• Tidak ada hasil yang ditemukan

A GAMA P OPULER A TAUKAH E LITIS ?

Dalam dokumen Islamku_Islam Anda_Islam Kita (Halaman 77-81)

Dalam pandangan ini, produk-produk dekaden harus di- kesampingkan, guna memberi jalan kepada proses modernisasi bahasa dan sastra Arab. Ini merupakan reaksi terhadap paham serba agama yang merajai Timur Tengah sebelum itu. Sejalan dengan tumbuhnya nasionalisme Arab (al-qawmiyyah al-arabiyyah, yang kala itu menjadi pikiran dominan di kalangan para pemikir Arab. Dengan demikian, tradisionalisme yang dibawakan agama, dianggap sebagai penghalang bagi munculnya kecenderungan baru tersebut. Karena sifatnya yang intelektual, pandangan ini tidak langsung diikuti oleh rakyat kebanyakan, halnya menjadi pemikiran elitis dari kaum cendekiawan di negeri-negeri Arab selama dua puluh lima tahun.

*****

Di negeri kita, kemunculan kelompok nasionalis itu juga berkembang, namun tidak dengan sikap memandang rendah tradisionalisme yang dibawakan oleh agama. Namun ada persa- maan, dengan pandangan elitis anti-tradisionalisme bahasa dan sastra Arab di kalangan bangsa-bangsa Arab, yaitu elitisme kaum cendekiawan yang tidak menyentuh pikiran-pikiran rakyat awam di negeri tersebut. Namun demikian, agama dengan tra- disionalismenya tidak dipersalahkan jika menghambat kemajuan. Mungkin ini disebabkan oleh kekuatan politik organisasi tradi- sional agama, seperti NU. Tradisionalisme agama yang dibawa- kannya justru menyatu dengan kaum nasionalis, karena kedua- duanya harus berhadapan dengan modernisme non-ideologis yang datang dari Barat, dalam berbagai bentuk. Yang terpenting diantaranya adalah pragmatisme yang dibawakan oleh paham teknokrasi, yang dipermukaan berarti penyerahan diri secara total kepada sistem nilai yang dimiliki orang-orang Barat.

Modernisasi dianggap sebagai pengikisan tradisionalisme agama dan rasa kebangsaan kaum nasionalis. Tidak heran, jika yang muncul dipermukaan adalah manifestasi tradisionalisme

agama itu sendiri, digabungkan dengan semangat nasionalisme yang mengagungkan kejayaan masa lampau. Kedua kecende- rungan itu menampilkan tradisionalismenya sendiri: anti-Barat, anti penuhnya rasionalisme dan penghormatan berlebihan ke- pada masa lampau. Kalau hal ini diingat benar, dengan sendiri- nya kita lalu dapat melihat kedangkalan dua pendekatan tersebut, dan ingin mengembalikan pertimbangan-pertimbangan rasio ke tempatnya semula.

Manifestasi budaya dari munculnya kembali tradisionalis- me agama itu, seperti terlihat dalam blantika musik kita dewasa ini. Musik Arab tradisional dengan enam belas birama (bahr, plu- ralnya buhur) seperti yang ada dalam sajak-sajak Arab tradisional yang hampir seluruhnya didominasi sajak-sajak keagamaan, muncul sebagai “wakil agama” dalam blantika musik kita dewasa ini. Pembaharuan bahasa dan sastra nasional, yang dirintis Sutan Takdir Alisyahbana tidak sampai menyentuh akar tradisionalisme agama itu dan sebagai akibatnya kita melihat sebuah penampilan yang lucu: bahasa dan sastra nasional yang diperbaharui dan berwatak kontemporer dan —pada saat yang sama, menampilkan tradisionalisme agama

*****

Dengan memperhatikan kenyataan di atas, kita sampai kepada sebuah pertanyaan yang fundamental: haruskah kehi- dupan beragama kita semata-semata berwatak tradisional dan adakah penggunaan rasio dalam menyegarkan kembali tra- disionalisme agama itu dianggap sebagai “bahaya”? Pertanyaan ini patut dipikirkan jawabannya secara mendalam, karena selama ini percampuran antara semangat kebangsaan kaum nasionalis dan tradisionalisme agama hanya membawa hasil positif di bi- dang politik belaka, bukannya di bidang budaya dan bahasa. Tradi- sionalisme agama tidak menyukai ideologi-agama dalam kehidup- an bernegara, seperti terbukti dari penolakan atas Piagam Jakarta.

