• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEAMANAN PANGAN

C. KONTAMINASI PESTISIDA DAN CARA PENCEGAHANNYA

1. Jenis Pestisida

Pestisida adalah bahan kimia beracun yang digunakan untuk membunuh atau membasmi hama atau penyakit tanaman. Bergantung pada sasaran hama yang akan dibasmi, terdapat be-berapa jenis pestisida, seperti dapat dilihat pada Tabel 9.

Pestisida harus digunakan dengan sangat hati-hati. Bila tidak tepat sasar-an atau berlebihsasar-an, pestisida justru dapat membahayakan hewan lain yang bermanfaat, bahkan juga berdampak negatif kepada manusia.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam

Pestisida seperti DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) amat ber-manfaat dalam intensifikasi pertanian, yakni meningkatkan produksi. Ken-dati demikian, penggu naan DDT me-lebihi dosis yang seharusnya malah akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan lingkungan. DDT di Amerika, misalnya, telah memusnahkan berbagai jenis burung karena adanya residu pestisida pada rumput, padi-padian, atau buah-buahan. Kondisi yang demikian mengkhawatirkan

meng-ilhami Rachel Carson, seorang penulis berkebangsaan Amerika, untuk me-nulis buku berjudul Silent Spring. Dalam buku yang sarat muatan kritik sosial ini ia mendokumentasikan efek merusak yang ditimbulkan pestisida terhadap lingkungan, terutama pada burung.

Pestisida tersebut dapat membunuh burung secara langsung, dan dapat juga mengganggu metabolisme kalsi-um sehingga kulit telurnya lemah dan

pecah ketika dierami; suatu kondisi yang jelas akan mengganggu proses reproduksi burung. Di Indonesia, ke-jadian yang sama juga telah dapat disaksikan. Populasi burung berku-rang drastis pascadekade 1960-an, masa ketika DDT mulai digunakan.

Demikian pula berbagai jenis ikan di sawah dan sungai musnah atau menurun drastis. Wabah tikus juga pernah terjadi akibat pestisida. Tikus yang ikut mati akibat penyemprotan pestisida juga mematikan ular yang memakannya. Namun karena tikus lebih cepat bereproduksi daripada pemangsanya maka ti-kus-tikus merajalela dan menyerang tanaman pertanian.

Kerusakan lingkung-an atau ekosistem di atas menjadi pelajaran berharga bagi negeri ini.

Betapa tidak, ternyata akibat buruk tersebut disebabkan oleh penggunaan pestisida yang berlebihan. Berdasar-kan berbagai penelitian tahun 1980-an diberlakuk1980-anlah sistem Integrated Pesticides Management atau IPM.

Prinsip IPM di antaranya adalah bah-wa penyemprotan pestisida hanya dilakukan apabila memang diperlu-kan, dan itu pun harus dalam takaran minimal, tidak berlebihan. Selain itu,

Tabel 9. Jenis Pestisida

No. Pestisida Sasaran pembasmian 1.

dikembangkan pula pembasmian hama dengan memelihara dan mengem-bangkan predator-predator alaminya, seperti jangkrik, belalang sembah, dan ular. Dengan cara tersebut, peng-gunaan pestisida dapat dihemat men-dekati 80%, suatu penghematan yang luar biasa dan suatu langkah penting dalam pelestarian lingkungan.

Masalah berikutnya dari penggu-naan pestisida adalah residunya. DDT adalah jenis senyawa pestisida orga-noklor dan amat sukar terdegradasi (non-degradable). Ini berarti biji-biji-an, sayur-sayurbiji-biji-an, buah-buahbiji-biji-an, dan rerumputan dapat mengandung pestisida sisa penyemprotan. Sisa pestisida yang amat stabil tersebut (persistant) dapat masuk ke tubuh manusia, baik secara langsung maupun melalui binatang ternak atau unggas yang dikonsumsinya. Akumulasi pes-tisida dalam tubuh manusia akan menyebabkan gangguan kesehatan.

Inilah yang harus dikendalikan atau dicegah sama sekali.

Dari sisi teknologi sesungguhnya para ilmuwan telah berusaha keras mengganti pestisida organoklor de-ngan pestisida yang lebih mudah tergradasi. Pestisida organoklor yang kita kenal selain DDT: endrin, aldrin, lindane, BHC, dan chlorodane, dapat bertahan dalam lingkungan beberapa tahun, bahkan puluhan

tahun. Muncullah kemudian pestisida organofosfat, seperti paration dan diazinon. Pestisida organoposfat ini juga amat toksik, tetapi berumur pendek, mudah terurai, sehingga mudah hilang dalam lingkungan.

Generasi berikutnya muncul jenis pestisida karbamat (carbamate) yang lebih cepat lagi terdegradasi atau termetabolisme dalam tubuh hewan atau manusia. Beberapa na-ma dagang pestisida karbana-mat yang dapat kita jumpai di pasaran di an-taranya furadan, adicarb, dan baygon (propaxur).

