C. Uraian materi
4. Bacaan, gerakan dan rahasia yang terkandung di dalam shalat
(HR. Al-Bukhari)
Artinya :
Dari wail bin Hujr : “Saya pernah shalat bersama rasulullah SAw, beliau bersalam (dengan menoleh) ke kanan (dengan mengucap) : Assalamu ‘ alaikum warahmatullah wabarokatuh, dan (menoleh ) ke kiri (dengan mengucapkan) : Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh (HR. Abu Daud dari sanad yang shahih)
11. Tertib
Tertib artinya melakukan rukun-rukun shalat secara berurutan. Oleh karena itu janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan janganlah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
29
Duduk untuk tasyahhud itu dapat juga dikatakan
termasuk rukun, karena tasyahhud akhir itu termasuk
rukun
7.
Membaca salam
Hal ini berdasarkan hadits nabi :
Artinya :
Dari Wail bin Hujr : “Saya pernah shalat bersama
rasulullah SAW, beliau bersalam (dengan menoleh) ke
kanan (dengan mengucap) : Assalamu ‘ alaikum
warahmatullah wabarokatuh, dan (menoleh ) ke kiri
(dengan
mengucapkan)
:
Assalamu’alaikum
warahmatullah wabarokatuh (HR. Abu Daud dari sanad
yang shahih)
8.
Tertib
Tertib artinya melakukan rukun-rukun shalat secara
berurutan. Oleh karena itu janganlah seseorang membaca
surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan janganlah
ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda
Rasulullah SAW.
Artinya :
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.
(HR. Al-Bukhari)
Artinya :
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. (HR. Al-Bukhari)
4. Bacaan, gerakan dan rahasia yang terkandung di dalam shalat.
Uraian berikut akan menjelaskan tentang gerakan – gerakan dan bacaan shalat beserta rahasia hikmah yang terkandung di dalamnya. Rahasia dan hikmah shalat lebih ditekankan pada tinjauan dari aspek kesehatan, baik kesehatan fisik maupun psikis. Pemahaman rahasia dan hikmah gerakan dan bacaan shalat bagi setiap muslim sangat penting, agar mereka dapat melakukan shalat dengan kusyu’ dan mampu merasakan kemanfaaan shalat secara riil dalam kehidupan sehari – hari. Adapun urutan gerakan, bacaan dan rahasia kandungan yang ada
Keterampilan Ibadah
di dalamnya dapat diuraikan sebagai berikut. a. Berdiri bagi yang mampu.
Seorang muslim yang hendak melakukan shalat hendaklah berdiri tegak setelah masuk waktu shalat dalam keadaan suci dan menutup aurat serta menghadap kiblat dengan seluruh anggota badannya tanpa miring atau menoleh ke kiri dan ke kanan.
Posisi berdiri dalam shalat harus simetris antara belahan tubuh kanan dan kiri. Berat badan menumpu di telapak kaki, dibagi di kedua kaki kanan dan kiri sama berat.
Di telapak kaki terdapat titik – titik refleksi yang sangat penting untuk menstimulasi organ – organ dalam tubuh orang yang sedang shalat. Cara menumpu yang demikian akan membantu postur tubuh kita lurus, serasi dan tegap.
Tulang punggung berada pada posisi tegak alami yang memung- kinkan susunan saraf berfungsi optimal, demikian pula organ – organ yang berhubungan dengannya. Berdiri tegak simetris dimana tumpuan berat badan merata akan membuat kompaksitas susunan tulang penyangga
tubuh menjadi rata. Hal ini bermanfaat terhadap penurunan resiko terjadinya patah tulang yang sering begitu mudah terjadi meski hanya dengan terpeleset di kamar mandi, turun tangga, keserimpet tali, dan lain – lain (trivial injury). Dalam hukum Wolf (wolf Law) disebutkan, bahwa berat tubuh yang bertumpu di tungkai akan diproyeksikan dan didistribusikan di sepanjang tungkai. Jalur distribusi ini akan membuat tulang lebih padat, sementara bagian yang berada di luar jalur lebih tipis matriknya.
Kemudian berniat untuk melakukan shalat yang ia maksudkan. Berniat shalat boleh di dalam hati atau dilafadzkan secara sirr.
