• Tidak ada hasil yang ditemukan

K AUM M USLIMIN DAN C ITA C ITA

Dalam dokumen Islamku_Islam Anda_Islam Kita (Halaman 113-117)

yang dapat mengajukan klaim sebagai “perwakilan Islam” di manapun.

Karena itu pula lembaga-lembaga keagamaan Islam, tidak dapat bersatu dalam sebuah kesatuan dengan memiliki otoritas penuh. Lembaga yang mencoba mewakili ulama atau kaum mus- limin dengan klaim seperti itu, namun hanya menjadi salah se- buah diantara organisasi-organisasi Islam yang ada, dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Lembaga ini tidak memiliki supremasi, seperti yang ada dalam agama-agama lain, seperti Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan-persekutu- an Gereja-Gereja Indonesia (PGI) atau Parisade Hindu Dharma. Tetapi, MUI harus berbagi tempat dengan NU, Muhammadiyah dan lain-lain. Karenanya, hanya hal-hal yang disepakati bersama oleh sekian banyak perkumpulan itu, yang dapat dianggap sebagai nilai-nilai yang diterima umat.

Ketika Rois Syuriyah NU cabang Pasuruan menyatakan “pengeboran Inul “ bertentangan dengan ketentuan agama Islam, disusul dengan fatwa MUI, timbul reaksi di kalangan para warga negara republik kita. Untuk apa kedua lembaga itu “mengurus Inul” sejauh itu? Apalagi ketika H. Rhoma Irama menyatakan Inul tidak boleh membawa lagu ciptaan beliau, kalangan muda santri mentertawakannya sebagai “tindakan ketinggalan jaman”. Memang, sepertinya tidak akan cocok lagu-lagu beliau dibawa- kan oleh orang seperti Inul. Dalam hal ini, masyarakat mengem- bangkan pandangan mereka sendiri. Ketika ditanya dalam wa- wancara TV, Inul menyatakan, ia “mengebor” untuk mencari makan. Ia tidak “menutup-nutupinya” dengan berbagai istilah keren seperti “memajukan seni” dan sebagainya melainkan, seca- ra berterus-terang ia mengatakan mencari makan. Kejujuran ucapan seperti ini, sangat bertentangan dengan sikap palsu gaya “sok untuk kepentingan bangsa” yang diperlihatkan kebanyakan tokoh-tokoh politik kita, untuk menutupi ambisi politik pribadi mereka masing-masing. Mungkin inilah maksud hadits “katakan apa yang benar, walaupun pahit” (qul al-haqqa walau kanna murran).

Karenanya tidak heran, jika pendapat atau kritikan berbagai macam pihak terhadap Inul, tidak memperoleh respon yang berarti dari kaum muslimin sendiri. Dengan kata lain, pendapat mereka itu akhirnya memiliki pengaruh sangat terbatas, bahkan banyak badan-badan penyiaran yang tidak mendukung. Bahkan ancaman H. Rhoma Irama untuk menggerakkan sejumlah organisasi ekstrim Islam melawan Inul, dalam pandangan penulis merupakan sesuatu yang sudah keterlaluan (over acting), yang mengancam keselamatan hidup kita sebagai bangsa. Apa bedanya ancaman itu dengan tindakan Front Pembela Islam (FPI) yang menyerbu rumah- rumah makan (Coffe House) di Kemang, Jakarta Selatan beberapa tahun lalu.

*****

Hal ini yang tampaknya sering tidak disadari beberapa tokoh Islam maupun beberapa perkumpulan kaum muslimin, yaitu kita harus merubah moralitas masyarakat dengan sabar. Agar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang kita yakini kebe- narannya dan menjadikan contoh sebagai wahana utama dalam pembentukan moralitas yang berlaku di tengah-tengah masya- rakat. Dengan tingkat kemajemukan sangat tinggi seperti yang kita miliki sekarang ini, kalau hal ini tidak kita sadari, tentu kita akan marah dan bersikap “memaksakan” kehendak kepada masyarakat.

