• Tidak ada hasil yang ditemukan

S EBUAH A JARAN K EMASYARAKATAN

Dalam dokumen Islamku_Islam Anda_Islam Kita (Halaman 73-77)

itu bukanlah dokumen politik, melainkan sebuah peng- gambaran kehidupan yang lengkap, termasuk pemahaman sejarah masa lampau.

Ketika Allah berfirman: “barang siapa menginginkan pa- nenan di akhirat kelak, akan Ku-tambahi panenannya” (man kâna yurîdu harst al-âkhirati nazid lahu fi hartsihi) (QS al-Syura (42): 20), yang lagi-lagi berbicara tentang pahala di akhirat bagi perbuat- an kita di dunia ini. Bahwa istilah-istilah perdagangan dan perta- nian digunakan untuk keinginan manusia memperoleh pahala bagi amal perbuatannya, merupakan penghargaan yang sangat tinggi atas profesi seseorang.

*****

Dalam sebuah ayat suci al-Qurân dinyatakan: “orang-orang yang berpegang pada janji mereka, di kala menyampaikan pra- setia” (wa al-mûfûna bi ‘ahdihim idzâ ‘âhadû)(QS al-Baqarah(2):176) jelas menunjuk kepada profesionalisme seperti itu. Bukankah ma- nusia paling mengutamakan janji profesi ketika mengucapkan prasetia? Dikombinasikan dengan pengamatan Torrey di atas jelaslah bahwa Islam memberikan penghargaan sangat tinggi kepada profesi. Hal inilah yang justru hilang dari kehidupan kaum muslimin dalam beberapa abad yang silam, karena mem- berikan tempat terlalu banyak kepada kaum penguasa, serta kebi- jakan-kebijakan dan tindakan-tindakan mereka, alias pemberian perhatian terlalu besar porsinya kepada aspek politik dalam diri kehidupan bangsa-bangsa muslim.

Sebagai akibat, perhatian atas masalah-masalah profesional ternyata kurang besar, dan dengan sendirinya pemikiran ke arah itupun menjadi sangat kecil. Pada saat yang sama, bangsa-bangsa Barat telah mencurahkan perhatiannya yang sangat besar kepada masalah-masalah profesi. Dengan sendirinya, pertautan antara Islam sebagai ajaran dan profesi sebagai penerapan ajaran-ajaran tersebut, menjadi tidak bersambung satu sama lain. Ini

mengakibatkan ketertinggalan sangat besar dalam pemahaman Islam sebagai agama kehidupan di kalangan para pemeluknya. Karenanya, diperlukan sebuah keberanian moral untuk meram- bah jalan baru bagi sebuah penafsiran, yang tidak lain adalah sebuah pendekatan profesional.

Kita ambil sebuah firman dalam kitab suci al-Qurân: “jika kalian disapa dengan sapaan yang baik, maka sapalah dengan ungkapan yang lebih baik lagi” (wa idzâ huyyîtum bitahiyyatin fa hayyû bi ahsana minhâ) (QS al-Nisa (4): 85), jelas-jelas memerlukan pendekatan profesional, katakanlah bagi seorang produsen ba- rang. Artinya, kalau barang produksi anda dipuji orang lain, maka tingkatkanlah mutu produksi barang itu sebagai jawaban atas pernyataan baik yang diucapkan. Hanya dengan cara itulah seorang muslim dapat membuat interpretasi atas perbuatan- perbuatan kita di dunia ini.

*****

Kalau hal ini kita renungkan secara mendalam, jelas bahwa Islam memperlakukan kehidupan sebagaimana mestinya. Sebuah pemahaman yang benar akan menunjuk kepada kenyataan bah- wa Islam bukanlah agama politik semata. Bahkan dapat dikata- kan bahwa porsi politik dalam ajaran Islam sangatlah kecil, itupun terkait langsung dengan kepentingan orang banyak, yang berarti kepentingan rakyat kebanyakan (kelas bawah di masya- rakat). Kalau hal ini tidak disadari, maka politik akan menjadi panglima bagi gerakan-gerakan Islam dan terkait dengan institusi yang bernama kekuasaan.

Bukankah ini bertentangan dengan firman Allah dalam kitab suci al-Qurân: “apa yang diberikan Allah kepada utusan- Nya sebagai pungutan fai’ dari kaum non-Muslim (sekitar Madi- nah), hanya bagi Allah, Utusan-Nya, sanak keluarga terdekat, anak-anak yatim, kaum miskin dan pejalan kaki untuk menuntut ilmu dan beribadat, agar supaya harta yang terkumpul tidak

hanya beredar di kalangan kaum kaya saja di lingkungan kalian” (mâ afâ Allâhu min ahli al-Qurâ fa lillâhi wa rasûlihi wa lidzî al-qurbâ wa al-yatâmâ wa al-masâkîni wa ibni al-sabîl, kaila yakûna dûlatan baina al-aghniyâ’ minkum)(QS al-Hasyr(59):7). Bukankah Islam mementingkan fungsi pertolongan kepada kaum miskin dan menderita, dan tidak memberikan perhatian khusus tentang bentuk negara yang diinginkan?

Ini tentu berarti Islam lebih mementingkan pendekatan profesional, dan bukannya pendekatan politis dalam memandang sesuatu persoalan. Kalau saja ini dimengerti dengan baik, akan menjadi jelaslah mengapa Islam lebih mementingkan masyarakat adil dan makmur, dengan kata lain masyarakat sejahtera, yang lebih diutamakan kitab suci tersebut daripada masalah bentuk negara. Kalaulah hal ini disadari sepenuhnya oleh kaum mus- limin, tentulah salah satu sumber keruwetan dalam hubungan antara sesama umat Islam dapat dihindarkan. Artinya, ketidak- mampuan dalam memahami hal inilah, yang menjadi sebab ke- melut luar biasa dalam lingkungan gerakan Islam dewasa ini. {}

P

ada tahun-tahun 50-an dan 60-an, di Mesir terjadi perdebatan sengit tentang bahasa dan sastra Arab, antara para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi. Dr. Thaha Husein, salah seorang tuna netra yang pernah menjabat menteri pendidikan dan pengajaran serta pelopor modernisasi, menganggap bahasa dan sastra Arab harus mengalami moder- nisasi, jika diinginkan ia dapat menjadi wahana bagi perubahan- perubahan sosial di jaman modern ini. Ia menganggap bahasa dan sastra Arab yang digunakan secara klise oleh sajak-sajak puja (al-madh) seperti bahasa yang digunakan dalam dzibâ’iyyah

dan al-barzanji sebagai dekadensi bahasa yang justru akan memperkuat tradisionalisme dan menentang pembaharuan. Dari pendapat ini dan dari tangan Dr. Thaha Husein, lahirlah para pembaharu sastra dan bahasa Arab yang kita kenal sekarang ini. Nama-nama terkenal seperti Syauqi Dhaif dan Suhair al- Qalamawi muncul sebagai bintang-bintang gemerlap dalam perbincangan mengenai pembaharuan bahasa dan sastra Arab. Sejak masa itu, munculah madzhab baru bahasa Arab, yang dirasakan oleh mereka sebagai pendorong dinamika dan peru- bahan sosial. Bahasa dan sastra Arab dari masa lampau, yang lebih berbau agama dikesampingkan oleh kebangkitan kembali bahasa dan sastra Arab masa pra-Islam (‘asr al-jâhiliyah).

ISLAM:

Dalam dokumen Islamku_Islam Anda_Islam Kita (Halaman 73-77)