2. Jalur Masuk ke dalam Tubuh dan Cara Pencegahannya

Pestisida dapat masuk dalam tubuh le-wat beberapa jalan, di antaranya:

a. Lewat pernafasan

Pestisida dapat masuk dalam tubuh lewat udara yang masuk ke organ per-nafasan pada saat penyemprotan. Ae-rosol pestisida dapat masuk ke paru-paru, dan kemudian ke dalam darah.

Akumulasi pestisida dalam tubuh akan berpengaruh pada kesehatan, terutama pada fungsi hormon dan saraf. Akumulasi pestisida bahkan da-pat menimbulkan kematian, seperti pernah terjadi di Lampung. Seorang ibu

Cara Penyemprotan Pestisida yang Dianjurkan (Sumber: http://www.mensfitness.com)

pekerja menyemprotkan pestisida di sawah sambil menggendong bayinya.

Usai menyemprot, ibu itu terperanjat melihat bayinya telah meninggal dalam gendongannya. Intensitas masuknya pestisida ke dalam pernafasan dapat dikurangi atau dicegah dengan cara menyemprotkan pestisida sesuai arah angin. Satu lagi yang tidak boleh dilu-pakan adalah penggunaan masker pe-nutup hidung (lihat gambar di atas).

b. Lewat kulit

Masyarakat banyak yang tidak tahu bahwa banyak jenis pestisida yang

dapat masuk lewat kulit. Ini adalah sifat khusus banyak bahan kimia; ia dapat menembus kulit, masuk ke dalam darah, dan mengganggu ki-nerja organ-organ tubuh. Masuknya pestisida melalui kulit dapat dengan mudah dicegah, yakni menghindari menyentuh larutan pestisida dengan tangan atau mencegah pestisida me-ngenai kulit. Ini dapat dilakukan de-ngan misalnya memakai sarung tade-ngan lateks dan/atau mengaduk larutan pes-tisida dengan kayu atau plastik.

Bahaya masuknya pestisida ke dalam tubuh manusia melalui kulit dapat kita lihat dari peristiwa berikut.

Seorang pria paruh baya menggunakan pestisida untuk mengobati gatal yang lama tidak sembuh dengan harapan pestisida dapat membunuh bakteri penyebab gatal. Bukannya sembuh gatalnya, setengah jam kemudian ia malah kejang-kejang dan meninggal.

c. Lewat mulut

Keracunan pestisida melalui jalur mulut (menelan) adalah kasus yang paling banyak terjadi. Ini dapat terjadi apabila makanan atau minuman ter-kontaminasi oleh pestisida. Penyim-panan atau penjualan tepung terigu atau beras berdekatan dengan pes-tisida adalah salah satu penyebab kon-taminasi yang paling jamak terjadi.

Keracunan ini terjadi biasanya pada suatu pesta atau undangan di desa

atau perkampungan. Kontaminasi ma-kanan oleh pestisida tidak dapat dili-hat karena jumlahnya kecil tetapi cu-kup berbahaya.

Pada tahap awal, keracunan pestisida akan menyebabkan mual, muntah, dan diare yang akan mengu-ras cairan tubuh atau dehidmengu-rasi. Tanpa pertolongan segera, dehidrasi berke-lanjutan dapat membahayakan jiwa pasien.

Keracunan makanan dapat pula terjadi akibat pestisida tersisa (residu) pada sayur-sayuran dan buah-buahan akibat penyemprotan. Yang demikian ini juga menyebabkan mual, muntah,

Pestisida Bukan Obat Luka atau Gatal (Sumber: malariaworld.org)

Korban Akibat Keracunan

(Sumber: pakarpangan.wordpress.com, penanggulanga-ankrisis.depkes.go.id)

dan diare yang berujung dehidrasi.

Kasus seperti ini dapat dihindari de-ngan mencuci bersih sayuran segar dan buah-buahan sebelum dikonsumsi.

Beberapa orang yang sangat berhati-hati bahkan mencuci sayuran dan buah-buahan yang dicurigai dengan larutan encer oksidator, seperti PK (kalium permanganat), kaporit, dan perhidrol.

Ini dapat dimengerti karena pes-tisida adalah racun organik yang apa-bila dioksidasi akan rusak dan tidak berbahaya. Residu pestisida dapat menjadi isu perdagangan dunia.

Ada-nya residu dalam makanan seperti sayur mayur dan buah-buahan dapat menjadi alasan kuat produk tersebut ditolak oleh suatu negara.

Dari uraian di atas jelas bahwa pestisida termasuk bahan yang ber-manfaat sekaligus berbahaya bagi manusia. Umat manusia yang diberi akal oleh Allah harus mampu meng-ambil manfaat pestisida tanpa men-cederai dirinya. Pestisida adalah hasil kreasi manusia yang mempunyai sisi baik dan juga buruk bagi manusia itu sendiri. Dengan ilmu manusia dapat memanfaatkannya dengan risiko se-kecil-kecilnya. Keracunan pestisida pada hakikatnya adalah akibat ke-bodohan manusia, sebagaimana di-ungkapkan Allah dalam Surah Yūnus/

10: 44,

Sayuran dan Buah-buahan Mengandung Pestisida Sebaiknya Dicuci

(Sumber: skinnychef.com)

Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri. (Yūnus/10: 44)

D. BAHAN TAMBAHAN