A. Kompetensi Dasar
2. Sujud sahwi
Sujud sahwi artinya sujud kerana terlupa mengerjakan sesuatu yang sunnah atau hal yang salah lainnya tanpa sengaja. Umpamanya lupa mengerjakan tahiyyat awal, lupa membaca ayat atau surat pada rakaat pertama atau kedua, lupa tentang bilangan solat dan sebagainya. Menurut Al Gazhali, empat hal yang dapat digantikan dengan melakukan sujud sahwi tersebut yaitu satu di antaranya termasuk perbuatan dan tiga lainnya termasuk bacaan.
Yang termasuk perbuatan ialah duduk (setelah dua kali sujud pada rakaat kedua solat Zhuhur, Asar, Maghrib dan Isya’) untuk membaca tasyahud. Duduk seperti ini berpengaruh pada susunan bentuk shalat bagi siapa yang menyaksikannya. Sebab, dengan itu, dapat diketahui apakah solat tersebut ruba’iyyah (terdiri atas empat rakaat) atau bukan. Tidak seperti sunnah mengangkat tangan ketika takbir, misalnya, sebab hal itu tidak mempengaruhi susunan bentuk solat. Itu pula sebabnya, sunnah ini (yakni duduk untuk tasyahud pertama) disebut ba’dh (kata tunggal dari ab’adh) yang bererti bagian. Apabila seseorang tidak mengerjakan ab’adh, dianjurkan dengan sangat agar ia menggantinya dengan sujud sahwi.Sujud sahwi merupakan cara adaptasi yang efektif bagi mushalli yang merasa ragu jumlah rekaat shalat, sehingga dia bisa terus melanjutkan shalatnya
Adapun bacaan-bacaan sunnah dalam shalat, semuanya tidak digantikan dengan sujud sahwi, kecuali tiga (yaitu yang termasuk ab’adh):
1. Qunut
2. Bacaan tasyahud pertama
3. Salawat untuk Nabi Muhammad s.a.w. pada tasyahud pertama.
Tidak termasuk di dalamnya takbir-takbir perpindahan (dari satu rukun ke rukun lainnya), bacaan-bacaan dalam ruku’, sujud dan i’tidal dari kedua-duanya. Hal ini disebabkan ruku’ dan sujud adalah gerakan yang memiliki bentuk khas, berbeda dengan gerakan-gerakan biasa. Dengan mengerjakannya, dapat diperoleh makna ibadah, walaupun tanpa membaca zikir apa pun dan tanpa
takbir-takbir perpindahan. Tanpa zikir-zikir itu pun, bentuk ibadah shalat – dengan melakukan gerakan ruku’ dan sujud – tetap tidak akan batal atau hilang. Lain halnya dengan duduk untuk bertasyahud pertama. Ia tadinya merupakan gerakan biasa (yakni, yang juga dilakukan di luar solat). Tetapi, kini sengaja diperpanjang untuk diisi dengan bacaan tasyahud. Maka, meninggalkannya akan menimbulkan perubahan cukup besar dalam susunan bentuk solat.
Sebaliknya, meninggalkan bacaan doa iftiftah, atau pun surah, tidak menimbulkan perubahan, mengingat bahawa rukun berdiri dalam shalat telah cukup diisi dengan bacaan Al Fatihah, sehingga dapat dibedakan dengan berdiri secara biasa. Dengan alasan itu pula, bacaan doa setelah tasyahud terakhir tidak digantikan dengan sujud sahwi.
Bacaan qunut pun, pada dasarnya, tidak layak digantikan dengan sujud sahwi, namun, disyariatkannya perpanjangan ruku i’tidal, pada shalat Subuh, adalah semata-mata untuk diisi dengan bacaan do’a qunut itu. Maka, sama halnya seperti rukun duduk untuk tasyahud pertama. Ia adalah perpanjangan dari duduk istirahat, guna diisi dengan bacaan tasyahud.
Cara melakukan Sujud Sahwi
Sujud sahwi dilakukan pada penghujung rakaat yang terakhir, yaitu sesudah tahiyyat dan sebelum salam. Bersujud sambil mengucapkan “Allaahu Akbar” dan dalam sujud membaca: Subhaanalladzi laa yanaamu walaa yansahu (3x) yang artinya: Maha suci Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa.
Bila yang terlupakan itu salah satu rukun salat, yang tidak bisa dibetulkan seketika, maka salatnya tidak sah, dan salatnya harus diulang kembali. Tetapi bila yang terlupakan itu rakaat, misalnya shalat Isya yang mestinya 4 rakaat , hanya 3 rakaat, maka sesudah memberi salam, tanpa diselingi dengan atau perbuatan lain, segeralah ia berdiri dan tambahlah rakaat yang tertinggal itu. Rakaat tersebut tetap diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, kemudian anda lengkapi dengan sujud sahwi.
