BAB II LANDASAN TEOR
II. B 4 Hurried Child ditinjau dari perspektif Contracting
Elkind (2001) mengatakan bahwa keluarga merupakan sekolah bagi anak untuk mempelajari hubungan antar-manusia dalam lingkungan sosial nantinya. Elkind mengemukakan teori Contract Model yang menyatakan bahwa dalam mempelajari sosialisasi, selalu tersirat adanya harapan yang saling timbal balik antara anak dan orang tua, baik itu tidak disadari ataupun harapan yang tidak secara verbal.
Pembelajaran anak terhadap realitas sosial selalu dimediasi oleh orang tua ataupun pengasuhnya (caretakers). Mediasi maksudnya bahwa orang tua dan caretakers bertindak untuk membantu anak dalam membentuk pengertian terhadap realitas sosial, yang sudah dimulai dari kehidupan awal anak. Walaupun
konstruk tentang realitas sosial dimediasi oleh caretakers tertentu, akan tetapi ada suatu ketetapan dalam konstruk realitas sosial dalam harapan orang tua dan anak. Dan antara satu keluarga dengan keluarga yang lain, konstruk realitas sosial itu memiliki suatu kesamaan dan membentuk realitas kolektif (collective realities). Realitas kolektif yang terbentuk antara setiap anak dan orang tua disebut Elkind (2001) sebagai kontrak orang tua – anak (parent-child contract)
Ada tiga jenis kontrak yang terkait dengan parent-child contract, antara lain:
1. Freedom – Responsibility Contract (Kontrak Kebebasan – Tanggung Jawab)
Kontrak kebebasan-tanggungjawab merupakan dasar dari semua pola asuh orang tua. Di satu sisi, orang tua menuntut tanggung jawab anak terhadap suatu tugas tertentu, dan jika terpenuhi, orang tua akan memberikan kebebasan untuk hal tertentu. Dalam hal ini, orang tua juga harus peka mengawasi perkembangan level kecerdasan, kemampuan sosial dan emosional anak, supaya dapat menentukan kebebasan dan kesempatan mana yang tepat supaya anak bisa berlatih untuk menjadi bertanggung jawab.
Kekerasan terhadap kontrak (contractual violation) terjadi ketika orang tua tidak memberikan kebebasan atas tanggung jawab yang sudah dipenuhi anak, atau ketika anak meminta kebebasan tanpa menunjukkan tanggung jawabnya, sehingga kondisi ini menjadi sangat stres.
Ketika anak masih bayi, orang tua tidak mengharapkan banyak tuntutan tanggung jawab serta anak memperoleh sejumlah kebebasan. Ketika anak sudah menjadi balita (early childhood), anak menjadi lebih ingin mendapatkan kebebasan yang sebenarnya mereka belum siap mendapatkannya. Tindakan orang tua yang tidak memberikan kebebasan setelah anak gagal memperlihatkan kemampuannya melalui trial error, dapat membantu anak untuk mengetahui keterbatasan dari kemampuan yang mereka miliki. Dan selama anak mengerti bahwa mereka akan memiliki kesempatan lebih banyak untuk mencoba di kemudian hari, maka mereka akan terus belajar.
Pada usia later childhood, pengaturan kontrak menjadi lebih abstrak, karena kemampuan bahasa dan reasoning power anak usia sekolah ini. Anak biasanya tidak akan menerima penilaian sepihak dari orang tua dan akan memperdebatkan permasalahan mereka untuk mendapatkan kebebasan tertentu, misalnya tidur lebih larut, makan makanan siap saji, dsb.
Pada usia remaja (adolescence), kontrak orang tua-anak mencapai suatu tahap komplesitas. Kontrak menjadi lebih abstrak, umum dan menyatu dengan aturan moral dan etika lainnya, serta peraturan untuk masyarakat yang lebih luas. Misalnya, untuk boleh mengemudikan mobil keluarga, hal itu ditentukan oleh pemahaman orang tua terhadap tanggung jawab anak, dan juga usia anak, dan Kontrak ini mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab nantinya.
