• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Perusahaan

Sejalan dengan tujuan Perusahaan untuk memberikan penjaminan pada proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha di bidang infrastruktur, maka tahun 2016 menjadi momentum Perusahaan untuk menorehkan proyek-proyek yang berhasil dijamin PT PII. Momentum ini juga diharapkan dapat menjadi suatu titik tolak pengakuan pengembangan proyek KPBU. Untuk itu, beberapa sasaran yang hendak dicapai dengan berfokus pada penjaminan proyek adalah sebagai berikut: 1. Proyek yang Dapat Mencapai Tahapan Penjaminan.

Pada tahun 2016, PT PII memproyeksikan akan memperoleh pendapatan Penjaminan dengan dasar asumsi sebagai berikut: a. Proyek-proyek yang telah berproses di tahun 2015 dan

akan mencapai tahapan penyelesaian proses lelang pada tahun 2016. Adapun proyek-proyek tersebut diperkirakan sebagai berikut:

i) Proyek CJPP sebagai proyek yang sudah ditandatangani Perjanjian Penjaminannya dan telah diakui sebagian fee-nya pada pendapatan penjaminan pada tahun 2011, menjadi salah satu proyek yang diperkirakan akan memberikan kontribusi yang signifikan pada pendapatan penjaminan pada saat terjadinya perolehan pembiayaan (FC).

Objectives

1. To improve bankability and quality of PPP infrastructure projects through evaluation and claim management on the guarantee facility.

2. To improve governance and transparency in the implementation of guarantee facility.

3. To facilitate successfull transactions for Contracting Agencies (i.e. Ministries, SOEs, regional governments) by providing guarantees for well-structured PPP projects.

4. To ring-barrier government contingent liability and minimize direct bump aginst the State Budget.

Targets

In line with general objectives of the Company to provide guarantee for Public-Private Partnership in Infrastructure Sector, 2016 was viewed as momentum to book projects guaranteed by IIGF. This is expected to be a milestone of project development under PPP scheme. Therefore, several targets are formulated to be achieved focusing on guarantee facility for the projects, including:

1. Project Achieving Guarantee Phase

In 2016, IIGF projected will acquire guarantee revenue with following assumptions:

a. Projects operating in 2015 and will achieve tender completion process in 2016. The projcts forecast is below:

I) CJPP Project as a project with signed fee agreement on guarantee revenue in 2011, as a project that is estimated to give significant contribution to guarantee revenue during the Financal Close (FC) phase.

ii) Proyek Minemouth Sumsel 9 & 10. Proyek ini telah memasuki tahapan penyerahan dokumen penawaran oleh peserta lelang (bid submission). Pada saat PLN selaku PJPK melanjutkan proses ini, maka dalam waktu tiga bulan akan dapat ditentukan pemenang lelang dan penandatangan- an perjanjian penjaminan akan dapat dilaksanakan. iii) Proyek Air Minum Way Sekampung. Memasuki

tahapan penerbitan Request for Proposal, proyek ini diestimasi dapat mencapai tahapan penentuan pemenang lelang pada awal kuartal pertama tahun 2016, sehingga dapat mencapai tahapan penandatanganan perjanjian penjaminan.

iv) Proyek Air Minum Umbulan. Memasuki tahapan penerbitan, proyek ini diestimasi akan dapat mencapai tahapan penentuan pemenang lelang pada awal kuartal pertama tahun 2016, sehingga dapat mencapai tahapan penandatanganan perjanjian penjaminan.

v) Proyek Palapa Ring. Proyek ini pada bulan Oktober 2015 akan menerbitkan Request for Proposal, sehingga sesuai dengan jadwal lelang yang disampaikan oleh PJPK, penetapan pemenang lelang dapat dilakukan pada akhir tahun 2015 dan penandatanganan perjanjian penjaminan pada awal kuartal pertama tahun 2016 juga.

vi) Proyek Jalan Tol Manado-Bitung. Proyek ini baru akan diproses pada kuartal ke-empat tahun 2015 dan proses lelang diharapkan dapat diselesaikan pada kuartal pertama tahun 2016. Sehingga dapat diperkirakan bisa mencapai tahapan penandatanganan perjanjian penjaminan pada tahun 2016.