Niat merupakan kesadaran untuk menyatukan kegiatan otak kiri dan otak kanan sehingga menghasilkan rasa sambung (tuning) dalam kegiatan shalat. Berniat dalam shalat tidak hanya sekedar mengucapkan ”...aku berniat shalat fardhu dhuhur empat rekaat dengan menghadap qiblat hanya karena Allah...”. Niat yang hanya dipahami ”membaca niat” maka tidak akan berpengaruh apa – apa terhadap shalat kita. Niat merupakan aktivitas yang penuh kesadaan dan keterpaduan antara pikiran, hati, dan perbuatan. Ketiganya harus berpadu untuk menghasilkan sebuah tindakan yang baik. Perbuatan sadar adalah tindakan yang benar – benar dikehendaki oleh pelakunya, yaitu tindakan yang telah dipilihnya berdasarkan pada kemauan sendiri, kemauan bebasnya sehinga tindakan yang dilakukan tanpa adanya tekanan dan ancaman dari siapapun. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, niat shalat tidak hanya secara formal kita mengucapkan niat pada awal shalat. Niat dalam shalat harus merasuk pada sepanjang aktivitas shalat, yang akan mengontrol, mengendalikan dan memfokuskan kekuatan konsentrasi kita dalam bermunajat kepada sang Khaliq.
b. Melakukan takbiratul ihram
Yaitu membaca Allahu Akbar sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahun, dan kedua telapak tangan menghadap ke qiblat.
Pada saat mengangkat kedua tangan ketika bertakbiratul ihram, bahu agak terangkat sedikit, tulang – tulang rusuk ikut terangkat sedikit menimbulkan pelebaran rongga dada. Akibatnya tekanan udara di dalam rongga mengecil dan memudahkan udara nafas masuk dengan cepat.
0 Keterampilan Ibadah
Pada saat yang sama kita mengucapkan Allahu Akbar dalam keadaan dinding dada sedang meregang.
Untuk dapat mengucapkan satu kata, udara harus mengalir keluar guna menggetarkan pita suara, dan hal ini hanya bisa dikerjakan oleh sekat rongga badan. Hal demikian merupakan sinergi organ – organ tubuh yang rapi dan efektif, yang berpengaruh terhadap fungsi – fungsi fisiologis lainnya karena di otak terjadi asosiasi dan sinkronisasi pusat – pusat pengaturan gerakan dan keja organ – organ dalam.
Ketika mengangkat kedua tangan, ketiak terbuka. Ketiak adalah stasiun regional utama bagi peredaran getah bening (limfe) yang merupakan kumpulan dari keseluruhan anggota gerak bagian atas (tangan, lengan bawah, lengan atas, dan bahu). Gerakan takbir ini adalah gerakan ”active pumping” yang sangat bermanfaat.
Setelah bertakbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan, kemudian meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada atau di bawahnya tetapi di atas pusar.
Peletakan kedua tangan di dada dengan cara tangan kiri ditempelkan di dada, tangan kanan menempel di atasnya dapat dilakukan dengan sedikit mengangkat bahu, kalau tidak maka posisinya terletak di perut. Cara demikian ini dapat pula mempertahankan posisi ketiak sebagai stasiun peredaran getah bening (limfe) tetap terbuka.
1
Dra. Siti Zumrotun, M.Ag
c. Membaca do’aiftitah dilanjutkan fatihah
30
Artinya :
Ya Allah jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana
Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah
bersihkanlah aku dari kesalahan – kesalahanku sebagaimana
baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah ccilah aku dari
kesalahan – kesalahanku dengan air, salju, dan embun
Do’a iftitah tersebut diriwayatkan oleh Imam al Bukhory
Muslim dari Abi Hurairah r.a. Atau membaca do’a iftitah di
bawah ini yang diawali dengan takbir iftitah :
Artinya :
Allah adalah yang paling Besar dari segala yang besar, sedang
Dia Tuhan yang senantiasa Besar, segala puji hanya kepunyaan
Allah, pujian yang banyak; dan maha Suci Allah (aku akui
kesucian Allah) pada tiap pagi dan petang.
Takbir iftitah di atas diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Umar.
Do’a iftitah yang lain :
Artinya :
Ya Allah jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan – kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah ccilah aku dari kesalahan – kesalahanku dengan air, salju, dan embun
Do’a iftitah tersebut diriwayatkan oleh Imam al Bukhory Muslim dari Abi Hurairah r.a. Atau membaca do’a iftitah di bawah ini yang diawali dengan takbir iftitah :
Artinya :
Ya Allah jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana
Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah
bersihkanlah aku dari kesalahan – kesalahanku sebagaimana
baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah ccilah aku dari
kesalahan – kesalahanku dengan air, salju, dan embun
Do’a iftitah tersebut diriwayatkan oleh Imam al Bukhory
Muslim dari Abi Hurairah r.a. Atau membaca do’a iftitah di
bawah ini yang diawali dengan takbir iftitah :
Artinya :
Allah adalah yang paling Besar dari segala yang besar, sedang
Dia Tuhan yang senantiasa Besar, segala puji hanya kepunyaan
Allah, pujian yang banyak; dan maha Suci Allah (aku akui
kesucian Allah) pada tiap pagi dan petang.