Anak yang memasuki masa remaja tanpa kontrak kebebasan-tanggung jawab yang serius, lebih cenderung mengambil kebebasan yang tidak aman daripada anak dengan pemahaman yang kuat bahwa setiap kebebasan diperoleh dari prilaku yang bertanggung jawab.
Kontrak kebebasan-tanggung jawab ini adalah salah satu yang sering dilanggar ketika anak didorong untuk bertumbuh kembang lebih cepat, misalnya dengan memberikan kebebasan yang mereka belum siap menerimanya, seperti tinggal di rumah sendirian. Apa yang terjadi selanjutnya adalah anak biasanya belajar prilaku bertanggung jawab yang dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan kebebasan yang mereka dapatkan (yang sebenarnya mereka belum siap menerimanya). Tapi mempelajari prilaku bertanggungjawab ini juga stresful dan mungkin dicapai dengan mengorbankan aktivitas lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan yang utuh, misalnya waktu untuk bermain atau aktifitas fantasi.
2. Achievement – Support Contract (Kontrak Prestasi – Dukungan)
Tipe kedua dari realitas (reality) yang terbentuk antara orang tua dan anak meliputi prestasi dan dukungan. Orang tua secara umum memiliki harapan tertentu akan prestasi anak yang mereka dukung secara kognitif, afektif dan materi.
Ketika anak masih bayi (infant), orang tua mengharapkan terutama prestasi sensori motor dari anak mereka, dan dukungan dari orang tua kebanyakan adalah dukungan afektif. Ketika bayi mampu untuk
mengangkat kepala mereka, atau berdiri di pangkuan ibunya, atau mengucapkan kata-kata tertentu (Papa, Mama), maka orang tua akan merespon dengan senyuman, tertawa, pelukan bahkan tangisan bahagia tanda penerimaan terhadap prestasi yang ditunjukkan anak. Dengan cara ini, anak belajar bahwa suatu prestasi akan dihargai oleh orang tua.
Prestasi anak ketika memasuki usia sekolah semakin dibedakan, dan semakin jelas di tiga domain utama yaitu, akademik, interpersonal dan ekstrakurikuler. Tidak seperti masa bayi atau prasekolah, prestasi pada masa ini, memiliki dimensi sosial dan melibatkan interaksi dengan guru, teman sebaya dan orang dewasa lainnya. Pada tahap ini, anak tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas prestasi mereka seperti pada masa bayi dan prasekolah dulu. Dan penting agar orang tua menghargai interaksi ini dan mengetahui bahwa kesuksesan dan kegagalan pada domain ini, tidak sepenuhnya merupakan perbuatan anak saja, tapi juga melibatkan interaksi dengan pihak lain.
Orang tua, sebaliknya juga memperluas dukungan kepada anak pada masa ini. Misalnya, meningkatkan dukungan materi untuk anak, menyediakan pakaian dan peralatan sekolah, uang, dan peralatan untuk kegiatan ekstrakurikuler. Orang tua dari kelas ekonomi menengah menunjukkan dukungan pada anak dengan mengantar mereka ke sekolah, rumah teman, les dsb. Orang tua juga menunjukkan dukungan dengan hadir pada aktivitas ekstrakurikuler atau penampilan anak mereka dalam drama sekolah, menyanyi, menari, dsb. Pentingnya kehadiran orang tua
sebagai bentuk dukungan terhadap prestasi anak tidak boleh dianggap remeh. Hal itu merupakan suatu tanda yang jelas bahwa orang tua peduli dengan anak ketika orang tua meluangkan waktu untuk datang dan melihat penampilan anak mereka.
Pada masa remaja, prestasi di bidang akademik, interpersonal dan ekstrakurikuler semakin diharapkan dan orang tua menjadi lebih mengutamakan tuntutan di domain ini. Orang tua mungkin akan mengharapkan anak remaja berusaha dengan baik di les, atau merasa tidak senang dengan pola persahabatan tertentu (misalnya anak berteman dengan gelandangan), atau tidak menyetujui beberapa jenis ekstrakurikuler (misalnya orang tua ingin anak main basket, tapi anak lebih suka main rugby). Pada tahap ini, untuk pertama kalinya, orang tua dan anak mungkin bertentangan dalam menentukan prestasi mana yang lebih berharga dan penting.
