• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ayu Sukorini Komisaris

Commissioner

Iskandar

Komisaris Commissioner

Luky Alfirman

Komisaris Utama President Commissioner

Dari Kiri ke Kanan Left to Right

penyiapan struktur organisasi baru serta peningkatan Good Coorporate Governance (GCG), dan Penyusunan Risk-based Capital Framework (“RBCF”).

Tahun 2016 juga ditandai dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas PP Nomor 35 Tahun 2009 pada tanggal 3 November 2016. Terbitnya PP ini melengkapi dua produk hukum, yaitu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2015 dan Perpres Nomor 82 tahun 2015, yang telah dikeluarkan pada tahun sebelumnya. Dewan Komisaris berpandangan, dengan diterbitkannya PP ini dapat, memberikan pondasi hukum yang lebih kuat bagi PT PII di dalam melaksanakan penugasan-penugasan yang telah diberikan oleh pemerintah, terutama penjaminan atas proyek dengan skema non-KPBU.

Peningkatan jumlah proyek yang dijamin oleh PT PII dan penetapan PP Nomor 50 tahun 2016, menurut hemat kami merupakan salah satu wujud pengakuan atas keberadaan Perusahaan, serta kepercayaan dan harapan yang telah terbangun sejak berdirinya PT PII. Hal ini juga merupakan momen strategis yang harus dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Perusahaan, dalam menunjukkan kiprah dan kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur di masa mendatang.

Terkait dengan pelaksanaan RKAP tahun 2016, secara umum dapat dikatakan kinerja keuangan Perusahaan lebih baik dibandingkan dengan kinerja keuangan tahun 2015. Secara lebih rinci dapat kami sampaikan realisasi angka-angka pendapatan, beban maupun laba.

1. Realisasi pendapatan pada tahun 2016 mencapai Rp821,11 miliar mengalami peningkatan sebesar 54% dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp533,06 miliar. Peningkatan ini terutama oleh karena adanya pendapatan penjaminan yang mulai dapat direalisasikan di tahun 2016 sebesar Rp177,65 miliar dan peningkatan pendapatan pengelolaan dana sebesar Rp643,46 miliar.

2. Realisasi beban usaha pada tahun 2016 sebesar Rp315,95 miliar mengalami peningkatan sebesar 47,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp213,98 miliar.

3. Laba komprehensif setelah pajak tahun 2016 mencapai Rp536,75 miliar mengalami peningkatan sebesar 60% dibandingkan tahun lalu, yaitu dari sebesar Rp335,55 miliar.

Governance (GCG) and Risk-Based Capital Framework (“RBCF”) formulation.

2016 was also marked by the stipulation of Government Regulation (PP) No. 50 of 2016 as Amendment to PP No. 35 of 2009 on November 3, 2016. This PP enactment completed two other legal products, that are Presidential Regulation (Perpres) No. 38 of 2015 and Perpres No. 82 of 2015 that were issued in the previous year. The Board of Commissioners views that issuance of this PP will provide stronger legal framework for IIGF to carry out the assignments as mandated by the Government, primarily guarantee for projects with Non-PPP scheme.

In our opinion, increasing number of guaranteed projects booked by IIGF and stipulation of PP No. 50 of 2016 reflected acknowledgement of the Company’s existence as well as trust and aspiration that have been built since the establishment of IIGF. These also became strategic momentum to be addressed optimally by the Company to present its role and contribution on the infrastructure development in the future.

Concerning the implementation of RKAP 2016, the Company’s recorded financial performance that is generally higher than financial performance booked in 2015. More comprehensive explanation about realization of the revenues, expense and profit are as follows:

1. In 2016, Revenues realization achieved Rp821.11 billion that increased 54% if compared with Rp533.06 billion booked in the previous year. Increase was primarily contributed from revenue of guarantee that was started to be realized in 2016 amounting to Rp177.65 billion and increasing of investments income amounted to Rp643.46 billion.

2. In 2016, operating expenses realization amounted to Rp315.95 billion that increased 47.7% if compared with Rp213.98 billion booked on the same period in the previous year.

3. In 2016, net comprehensive income achieved Rp536,75 billion that increased 60% if compared with Rp335,55 billion booked in the previous year.

4. Dengan demikian, kinerja keuangan tahun 2016 jika dibandingkan dengan tahun 2015 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hal ini terutama dikarenakan pendapatan penjaminan yang mulai dapat direalisasikan di tahun 2016. 5. Sementara itu, penambahan Penyertaan Modal Negara

(PMN) sebesar Rp1,00 triliun sebagaimana yang dialokasikan dalam APBN-P tahun 2016 telah diterima oleh PT PII pada tanggal 31 Desember 2016. Penambahan PMN tersebut akan digunakan PT PII untuk meningkatkan kapasitas penjaminan yang dimiliki, mengingat semakin meningkatnya kegiatan proyek-proyek infrastruktur yang membutuhkan penjaminan. Atas hasil yang dicapai dan kepercayaan yang diterima dari para stakeholder tersebut, kami, Dewan Komisaris memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Direksi dan Karyawan, yang tetap bersikap optimis dan bekerja dengan semangat yang tinggi sehingga dapat mencapai kinerja yang patut untuk dibanggakan, baik dari sudut keuangan maupun operasional. Kinerja tersebut dapat dicapai meskipun di tengah meningkatnya tantangan dalam kondisi perekonomian domestik yang belum kondusif, serta belum mendukungnya perangkat peraturan perundangan yang terkait erat dengan pembangunan infrastruktur pada umumnya.