Keseluruhan asumsi di atas menggunakan informasi terbaik yang tersedia pada saat Perusahaan menyusun RKAP. Pada pelaksanaannya, hal tersebut sangat bergantung kepada kondisi, keadaan PJPK selaku pemilik proyek dan kesiapan dan minat pihak swasta untuk melaksanakan proyek-proyek tersebut. Sesuai perkembangannya, PT PII selalu melakukan penyesuaian

ii) Minemouth 9 & 10 Proejct South Sumatera. The project has entered tender document submission by the tender participants (bid submission). PLN as CA is currently continuing this process and will choose the tender winner and sign guarantee agreement within the next three months.

iii) Way Sekampung Drinking Water Project. The project has entered Request for Proposal phase, the project is estimated to achieve final tender winner phase at the first quarter of 2016 that will enter guarantee agreement signing stage.

iv) Umbulan Drinking Water Project. The project has entered issuance phase, and is estimated will arrive at final tender winner phase at the first quarter of 2016 that will enter guarantee agreement signing stage.

v) Palapa Ring Project. In October 2015, this project would issue Request for Proposal, according to tender schedule submitted by CA, final tender winner announcement would be done as end of 2015 and the agreement signing ceremony would also be held at first quarter of 2016.

vi) Manado – Bitung Toll Road Project. This new project would be processed at fourth quarter of 2015 and tender process was expected to be done by the first quarter of 2016. The project was expected to enter agreement signing ceremony in 2016.

Above assumptions were overall utilizing best information available during the Budget Plan preparation process. In the implementation phase, the execution relies on condition and situation of the CA as Project owner and readiness as well as interest of private sector to execute the projects. During the progress, IIGF keeps adjusting with the externalities and presenting report to

dengan kondisi eksternalitas tersebut dan melaporkan secara berkala kepada Pemegang Saham terkait kemajuan masing-masing proyek.

2. Proyek Masih dalam Pemrosesan Hingga Akhir Tahun. Selain proyek-proyek yang disebutkan di atas, Perusahaan secara aktif akan melakukan upaya pemrosesan beberapa proyek yang saat ini telah diidentifikasi dan juga proyek yang masih dalam target penentuan. Masing-masing proyek ini apabila dikelompokkan dalam sektornya adalah sebagai berikut:

a. Sektor Air Minum

Pada sektor air minum, contoh-contoh proyek yang akan dilakukan pemrosesan antara lain, Proyek Air Semarang Barat, Proyek Air Pondok Gede, Proyek Air Kota Palu. Khusus Proyek Air Semarang Barat walau telah dalam pemrosesan sejak awal tahun 2015, proyek ini diperkirakan mundur ke tahun 2017 dikarenakan belum dapat dikonfirmasinya status pengembangan proyek ini apakah akan tetap melalui mekanisme KPBU sebagaimana awal dibentuk atau dengan anggaran belanja negara.

b. Sektor Jalan Tol

Beberapa contoh proyek yang sudah diidentifikasi hingga saat ini berdasarkan informasi yang masuk dari BPJT, antara lain adalah:

i) Proyek Jalan Tol Cisumdawu; ii) Proyek Jalan Tol Serpong-Balaraja; iii) Proyek Jalan Tol Batang-Semarang; dan iv) Proyek Jalan Tol Pandaan-Malang.

c. Sektor Sarana & Prasarana Olahraga dan Kesenian. Sektor ini adalah sektor baru yang digagas melalui

Perpres 38/2015. Contoh dari proyek yang telah teridentifikasi antara lain adalah proyek pembangunan stadion Aquatic di Bali.

d. Sektor Persampahan & Limbah.

Model contoh proyek yang sudah diinisiasi pada tahun 2015 ini diperkirakan dapat dilakukan pemrosesannya pada tahun 2016, antara lain adalah Proyek Sistem Limbah Jakarta dan Proyek Persampahan Jakpro.

e. Sektor Fasilitas Perkotaan.

Sektor baru yang digagas melalui Perpres 38/2015. Saat ini, contoh-contoh target proyek yang dapat dikembangkan antara lain adalah proyek sistem lampu jalan Kota Bandung dan juga Proyek Rapid Bus Bandung.

the Shareholders periodically regarding progress of each project.

2. End of Year Project Under Progress

Besides above projects, the Company also done processing efforts actively to existing identified projects as well as other projects under decision target. Project classification by sector is below:

a. Drinking Water Sector.

In the drinking water sector, some of projects under progress are including West Semarang Water Project, Pondok Gede Water Project, Palu City Water Project. The West Semarang Water Project, particularly, despite had been processed since beginning of 2015, the project is estimated to be delay to 2017 due to unconfirmed project development status whether will remain under PPP mechanism as stated at the initial establishment or finance with State Budget.

b. Toll Road Sector.

