roblem umum kaum Muslimin di zaman ini ialah memahami Islam secara parsial, juz´iy, alias tidak utuh. Yang mereka pahami dari Islam hanya sebatas ritual atau ibadah maḥdhah saja, seperti shalat, puasa, sedekah, haji, zakat fitrah. Termasuk juga di dalamnya akhlak atau prilaku sosial. Bila disampaikan kepada masyarakat awam aspek lain, misalnya soal kekuasaan (baca: politik), tampak dari wajah mereka isyarat keheranan Apalagi bila diterangkan kepada mereka masalah prinsip (dalam literatur barat disebut: ideologi), maka tidak sedikit dari mereka yang menunjukkan raut wajah kurang sependapat.
Beginilah nasib kaum Muslimin secara umum. Mereka memahami agamanya seperti umat agama lain di luar Islam. Memang diakui, di dunia ini -di mana saja- orang memahami agama (religion) adalah tata cara seseorang berhubungan dengan kepercayaannya atau apa yang diyakininya sebagai Tuhan. Padahal Islam tidak seperti itu. Islam bukan hanya sebatas ritual, praktik yang dilakukan seorang hamba dengan Penciptanya.
Dulu di zaman Nabi, seorang penggembala kambing datang menghadap Nabi dan bertanya: “Ajaran apa yang anda bawa ini”? Nabi menjawab: “Tidak ada Ilāh kecuali Allah”. Penggembala itu lantas merespon, dengan kepolosannya dan pemahamannya yang murni -tidak terkontaminasi-: “Itu adalah kalimat yang ditakuti oleh para raja dan dibenci oleh para penguasa”. Kalimat Tauhid yang dipahami oleh budak penggembala kambing itu jauh lebih luas dari apa yang dipahami kaum Muslimin saat ini. Kalimat Tauhid berarti
P
menolak kezaliman, kesewenang-wenangan, kediktatoran, kesombongan yang biasa ditampilkan oleh Raja atau penguasa.
Bila kita perhatikan konten ajaran Islam keseluruhannya, kita melihat ada paling tidak tiga komponen ajaran yang tidak bisa dipisah satu dari yang lain. Melepaskan yang satu dari yang lain, sama saja artinya tidak mengambil Islam keseluruhannya. Karena ikatan satu aspek dengan aspek lainnya merupakan ikatan kuat yang tidak bisa dipisah-pisah. Bila dipisah mengakibatkan hancurnya bagian yang lain.
Pertama, Aspek Ideologi, Aqidah, keyakinan. Setiap Muslim yang bersyahadat (mengucapkan Lā ilāha illallāh) artinya dia telah berikrar bahwa Allah-lah satu-satunya penguasa tunggal di alam ini. Apa yang datang dariNya adalah satu-satunya yang benar. Dan semua makhluk ciptaan-Nya wajib menundukkan kepala dan hatinya kepada Allah dan kepada aturan yang diturunkan Allah Ta`ala. Itulah makna Tauhid Ulūhiyah sejati. Bukan hanya beribadah dalam arti sempit dengan mengerjakan shalat, puasa, haji dan lainnya yang bersifat ritual murni kepada Allah. Sementara di luar ibadah formal itu, ia tunduk kepada faham sekuler, liberal, sosialis, bahkan marxis. Atau tunduk kepada penguasa zalim yang memperbudak rakyatnya.
Yang jatuh dalam kekeliruan ini tidak hanya orang awam, mereka yang tidak pernah belajar agama di bangku sekolah agama. Akan tetapi, orang yang telah menempuh pendidikan agama-pun juga tak sedikit jatuh dalam jurang berbahaya ini. Karena mereka beranggapan bahwa tugas utama manusia di dunia adalah melaksanakan Shalat, puasa, zakat, dan Haji. Apabila itu sudah dilaksanakan, maka segalanya sudah sempurna. Paham terakhir ini sebenarnya adalah faham sekuler berbaju Islam, atau orang liberal berjenggot. Paham ini masuk ke tubuh umat Islam bersamaan dengan masuknya penjajah dari bangsa-bangsa Eropa ke negeri-negeri Muslim. Penjajah masuk dan menanamkan faham sekuler dan memastikan bahwa bangsa jajahannya sudah siap menerima sekularisme sebelum mereka meninggalkan negeri jajahannya. Bayangkan, ratusan tahun dicekoki dengan ideologi sekuler, generasi
demi generasi turun temurun, maka wajar saja cara berpikir kaum Muslimin hingga sekarang masih sekularistik. Yang lebih parah bila paham sekular itu dikuatkan oleh para pendakwah agama.
