• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

6. Autisme

a. Pengertian Autisme

Atmaja (2018: 195) menjelaskan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri yang mempengaruhi perilaku, kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain. Hal senada juga disampaikan oleh Koswara (2011: 11) bahwa autisme adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang khas mencakup persepsi, linguistik, kognitif, dan komunikasi yang ditandai dengan ketidakmampuan berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal.

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan yang disebabkan oleh kerusakan sistem saraf sehingga mengakibatkan anak/seseorang mengalami hambatan dalam berkomunikasi, berperilaku dan berinteraksi.

b. Penyebab Autisme

Autisme atau disebut dengan autistic spectrum disorder (ASD) hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Atmaja (2018: 203) menjelaskan beberapa ahli menyebutkan autisme disebabkan oleh multifaktorial. Siswantoyo (2018:7) menyebutkan berbagai faktor penyebab yaitu faktor genetik, prenatal, natal, postnatal, neuroanatomi, struktur biokimiawi otak dan darah.

1) Faktor genetik, faktor keturunan juga berperan dalam perkembangan autisme.

Abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel-sel saraf dan sel otak. Anak autisme memiliki kadar hormone cytokine yang berlebihan dalam darah putih dapat menyebabkan terjadinya abnormal neurology.

2) Prenatal, natal dan postnatal, yaitu salah satu faktor terjadinya autisme:

pendarahan pada kehamilan awal, obat-obatan termasuk valproic dan thalidomide, tangis bayi yang terlambat, gangguan pernapasan dan anemia.

Kelebihan kadar folat dan vitamin B12 pada masa kehamilan dikaitkan dengan peningkatan secara drastis risiko autisme. Kegagalan dalam pertumbuhan otak karena nutrisi yang tidak mencukupi dan nutrisi yang tidak terserap oleh tubuh.

3) Neuroanatomi, yaitu terjadi pada gangguan fungsi sel-sel otak selama dalam kandungan yang mungkin disebabkan oleh terjadinya gangguan oksigenasi perdarahan atau infeksi dapat memicu terjadinya autisme. Kenaikan kadar serotonin di dalam darah membuat disfungsi neurotransmitter. Selain itu, kondisi neuropatologi diduga dapat mendorong timbulnya gangguan perilaku pada anak autisme dan beberapa daerah di otak.

4) Struktur biokimiawi otak dan darah, yaitu terjadi kelainan pada cerebellum dengan sel-sel purkinje mempunyai kandungan serotonin yang tinggi, tentu dapat memungkinkan tingginya kandungan dopamine atau opioid dalam darah.

c. Karakteristik Autisme

Atmaja (2018:199) menjelaskan bahwa autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena autisme merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga termanifestasi pada perilaku penyandang autisme. Koswara (2016: 12) juga menjelaskan bahwa anak autisme memiliki karakteristik yang khas bila dibandingkan dengan anak berkebutuhan khusus lainnya. Secara umum, anak autisme memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Tidak memiliki kontak mata dengan orang lain atau dengan lingkungannya.

Yang dimaksud kontak mata, anak autis umumnya tidak dapat melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya ketika melakukan komunikasi.

2) Selektif berlebihan terhadap rangsang, anak autisme di antaranya sangat selektif terhadap rangsang, seperti tidak suka dipeluk, merasa seperti sakit ketika dibelai guru atau orangtuanya. Beberapa anak ada yang sangat terganggu dengan warna-warna tertentu.

3) Respon stimulasi diri yang mengganggu interaksi sosial. Anak autisme seringkali melakukan atau menunjukan sikap seperti mengepak-ngepakan tangan, memukul-mukul kepala, menggigit jari tangan ketika merasa kesal atau merasa panik dengan situasi lingkungan yang baru dimasukinya.

4) Ketersendirian yang ekstrim. Anak autisme umumnya senang bermain sendiri.

Hal ini karena anak tidak melakukan interaksi sosial dengan lingkungannya.

Anak akan menjadi lebih parah ketika dibiarkan bermain sendiri.

5) Melakukan gerakan tubuh yang khas, seperti menggoyang-goyangkan tubuh, jalan berjinjit, menggerakan jari ke meja.

