khir-akhir ini seruan untuk mengadakan dialog peradaban antara Islam dengan Barat semakin semarak di dua belah pihak. Untuk kalangan Islam, ajakan dialog ini bukan suatu hal yang baru. Bahkan prinsip “dialog” itu sendiri adalah manhaj Qur´ani. Betapa tidak, dialog yang dalam istilah Al-Qur’an disebut ‘al-jidāl’ secara tegas diterangkan dalam al-Qur’an, yang isinya:
“Janganlah kamu berjidal dengan Ahlul-Kitab melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka”.1
Lebih dari itu, ayat tersebut menegaskan metode yang harus digunakan dalam dialog itu, yakni ‘billati hiya aḥsan’ (metode terbaik). Bila direnungkan, ayat itu tidak mencukupkan sekedar metode yang dianggap baik, tetapi ia menuntut harus dengan ‘metode yang terbaik’.
Di zaman post modern, ajakan dialog itu diteruskan oleh para pemikir Islam terkemuka, seperti Yusuf al-Qaradhāwi, Syaikh Muḥammad al-Ghazāli, Rāsyid al-Ghannousyi, Abu’l Ḥasan An-Nadwi, Rusydi Fakkār, Fahmi Huwaidi dan lain-lain. Sebab dalam pandangan mereka, sikap barat yang cenderung memusuhi dunia Islam bukan tidak mustahil bertolak dari kesalah pahaman mereka terhadap esensi ajaran Islam. Sebab, gambaran yang suram tentang Islam telah lebih dahulu diwariskan oleh leluhur mereka. Dan di
1
Q.S al-`Ankabūt : 46
zaman modern ini lebih mengkristal lagi setelah kaum orientalis memegang peran sebagai ‘pemasok’ informasi utama tentang Islam dan umatnya kepada Barat. Atas dasar itu, mereka tetap memandang positif upaya-upaya yang mengarah kepada terlaksananya forum itu. Qaradhawi menawarkan sejumlah dialog dalam bukunya ‘Prioritas
Gerakan Islam’1, di antaranya dialog dengan kaum sekularis moderat, dialog dengan penguasa yang rasional, dialog dengan Barat, bahkan perlu, kata penulis lebih dari lima puluh buku itu, melakukan dialog dengan orientalis. Dan itu dilakukannya dengan Jacques
Berque, seorang tokoh orientalis Perancis, profesor di ‘Colledge de France’, Paris yang dikenal agak ‘moderat’ itu.
Tapi, dari kubu Barat, sepertinya ‘gayung’ itu kurang bersambut selama beberapa dekade, bahkan mungkin dalam hitungan abad. Baru saja, 27 Oktober 1993 silam, dalam sebuah ceramah yang monumental, apalagi dihadapan sejumlah orientalis, ilmuwan Barat, pemuka Islam dan politisi Inggris, Pangeran Charles melakukan terobosan yang dinilai cukup berani dan objektif. Secara blak-blakan dia membongkar pandangan yang selama ini sudah ber”karat” dibenak insan Barat. Bagi mereka, Islam dipandang senantiasa sebagai ancaman yang membahayakan. Oleh karena itu harus dimusnahkan dan tak perlu dikasi ‘angin’. Angin segar yang bertiup dari Inggris itu, tentu saja disambut hangat oleh pihak Islam. Hingga ‘Perhimpunan Organisasi-organisasi Islam Se-Eropa’ menyatakan kesiapannya untuk membuat program dialog dan kerjasama timbal balik itu. Lebih dari limabelas negara Eropa, di mana cabang-cabang organisasi itu tersebar, keseluruhannya menyatakan siap untuk memulai dialog yang serius dengan bertitik tolak dari sikap ‘saling memahami’ dan pada prinsip-prinsip yang benar untuk mencari maslahat kedua pihak Islam dan Barat.