Sebagai tambahan, khususnya dalam keluarga kelas ekonomi menengah, anak muda sering terlibat dalam “achievement overload”. Terlalu banyak tekanan pada pencapaian prestasi, sehingga anak-anak memadatkan jadwal mereka semaksimal mungkin (overload schedule). Seorang anak mungkin mengambil les balet, piano, softball di sekolah, menjadi sukarelawan di rumah sakit, dan masih membawa beban mata pelajaran yang banyak di sekolah. Bahkan orang tua sendiri merasa susah untuk memberikan dukungan untuk semua aktivitas yang sangat padat ini. Achievement overload biasanya terjadi karena anak salah-baca (misread),
salah menafsirkan dukungan orang tua terhadap prestasi. Ketika anak muda (young children) menganggap bahwa orang tua hanya peduli pada bagaimana baiknya prestasi mereka, maka kebutuhan untuk pencapaian prestasi semakin kecanduan.
Makna dukungan yang sebenarnya harus dikomunikasikan kepada anak, bahwa prestasi yang ditunjukkan mendapat dukungan karena dukungan itu baik untuk anak-anak. Ketika anak merasa bahwa prestasi adalah untuk orang tua, dan bukan untuk diri mereka sendiri, maka mereka bisa saja menyerah (tidak lagi mau berprestasi) atau malahan menjadi achievement overload untuk memastikan dukungan orang tua tetap didapatkan. Intinya, perhatian orang tua menjadi satu-satunya alasan anak untuk mencetak prestasi, bukannya mencetak prestasi untuk mengembangkan diri sendiri.
Remaja juga masih membutuhkan dukungan afektif, seperti pelukan, tepukan, dsb. Dukungan afektif seperti ini mengkomunikasikan bahwa orang tua mendukung anak sebagai seseorang yang dicintai dan disayangi orang tua, bukan semata-mata atas prestasi yang sudah dicapai anak. Hal inilah yang biasanya terabaikan untuk dilaksanakan kebanyakan orang tua yang memburu anak mereka dari sederetan tuntutan prestasi.
3. Loyality – Commitment Contract (Kontrak Kesetiaan – Komitmen) Tipe ketiga dari realitas (reality) yang terbentuk antara orang tua dan anak melibatkan kesetiaan dan komitmen. Secara umum, orang tua
mengharapkan sejumlah kesetiaan tertentu dari anak sebagai balasan atas waktu, energi, usaha dan pengeluaran yang sudah dihabiskan orang tua untuk membesarkan anak.
Pada masa bayi (infants), orang tua secara intuitif mengharapkan bayi mereka akan setia kepada orang tua seperti kelekatan pada orang tua, takut untuk berpisah, dsb. Rasa takut berpisah (fear of separation) seperti yang diketahui, merupakan tanda kelekatan, dan sebenarnya juga ekspresi kesetiaan anak kepada orang tua. Anak yang menolak berespon kepada orang asing, akan membuat orang tua mereka merasa bahagia karena kesetiaan anak kepada mereka.
Pada masa awal kanak-kanak (early childhood), anak mengkonstruksikan gagasan tentang simbol diri seperti penggunaan kata “saya”, “punya saya” dengan namanya, atau dengan nama keluarga. Pada tahap ini, orang tua mulai mengharapkan selain anak menunjukkan kesetiaan kepada orang tua sebagai se-seorang, anak juga menunjukkan kesetiaan kepada simbol yang mewakili orang tua, misalnya marga. Sedangkan orang tua, menunjukkan komitmen dalam hal jumlah waktu dan perhatian dalam membesarkan anak.