Some of existing identified projects based on information from BPJT are including:

i) Cisumdawu Toll Road Project; ii) Serpong – Balaraja Toll Road Project; iii) Batang – Semarang Toll Road Project; and iv) Pandaan – Malang Toll Road Project. c. Sports & Art Facilities & Infrastructures Sector.

The Sector is new sector pioneered under Perpres 38/2015. Some of the identified projects including Aquatic Stadium development project in Bali.

d. Garbage & Waste Sector. Sampling project that had been initiated in 2015 and had the execution forecasted in 2016 were including Jakarta Waste System Project and Jakpro Waste Project.

e. Urban Facility Sector.

A new sector initiated under Perpres No. 38/2015. Example of currently developed project target including Bandung City Street Light System and Bandung Rapid Bus Project.

f. Sektor-sektor dengan skema Availability Payment.

Salah satu upaya percepatan pembangunan infrastruktur yang terus digulirkan oleh Kementerian Keuangan adalah pengembangan skema Availability Payment (AP). PT PII bersama Kementerian Keuangan telah melakukan sosialisasi dan mencari proyek-proyek yang dapat dikembangkan dengan skema ini. Hingga saat ini, telah diidentifikasi beberapa contoh proyek AP, antara lain; pengembangan Proyek Jalan Non-Tol Medan dan Proyek Pengembangan Rumah Sakit di Medan. Keduanya akan menjadi proyek percontohan dalam pengembangan skema Availability Payment. Sesuai perkembangannya, PT PII akan selalu melakukan penyesuaian, termasuk melakukan perubahan-perubahan target proyek dan sektor yang dapat diproses sesuai permintaan dari potensial PJPK selama tidak melebihi batas pagu anggaran yang diberikan pada pos aset tangguhan tahun berjalan.

3. Proyek Penjaminan dari Kegiatan Perluasan Bisnis dan Mandat (non-KPBU).

Tahun 2016 adalah tahun pertama PT PII dalam melakukan implementasi dari upaya perluasan mandat dan kegiatan bisnis usaha yang digagas sejak awal tahun 2015. Persiapan secara operasional akan dilakukan dari pemenuhan kebutuhan sumber daya hingga tahapan manual operasi dan proses bisnisnya. Dan sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa mengacu kepada kerangka peraturan perundangan yang berlaku saat ini, ruang lingkup PT PII masih terbatas dan belum secara aktif dapat mengupaya- kan pemrosesan suatu proyek, namun sebatas penugasan yang dapat diberikan pemerintah dalam memberikan penjaminan atas beberapa pinjaman-pinjaman BUMN yang menyelenggarakan pembangunan proyek infrastruktur. Saat ini, berdasarkan informasi yang diterima, proyek-proyek yang berpotensi untuk dapat dijamin antara lain adalah: a. PT Hutama Karya untuk Proyek Trans-Sumatera, dengan

ruas Pekanbaru – Dumai.

b. PT PLN untuk proyek transmisi yang didanai JICA. Proyek-proyek di atas masih akan bergantung dari kesiapan PJPK dalam memulai pembangunan proyek, ketersediaan dana dari pihak pemberi pinjaman dan penugasan dari Pemerintah kepada PT PII dalam menjamin proyek-proyek tersebut pada akhirnya.

f. Sectors under Availability Payment scheme. One of the latest infrastructure development acceleration efforts driven by Ministry of Finance was Availability Payment scheme development. PT PII and Ministry of Finance has done socialization and seek targeted projects to be developed under this scheme. Several projects example have been identified recently including Medan Non-Toll Road Project Development and Hospital Development Project in Medan. Both will be treated as pilor projects for development using Availability Payment scheme.

During the progress, IIGF keeps adjusting with changing project targets and potential sectors to be processed based on potential demand from CA as long not exceeding budget limit stipulated in current year deferred assets account.

3. Guarantee Project from Business Expansion and Mandatory (Non-PPP) Activities

2016 was the first year of IIGF implementing expansion of mandatory initiative and business activities that had been initiated since beginning of 2015. Operational preparation will be done from resource fulfillment until business operational manual and process. As explained previously, referring to current prevailing Law, scope of IIGF is limited and has not actively driven processing phase of a project, where limitedly only assignment from the Government in providing guarantee for Loans of SOEs who performed infrastructure project development.

According to available information, recently, projects with potential guarantee plan are:

a. PT Hutama Karya for Trans-Sumatera Project in Pekanbaru – Dumai section.

b. PT PLN for transmission project financed by JICA. Above projects will heavily rely on readiness of CA in starting the project development, availability of fun from the creditors and assignment from the Government to IIGF in providing guarantee facility to those projects, at the end.