Sejalan dengan kinerja keuangan, kinerja operasional yang dicapai oleh PT PII di tahun 2016 juga sangat baik. Peningkatan kinerja ini juga tercermin dari peningkatan pendapatan penjaminan yang meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun 2015 bahkan di dalam 5 (lima) tahun terakhir. Terdapat sembilan proyek yang telah ditandatangani perjanjian penjaminannya di tahun 2016, dengan nilai total investasi sebesar Rp82,192 triliun dengan eksposure penjaminan PT PII atas proyek-proyek tersebut mencapai sebesar Rp25,98 triliun.

Selain itu, terdapat empat proyek jalan tol yang telah diterbitkan

In-principal Approval/IPA dan prosesnya sudah masuk tahap lelang. Penjaminan keempat proyek jalan tol tersebut menggunakan skema penjaminan bersama antara PT PII dengan Menteri Keuangan berdasarkan risk sharing. Estimasi nilai investasi keempat proyek jalan tol tersebut adalah sebesar Rp37,33 triliun dengan nilai eksposur penjaminan PT PII sebesar Rp3,28 triliun. Terkait dengan Indeks Kinerja Utama (IKU), Dewan Komisaris berpandangan Direksi telah mencapai IKU melebihi target yang telah ditetapkan oleh RUPS. Berdasarkan hasil audit yang dilakukan KAP, capaian IKU PT PII tahun 2016 adalah sebesar 104,12%. Hanya satu IKU, yaitu “Jumlah Proyek Yang Dijamin Dengan Skema Non-KPBU” belum dapat terealisasi hingga akhir

4. Therefore, if compared with 2015, financial performance in 2016 achieved a significant growth. This was primarily contributed from revenue of guarantee that was started to be realized in 2016.

5. On the other hand, additional Government Investment (PMN) of Rp1 trillion that was allocated in the APBN-P 2016 had been received by IIGF on December 31, 2016. The additional PMN is planned to be disbursed by IIGF to increase capacity of the guarantee considering increasing infrastructure projects activities that require the guarantee.

For the achieved results and trusts from the Stakeholders, as the Board of Commissioners, We express utmost appreciation to all of the Management, the Board of Directors and Employees for being optimistic and working with high spirit to accomplish a proud achievement, both in terms of financial and operational aspects. The performance was recorded amidst sluggish domestic economy as well as less supportive legal framework that is generally related with infrastructure development.

In line with the financial performance, IIGF also recorded positive operational performance in 2016. The performance growth was reflected from significantly increasing revenue of guarantee if compared with 2015 and even for the last 5 (five) years. There were nine projects whose guarantee contracts were signed in 2016 with total investment of Rp82.192 trillion and guarantee exposure of IIGF on the projects achieved Rp25.98 trillion.

In addition, there were four toll road projects which In-Principal Approval (IPA) had been issued and currently under tender process. Guarantee for those four toll road projects are using collective guarantee scheme between IIGF and Minister of Finance based on risk-sharing. Investment value estimation on those four toll road projects amounted to Rp37.33 trillion with value of IIGF’s guarantee exposure achieved Rp3.28 trillion. In terms of Key Performance Indicators (KPI), the Board of Commissioners evaluated the Board of Directors had achieved the KPI exceeding the target that was set by the GMS. According to KAP audit result, IIGF KPI achievement was 104.12% in 2016. There was only one KPI, “Total Project Guarantee With Non- PPP Scheme” that failed to be implemented until the end of

tahun 2016. Hal ini terjadi karena regulasi yang dibutuhkan PT PII untuk melaksanakan penjaminan Non-KPBU, saat ini masih dalam proses penyempurnaan di Kementerian Keuangan sebagai regulator kegiatan usaha PT PII. Namun pun demikian, terkait dengan hal ini, Dewan Komisaris telah memberikan arahan kepada Direksi untuk secara aktif berkoordinasi dan memberikan masukan-masukan untuk penyempurnaan regulasi yang sedang dilakukan.

Sementara itu, dalam rangka pelaksanaan amanat Pasal 24 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 88/PMK.06/2015, Dewan Komisaris juga telah memiliki IKU berdasarkan penetapan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dewan Komisaris telah melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam IKU tersebut.

Dokumen terkait