicatat dengan lengkap. Tujuan dilakukannya prosedur ini adalah untuk memastikan kelengkapan utang sewa kapal tersebut (completeness).
h) Karena seluruh transaksi yang terjadi antara pihak PT X dengan pihak pemasok kapal dilakukan dengan mata uang asing (dolar Amerika dan Singapura) maka test forex perlu untuk dilakukan. Nilai tukar yang dijadikan acuan untuk melakukan valuasi ini adalah kurs tengah BI per 30 Juni 2011, yakni Rp8.597/USD dan Rp6.984,61/SGD. Laba dan rugi yang terjadi akibat perubahan nilai tukar tersebut dikreditkan atau dibebankan pada operasi berjalan. Setelah dilakukan pengujian tersebut diketahui bahwa jumlah utang sewa kapal setelah dikonversi menjadi rupiah melebihi jumlah saldo utang sewa kapal yang ada dalam laporan posisi keuangan (neraca). Dengan demikian, jurnal pernyesuaian perlu diajukan dengan tujuan untuk mengalihkan nilai selisih antara utang usaha yang telah diakui dengan hasil perhitungan test forex ke akun utang sewa kapal. Akibat perbedaan nilai tersebut, maka auditor akan mengajukan jurnal penyesuaian. Dari seluruh perhitungan nilai utang sewa kapal diketahui bahwa PT X memperoleh keuntungan selisih kurs karena nilai tukar rupiah terhadap dolar menguat dari nilai yang telah diakui sebelumnya sehingga akan mengurangi nilai utang itu sendiri dalam rupiah. total keuntungan selisih kurs yang diperoleh dari akun utang sewa kapal ini adalah senilai
Universitas Indonesia
Rp1.193.376.697,12. Dengan demikian, jurnal penyesuaian yang diajukan adalah:
2-1220 Utang Usaha Rp1.193.376.697,12
8-8100 Keuntungan Selisih Kurs Rp1.193.376.697,12 Keterangan:
Kode akun 2-1220 adalah kode akun untuk utang usaha
Kode akun 8-8100 adalah kode akun untuk keuntungan selisih kurs Utang dalam mata uang asing yang disajikan dalam rupiah memang disajikan dalam jumlah ataupun nilai yang handal dan semestinya sehingga terkait dengan tujuan audit, prosedur ini sesuai dengan valuation (terkait asersi manajemen dan tujuan audit terkait penyajian).
Setelah menjalankan seluruh prosedur yang diterapkan oleh KAP Y ketika melakukan audit atas akun utang usaha, dengan melihat hasil dari setiap prosedur audit dapat disimpulkan bahwa hasil audit atas akun utang usaha adalah tidak ditemukannya salah saji secara material.
4.4 Audit atas Akun Beban Usaha (Operating Expense) – Beban Sewa