4. Pengembangan Sektor.

PT PII juga terus berupaya untuk memastikan pipeline

proyek yang dapat diproses tidak terhenti dalam lintasan satu atau dua tahun ke depan. Sehingga dalam hal ini, PT PII secara berkesinambungan melakukan upaya nyata berupa pengembangan sektor. Sektor yang saat ini diperkirakan belum memiliki eksposur yang memadai untuk skema KPBU namun memiliki potensi yang besar ke depan, mudah untuk direplikasi menjadi target utama pengembangan sektor. Adapun sektor-sektor tersebut antara lain adalah sektor Pendidikan, Pengembangan Kawasan, Kesehatan, Lembaga Pemasyarakatan, Sarana & Prasarana olahraga dan Fasilitas Kota.

Pengembangan sektor ini bertujuan untuk melakukan

review terhadap regulatory, aspek kebijakan dan institusi terkait, identifikasi masalah yang akan terjadi, hambatan dan kebutuhan-kebutuhan di masing-masing sektor,

stakeholder mapping, serta identifkasi model bisnis awal yang bisa ditawarkan.

Diharapkan pada tahun 2017, akan muncul proyek-proyek yang sudah bisa diproses untuk dilakukan dengan skema KPBU.

Di luar dari yang telah disebutkan di atas, PT PII telah dimintakan persiapan mega proyek refinery/kilang yang diperkirakan akan membutuhkan penjaminan. Hal ini mengharuskan PT PII untuk mengkaji dan menganalisa kepatuhan atas peraturan perundang-undangan yang ada saat ini, sebelum dapat melaksanakan hal tersebut.

5. Penyiapan Proyek.

Sebagai salah satu upaya tambahan guna mempercepat kesiapan proyek-proyek yang dapat dibangun oleh PJPK, PT PII bekerja sama dengan Kementerian Keuangan khususnya Direktorat Pengelolaan Dukungan Pemerintah dan Pembiayaan Infrastruktur (PDPPI) memberikan bantuan finansial kepada PJPK yang berpotensi dalam pengembang an proyek infrastruktur dengan skema KPBU. Hal ini tentu masih bergantung kepada peraturan perundangan yang akan diterbitkan oleh Pemerintah mengenai mekanisme dan tata cara pemberian bantuan tersebut, termasuk pertanggungjawaban dan recoverability

dari bantuan tersebut.

4. Sector Development

IIGF also strives to ensure project pipeline to be processed and continued on track within upcoming one or two years. In this case, IIGF will consistently undertake concrete sector development efforts. The sectors which today are estimated not having sufficient exposure for PPP scheme yet but hold promising opportunity in the future, easy to be replicated as sectoral development main target. The sectors include Education, Regional Development, Health, Penitentiary, Sports Facilities & Infrastructures and City Facilities.

Development of this sector aims to review related regulatory, policy and institutional aspects, identify actual issue, constraint and requirement of each sector, stakeholder mapping as well as identification of initial business model to be offered.

In 2017, eligibile projects are expected to appear to be processed under PPP scheme.

Besides above projects, IIGF had been also requested on refinery mega project preparation that was projected needing guarantee facility. This requires IIGF to review and examine feasibility against current prevailing Law, prior executing the guarantee facility.

5. Project Preparation

As an additional effort to speed up readiness of projects developed by CA, in collaboration with Ministry of Finance particularly Government Support and Infrastructure Financing Management Directorate (PDPPI), IIGF provided financial support for potential CA in infrastructure project development with PPP scheme. This will surely rely on upcoming Law issued by the Government regarding the support mechanism and implementation, including accountability and recoverability of the supports.

6. Asumsi Pendapatan Pengelolaan Dana.

Untuk imbal hasil dari pengelolaan dana diasumsikan berkisar rerata BI rate pada tingkat 7,50% ditambah 100–125 bps (low rate interest environment) dengan pertimbangan peraturan baru OJK yang akan mengatur batas atas tingkat suku bunga dibandingkan BI rate yang berlaku sebesar 2,0%-2,25% atau 200-225 bps. Dalam lingkungan investasi di awal pemerintahan yang baru dimana kebutuhan likuiditas memiliki tingkat tertinggi (peak) yang berfluktuasi, akan sangat agresif apabila memperkirakan bank akan selalu menawarkan suku bunga pada batas atas. Estimasi wajar akan berkisar di 100-150 bps. Namun dari sudut pandang PT PII yang menekankan bahwa pengembalian dana dari investasi ini tidak semata-mata ditujukan untuk maksimalisasi pengembalian, sehingga kebijakan yang diambil oleh PT PII adalah yang bersifat konservatif, penempatan pada instrumen yang memiliki risiko rendah. Asumsi tersebut juga sangat bergantung pada kondisi makro ekonomi pada 2016, ketersediaan instrumen yang diperlukan dan kebutuhan likuiditas Perusahaan.

