BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Prosedur Pengembangan Media Permainan Ular Tangga Pada Materi Kalimat
Prosedur pengembangan media permainan ular tangga materi kalimat petunjuk yang dimodifikasi ke dalam enam tahap pengembangan, di antaranya:
potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi produk, perbaikan produk, dan uji coba produk. Peneliti melakukan tahapan pertama potensi dan masalah dalam melakukan penelitian dan pengembangan. Sugiyono (2011:298) mengatakan potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki nilai tambah sedangkan masalah ada penyimpanan yang diharapkan dengan yang terjadi dan masalah dapat dijadikan potensi apabila didayagunakan. Potensi dan masalah diperoleh dari hasil wawancara guru kelas I. Hasil wawancara menyebutkan bahwa terdapat anak autisme di kelas I masih kesulitan dalam memahami materi pembelajaran terutama pada materi kalimat petunjuk.
Tahapan kedua pada penelitian dan pengembangan yaitu pengumpulan data.
Pada tahapan ini, peneliti melakukan analisis kebutuhan melalui wawancara guru kelas I dan observasi pada anak autisme. Siswantoyo (2018:4) menjelaskan bahwa autisme adalah gangguan pervasive development disorder berupa gangguan komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, pola bermain, perilaku, emosi,
minat, gerakan terbatas, stereotipik, berulang dan gangguan perkembangan neurobiologis. Hasil wawancara dan observasi membuktikan bahwa perilaku yang terlihat pada anak autisme yaitu senang mengulang kata-kata, tidak memulai komunikasi, menggunakan kata secara terbatas, suka mengepak-ngepakkan tangan, senang membawa barang kesukaannya dan sudah bisa melakukan kontak mata dengan orang lain yang bertahan selama beberapa detik. Perilaku tersebut sesuai dengan pendapat Koswara (2016: 12) yang menjelaskan bahwa karakteristik autisme adalah sebagai berikut: (1) ekspresi wajah datar, (2) tidak menggunakan bahasa isyarat, (3) jarang sekali memulai komunikasi, (4) tidak meniru aksi atau suara, (5) bicara sedikit atau tidak ada, (6) membeo kata-kata kalimat atau nyanyian, (7) intonasi ritme vokal yang aneh, (8) pemahaman bahasa kurang, (9) tidak melakukan kontak mata saat berbicara, (10) mengerti dan menggunakan kata secara terbatas, (11) tampak tidak mengerti kata. Hal tersebut dibuktikan dari hasil observasi yaitu anak autisme dalam pemahaman bahasa yang kurang, mengerti tetapi menggunakan kata secara terbatas serta senang membeo, sehingga anak autisme belum sepenuhnya mampu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kelas.
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang diperoleh, peneliti mengembangkan media pembelajaran berbasis visual yaitu media permainan ular tangga pada materi kalimat petunjuk. Arsyad (2016:48) menjelaskan bahwa media berbasis visual memiliki karakteristik berupa media berorientasi pada peserta didik, visual dapat menumbuhkan minat peserta didik dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata, serta visual diamati berdasarkan ruang. Media visual ini sangat direkomendasikan untuk membantu anak autisme dengan menggunakan benda konkrit atau media gambar yang mirip dengan aslinya (Evanjeli dan Anggadewi, 2019: 12). Oleh karena itu, peneliti memilih media permainan ular tangga yang dilengkapi dengan gambar yang mendukung agar anak autisme dapat merasakan belajar sambil bermain dengan tujuan untuk membantu anak autisme dalam pembelajaran.
Berdasarkan peneliti terdahulu, Putranti (2017) mengembangkan tentang media ular tangga yang dikombinasikan dengan kartu soal dan kartu gambar untuk pembelajaran menulis kalimat sederhana. Media permainan ular tangga yang telah dikembangkan dapat dinyatakan layak menjadi media pembelajaran menulis kalimat sederhana. Permainan ular tangga dapat memotivasi siswa untuk berlatih menulis dengan baik dan benar sesuai dengan EYD.
