Asumsi yang sering menjebak banyak sarjana muslim yang belajar di sarang orientalis, adalah anggapan tentang kritisnya mereka dalam berpikir. Sebenarnya asumsi ini tidak berjalan secara proporsional. Dalam hal-hal yang bersifat qath`i (pasti) dari ajaran Islam mereka persoalkan dengan menggunakan senjata "obyektifitas", tapi ideologi dan doktrin mereka yang jelas-jelas tidak masuk akal tidak pernah mereka terapkan sikap kritis itu. Dalam konteks ini, ada kisah menarik.
Pada periode Mahmud Hamdi Zaqzuq sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin, Al-Azhar, serombongan pastur Jerman datang berkunjung ke Al-Azhar dan berjumpa dengan beliau, yang pakar dalam filsafat dan Orientalisme itu. Dalam perbincangan ilmiyah dan terbuka itu, para tamu Jerman tadi melontarkan gagasan ke hadapan Prof. Zaqzuq. Kata salah seorang mereka: “Dalam kajian kami terhadap teks-teks keagamaan (kitab suci), kami menerapkan metode kritik sejarah. Sekiranya kalian ilmuwan Muslim menerapkan metode kritik sejarah terhadap kitab suci al-Qur’an seperti yang kami lakukan terhadap kitab suci kami, niscaya kalian akan sampai pada kesimpulan bahwa penyaliban Isa a.s itu adalah benar”.
Zaqzuq balik bertanya: “Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, perkenankan saya bertanya dahulu. Apakah kritik sejarah yang anda terapkan itu pernah merubah salah satu saja dari doktrin ideologi anda?” Pastur itu menjawab: “Memang tidak”. Lanjut Zaqzuq: “Kenapa anda meminta kami menerapkan metode yang anda ciptakan sendiri untuk kepentingan ideologi anda sedangkan anda
sendiri tidak dapat merubah ideologi anda?!”. Tamu-tamu itupun akhirnya “terdiam”.
Jadi keinginan orientalis sesungguhnya, bagaimana caranya agar kaum Muslimin menjadi ragu pada agamanya, dengan metodologi yang mereka buat sendiri, tapi tidak pernah mereka terapkan untuk diri mereka. Inilah yang disebut “ilmiyah” dalam terminologi mereka.
Mereka yang kembali dari barat dengan sederetan gelarnya -kebetulan watak kita masih “demam” gelar – tidak luput dari pengaruh pemikiran orientalis. Bahkan secara umum, orientasi mereka amat orientalistik. Spirit orientalis yang senantiasa meragukan teks-teks Islam (nushūsh Islāmiyah) – dengan mengatasnamakan “kritik ilmiyah”- mereka terapkan secara membabi buta. Segala sesuatunya harus ditinjau kembali dan dipaksa tunduk pada kekuasaan akal yang mereka anggap sebagai “rasional”.
Tentunya rasionalisme di sini amat relatif sekali, karena banyak tergantung pada orangnya dan kualitas rasio si peneliti itu sendiri. Sesuatu yang dinilai tidak rasional oleh sementara orang, tidak berarti sudah pasti tidak rasional bagi orang lain. Sebab mungkin sangat rasional bagi orang lain.
Oleh karena itu sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai “rasionalisme orientalis”. Alam ghaib yang merupakan rukun Iman dalam Islam, memang tidak rasional dalam rasio orientalis, tapi sangat rasional dalam pandangan ilmu pengetahuan yang jujur dan hakiki.
Rasionalisme ala orientalis itu sudah barang tentu akan melahirkan pemikiran-pemikiran aneh dan kontroversial dengan mengatasnamakan “pembaruan”. Pembaruan yang bagaimana?! Bagaimana kerangka metodologis pembaruan yang sedang diumbar itu, semua serba tidak jelas. Jika pembaruan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna, Al-Maududi dan lain-lain masing-masing mempunyai kerangka yang jelas dan bertanggung jawab.
Tapi pembaruan alumni Barat adalah pembaruan yang tidak punya acuan. Pada kenyataannya apa yang disebut dengan pembaruan itu tidak lebih dari pengulangan ide-ide orientalis. Jadi
bukan kreasi sendiri, tapi mengekor pada pemikiran orang lain. Sebuah gejala yang sering diistilahkan sebagai “parrotisme” (beoisme) menghinggapi banyak cendekiawan kita akhir-akhir ini.