Takbir iftitah di atas diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Umar.
Do’a iftitah yang lain :
Artinya :
Allah adalah yang paling Besar dari segala yang besar, sedang Dia Tuhan yang senantiasa Besar, segala puji hanya kepunyaan Allah, pujian yang banyak; dan
Keterampilan Ibadah
maha Suci Allah (aku akui kesucian Allah) pada tiap pagi dan petang.
Takbir iftitah di atas diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Umar. Do’a iftitah yang lain :
31
Artinya :
Saya hadapkan diriku kepada Tuhan yang telah menjadikan
langit dan bumi, hal keadaanku seorang yang condong benar –
benar kepada kebenaran lagi seorang yang menyerahkan diri,
tunduk dan patu, dan sekali – kali aku bukan orang yang
mempersekutukan sesuatu dengan Allah. Bahwasanya shalatk,
ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Tuhan yang
memelihara alam, tak ada sekutu baginya. Demikianlah aku
diperintahkan Allah, dan aku adalah salah seorang dari orang
– orang yang mula – mula menyerahkan diri, jiwa dan raga
untuk Allah (untuk berjihad di jalannya). Wahai Tuhanku
Engkaulah Raja yang Memerintah / Berkuasa, tak ada Tuhan
melainkan Engkau, Engkau Tuhanku dan aku hamba-Mu. Aku
telah mendhalimkan diriku, aku mengakui dosa, maka
ampunilah segala dosa – dosaku, sesungguhnya tak ada yang
dapat mengampuni dosa – dosaku melainkan Engkau. Dan
tunjukkanlah aku kepada sebaik – baiknya perangai, tak ada
yang dapat menunjukkan aku kepada sebaik – baik perangai
selain Engkau. Jauhkanlah dariku pekerti – pekekrti yang
buruk, tak ada yang sanggup memalingkanku dari pekerti –
pekerti yang buruk selain Engkau. Aku penuhi seruan – Mu, aku
tunduk patuh di bawah perintah – Mu, segala kebaikan di
tangan – Mu, segala bentuk kejahatan tak ada pada – Mu, aku
Artinya :
Saya hadapkan diriku kepada Tuhan yang telah menjadikan langit dan bumi, hal keadaanku seorang yang condong benar – benar kepada kebenaran lagi seorang yang menyerahkan diri, tunduk dan patu, dan sekali – kali aku bukan orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah. Bahwasanya shalatk, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Tuhan yang memelihara alam, tak ada sekutu baginya. Demikianlah aku diperintahkan Allah, dan aku adalah salah seorang dari orang – orang yang mula – mula menyerahkan diri, jiwa dan raga untuk Allah (untuk berjihad di jalannya). wahai Tuhanku Engkaulah Raja yang Memerintah / Berkuasa, tak ada Tuhan melainkan Engkau, Engkau Tuhanku dan aku hamba- Mu. Aku telah mendhalimkan diriku, aku mengakui dosa, maka ampunilah segala dosa – dosaku, sesungguhnya tak ada yang dapat mengampuni dosa – dosaku melainkan Engkau. Dan tunjukkanlah aku kepada sebaik – baiknya perangai, tak ada yang dapat menunjukkan aku kepada sebaik – baik perangai selain Engkau. Jauhkanlah dariku pekerti – pekekrti yang buruk, tak ada yang sanggup memalingkanku dari pekerti – pekerti yang buruk selain Engkau. Aku penuhi seruan – Mu, aku tunduk patuh di bawah perintah – Mu, segala kebaikan di tangan – Mu, segala bentuk kejahatan tak ada pada – Mu, aku dan Engkau dan kepada Engkau Maha Berbahagia Engkau dan Maha Tinggi. Aku memohonkan ampun kepada Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau
Doa iftitah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, At Turmudzi, Abu Daud, dari Abu Hurairah, r.a.
Kemudian membaca surat al Fatihah :
32
dan Engkau dan kepada Engkau Maha Berbahagia Engkau dan
Maha Tinggi. Aku memohonkan ampun kepada Engkau dan aku
bertaubat kepada Engkau
Doa iftitah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, At
Turmudzi, Abu Daud, dari Abu Hurairah, r.a.