Kemampuan komunikasi dan bahasa anak autisme memiliki karakteristik berikut: (1) ekspresi wajah datar, (2) tidak menggunakan bahasa isyarat, (3) jarang sekali memulai komunikasi, (4) tidak meniru aksi atau suara, (5) bicara sedikit atau tidak ada, (6) membeo kata-kata kalimat atau nyanyian, (7) intonasi ritme vokal yang aneh, (8) pemahaman bahasa kurang, (9) tidak melakukan kontak mata saat berbicara, (10) mengerti dan menggunakan kata secara terbatas, dan (11) tampak tidak mengerti kata.

Sedangkan Siswantoyo (2018: 21) mengatakan ada enam jenis masalah atau gangguan yang dialami oleh anak autisme, yaitu:

Tabel 2. 1 Gangguan yang Dialami Oleh Anak Autisme

Gangguan di bidang komunikasi a) Perkembangan bahasa anak autisme lambat atau sama sekali tidak ada. Anak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara kemudian hilang kemampuan bicaranya.

b) Terkadang kata yang digunakan tidak sesuai dengan artinya.

c) Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain.

d) Senang membeo, dan bicara tidak digunakan sebagai alat komunikasi.

e) Dapat menghafal kata-kata atau nyanyian yang didengar tanpa mengerti artinya.

f) Sebagian dari anak autisme tidak berbicara (bukan kata-kata) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.

g) Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya.

Gangguan interaksi sosial a) Anak autisme lebih suka menyendiri.

b) Anak autisme tidak melakukan kontak mata dengan orang lain.

c) Tidak tertarik untuk bermain bersama teman sebaya ataupun yang lebih tua.

d) Bila diajak bermain anak autisme tidak mau dan akan menjauh.

Gangguan di bidang sensori a) Anak autisme tidak memiliki kreativitas.

b) Anak autisme tidak suka bermain dengan teman sebayanya.

c) anak autisme tidak bermain sesuai dengan fungsi mainannya, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya di putar-putar.

d) Anak autisme senang dengan benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda, dsb.

e) Anak autisme sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.

Gangguan di bidang perilaku a) Anak autisme tidak suka dengan perubahan dan duduk bengong dengan tatapan kosong.

b) Berputar-putar, lari atau berjalan dengan bolak-balik dan melakukan gerakan dengan berulang-ulang.

c) Anak autisme memperlihatkan perilaku stimulasi diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung.

d) Anak autisme dapat berperilaku secara berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku kekurangan (hipoaktif).

Gangguan di bidang emosi a) Anak autisme sering marah dengan alasan tidak jelas, tertawa dan menangis tanpa alasan.

b) Anak autisme dapat mengamuk tidak terkendali jika dilarang atau tidak diberi keinginannya.

c) Anak autisme terkadang agresif dan suka

Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian dan pengembangan ini.

Isnaini (2014) dengan judul “Pengaruh Permainan Ular Tangga Terhadap Peningkatan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak Autis”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh permainan ular tangga terhadap peningkatan bahasa ekspresif anak autis. Penelitian ini menggunakan penelitian SSR (Single Subject Research) dengan desain penelitian A-B-A. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi menggunakan permainan ular tangga berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan bahasa ekspresif pada anak autisme. Hasil tersebut dibuktikan dengan pemerolehan overlap antar kondisi baseline-A1 terhadap intervensi sebesar 0%. Hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh permainan ular tangga terhadap peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak autisme. Hal ini dapat dibuktikan anak autisme mampu mengekspresikan atau memperagakan perasaan marah, senang dan sedih serta mengikuti permainan.

Marlina (2013) dengan judul “Permainan Ular Tangga Modifikasi terhadap Konsentrasi Belajar Anak Autisme”. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh permainan ular tangga modifikasi anak autisme yang diarahkan dan dilatih konsentrasinya. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan subjek penelitian tunggal (Single Subject Research). Analisis data menggunakan analisis visual yang dilakukan dengan dua cara yaitu analisis dalam keadaan analisis dan analisis antar kondisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

Dokumen terkait