MAKANAN HALAL DAN HARAM
DIHARAMKAN: ALKOHOL 1. Alkohol Ditinjau dari Ilmu Kimia
2. Ayat Al-Qur'an dan Hadis tentang Alkohol
minuman keras, buku Tafsir Ilmi seri Tumbuhan (2011) telah membahas sejarah minuman haram ini secara lebih detail, termasuk budaya minum alkohol orang-orang zaman dulu dan dampak buruknya. Dalam keterkaitan-nya dengan masalah makanan dan minuman, tulisan ini akan membahas alkohol dari aspek ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan kesehatan seba-gai ayat-ayat kauniyah yang amat erat hubungannya dengan ayat-ayat dalam Al-Qur'an.
2. Ayat Al-Qur'an dan Hadis tentang Alkohol
Berbeda dari ayat-ayat yang mengha-ramkan secara langsung beberapa makanan seperti darah, daging babi, dan binatang yang disembelih tidak dengan nama Allah, ayat-ayat tentang keharaman alkohol diturunkan secara gradual. Ini karena minum alkohol telah menjadi tradisi masyarakat Arab pra-Islam. Pentahapan tersebut merupakan suatu proses pendidikan bagi masyarakat untuk sedikit-demi sedikit meninggalkan kebiasaan buruk
Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.
Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti. (an-Naĥl/16: 67)
Pada ayat ini Allah menyebut ke-biasaan manusia dalam memanfaatkan buah kurma dan anggur, yaitu men-jadi bahan baku minuman yang me-mabukkan dan menjadi rezeki yang baik; keduanya dipisahkan oleh kata penghubung “dan”. Ini menunjukkan bahwa keduanya adalah entitas yang berbeda. Dengan demikian, kita bisa menangkap pesan bahwa “minuman yang memabukkan” bukanlah “rezeki yang baik”. Pesan ini merupakan pon-dasi yang pertama sekali bagi pen-tahapan pengharaman khamar (alko-hol).
Berikutnya turunlah ayat yang men-jelaskan baik-buruknya alkohol, yakni Surah al-Baqarah/2: 219,
minum alkohol dengan kesadaran yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Ayat yang pertama sekali turun menyebut alkohol adalah firman Allah,
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan.
(al-Baqarah/2: 219)
Ayat di atas pada hakikatnya hen-dak memberitahu bahwa khamar (al-kohol) mempunyai banyak mudarat, meski ada juga manfaat yang bisa didapat darinya. Manfaat itu misalnya berupa kemampuan alkohol untuk menghangatkan tubuh, karena ia ada-lah sumber energi.
Tahap pengharaman khamar ber-lanjut ke arah larangan salat dalam kondisi mabuk. Artinya, masih ada ke-ringanan bagi umat Islam pada wak-tu iwak-tu unwak-tuk meminum khamar di luar waktu-waktu ini. Allah berfirman,
Ayat ini meski belum jelas-jelas mengharamkan khamar, tetapi ia telah menunjukkan bahwa mabuk akibat minum alkohol tidak boleh berdampingan dengan salat. Mabuk dapat membuat memori kacau, sedang-kan salat mengharussedang-kan seseorang untuk memusatkan perhatian dan ingatannya kepada Allah. Di sinilah pentingnya aspek pendidikan bagi mereka yang mencintai salat, bahwa secara sadar mereka harus mulai meninggalkan minuman alkohol. Na-mun, tidak semua umat waktu itu pu-nya kesadaran penuh untuk mening-galkan khamar. Karena itu turunlah firman Allah dalam Surah al-Mā'idah/5:
90–91 yang berisi perintah untuk me-ninggalkan khamar sama sekali, baik secara suka rela maupun terpaksa.
Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan ma-buk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan.
(an-Nisā'/4: 43)
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) ber-hala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung . Dengan min uman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan
menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti? (al-Mā’idah/5: 90–91)
Ayat di atas merupakan pernyata-an final tentpernyata-ang keharampernyata-an meminum alkohol. Masyarakat muslim yang te-lah tertanam akidahnya serta kecin-taannya kepada Allah dan Rasul me-nyambut perintah itu dengan sami‘nā wa ața‘nā—kami dengar dan kami patuh. Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa setelah ayat ini disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabat, mereka cepat-cepat menumpahkan semua khamar yang mereka punyai sehingga jalanan Madinah banjir oleh khamar.
Khamar pada masa Rasulullah pada umumnya terbuat dari anggur. Untuk mencari kejelasan status khamar yang terbuat dari bahan baku lain, seperti jelai, gandum, atau bahkan kurma, para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah. Menjawab pertanyaan itu Rasulullah menjawab dengan tegas,
هاور( .ٌماَرَح ٍرِكْسُم ُّ ُكَو ،ٌرْ َخ ٍرِكْسُم ُّ ُك )رمع نبا نع ملسم
Apa saja yang memabukkan adalah khamar, dan apa saja yang memabukkan hukumnya haram.
(Riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar)
،ِرْمَّلتاَو ، ِبْيِبَّزلاَو ،ِ ْي ِصَع ْ
jagung. Sungguh, aku melarang kalian mendekati apa saja yang memabukkan. (Riwayat Abū Dāwūd dan Ibnu Ĥibbān dari an-Nu‘mān bin Basyīr)Secara ilmiah hadis di atas dapat dibenarkan karena apa pun sumber karbohidrat yang difermentasi akan menghasilkan alkohol yang sama, yak-ni etanol (C2H5OH).
Tidak hanya bertanya soal bahan ba-ku khamar, para sahabat juga bertanya tentang hukum meminum alkohol dalam kadar yang tidak membuat mabuk. Lagi-lagi dengan tegas Rasulullah menjawab,
وبأو دحمأ هاور( .ٌماَرَح ُهُلْيِلَقَف ُهُ ْيِث َك َرَكْسَأ اَم دبع نب رباج نع هجام نباو يذمترلاو دواد )للها
Apa saja yang (bila dikonsumsi) dalam kadar banyak dapat memabukkan, maka (mengon-sumsinya) dalam kadar sedikit pun hukumnya haram. (Riwayat Aĥmad, Abū Dāwūd, at-Turmużi, dan Ibnu Mājah dari Jābir bin ‘Abdullāh)
Penjelasan ini dibenarkan oleh fakta bahwa alkohol mempunyai si-fat adiktif atau membuat ketagihan.
Bermula dari minum sedikit, seseorang
serta para pemuda, maka diperlukan pengetahuan untuk memahami baik-buruknya alkohol sebagaimana dise-butkan dalam Surah al-Baqarah/2: 219.
Kini ilmu pengetahuan sudah cukup maju untuk dapat menjelaskan baik manfaat maupun mudaratnya. Dengan demikian, terutama generasi muda Islam dapat menjauhi alkohol agar tidak menghancurkan diri dan masa depan mereka sendiri. Pengetahuan ini juga penting bagi umat Islam secara lebih luas yang berbisnis, berdagang, atau menjadi agen minuman keras atau bahkan produsen alkohol. Diharapkan mereka akan sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu bentuk upaya membantu menyuburkan kon-sumsi minuman keras, yang itu berarti turut andil dalam berbuat dosa.
3. Manfaat Alkohol bagi Manusia