Bila di dalam shalat timbul keraguan tentang jumlah rakaat maka ambillah jumlah rakaat yang sedikit lalu yakinlah dengan itu (Misalnya bila kita lupa apakah sudah empat rakaat atau baru tiga rakaat, maka ambilah keputusan bahawa itu rakaat yang ketiga. Lalu lanjutkan shalat dan tambahkan yang kurang).
1. Sujud syukur
a. Pengertian
Kata syukur berasal dari kata bahasa Arab yang artinya terima kasih. Sujud ini dilakukan karena kita mendapatkan suatu keselamatan atau
1 Keterampilan Ibadah
keberuntungan, keberhasilan dan juga terhindar dari musibah, bahaya dan kesulitan.
Nabi Muhammad SAW bersabda : Dari Abu Bakrah, sesungguhnya Nabi SAW: “ Apabila datang kepada Allah beliau mendapat suatu yang menggembirakan, atau kabar suka, beliau terus sujud berterima kasih kepada Allah”. (H.R Abu Dawud dan Turmidzi).
b. Cara Sujud Syukur
Cara melakukan sujud syukur berbeda dengan sujud tilawah dan sujud sahwi, sujud syukur adalah sujud sebanyak 3 x dan sujud syukur tidak harus menghadap kiblat, hanya dilakukan sesudah shalat (salam) atau diluar shalat, tapi yang lebih utama (afdhal) dilakukan sebelum melakukan aktifitas lainnya termasuk zikir sesudah shalat. Bacaan sujud pertama adalah :
“Subhaanallah walhamdulillah walaa Ilaaha Illallah Allahu Akbar” dibaca 10 x.
Sujud kedua Do’a sapu jagat :“Rabbanaa Aatina Fiddunyaa hasanah waa fil aakhirati hasanah waa qinaa ‘azabannar”. Dibaca 10 x.
Sujud Ketiga adalah :“Allahumma Shalli alaa Sayyidinaa Muhammad waa alaa aalihii washohbihii azma’iin”. Dibaca 10 x.
Lalu bangkit tanpa salam sebagaimana dalam shalat, dengan catatan jika terjadi secara spontan, maka kita sujud secara spontan juga di tempat yang bersih dan suci dengan bacaan alhamdulillah wa syukrillah.
2. Sujud tilawah
a. Pengertian Sujud Tilawah
Tilawah berasal dari kata tala yaitu tilawatan artinya “Bacaan”. Jadi Sujud Tilawah adalah sujud bacaan atau mendengar ayat sajadah. Sujud tilawah dilakukan satu kali baik dalam shalat maupun luar shalat, barang siapa yang membaca atau mendengar ayat sajadah, disunatkan bertakbir lalu sujud dan membaca doa sujud Tilawah. Nabi bersabda :
Dari Ibnu Umar ra. Berkata : “Sesungguhnya Nabi SAW pernah membaca Alqur’an di depan kami ketika beliau melalui (membaca) ayat sajadah beliau takbir, lalu sujud kamipun sujud pula bersama-sama beliau”. (HR. Turmudzi).
Bagi orang yang tidak shalat tapi dia mendengarkan bacaan ayat sajadah maka dia pun disunatkan sujud tilawah semata-mata ikut imam yang melakukan shalat tilawah. Selanjutnya apabila ia mengikuti imam sujud atau makmum melakukan sujud tilawah tetapi imam tidak melakukannya maka batallah shalatnya kecuali makmum masbuk yang tidak tahu bahwa sujud yang dilakukan imam itu adalah sujud tilawah.
b. Rukun Sujud Tilawah
Sujud ini memiliki beberapa rukun yaitu: 1) Niat sujud tilawah
2) Takbiratul ihram 3) Salam
Bacaan sujud tilawah adalah “Subhaanallah walhamdulillah walaa Ilaaha Illallah Allahu Akbar” 3x.
Diantara ayat al-Qur’an sebagai ayat sajadah antara lain : Surat Al-A’raf : 206, Surat Maryam : 58, Surah An-Najm : 62, Surah Al-Alaq : 19, Surah Insyiqaaf : 21, Dan banyak lagi surah yang lain.
c. Cara Melakukan Sujud Tilawah
Sujud tilawah bisa dilakukan di dalam shalat ataupun dilura shalat. Jika dilakukan diluar shalat hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Sehabis membaca ayat sajadah posisi sebaiknya menghadap kiblat 2. Bertakbir sambil berniat dalam hati (niat sujud tilawah)
3. Bersujud satu kali sambil membaca bacan sujud tilawah
4. Bangun dari sujud (duduk diantara dua sujud) kemudian salam Dan apabila sujud tilawah dilakukan dalam shalat maka cara melakukan- nya adalah: sehabis membaca surah yang didalamnya ayat sajadah (pada waktu berdiri dirakaat pertama atau kedua) langsung bertakbir untuk sujud dan sujudnya satu kali dan bacaan sujudnya, setelah itu, takbir lagi untuk bangun/berdiri lalau rukuk seperti biasa sampai shalat selesai.