7. Perluasan Mandat serta Kegiatan Usaha.

Beberapa proyek yang saat ini telah dapat diidentifikasi adalah terkait penjaminan PDAM untuk sektor air minum, penjaminan BUMN terkait direct lending dan penjaminan PT Hutama Karya dalam pembangunan Trans-Sumatera. Tidak tertutup kemungkinan bahwa akan ada perubahan- perubahan atas kondisi ke depan dan PT PII akan melakukan penyesuaian-penyesuaian tersebut.

6. Revenue and Budget Management Assumption

In terms of fund management return, assuming average BI rate at 7.50% added 100 – 15 bps (low rate interest environment) with consideration of new OJK Regualtion that governs interest rate ceiling limit compared with effective BI Rate at 2.0% - 2.25% or 200 – 225 bps. In the investment environment at beginning of new Government reign, where liquidity requirement hit a volatile peak, this will be very aggressive estimating the Bank will offer interest rate at the ceiling limit. Fair estimation will stand at 100 – 150 bps. However, from IIGF perspective emphasizing that return of the investment is not only aimed to optimzie the yield, so that policy taken by IIGF remains conservative, placement with low-risk instrument. The assumption will also heavily relay on macroeconomics landscape in 2016, availability of required instruments as well as liquidity requirement of the Company.

7. Expansion of Mandatory and Business Activities

Currently identified projects are related to guarantee facility with PDAM in Drinking Water sector, with SOE related for direct lending and with PT Hutama Karya for Trans-Sumatera Development. There is also a possibility of changing conditions in the future where IIGF will undertake several adjustments.

Gambar berikut merupakan ringkasan sasaran yang hendak dicapai, mencerminkan upaya berkelanjutan dalam menghantar- kan dan menyelesaikan proyek yang sudah diproses selama lima tahun terakhir. Kesemuanya menunjukkan kesiapan internalitas PT PII dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

Sampai Dengan 2016 Up to 2016

Target Peningkatan

Increment Target Sasaran di Tahun 2017Targets in 2017

Proyek yang telah masuk tahapan RFP Project under RFP Stage

9 Proyek (- Rp135 triliun) - 2,5x 21 Proyek (- Rp174 triliun)

9 Proyek (- Rp30 triliun) > 1,5x 21 Proyek (- Rp174 triliun)

Rp9 triliun/trillion

-Rp9 triliun/ trillion - 1,5x

>2x >2x

BBB-(Fitch Ratings) Min. equl to Sovereign Rating

91 Orang dgn > 20 Key Person

91 Person with > 20 Key Person On Target 50 Orang dgn > 20 Key 50 Person with > 20 Key PersonPerson

On Target On Target Penandatanganan

Perjanjian Penjaminan Guarantee Agreement Signing

Kapasitas Penjaminan Guarantee Capacity

Leveraging Factor

Peringkat Kredit Credit Rating

Sumber Daya Manusia Human Resource

Akan tetapi, dalam menentukan strategi jangka pendek, PT PII kembali kepada mandat dan dua fungsi pokok PT PII sebagai

fiscal tools dan Perusahaan Terbatas. Mandat dan fungsi utama ini memaksa PT PII untuk fokus pada melanjutkan penyelesaian proyek yang sudah ada secepatnya di tahun 2015 namun tetap berada pada koridor kehati-hatian dan proses penjaminan yang berkualitas. Hal ini penting agar PT PII tidak kehilangan momentum dan kepercayaan yang telah didapatkan dari pasar atas pembangunan infrastruktur dengan skema KPBU.

Following illustration summarizes the Company’s targets, reflecting an ongoing efforts to bring and finish prejcts under processed for five recent years. All of these indicate internal readiness of IIGF in carrying out its duties and functions.

However, in determining short-term strategy, IIGF will focus on mandate and two main functions of IIGF as fiscal tools and Limited Company entity. These mandate and main functions enforced IIGF to focus to finish existing projects immediately in 2015 while remain in prudent corridor and high quality guarantee process. These are important for IIGF not to loose momentum and trust from the market on infrastructure development with PPP scheme.

Saat ini, PT PII sedang melakukan kajian mengenai Rencana

Dokumen terkait