Ini membutuhkan sikap serba resmi (formalisme) yang be- lum tentu disepakati semua pihak. Mengapa? Karena ini dapat menjurus kepada “terorisme moralitas”, dengan akibat yang sama seperti peledakan bom di Bali, di Medan maupun di lapang- an terbang Cengkareng. Pelakunya harus dicari sampai dapat dan harus diganjar hukuman sangat berat, karena bersifat meru- sak dan mengacaukan keadaan secara umum. Tentu saja kita tidak ingin hal ini terjadi pada tokoh-tokoh yang kita kagumi

seperti H. Rhoma Irama.

Karena itu dalam pandangan penulis, perlu diperhatikan bahwa cita-cita kaum muslimin dibagi dua, yaitu antara keinginan kaum muslim yang tidak memasuki perkumpulan Islam manapun dan cita-cita para warga gerakan Islam. Tanpa adanya perhatian terhadap perbedaan ini, maka apa yang kita anggap penting, tidak begitu diperhatikan oleh kaum muslim yang lain. Akibatnya kita akan kehilangan hubungan. Berlakulah dalam hal ini adagium ushul fiqh (teori hukum Islam atau Islamic legal theory), Yang berbunyi “yuthalaqu al-âm wa yurâdlû bihi al-khâs” (hal umum yang disebut, hal khusus yang dimaksud). Kita harus hati-hati dan sadar sepenuhnya dengan apa yang kita ucapkan, agar kita memperoleh setepatnya apa yang kita inginkan. Memang ini melelahkan, tapi inilah konsekuensi dari apa yang kita upayakan selama ini.

Dengan demikian, keputusan para pendiri negeri ini untuk tidak mendirikan sebuah negara agama adalah keputusan yang berakibat jauh. Hal inilah yang harus kita sadari konsekuensinya. Karena ada pemisahan agama dari negara, maka hukum yang ber- laku bukanlah hukum Islam, tetapi hukum nasional yang belum tentu sama dengan keyakinan kita. Berarti dasar dari pembentukan hukum adalah tata cara yang kita gunakan bersama sehari-hari. Yang dapat dijadikan materi hukum bagi bangsa kita berarti sesuatu yang tidak harus berdasarkan agama, yang memperoleh materi hukumnya dari wahyu yang dikeluarkan Tuhan. Dengan kata lain, proses penafsiran kembali (reinterpretasi) yang selama berabad-abad ini digunakan kaum muslimin, sebagai acuan moral yang mereka ikuti dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Namun ada juga yang kemudian menjadi materi hukum nasional kita dan ada yang menjadi moralitas bangsa (setidak-tidaknya moralitas kaum muslimin). Disamping memperjuangkan ajaran- ajaran Islam dan hukum formal, memang lebih berat memper- juangkan moralitas bangsa. Tapi ini adalah konsekuensi terjauh dari pandangan kita untuk memisahkan agama dari negara. Mu-

Y

ang paling banyak dilakukan orang adalah mengacaukan antara orientasi kehidupan dengan konsep sebuah bangsa. Makanya sering ada kerancuan dengan mengang- gap adanya sebuah konsep negara dalam Islam. Atas dasar ini, orang pandai –semacam Abul A’la Al-Maududi, menganggap ideologi sebagai sebuah kerangka-pandang Islam. Karena itulah, ia lalu menganggap tidak ada nasionalisme dalam Islam, karena Islam bersifat universal bagi seluruh umat manusia. Tentunya, ini berhadapan dengan kenyataan bahwa sangat besar jumlah kaum muslimin yang memeluk nasionalisme, seperti mendiang Bung Karno. Pertanyaannya, dapatkah mereka dianggap kurang Islam dibanding ulama besar tersebut?

Pendapat al-Maududi itu jelas membedakan antara mereka yang menerima universalitas Islam sebagai sebuah formalitas, dengan mereka yang tidak memiliki atau mempercayai formalitas seperti itu. Pendapat ini, antara lain disanggah oleh seorang pe- neliti dari Amerika Serikat (AS), William Cleveland. Dalam diser- tasinya berjudul “Islam against the West : Shakib Arslan and the campaign for Islamic nationalism”, Cleveland mengungkapkan bahwa teori universalitas pandangan Islam dari Shakib Arsalan (kakek Kamal Jumlad dari Lebanon, seorang pemimpin Druz), bersumber pada keanggotaannya dalam parlemen Ottoman (Ust- maniyyah) bagi landasan pandangannya mengenai universalitas

ISLAM

Dalam dokumen Islamku_Islam Anda_Islam Kita (Halaman 113-117)