Apalagi, kalau kontra argumentasi itu dikemukakan dalam bentuk pertanyaan. Kalau tidak dapat menjawab, maka sang penguasa itu akan kehilangan pendapat, sesuatu yang tidak diinginkan. Bukankah filosof Yunani kuno, Plato, pernah me- nyatakan, sebuah pertanyaan berarti separuh kebenaran. Keta- kutan akan kelemahan argumentasi sendiri, menyebabkan seseorang tidak memperkenankan adanya pertukaran argumen- tasi, yang menjadi dasar sebuah perdebatan terbuka dan saling tukar pendapat. Karenanya sejarah telah mencatat, seorang penguasa otoriter tidak akan bersedia mengadakan dialog dan pertukaran pendapat. Lain halnya dengan agama yang memiliki “kebenaran moral” sendiri, yang tetap ada walaupun ada sang- gahan. Kitab suci al-Qurân menyatakan; “Kalau para hamba-Ku bertanya tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat (de- ngan mereka) memenuhi permintaan orang yang berdo’a jika (diajukan) kepada-Ku” (waidzâ sa’alaka ‘ibadî ‘annî ibadi fa-innî qarîbun ujîbu da’wata al da’i idzâ da’âni) (QS al-Baqarah (2): 186).
Prinsip di atas, perlu dikemukakan di sini, karena hanya melalui dialog yang bebas dan terbuka, dapat dicapai kebenaran akhir yang diikuti dan diterima orang yang berpikiran sehat dan wajar. Inilah arti penting dari sikap jujur, untuk mempertahankan kebenaran, berpikir, berpendapat dan menyatakan pendapat. Ini pula yang merupakan ciri berlangsungnya kehidupan demo- kratis, tidak seperti di beberapa negara tetangga kita. Mereka mengajukan klaim sebagai negara demokratis, namun dengan alasan keamanan internal, diberlakukan kekangan/hambatan- psikologis untuk tidak menyatakan pendapat secara bebas. De- ngan kata lain, yang berlaku di tempat-tempat itu adalah demo- krasi prosedural, bukan demokrasi sesungguhnya. Kalau ditambahkan embel-embel kata lain pada istilah demokrasi, seperti demokrasi rakyat dan demokrasi Islam, maka pada akhirnya demokrasi itu sendiri akan mati dan tidak muncul ke permukaan.
Kembali pada pertanyaan mahasiswa di atas, mengapa ada “ajaran Islam” yang ditolak penulis, dapat dijawab penulis tidak pernah menolak “ajaran Islam yang baku”, seperti tauhid dan sebagainya. Namun, penulis hanya menyanggah pendapat yang oleh banyak orang dianggap sebagai “ajaran tetap” dalam agama Islam tersebut. Padahal, ajaran itu telah berubah melalui perubahan zaman, dengan menggunakan cara tertentu. Diantara cara tertentu itu, adalah penafsiran ulang (reinterpretasi) oleh kaum muslimin sendiri, atas sesuatu yang tadinya diterima sebagai kebenaran oleh mereka. “Kebenaran relatif” itu lalu berubah dengan adanya penafsiran ulang itu, oleh Islam sendiri sebagai agama terakhir dalam pandangan para pemeluknya.
Contoh yang dapat dikemukakan di sini, adalah penafsiran ulang atas ucapan Rasulullah Saw: “Maka Aku (akan) membang- gakan kalian (di hadapan) umat-umat (lain) pada hari kiamat” (fa innî mubâhin bikum al umam yauma al-qiyâmah). Dalam penaf- siran lama, kaum muslimin mengartikan kebanggaan beliau itu bertalian dengan jumlah (kuantitas) kaum muslimin, hingga merekapun berbanyak-banyak anak. Tafsiran ulang yang baru, yang didukung oleh kenyataan meluasnya program Keluarga Berencana (KB) di kalangan kaum muslimin, minimal di negeri ini, menunjuk pada arti lain dari apa yang dibanggakan itu: kebanggaan akan mutu (kualitas) kaum muslimin sendiri. De- ngan demikian, Islam dapat berkembang sesuai dengan perubah- an tempat dan waktu (yashluhu li kulli zamânin wa makânin).
Dengan demikian, apa yang tadinya dianggap sebagai “kebenaran” paling tidak, lalu dianggap oleh sebagaian kaum muslimin sendiri pada masa kini sebagai “kebenaran relatif” yang perlu diberi tafsiran baru. Contoh di atas merupakan “sebuah kenyataan empirik” yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Sebuah tafsir ulang lain yang dapat dikemukakan di sini, adalah melaksanakan sumpah setia ketika mereka berjanji; “orang-orang yang berpegang pada janji mereka, di kala menyampaikan pra-
setia” (wa al-mûfûna bi ‘ahdihim idzâ ‘âahadû)(QS al- Baqarah(2):176), sebuah ungkapan firman Allah yang tadinya dianggap janji secara umum saja. Ini berarti, tafsir ulang yang memberikan arti lain atas istilah tersebut, dengan pengertian baru “menjunjung tinggi profesionalisme”. Bukankah janji tertinggi dari seseorang, disampaikan ketika ia mengucapkan sumpah/prasetia jabatan? Bukankah dengan demikian, berarti Islam sangat mengutamakan profesionalisme, dengan segala implikasinya?