Dalam ceramah sang Pangeran di “Oxford Center for Islamic
Studies” (Pusat Pengkajian Islam), Oxford, Inggris itu, setidaknya
ada tiga poin yang menjadi stressing dan patut diperhatikan:
1
Buku Yusuf al-Qaradhawi dengan judul “Awlawiyyāt al-harakah al-Islāmiyah” telah penulis terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Prioritas
1. Semakin bertambah pentingnya hubungan antara dunia Islam dan Barat di satu sisi. Tapi dalam dunia kenyataan, kesalahpahaman antara kedua belah pihak semakin tinggi intensitasnya, dan bahkan sampai ke tingkat ‘menghawatrikan’. Pentingnya peningkatan hubungan itu, akan terlihat dari perubahan peta politik dunia akhir-akhir ini setelah berakhir-akhirnya era ‘perang dingin’. Barat memandang, bahwa diakui atau tidak, dunia Islam harus menjadi perhitungan di zaman pembentukan “Tatanan Dunia Baru” ini. Sebab, di samping kekuatan yang selama ini sudah diketahui di negeri-negeri Islam, kekuatan itu akan terasa lebih berarti setelah berdirinya kembali republik-republik Islam dibekas pendududkan Sovyet (Asia Tengah). Wilayah-wilayah ini cukup diperhitungkan Barat sejak ketika ia berada di bawah kekuasaan Uni Sovyet, apalagi setelah mereka bangkit dengan ‘bendera’ Islamnya. Karena, negara-negara Barat mengetahui betul berapa besar cadangan kepala nuklir yang tersimpan di Asia Tengah itu. Lain lagi persediaan tambang emas yang tidak sedikit di wilayah-wilayah Islam itu. Adalah suatu kewajaran jika Barat kembali mengkaji ulang politiknya dalam menghadapi dunia Islam.
2. Faktor-faktor yang menghubungkan antara dunia Islam dengan dunia Barat jauh lebih banyak ketimbang faktor-faktor yang memisahkannya. Keduanya sama-sama beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan keduanya sama-sama memiliki banyak nilai-nilai spiritual yang mirip. Contohnya, menghormati kedua orang tua. Tidak kalah pentingnya, saham yang telah disumbangkan oleh peradaban Islam di Andalusia untuk-dengan modal yang fundamental itu-Barat membangun Eropa modern. Pandangan Charles ini benar adanya, betapa peradaban Islam bersemayam di Spanyol selama delapan abad. Hal ini tentu tidak dapat dikecilkan begitu saja oleh orang-orang yang jujur terhadap sejarah. Sayangnya barat selama ini cenderung kurang menghargai ‘tinta’ dan ‘darah’ orang lain. Bahkan yang menonjol ialah aroganisme nya, menganggap dirinya sebagai ‘guru’ dalam semua bidang. Jika Barat mau menghargai ‘jasa’ cendekiawan Islam di abad tengah, tentu tidak sekasar itu sikap mereka terhadap Bosnia.
3. Pandangan mayoritas orang di Barat terhadap Islam adalah pandangan yang sangat keliru. Seperti diakui oleh Pangeran Charles: “Penilaian kita tentang Islam telah terlalu menyimpang
dengan melihat hal-hal yang ekstrim sebagai norma”.
Tindakan-tindakan segelintir muslim yang dianggap “ekstrim” tentu tidak dapat digeneralisir bahwa itulah sikap seluruh umat islam dan secara otomatis dianggap sebagai esensi ajaran Islam. Bukankah mereka yang mengklaim dirinya sebagai ‘guru’ dalam metodologi ilmiah? Apakah kesimpulan seperti ini memenuhi standar ilmiah? Belum lagi dianalisa tindakan-tindakan yang disebut “ekstrim” itu? Sebab tidak sedikit dari tindakan
‘terorisme’ itu tidak lebih dari sekedar sandiwara yang
digerakkan oleh ‘kuku-kuku’ zionis dari belakang. Memang hal ini sulit dibuktikan, tapi diketahui oleh banyak orang. Kemudian, tindakan kekerasan yang secara jujur harus diakui sebagai perbuatan terkutuk, siapapun pelakunya itu jika dilakukan oleh muslim/arab, begitu cepat men’didih’nya, tapi terorisme yang diprogram Israel secara rahasia lewat MOSAD-nya, maupun terang-terangan tidak mendapat ‘vonnis’ secara seimbang. Apakah ‘hukuman’ yang dijatuhkan Barat kepada Israel yang melakukan pembantaian puluhan ribu rakyat Palestina, sejak Hertzel merampok negeri itu sampai Perjanjian “Perdamaian
PLO” yang menguntungkan sepihak itu ditandatangani?
Jadi analisis Charles yang obyektif tentang hakikat Islam yang membawa kedamaian, bukan sesuatu yang ditakuti, dapat diartikan sebagai kritikan atas sikap mayoritas pemimpin-pemimpin Barat dalam waktu-waktu terakhir ini yang memperingatkan bahaya Islam yang dikesankan mengancam peradaban Barat. Di sisi lain, pidato itu merupakan ide positif yang harus disambut positif di dunia Islam. Sebab, tidak ada masalahnya bagi Barat ataupun dunia Islam menyimpan-nyimpan permusuhan, terselubung atau terang-terangan, atau mengabadikan perselisihan.
