BAB II LANDASAN TEOR
II. B 3 Penyebab munculnya Hurried Child
Elkind (2001) mengatakan ada beberapa pihak yang menyebabkan seorang anak menjadi anak yang hurried, antara lain dari:
1. Orang tua
Orang tua sebagai significant person dari anak, memiliki pengaruh yang besar pada anak. Berikut adalah beberapa kondisi dimana orang tua berpotensi menjadikan anak menjadi hurried :
a) Kondisi stress yang dialami menyebabkan orang tua lebih egois dan tidak bisa memperhatikan kebutuhan orang lain, termasuk anak. Stres pada orang tua misalnya ketakutan akan ancaman kekerasan, kriminal dan intimidasi, kehidupan yang sendirian karena perceraian atau single parent, rasa tidak aman karena pengangguran, inflasi, kenaikan harga barang, dsb. Stres menyebabkan seseorang menjadi lebih self-centered dan menjadi sulit melihat orang lain dalam segala komplesitas kepribadian mereka. Orang tua yang stres akan memperlakukan anak adalah sebagai suatu objek, bukan lagi subjek serta menjadi lebih sulit terlibat dengan masalah anak.
b) Anak sebagai Surrogate Self – ketika orang tua gagal di pekerjaan mereka (job dissatisfaction), maka performance anak yang menonjol di aktivitas tertentu akan dijadikan ‘pelarian’ atas kegagalannya. Sehingga kadang, orang tua menjadi lebih peduli pada aktivitas anak daripada kehidupan pekerjaannya sendiri. Dengan cara ini orang tua memberi beban pada anak dan merampas kesenangan anak ketika beraktivitas.
c) Bragging rights - Anak dianggap sebagai pelarian atas rasa bosan dan kesepian orang tua sehingga anak cenderung didorong untuk menjadi mini-achievers. Ketika orang tua bangga dengan prestasi anak, anak mulai dibebankan dengan pengharapan untuk masuk ke sekolah bergengsi. Ketika mengantar jemput anak, menghadiri rapat orang tua, acara sekolah dsb, akan menimbulkan perasaan bangga pada orang tua bahwa betapa pedulinya dia pada anaknya. Orang tua – terutama ibu – yang tidak bekerja, akan membuat anak mereka lebih banyak berprestasi sebagai pembenaran (justification) atas kondisi dirinya yang tidak bekerja. Namun dengan demikian, orang tua meletakkan beban berat pada anak.
d) Orang tua yang bekerja akan kekurangan waktu untuk memperhatikan anak mereka. Orang tua – terutama ibu – yang bekerja akan lebih stres daripada yang tidak bekerja. Anak harus menyesuaikan diri dengan jadwal orang tua dan lebih mandiri. Anak harus bangun lebih awal,
berpakaian, makan dan dibawa ke pengasuh atau sekolah. Dalam keluarga ini, anak akan menjadi hurried ketika:
Harus mengalami banyak perubahan ketika menyesuaikan diri dengan jadwal orang tua
Harus memikul tanggung jawab dan harapan orang dewasa – terlalu dini. Misalnya pada remaja yang diberi tanggung jawab untuk mengurus pekerjaan rumah karena orang tua bekerja. Membantu orang tua bekerja merupakan kewajiban anak, akan tetapi memberikan tanggung jawab atas pekerjaan itu merupakan suatu tekanan bagi anak.
Harus melakukan pengambilan keputusan yang belum sesuai usia dan kemampuannya. Ini terutama jika keluarga adalah single parent. Sehingga orang tua meminta anak untuk menjadi rekan dalam mendiskusikan atau membuat keputusan tertentu untuk suatu masalah.
e) Anak menjadi Terapis untuk orang tua – terutama orang tua yang single / bercerai. Ketika orang tua stress, anak akan dijadikan simbol pendengar yang baik. Anak menjadi hurried dengan membuat anak terlibat dalam hubungan interpersonal orang dewasa.
f) Anak menjadi Conscience untuk orang tua. Anak di-hurried ketika orang tua melakukan kesalahan dan mengharapkan anak untuk bisa memahami dan menerima prilaku orang tua yang sebenarnya secara moral salah dan tidak disetujui masyarakat.