3. Hikmah sujud dalam kehidupan sehari-hari
Sujud merupakan puncak dari perjalanan ruhani kita. Pada saat sujud kita lepas segala macam urusan duniawi, lepas dari apa yang kita miliki, dan lepas dari pengakuan-pengakuan diri. Kita adalah hamba yang menerima kuasa-Nya, dihidupkan, diimankan, ditundukkan, digerakkan, ditakwakan, diislamkan, dilembutkan, ditenangkan, diterangkan, dimatikan, dan diperjalankan menuju kehadirat-Nya. (Abu Sangkan: 2006:91-92)
Posisi sujud mempunyai dampak positif baik secara fisik maupun ruhani. Pada saat sujud seseorang disadarkan bahwa dirinya adalah makhluk yang rendah, makhluk yang lemah. Kemudian diperkuat dengan terapi kalimat yang memiliki getaran transendental yang akan membawa orang masuk ke dalam diri yang bening. (Abu Sangkan:92)
Profesor Hembing, sebagaimana yang dikutip oleh Abu sangkan menjelaskan, bahwa pada gerakan sujud, semua otot akan berkontraksi. Akibatnya bukan
1 Keterampilan Ibadah
saja otot-otot akan menjadi besar dan kuat, tetapi juga membuat urat-urat darah seperti pembuluh nadi (arteria) dan pembuluh darah balik (venae), serta urat-urat getah bening (lympa) akan terpijat atau terurut, sehingga membuat peredaran darah dan lympa menjadi lancar. Beliau juga menegaskan bahwa sujud sangat baik untuk membantu pekerjaan jantung dan menghindarkan mengerutnya dinding-dinding pembuluh darah (arteriosclerosis). Waktu sujud, darah dikirim ke otak, berkumpul di otak dan mengalirkan kebutuhan oksigen untuk otak. Oksigen ini sangat dibutuhkan oleh otak. Menurut ahli kesehatan, otak membutuhkan 20 persen oksigen dari dari seluruh oksigen yang masuk ke dalam tubuh. (Abu Sangkan:92)
Ketinggian kesadaran manusia adalah setelah ia menyadari bahwa dirinya adalah tubuh yang terbuat dari tanah kemudian akan dikembalikan sebagai tanah tempat asalnya. Ketinggian ruhani manusia adalah di saat ruh pergi ke hadirat-Nya, sebagai asal muasal sebelum ruh ditiupkan kepada sebongkah tanah yang tidak bisa apa-apa inilah puncak kesadaran kita sebagai manusia. Sujud mampu menterapi mental manusia untuk menjadi yang lebih baik, yaitu manusia yang selalu sadar akan dirinya. (Abu Sangkan:93)
Sujud akan mengikis watak yang sombong. Orang yang tidak mau bersujud berarti termasuk orang-orang yang sombong. (Jusuf Kurnia: 2008:95) Kesombongan ini sebagaimana digambarkan dalam al Qur’an tentang iblis yang tidak mau bersujud. Pada saat Allah menciptakan Nabi Adam a.s. Dia memerintahkan kepada seluruh malaikat untuk bersujud kepada Nabi adam, sebagai tanda kepatuhan kepada Allah. Semua malaikat sujud, kecualai iblis. Iblis tidak mau sujud dan berkata, “Aku lebih baik dari manusia”. Lalu apakah engkau berani mengatakan, “aku lebih baik dari pada Allah?”. (Q.S. al Baqarah: )
D. Rangkuman
Sujud merupakan bagian dari gerakan dalam shalat atau bisa berdiri sendiri. Cara bersujud adalah dengan meletakkan dahi dalam keadaan terbuka, dua tangan, dua lutut, dan ujung-ujung kedua telapak kaki walupun tertutup. Ada tiga macam sujud yakni sujud sahwi, sujud syukur dan sujud tilawah.
Sujud sahwi artinya sujud kerana terlupa mengerjakan sesuatu yang sunnah atau hal yang salah lainnya tanpa sengaja. Umpamanya lupa mengerjakan tahiyyat awal, lupa membaca ayat atau surat pada rakaat pertama atau kedua, lupa tentang bilangan shalat dan sebagainya.
Sujud syukur dilakukan karena kita mendapatkan suatu keselamatan atau keberuntungan, keberhasilan dan juga terhindar dari musibah, bahaya dan kesulitan. Sedangkan sujud tilawah adalah sujud bacaan atau mendengar ayat sajadah. Sujud tilawah dilakukan satu kali baik dalam shalat maupun luar shalat,
barang siapa yang membaca atau mendengar ayat sajadah, disunatkan bertakbir lalu sujud dan membaca doa sujud Tilawah