*****
Jelaslah dari keterangan di atas, dengan tafsir ulang seperti itu, “kebenaran relatif” Islam dapat ditegakkan secara pasti. Dengan demikian, terdapat jalinan sangat halus antara keyakinan dan data empirik yang terdapat dalam diri seorang muslim. Hal ini telah terjadi dengan sendirinya, sebagai proses alami yang wajar, dalam kehidupan masyarakat kaum muslimin. Ini dimung- kinkan oleh kenyataan yang terdapat dalam sejarah kaum muslim sendiri, seperti yang kita ketahui dari bacaan selama ini. Di sinilah sangat terasa kegunaan sebuah adagium “perbedaan pendapat para pemimpin adalah rahmat bagi umat” (ikhtilâf al-a’immah rah- matu al ummah). Kalau kita pegang adagium ini, maka yang dilarang hanyalah perpecahan dan pertentangan saja di antara kita.
Ketentuan ushûl fiqh (teori hukum Islam) berbunyi; bahwa hukum agama (qarâr al-hukmi) terbagi dalam dua jenis; qath’iyah al tsubût (ketentuan berdasarkan sumber tertulis atau dalil naqli) dan dhanniyah al-tsubût (hukum tidak berdasarkan sumber tertulis atau dalil aqli). Dengan demikian, sepanjang dapat diterima oleh akal, maka sebuah hukum agama dapat berlaku berdasarkan pandangan akal dan selama tidak bertentangan dengan sumber- sumber tertulis al-Qurân dan al-Hadits. Pembedaan ini dilakukan dalam teori hukum Islam karena tidak semua hal lalu ada
sumber-sumber tertulisnya. Bagi kasus-kasus yang termasuk dalam kategori ini, maka dibuatlah jenis hukum yang tidak berdasarkan pada sumber-sumber tertulis. Termasuk dalam hal ini, fatwa Syekh Qardhawi, bahwa bunga bank yang tidak eksploitatif dan berguna bagi reproduksi barang (termasuk dalam ongkos produksi), tidaklah dapat dianggap riba.
Sekarang, masalahnya tinggal menentukan bila sebuah hukum agama berdasarkan sumber tertulis al-Qurân dan al- Hadits (qath’iyah al-tsubût), sedangkan keadaan membutuhkan penafsiran baru, lalu apakah yang harus diterapkan dalam hal seperti itu? Dalam hal ini, kita lalu menggunakan sebuah kaidah hukum Islam (qaidah al-fiqh), bahwa keadaan tertentu dapat me- maksakan sebuah larangan untuk dilaksanakan (al-dharûratu tubîhu al mahdhûrât). Hal ini, umpamanya saja, terlihat pada kasus negara yang melakukan ratifikasi deklarasi universal tentang Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) —(universal declaration of human rights) yang ditetapkan PBB pada tanggal 10 Desember 1948, termasuk dalam HAM itu adalah masalah berpindah agama. Ini tentu bertentangan dengan ketentuan hukum Islam, sebab menu- rut ketentuan orang yang berpindah agama Islam kepada agama lain, harus dianggap sebagai apostacy (murtad). Kalau ini dilaksanakan, maka lebih dari 25 juta jiwa penduduk Indonesia –yang berpindah dari agama Islam ke agama lain dalam ling- kungan negara Republik Indonesia, dapat dijatuhi hukuman mati menurut hukum agama (fiqh). {}
S
ejumlah pemimpin partai-partai politik Islam, beberapa tahun yang lalu, menyatakan bahwa kepemimpinan wanita tidak tepat dalam pandangan agama. Dasar anggapan itu adalah ungkapan al-Qurân “lelaki lebih tegak atas wanita” (al- rijâlu qawwâmûna ‘alâ al-nisa) (QS Al-Nisa(4):33), yang dapat diartikan menjadi dua macam. Pertama, lelaki bertanggung jawab fisik atas keselamatan wanita; dan kedua, lelaki lebih pantas menjadi pemimpin negara. Ternyata para pemimpin partai politik Islam di atas memilih pendapat kedua itu, terbukti dari ucapan mereka di muka umum. Anggapan tersebut, yang pada umum- nya menjadi pendapat dunia Islam selama ini, dalam kenyataan justru menunjukkan sebaliknya.Beberapa sumber tekstual (‘adillah naqliyah) melanjutkan anggapan ini dengan ungkapan “wanita hanya mempunyai separuh akal lelaki”, dan sumber-sumber sejenis. Bahkan sebuah kutipan dari kitab suci al-Qurân dipakai dalam hal ini, yaitu “bagian pria (dalam masalah warisan) adalah dua kali bagian wanita” (li al dzakari mistlu hatzi al-untsaya’in)(QS al-Nisa(4):10), padahal kutipan itu hanya mengenai masalah waris-mewaris saja. Karena itu, pandangan kedua ini, yang masih umum dipakai orang dalam dunia Islam, selalu menilai rendah wanita.
Dalam tulisan ini, penulis ingin meluruskan hal itu agar hak lelaki dan hak wanita menjadi semakin berimbang karena memang Islam menilai seperti itu. Firman Allah Swt dalam al-