Kedua, Aspek Ritual, atau Ibadah Mahdhah. Dalam soal ini, semua sepakat bahwa Islam datang membawa ajaran spiritual yang luar biasa, menyambungkan antara hamba dengan Penciptanya. Sejumlah ibadah disyari’atkan untuk itu. Dan pada umumnya ibadah tersebut membawa dampak positif dalam kehidupan umat Islam, baik pribadi maupun sosial. Ibadah merupakan alat untuk membersihkan jiwa, yang setiap saat mengalami kontaminasi dalam kehidupan duniawi. Dari ibadah itu, ada yang bersifat rutin harian, ada pekanan, ada tahunan, ada sekali seumur hidup. Shalat Fardhu dilakukan lima kali sehari, shalat jum`at dilakukan sekali sepekan, puasa wajib dilaksanakan sekali setahun, zakat harta dan zakat fitrah dibayarkan sekali setahun, haji dikerjakan sekali seumur hidup jika mampu.
Demikian pula ajaran-ajaran tersebut berdampak sosial. Shalat mengajarkan kebersamaan, puasa mengajarkan solidaritas kepada kaum lemah. Zakat mengajarkan kasih sayang dan pembelaan terhadap kaum fakir. Haji mengajarkan persaudaraan antar bangsa. Namun seorang Muslim tidak boleh merasakan bahwa aspek ritual adalah satu-satunya ajaran Islam. Sehingga tidak merasa perlu untuk menjadikan Islam sebagai ideologi dan tidak membutuhkan kekuasaan untuk menjalankan Islam. Hal ini jelas merupakan kekeliruan yang nyata dalam memahami Islam.
Ketiga, Aspek kekuasaan. Aspek ini adalah yang paling berat untuk diterima oleh kaum Muslimin yang awam. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa umat Islam telah mengalami pencucian otak (brain-washing) selama berabad-abad, mendoktrin mereka bahwa agama adalah masalah pribadi, bukan masalah publik. Agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, bukan mengatur hubungan sesama manusia. Kata mereka, selama ada kebebasan melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji, maka itu sudah merupakan puncak kebahagiaan dan kesuksesan. Adapun soal hubungan sesama manusia, apalagi masalah yang berhubungan dengan politik dan kekuasaan, maka itu tidak diatur oleh Islam. Inilah pelajaran yang diterima kaum Muslimin
berabad-abad lamanya. Dalam konteks Indonesia, ajaran ini dikembangkan oleh seorang misionaris Belanda, penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Agama, Snouck Hurgronje, yang menyamar dengan nama Abdul Ghaffar, ia keluar masuk pesantren-pesantren, menyebarkan pemahaman tersebut dan dia sangat dihormati dan dimuliakan oleh tokoh-tokoh agama pada masa itu. Padahal misinya adalah menjauhkan umat Islam dari urusan politik. Nasehatnya kepada penjajah Belanda, “Berikan apa yang diperlukan umat Islam dalam hal ibadah, lengkapi fasilitas ibadah mereka, tetapi jangan beri kesempatan kepada mereka untuk berpolitik”. Inilah ajaran Snouck yang hingga sekarang masih dirasakan efeknya di semua level, baik kalangan intelektual, maupun masyarakat awam.
