• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Yahudi berhasil menguasai media massa?

Dahulu, Yahudi pernah menjadi bahan pelecehan orang, termasuk di Eropa dan Amerika. Pujangga dan penyair-penyair besar sering merangsang kebencian orang pada insan Yahudi dalam karya-karya sastra mereka. Tak kurang, Shakespeare, penyair terkenal Inggris, mengikuti trend ini. Dalam salah satu novelnya yang berjudul “Pedagang Senjata”, Shakespeare menampilkan ‘Sheluck’ sang pedagang, sebagai sosok Yahudi yang bersifat kerdil, licik, kotor, dan pendengki. Begitulah kesan orang Barat dahulu terhadap orang Yahudi.

Tapi belakangan, kesan itu secara drastis berubah seratus delapan puluh derajat. Yahudi berhasil mem“brain washing” publik opini dunia, khususnya Amerika dan Eropa, dan merubah kesan dunia dari sosok manusia yang bengis, keji, menakutkan, kikir, bejat, haus darah, pengkhianat, pengecut, egois, dsb. menjadi sosok manusia yang pintar, cerdas, terampil, intelek, manusiawi dsb.

Dalam bukunya “Ahjār `ala Ruq`at asy-Syatranj” (edisi Bahasa Arab), William Ghai Kar menyebutkan bahwa seorang Professor yang mengajar ‘Ilmu Teologi dan Hukum Internasional’ di Universitas “Ingoldstadt”, Jerman, bernama Adam Weishaupt memeluk agama Yahudi. Pada tahun 1776 dia mendirikan sebuah organisasi rahasia Yahudi dengan nama ‘Perkumpulan Orang-orang

Nuraniy’. Nama ini berasal dari simbol-simbol Freemasonry yang

anggotanya terdiri dari 2000 orang Yahudi. Adam meletakkan Anggaran Dasarnya untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menguasai

dunia. Dalam pasal 4 dari AD itu menyebutkan: “Bagi anggota Nuraniy harus berusaha untuk mendominasi pers beserta seluruh saluran media massa dan menguasai berita.”

Pada tahun 1869, Rashoron, seorang Rabi Yahudi berpidato di Praha menggambarkan perhatian Yahudi yang cukup besar terhadap media massa, katanya: “Jika emas merupakan kekuatan kita yang

pertama, maka pers harus merupakan kekuatan kita yang kedua.” 1

Tahun 1897 lalu telah diselenggarakan “Kongres Zionisme

Internasional I” yang diprakarsai oleh Theodore Hertzl di kota Paal,

Swiss. Pertemuan itu telah melahirkan “Protocole of Zion”. Dalam protokol No. 12 menyebutkan:

1. Semua saluran media massa yang merupakan sarana untuk menuangkan pemikiran manusia harus sepenuhnya berada di tangan kita.

2. Seluruh jenis penerbitan atau percetakan harus dalam penguasaan kita.

3. Sastra dan pers merupakan dua kekuatan informasi utama dan harus kita kuasai.

4. Musuh-musuh kita tidak boleh memiliki sarana pers untuk menuangkan pemikiran mereka. Dan kalaupun ada haruslah dipersempit dan ditekan dengan segala cara agar tidak mampu menyerang kita.

5. Tidak sepotong beritapun boleh sampai ke masyarakat sebelum melalui kita dan jika kita berhasil menguasai kantor-kantor berita, tidak ada berita yang kita siarkan selain yang kita kehendaki saja.

6. Pers berkala harus kita kuasai agar dengan mudah kita menggerakkannya sesuai dengan kepentingan kita.

1

Ar-Rifa`i, Fou’ad ibn Sayyid Abdur-Rahman, “An-Nufūz al-Yahūdy fi al-Ajhizat

al-I`lāmiyah wa al-Mu’assasat ad-Dawliyyah”, Dar al-Yaqin, al-Manshūrah,

Sebenarnya jauh sebelum Kongres Zionisme 1897 itu, pers barat sudah dikuasai oleh Yahudi. Itu dapat dibaca dari Surat Kabar Inggris “The Graphic” No. 22 Tamuz 1879 menulis: “Pers benua Eropa

berada di bawah cengkeraman Yahudi”. Hanya saja waktu itu,

dominasi itu kurang efektif untuk dapat merubah sosok insan Yahudi. Bahkan kendatipun mereka bekerja keras untuk merubah asumsi bangsa-bangsa Eropa dan Amerika tentang Yahudi, namun belum berhasil hingga dekade keempat dari abad 20 ini.