Memang sebagian kecil ada yang menilai, apa perlunya mengadakan dialog dengan pihak yang terang-terangan memusuhi kita? Tapi, kendatipun demikian, dialog Islam-Barat tetap
dibutuhkan. Dan yang ajaibnya, ide itu muncul pertama kali justru dari kalangan Islam sendiri, yang notabene sebagai ‘pelengkap penderita’. Untuk apa? Agar Barat memahami apa yang kita inginkan untuk diri kita dan untuk umat manusia. Agar mereka mengerti bahwa kita kaum Muslimin pembawa misi da’wah, bukan pencari harta rampasan perang. Bahwa kita penyebar rahmat dan kasih sayang, bukan teroris yang mengerikan. Bahwa kita penyeru kedamaian, bukan penyulut peperangan. Bahwa kita pembela kebenaran dan keadilan, bukan pendukung kebatilan dan kezaliman. Bahwa tugas kita ialah menyelamatkan umat manusia dari kebingungan kepada petunjuk Allah SWT, menghubungkan ‘bumi’ dengan ‘langit’, menyambung tali persaudaraan sesama manusia agar setiap orang menyukai untuk orang lain, apa yang disukainya untuk dirinya, serta menghapuskan permusuhan dan kebencian yang membinasakan.
Atas dasar itu, mencari sumber dan motif kesalahpahaman itu benar-benar merupakan langkah awal untuk sampai ke tingkat saling memahami, saling menghormati dan pada saatnya terlaksanalah apa yang disebut dengan ‘dialog peradaban’ yang berakhir dengan kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak.
Islam mengajarkan pemeluknya agar mengenal orang lain, bukan untuk memusnahkannya, tetapi justru untuk memahaminya dan hidup berdampingan dengannya, sepanjang orang tersebut tidak menyimpan kebencian kepada kaum muslimin dan tidak mengganggunya. Sikap ini cukup jelas diterangkan Alloh dalam Al Quran dan merupakan pola hidup yang dipraktikkan oleh Nabi SAW dan generasi Islam terdahulu.
Hendaknya Barat siap menanggalkan motif-motif kesalahpahamannya terhadap Islam yang terfokus pada ‘kacamata’ perang salib di abad tengah dahulu. Selain pandangan itu sendiri tidak objektif, juga pengalaman pahit perang salib lebih terasa bagi ummat Islam. Betapa tidak, jumlah korban yang jatuh di tangan tentara Eropa di Al-Quds, Palestina tahun 1099 adalah 70.000 jiwa dan yang dibantai oleh Barat di Antakia, Spanyol sebesar 100.000 orang.
Di samping itu Barat harus menghapus pandangannya atas peradaban Barat dan nilai-nilainya sebagai satu-satunya peradaban yang harus mendominasi mutlak bangsa-bangsa lain di dunia. Sebab, ini artinya menghapuskan peradaban bangsa lain dan nilai-nilai yang mereka pelihara. Mungkin secara tidak sengaja, Charles menyentuh jilbab dan kedudukan wanita dalam Islam. Suatu pembicaraan yang seharusnya tidak disentuhnya, karena kurang mendukung gagasan positif yang telah dilemparkannya. Masalah wanita dalam Islam tidak seharusnya dilihat dengan kaca mata Barat. Tetapi, bagaimana kita mampu memahami nilai yang merupakan identitas suatu bangsa, tanpa harus membela salah satu sikap yang terdapat dalam tubuh bangsa lain. Demikian juga dengan penerapan ‘syari’at Islam’ yang sering disalahpahami oleh ahli hukum Barat khususnya. Alangkah baiknya jika Barat membiarkan bangsa lain untuk hidup dengan hukumnya, tanpa memberikan ‘vonnis’ yang diukur menurut ‘selera keadilan’ Barat sendiri.
Titik tolak yang paling tepat dalam dialog peradaban itu, kalaupun terlaksana, harus dimulai dari persamaan-persamaan dan harus berdiri pada pijakan yang kokoh dalam menghargai pendapat orang lain dan saling percaya. Tidak ada artinya dialog jika Barat tetap memandang kaum muslimin sebagai rival seperti di masa perang salib dahulu.
Adapun prasangka-prasangka di pihak Islam terhadap Barat dan tidak percaya, adalah disebabkan karena pengalaman-pengalaman pahit di masa kolonialisme yang baru saja berakhir. Penjajahan yang berlangsung tiga setengah abad bukan pengalaman yang sebentar dan tidak gampang dihapus. Tapi, mengabadikan gambaran itu juga tidak banyak manfaatnya. Jadi tiada lain, bagi kedua dunia ini (Islam dan Barat) melainkan untuk hidup bersamaan. Dan untuk menghilangkan kesalahpahaman yang timbal balik itu, sangat diperlukan jembatan yang dapat menanamkan kepercayaan kedua belah pihak. Bila kalangan Islam telah menyatakan kesiapannya untuk maju ke forum dialog itu, apakah Barat sudah mempersiapkan hal serupa? Nanti kita tunggu jawabannya.