Kemudian membaca surat al Fatihah :
Artinya :
Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) syaitan yang
terkutuk. Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya kepunyaan Allah yang
memelihara segala alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada
Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami
mohon pertolongan. Ya Allah tunjukilah kami ke jalan yang
lurus. Yaitu jalan orang – orang yang telah Engkau beri nikmat
kepadanya, bukan jalan orang – orang yang dibencikan dan
bukan pula jalan orang – orang yang sesat. Ya Allah
kabulkanlah permintaan kami
Artinya:
Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya
Artinya :Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) syaitan yang terkutuk. Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya kepunyaan Allah yang memelihara segala alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Ya Allah tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Yaitu jalan orang – orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan jalan orang – orang yang dibencikan dan bukan pula jalan orang – orang yang sesat. Ya Allah kabulkanlah permintaan kami
Lalu membaca salah satu surat atau ayat yang dianggap mudah di antara surat atau ayat-ayat Al-Qur’an. Arti setiap bacaan shalat perlu diketahui setiap orang yang melakukan shalat karena dapat menuntut pikiran dan hati kita untuk khusyu’ bermunajat kepada Allah SWT.
Shalat merupakan salah satu bentuk komunikasi vertikal hamba kepada Allah, oleh karenanya bacaan – bacaan dalam shalat juga mencerminkan bahasa komunikasi. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan bahwa jika seseorang membaca:
1) Bismillahirrohmanirrohiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang), maka Allah SWT menjawab : Hamba-Ku telah mengingat-Ku,
2) Alhamdulillahirobbil ’alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), maka Allah SWT menjawab : hambaku telah memuji-Ku 3) Arrahmanirrohiim (Yang Maha Pengasih dan Penyayang), maka Allah
SWT menjawab : hamba-Ku telah mengagungkan-Ku
4) Maliki yaumiddiin (Yang menguasai hari pembalasan), maka Allah SWT menjawab : hamba-Ku telah memuliakan-Ku
5) Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan), maka Allah
Keterampilan Ibadah
SWT menjawab : inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagian hamba-Ku apa yang dimohon akan terkabulkan.
6) Ihdinashshirathal mustaqim, shirathalladzina an’amta ’alaihim, ghairil maghdhubi’alaihim waladhallin (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang – orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat), maka Allah SWT menjawab : ini semua bagian hamba-Ku, dan terkabullah semua permohonan hamba-Ku).
d. Kemudian mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahunya lalu ruku’ sambil mengucapkan takbir Allahu Akbar selanjutnya memegang dua lutut dengan kedua tapak tangan dengan meratakan tulang punggung, tidak mengangkat kepalanya juga tidak terlalu membungkukkannya, dan jari-jari tangannya hendaknya dalam keadaan terbuka.
Ketika orang melakukan ruku’ maka posisi punggung, leher, dan kepala menjadi horizontal. Posisi ini memungkinkan berat badan bergeser ke depan dan tubuh sakan – akan mau terperosok ke depan. Dalam posisi demikian, kompresi antar ruas – ruas tulang belakang dapat dikurangi.
Dra. Siti Zumrotun, M.Ag
ini lebih mendorong lagi ke depan ruas – ruas tulang belakang sehingga kompresi bukan hanya dikurangi akan tetapi bahkan terjadi gerakan anti kompresi (peregangan). Ketika ruku’ kita dapat merasakan seperti ada tarikan dari tulang punggung. Sensasi ini hanya terjadi bila ruku’ dilakukan cukup waktu (tuma’ninah), sehingga terjadi relaksasi otot – otot punggung. Orang yang shalatnya buru – buru, dengan perubahan posisi yang demikian tidak bisa merasakan efek apapun oleh karena otot – ototnya masih tegang.
Jika ruku’ kita lakukan dengan sempurna, maka penyakit – penyakit yang bersumber dari tulang belakang dapat dihindari, seperti nyeri tulang belakang (acute lumbago) dan nyeri bahu (displacement of the cervical colum with humero scapular periarthitis). Posisi ruku’ juga dapat melenturkan tulang belakang, menggerakkan otot – otot yang kaku serta mengendorkan ruas tulang belakang agar tulang belakang kembali sesuai dengan anatomisnya. Sementara itu, jiwa menjadi tenang dan tertunduk kepada sang Maha Pencipta.
Pada saat ruku’ membaca tasbih :
Artinya :
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.