Bagaimanapun juga, tuntutan supaya kedua orang tua bekerja diluar rumah zaman sekarang sudah semakin tinggi. Tapi hal itu jangan menjadikan orang tua buta dengan pembentukan tanggung jawab, pencapaian prestasi dan kesetiaan anak. Orang tua seharusnya mengatur kehidupan mereka dan kehidupan anak-anak mereka, sehingga anak tidak sampai diberikan kebebasan yang tidap tepat, tidak sampai dituntut untuk berprestasi di luar kemampuan mereka sehingga orang tua tetap dapat bekerja dan tidak membuat anak mereka terburu dalam perkembangannya.
2. Sekolah
Elkind (2001) mengatakan ada beberapa hal yang dilakukan oleh pihak pendidikan kadang membuat anak menjadi hurried. Beberapa diantaranya adalah :
a) Mengabaikan adanya individual differences, dalam hal gaya belajar, kemampuan mental dan kecepatan belajar. Ketika anak dihadapkan pada serangkaian tes yang tidak sanggup mereka kerjakan, mereka akan menyalahkan diri sendiri untuk kegagalan mereka karena semua orang dewasa mengatakan dia harusnya bisa, tapi dia tak bisa, artinya ada sesuatu yang salah pada dirinya. Kegagalan di akademik ini akan menyebabkan anak merasa rendah diri di depan guru, dan teman- teman. Tekanan ini merupakan hal yang berat untuk dipikul seorang anak. Dan merupakan tekanan untuk berprestasi dini dan tumbuh kembang lebih cepat.
b) Memberikan kurikulum lebih cepat dari yang seharusnya. Prinsip “mengisi botol lebih cepat (faster), dan sekaligus lebih awal (earlier)”. Hal ini bisa dilihat dari, tindakan sekolah yang kadang memasukkan anak ke kelas dengan usia yang lebih muda dari yang biasanya. Dan juga pemberian kurikulum yang lebih cepat. Misalnya, saat ini sistem pendidikan Indonesia sudah memberikan pelajaran Kimia untuk anak SMP. Padahal dulunya pelajaran Kimia baru dimulai pada tingkat SMU.
c) Aktivitas yang membosankan, terus menerus, tidak berarti dan serangkaian kegiatan rutin.
3. Media Massa
Media seperti televisi, memiliki program-program yang belum pantas dilihat anak. Penerapan jam tayang dan kategori usia pada program- program yang ditayangkan televisi belum sepenuhnya bermanfaat. Berdasarkan data statistik, Elkind (2001) mengatakan bahwa anak-anak lebih banyak menonton televisi dibandingkan dengan tingkat usia lainnya. Semakin tinggi tingkat usia seseorang, semakin berkurang waktu untuk menonton televisi. Oleh karena itu, banyak hal-hal seperti kekerasan, seksual, bisa saja disaksikan anak lewat televisi.
Selain itu, McDonnell (2002) juga mengatakan bahwa anak sekarang telah menjadi konsumen dalam usia yang sangat dini. Mereka menjadi
lebih brand aware. Anak balita mengetahui bahwa mereka sedang memakai Pampers atau Huggies.
Jadi, faktor yang menyebabkan anak menjadi hurried, tidak hanya satu atau dua penyebab. Akan tetapi, berbagai segi kehidupan manusia saat ini telah menciptakan suatu kondisi yang saling mempengaruhi satu sama lain, faktor orang tua, sekolah ataupun media, untuk membuat anak tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya.
Dalam penelitian ini, peneliti akan memfokuskan perhatian pada anak yang hurried di bidang akademik karena tuntutan orang tua. Pada sub-bab berikutnya, peneliti akan membahas lebih detail mengenai hubungan antara orang tua dan anak.