Ketika anak memasuki usia sekolah, kesetiaan anak sekarang diukur dari kepatuhan mereka terhadap aturan. Ketika anak berbohong pada orang tua, orang tua akan marah, sebenarnya, karena orang tua menilai tindakan berbohong ini merupakan prilaku tidak setia anak kepada orang tua. Orang tua mengharapkan anak mereka setia kepada aturan yang dipegang oleh
orang tua, seperti ketika orang tua mengharapkan anak juga setia kepada simbol yang mewakili orang tua.
Ketika masuk ke masa remaja, anak menjadi mampu dalam berpikir dengan level tinggi dan memiliki konsep baru tentang dunia dan diri sendiri. Anak juga membentuk suatu konsep berpikir reflektif yang dapat berpikir tentang pikiran diri sendiri dan juga pikiran orang lain. Maka tuntutan kesetiaan yang diinginkan orang tua juga berubah. Orang tua menginginkan anak untuk setia kepada keyakinan dan nilai-nilai yang dianut orang tua, sebagaimana kesetiaan anak kepada orang tua sebagai manusia, kepada simbol keluarga dan aturan moral. Misalnya, orang tua akan menganggap pacaran dengan orang dari suku dan agama yang berbeda serta ditentang keluarga, sebagai suatu ketidaksetiaan anak kepada orang tua.
Pada usia remaja ini, anak juga mengembangkan gambaran mengenai orang tua yang ideal (ideal parent), yang sempurna di segala sisi. Kemudian membandingkan dengan orang tua nyata (real parent). Biasanya anak akan menemukan ada beberapa sisi dari orang tua yang memprihatinkan, dari segi cara berpakaian, penampilan, kebiasaan, karakter, dsb. Sikap yang kritis seperti ini, dianggap orang tua sebagai berkurangnya kesetiaan anak kepada orang tua.
Anak yang ditekan untuk bertumbuh kembang lebih cepat, sering merasa adanya komitmen yang kurang dari orang tuanya, dan biasanya bersikap lebih kritis kepada orang tuanya daripada anak yang tidak
hurried. Anak hurried mungkin merasa bahwa orang tua mereka lebih peduli pada hidup, karier dan pergaulan mereka sendiri daripada peduli pada anak mereka yang hurried. Ketika anak memasuki masa remaja, mereka merasa tidak perlu setia kepada orang tua, baik sebagai suatu pribadi, atau kepada nilai dan keyakinan yang orang tua mereka anut. Ketika anak merasa orang tua sudah melanggar kontrak, maka mereka merasa mereka tidak memiliki kewajiban lagi untuk memenuhi kewajiban sebagai salah satu pihak dalam kontrak tersebut.
Efek negatif dari membuat anak menjadi hurried adalah, rusaknya kontrak kesetiaan-komitmen antara orang tua dan anak. Walaupun kerusakan kontrak itu terjadi pada masa kanak, namun konsekuensinya biasanya lebih terlihat setelah anak memasuki masa remaja. Anak akan menjadi lebih kritis dalam menyikapi tindakan orang tuanya.
Berdasarkan pembahasan teori Contracting terhadap hurried child, maka peneliti membatasi subjek penelitian pada kategori remaja. Alasannya adalah dengan mempertimbangkan dari segi kontrak achievement-support, bahwa pada usia remaja, tuntutan untuk prestasi akademik semakin diutamakan orang tua. Dan dari segi kontrak loyality-commitment, bahwa pada usia remaja, anak menjadi lebih kritis dalam melihat tuntutan orang tua terhadap dirinya. Sehingga dinamika sikap anak yang kritis lebih kelihatan pada masa remaja daripada masa kanak- kanak.
Istilah hurried child yang dipakai Elkind dalam hal ini masih relevan pada remaja. Istilah child yang digunakan Elkind adalah mengacu kepada anak, dan
ketika menyebut remaja (adolescence), Elkind masih menggunakan kata anak (child) sehingga makna kata anak (child) tidak semata-mata pada kategori usia kanak-kanak (preschool, school-age) saja, tapi mengacu kepada seorang anak dari sepasang orang tua. Dalam hal ini, maka remaja juga masih dalam cakupan child yang disebut oleh Elkind (2001).