Tapi kesan itu serta merta berubah total setelah terjadinya pembantaian atas orang-orang Yahudi oleh Hitler dengan gerakan “Nazisme” nya. Peristiwa ini benar-benar dimanfaatkan media massa barat yang dikuasai kaum Zionis untuk menarik rasa simpati dan rasa kasihan orang-orang Eropa terhadap bangsa Yahudi. Zionis berhasil membesar-besarkan isu itu melalui pers, film dan cerita-cerita novel tentang ‘cerita’ pembantaian massal, pembakaran bangsa Yahudi di dalam oven gas oleh Nazi Hitler (Holocaust). Ada foto menggambarkan satu orang Yahudi yang tangannya sedang diborgol di dinding tembok dikerumuni oleh puluhan tentara yang akan menembakinya. Ada pula foto tentang puluhan Yahudi yang diawasi oleh seorang pasukan Nazi. Dari wajah mereka terlihat rasa sendu dan minta dikasihani.

Kissah pembantaian itu sendiri masih diliputi berbagai tanda tanya yang banyak meragukan kebenaran peristiwa itu. Dan kalaupun terjadi, jumlah dan suasananya jelas dibesar-besarkan oleh bangsa Yahudi untuk tujuan-tujuan politik mereka.

Kendatipun kasus holocaust di satu sisi membawa korban di pihak Yahudi, kalaupun itu benar, tapi di sisi lain menguntungkan mereka. Hasil yang mereka petik di balik itu, ialah berubahnya publik opini dunia dari sikap membenci menjadi kasihan dan menaruh simpati bahkan sampai menerima konsep Yahudi untuk “kembali ke Palestina”.

Dalam waktu yang sama propaganda Yahudi juga gencar terhadap bangsa Arab dengan dua arah: Pertama, mengaburkan sejarah Arab Islam, dengan mengingatkan orang-orang Nasrani Eropa dan Amerika akan ancaman Islam terhadap Kristen. Mereka

mem“peringat”kan kemenangan-kemenangan bangsa Arab Islam di negeri Syam, Mesir, Afrika pada periode pertama. Begitu juga kemenangan Islam di Eropa dan Costantinopel pada abad tengah. Mereka juga menggencarkan propaganda kekalahan pasukan Salib pada “Perang Salib” di Hittin yang kemudian terusir dari “pos” mereka terakhir yaitu Palestina.

Kedua, propaganda bangsa Yahudi terhadap bangsa Arab sebagai

bangsa ‘terbelakang’ yang dikendalikan oleh hawa nafsu sex yang menggebu-gebu, minuman alkohol, berjudi, primitif, kasar dan bodoh. Sasaran Zionis di sini ialah meyakinkan kepada dunia yang mayoritas Nasrani itu bahwa bangsa Arab adalah musuh legendaris bagi peradaban Eropa Kristen. Sehingga bagi mereka telah mudah untuk menggiring publik opini dunia agar berada di barisan mereka dalam setiap pertarungan mereka dengan bangsa Arab Islam.

Dengan begitu Yahudi sukses mem“brain-washing” publik opini dunia. Memang Yahudi sukses mempermak sosok Yahudi di mata bangsa Amerika dan Eropa. Dalam pandangan mereka Yahudi tidak lagi manusia yang bejat, keji, pengecut dan penghasut, tapi telah berubah menjadi manusia ideal, cerdas dan pemberani. Itu semua karena keberhasilan zionisme dalam menguasai saluran media massa dunia.