Tahapan ketiga pada penelitian dan pengembangan adalah desain produk berupa media permainan ular tangga materi kalimat petunjuk. Media ular tangga berukuran besar dapat membantu anak autisme belajar tentang kalimat petunjuk dan ungkapan kalimat petunjuk. Komponen dari media permainan ular tangga terdiri dari amplop kartu petunjuk, dan dadu. Ular tangga yang terbuat dari banner dan didesain menggunakan warna primer. Swasty (2017: 15) mengatakan bahwa warna primer merupakan warna dasar yang tidak dicampur seperti warna merah, kuning, dan biru, amplop kartu petunjuk dan dadu menggunakan bahan flanel dan kartu petunjuk menggunakan kertas ivory 230 gr. Komponen-komponen tersebut didesain menggunakan corel draw. Selain media permainan ular tangga, peneliti membuat modul penggunaan media permainan ular tangga dan video tutorial penggunaan permainan ular tangga. Modul penggunaan media permainan ular tangga dibuat dari Microsoft Word, kemudian untuk sampul dicetak menggunakan kertas ivory 230 gr dan untuk isi menggunakan kertas HVS. Sedangkan video tutorial penggunaan permainan ular tangga diedit menggunakan aplikasi filmora yang kemudian di burning pada CD.
Tahapan keempat adalah validasi produk yang dapat dilakukan dengan bantuan beberapa ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk yang telah dirancang agar peneliti dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan produk yang dikembangkan (Sugiyono, 2011: 302). Produk berupa media permainan ular tangga, modul penggunaan media permainan ular tangga dan video tutorial penggunaan media permainan ular tangga telah divalidasi oleh dosen ahli media pembelajaran, dosen ahli psikologi dan guru kelas I di sekolah inklusi. Validasi produk dilakukan untuk mengetahui kualitas dan kelayakan produk yang
dikembangkan melalui saran dan komentar dari dosen ahli media pembelajaran, dosen ahli psikologi dan guru kelas I di sekolah inklusi.
Tahapan kelima adalah perbaikan produk. Setelah produk divalidasi oleh para ahli, maka peneliti akan mengetahui kelemahan dan kekuatan pada media yang akan dikembangkan. Peneliti memperbaiki sesuai dengan saran dan komentar para ahli (Sugiyono, 2016: 302). Beberapa yang perlu diperbaiki dalam media yang dikembangkan, yaitu: penggunaan warna yang tidak terang karena anak autisme sensitivitas yang tinggi, penggunaan bahasa dalam kartu soal diperbaiki menggunakan bahasa dan kalimat yang sederhana, langkah kegiatan ditambahkan satu nomor untuk memperjelas dalam menggunakan permainan ular tangga.
Sedangkan perbaikan pada video tutorial penggunaan media permainan ular tangga yaitu bahasa yang digunakan harus singkat namun jelas agar anak autisme dapat memahami.
Tahapan keenam adalah melakukan uji coba produk dengan jumlah terbatas agar dapat mengetahui efektif dan efisien produk yang dikembangkan (Sugiyono, 2011: 302). Perencanaan produk yang sudah dikembangkan akan diujicobakan pada salah satu anak autisme kelas I di sekolah inklusi yaitu pada tanggal 3 Februari 2021 melibatkan guru kelas I dan orang tua anak autisme. Peneliti membagikan kuesioner respon untuk anak autisme terkait penilaian dengan media permainan ular tangga yang dikembangkan. Kuesioner yang peneliti berikan kepada anak autisme digunakan sebagai tolok ukur pemahaman anak autisme terkait pemahaman materi kalimat petunjuk pada permainan ular tangga yang peneliti kembangkan.
2. Kualitas Media Permainan Ular Tangga Pada Materi Kalimat Petunjuk