Pengulangan bacaan kalimat tasbih dalam ruku’ yang disertai dengan meditasi, tenang (tuma’ninah) mengandung vibrasi yang sangat kuat dalam mempengaruhi kejiwaan seseorang.
e. Kemudian bangkit dari ruku’ sehingga posisi badan berdiri tegak dalam keadaan i’tidal. I’tidal dilakukan dengan tenang (tuma’ninah) agar tulang – tulang kembali pada posisi semula dan memberi kesempatan agar aliran darah dari otak turun kembali ke seluruh tubuh. Pada saat yang sama angkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu sambil membaca:
dan Engkau dan kepada Engkau Maha Berbahagia Engkau dan
Maha Tinggi. Aku memohonkan ampun kepada Engkau dan aku
bertaubat kepada Engkau
Doa iftitah di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, At
Turmudzi, Abu Daud, dari Abu Hurairah, r.a.
Kemudian membaca surat al Fatihah :
Artinya :
Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) syaitan yang
terkutuk. Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya kepunyaan Allah yang
memelihara segala alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada
Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami
mohon pertolongan. Ya Allah tunjukilah kami ke jalan yang
lurus. Yaitu jalan orang – orang yang telah Engkau beri nikmat
kepadanya, bukan jalan orang – orang yang dibencikan dan
bukan pula jalan orang – orang yang sesat. Ya Allah
kabulkanlah permintaan kami
Artinya:
Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya
Artinya :Keterampilan Ibadah
Kemudian dilanjutkan membaca do’a :
33
Artinya :
”Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan
sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki
setelah itu”
Bacaan di atas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dari Sa’id al Khudri :
Artinya :
Dari Sa’id al Khudri r.a katanya : Rasulullah SAW tatkala
bangun dari ruku’ membaca :
Artinya :
Wahai Allah Tuhan kami, hanya milikmu segala
puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh apapun
yang paduka kehendaki sesudah itu. Padukalah pemilik
segala pujian dan kebesaran, itulah yang patut menjadi
ucapan hamba, dan seluruh kami ini adalah hamba paduka.
Wahai Allah, tak ada yang mampu menghalangi apa yang
Artinya :”wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu”
Bacaan di atas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sa’id al Khudri :
33
Artinya :
”Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan
sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki
setelah itu”
Bacaan di atas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dari Sa’id al Khudri :
Artinya :
Dari Sa’id al Khudri r.a katanya : Rasulullah SAW tatkala
bangun dari ruku’ membaca :
Artinya :
Wahai Allah Tuhan kami, hanya milikmu segala
puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh apapun
yang paduka kehendaki sesudah itu. Padukalah pemilik
segala pujian dan kebesaran, itulah yang patut menjadi
ucapan hamba, dan seluruh kami ini adalah hamba paduka.
Wahai Allah, tak ada yang mampu menghalangi apa yang
Artinya :Dari Sa’id al Khudri r.a katanya : Rasulullah SAw tatkala bangun dari ruku’ membaca :
33
Artinya :
”Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan
sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki
setelah itu”
Bacaan di atas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Muslim dari Sa’id al Khudri :
Artinya :
Dari Sa’id al Khudri r.a katanya : Rasulullah SAW tatkala
bangun dari ruku’ membaca :
Artinya :
Wahai Allah Tuhan kami, hanya milikmu segala
puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh apapun
yang paduka kehendaki sesudah itu. Padukalah pemilik
segala pujian dan kebesaran, itulah yang patut menjadi
ucapan hamba, dan seluruh kami ini adalah hamba paduka.
Wahai Allah, tak ada yang mampu menghalangi apa yang
Artinya :wahai Allah Tuhan kami, hanya milikmu segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh apapun yang paduka kehendaki sesudah itu. Padukalah pemilik segala pujian dan kebesaran, itulah yang patut menjadi ucapan hamba, dan seluruh kami ini adalah hamba paduka. wahai Allah, tak ada yang mampu menghalangi apa yang paduka karuniakan dan tak ada yang mampu memberi tatkala paduka mencegah, serta tidak bakal bermanfaat suatu kesungguhan yang berasal dari paduka untuk pemiliknya
f. Kemudian sujud sambil mengucapkan takbir Allahu akbar lalu sujud bertumpu pada tujuh anggota sujud, yaitu dahi (yang termasuk di dalamnya) hidung, dua telapak tangan, dua lutut dan ujung dua tapak kaki. Hendaknya diperhatikan agar dahi dan hidung betul-betul mengenai lantai, serta merenggangkan bagian atas lengannya dari samping badannya