Oleh karena itu sesungguhnya kebebasan berpikir yang digembar-gemborkan itu sendiri sangat subyektif dan tidak berjalan secara konsekuen. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya, karena mereka sangat terikat dengan pola pikir dan jargon-jargon barat yang berwatak sekuleristik, materialistik dan liberal. Jadi akhirnya mereka terjebak dalam perangkap yang mereka buat sendiri. Inilah inti pemikiran barat yang mereka terapkan dalam kajian Islam. Sampai kapanpun metodologi ini tidak akan diterima oleh masyarakat Islam dan senantiasa akan menimbulkan gejolak dan reaksi keras dari umat. Sayangnya para alumni barat tidak hanya memboyong gelar dari negeri tempat mereka belajar, tapi juga mewarisi metodologi dan bahkan pola pikir yang digunakan orientalis. Hal ini tentunya lebih berbahaya dari orientalis sendiri. Sebab orientalis atau ilmuwan Barat sendiri, pengaruhnya bagi masyarakat Islam yang awam masih sangat terbatas. Karena dipisahkan oleh sekat-sekat ideologis dan psikologis. Tapi bila metodologi itu diterapkan oleh seorang muslim pribumi yang hidup di tengah masyarakat mereka sendiri, maka hasilnya tentu lebih menghawatirkan. Itulah sebabnya alumni Barat atau yang terpengaruh oleh cara berpikir orientalis sering menjadi sumber keresahan umat di berbagai negeri.
Sebagai misal, Salman Rusydi yang dibesarkan oleh orientalis. Dia sangat berambisi menerapkan metodologi barat pada ajaran Islam. Akhirnya menanggung resiko akibat reaksi ummat Islam. Sehingga hadiah “Nobel”nya yang diraihnya sebagai imbalan karena “jasa”nya yang tunduk ke Barat itu, tidak dapat dinikmatinya. Mirip dengan Salman, belakangan ini seorang wanita Bangladesh mencoba mengkritik konsep al-Qur’an tentang peran wanita. Akibatnya dia diajukan ke pengadilan Bangladesh dan diusir dari negerinya. Sekarang hidup terasing di Swedia.
Nah, pola pemikiran ala orientalis inilah yang ingin diterapkan oleh alumni barat di Perguruan-perguran Tinggi kita akhir-akhir ini. Kampus-kampus kita ramai dengan serangkaian ide dan teori yang
kedengaran “aneh” dalam literatur Islam. Sebagian ada upaya-upaya meragukan Al-Qur’an dengan cara memilah-milah antara yang
Qath`i dan Zhanni. Ada lagi yang meragukan Hadits dengan berbagai
alasan yang sudah “kadaluwarsa” dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Ada pula yang ingin merombak hukum fiqih tentang wanita, karena terkagum-kagum dengan faham “feminisme” yang klassik.
Di lain diskusi ada suara-suara sumbang yang mempertanyakan wajibnya menerapkan hudūd. Ada pula yang melakukan distorsi sejarah Islam, membenarkan dan mengecam semaunya pihak-pihak yang pernah berbeda pendapat dalam sejarah politik Islam. Mengecam ulama-ulama terdahulu karena tidak sesuai dengan keinginannya. Ini semuanya merupakan implementasi dari penerapan metodologi orientalis yang menempatkan wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah) setara dengan teori dan hasil pikiran manusia. Tapi dalam terminologi mereka, anehnya ini dikenal sebagai “pembaruan”.
Pemikiran orientalis itu tampaknya disuburkan di Perguruan Tinggi Agama Islam dengan berselimut “kebebasan berpikir” atau “kebebasan mimbar akademik”. Ironisnya, mereka sering menuduh orang yang berbeda pendapat dengannya sebagai “tradisional”, “jumud”, “kaku”, dan “tekstual”. Tetapi mereka begitu berani menerima kehadiran Karel Steenbrink, pastur Belanda yang terus terang tidak mengakui Al-Qur’an sebagai wahyu Allah itu. Ketika berada di Indonesia seringkali dia mengaku sebagai “muslim” - mengikuti gaya “leluhur”nya, Snouck Hurgronje - paling tidak memberikan kesan pada orang lain bahwa dirinya adalah “muslim”. Konon, tempat tinggalnya di Jawa Tengah dijadikannya sebagai tempat pertemuan missionaris.