Kehidupan beragama kita, yang dengan sendirinya membawakan aspek kebudayaan dalam kebudayaan kita, bagai- manapun juga haruslah berwatak rasional. Apa yang dikemuka- kan A.A. Navis dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” adalah rasionalitas kehidupan beragama yang kita perlukan, bukannya sesuatu yang harus ditakuti. Ini tidak berarti memandang rendah tradisionalisme agama, karena elemen-elemen positif dan rasio- nal dari tradisionalisme itu sendiri harus kita teruskan. Tetapi unsur-unsur irrasional yang akan menghambat fungsionalisasi tradisionalisme itu sendiri haruslah diganti dengan nilai-nilai rasional yang akan menjamin kelangsungan tradisionalisme agama itu sendiri. Sama halnya dengan kontra-reformasi yang dijalani oleh gereja Katolik Roma, yang diperlukan untuk menja- min kelangsungan hidup tradisionalisme agamanya. Penggunaan gamelan di satu sisi —misalnya, dan musik hard rock serta rap di sisi lain, sama-sama rasionalnya dalam penyampaian pesan-pesan gerejawi melalui misa dan sebagainya.

Dengan demikian, revitalisasi tradisionalisme agama sangat diperlukan, dalam bentuk memasukkan unsur-unsur rasional ke dalamnya, hingga tradisionalisme agama itu sendiri dapat dirasa- kan sebagai kebutuhan, baik di kalangan elitis yang diwakili para cendekiawan, maupun rakyat jelata yang mengembangkan tradi- sionalisme agama populis. Di sinilah terletak tantangan yang dihadapi Islam di negeri kita, dengan penduduk muslimnya yang berjumlah lebih dari 170 juta jiwa. Masalahnya sekarang, bagai- mana mengembangkan modernisme agama dan tradisionalisme agama yang serba rasional, dan menghindarkan agar keduanya tidak bertubrukan secara praktis. Dapatkah kaum muslimin di negeri ini mencapai hal itu? {}

P

ada pertengahan bulan Mei 2002, penulis menyampaikan penilaiannya atas diri KHA. Mutamakin dalam sebuah seminar yang berlangsung di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Pendapat itu dikemukakan dalam seminar untuk menyambut terbitnya sebuah buku tentang diri beliau, yang memang benar-benar merupakan karya berbobot ilmiah dan melihat peranan beliau dari berbagai sudut pandang. Baik dari aspek epistemologis, kesejarahan maupun aspek sosiologis. Karya tersebut memerlukan sebuah penanganan serius yang harus diteruskan oleh para peneliti lainnya.

Dalam seminar itu, penulis mengemukakan sebuah sudut pandang yang sama sekali baru dalam menilai dan memahami tokoh KHA. Mutamakin yang wafat pada abad ke 18 Masehi dan dimakamkan di desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Di- antara keturunannya yang masih aktif dalam kehidupan masya- rakat adalah Rois ‘Am NU (Nahdlatul Ulama), KH. A. M. Sahal Mahfudz dan diri penulis sendiri. Salah satu sesepuh keluarga dan keturunan beliau, dengan pengaruh sangat besar semasa hidup adalah KH. Abdullah Salam yang meninggal dunia tahun lalu dan dimakamkan di desa tersebut. Sebagai penghafal al- Qur’ân beliau memimpin sebuah pesantren di desa tersebut dan mengembangkan asketisme yang sangat mengagumkan, dalam bahasa pesantren dikenal dengan istilah akhlakul karimah.

ISLAM:

Dalam dokumen Islamku_Islam Anda_Islam Kita (Halaman 77-81)