Seseorang yang belajar Islam dengan benar, dan dari sumber aslinya, Kitabullāh dan Sunnah Rasulillāh, sirah dan perjuangan para Sahabat, pendahulu umat ini, maka tidak mungkin lahir pemahaman bahwa Islam hanya sebatas ajaran ritual belaka. Dalam hubungan ini, `Ali `Abdur Rāziq, seorang mantan Hakim Agama di Mesir, terpaksa dihukum oleh Ulama al-Azhar dalam suatu sidang yang mengadilinya, gara-gara dia mengingkari peran Rasul sebagai pemimpin negara. Menurut `Ali, Nabi Muhammad hanya sebatas Rasul atau utusan Allah untuk menyampaikan pesan-pesan akhirat. Di dalam bukunya yang berjudul "al-Islam wa Ushūl al-hukmi", `Ali mengingkari sistem Khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam. Kata dia, Rasul hanya bertugas menyampaikan pesan-pesan yang berhubungan dengan soal keakhiratan, bukan membangun kekuasaan/negara.
Praktis buku itu menimbulkan kegaduhan yang luar biasa di tengah akademisi, ulama, pemikir, dan umat Islam secara umum. Sejumlah buku terbit dalam tempo singkat menghajar `Ali `Abdur Rāziq dan membuktikan kebohongannya. Karena pemikiran `Ali yang sekularistik itu bertolak belakang dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Rasulullah pada masanya berperan sebagai Kepala Negara, sebagai hakim, sebagai panglima perang, di samping sebagai utusan Allah yang menyampaikan wahyu dari Allah Ta'ala.
Dengan sederhana, dapat dilihat hubungan ajaran Islam dengan kekuasaan, dalam praktik zakat di bawah kekuasaan Islam, sebagai
salah satu rukun Islam yang lima. Dalam sunnah, dikatakan bahwa pengumpulan zakat dilakukan dengan pengambilan secara paksa, bukan menunggu kedatangan para wajib zakat atau atas kemurahan hati mereka. Rasulullah menggambarkan mekanisme zakat dengan ungkapan: "Diambil dari orang kaya mereka dan disalurkan kepada orang fakir mereka". Pertanyaannya siapa yang datang mengambil zakat dari tiap wajib zakat? Dan siapa pula yang menyalurkan zakat kepada kaum Fakir? Jawabannya adalah penguasa, bukan individu. Demikianlah yang terjadi pada zaman Nabi Saw. Nabi tidak menunggu kedatangan para wajib zakat, akan tetapi Nabi mengirim petugasnya ke rumah-rumah penduduk untuk menghitung dan mengambil paksa zakat mereka. Ini saja sudah merupakan bukti bahwa Negara hadir dalam pelaksanaan salah satu rukun Islam. Negara ikut campur dalam pelaksanaan ajaran agama. Belum lagi kalau dilihat dari pelaksanaan hukum-hukum syariat ketika terjadi pelanggaran atas ketentuan hukum Allah dan Rasulnya, maka yang mengeksekusi hukuman, bukan lah pribadi seseorang, akan tetapi petugas negara yang ditunjuk oleh Rasulullah Saw. Dan di situ jelas terlihat bahwa Rasul adalah pemegang kekuasaan.
Siapa yang memotong tangan pencuri di zaman Nabi? Siapa yang melaksanakan hukuman cambuk bagi pezina bujangan dan rajam bagi pezina yang sudah menikah di zaman Nabi? Semua itu dilakukan oleh Rasulullah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Dalam bahasa sekarang posisi itu disebut Kepala Negara. Demikan pula kalau kita lihat kasus kasus peradilan. Nabi mengadili perkara; perkara rumah tangga, perakara muamalat/transaksi antara dua pihak, termasuk perkara yang terjadi antara Yahudi dengan Muslim dalam kasus pidana, juga antara Yahudi dengan sesamanya. Nabi yang tampil sebagai Hakim. Semua itu karena kedudukan Nabi sebagai pemegang kekuasaan.
Semua kasus itu dapat dibaca dalam literatur-literatur Islam, seperti kitab-kitab Hadits dan Ātsār, kitab sīrah Nabawiyah dan lainnya. Jadi demikian jelas dan terang bahwa Islam adalah agama yang mengatur kekuasaan. Dalam bahasa sekarang aspek ini disebut politik. Jadi orang yang mengingkari hubungan Islam dengan politik, berarti ia tidak memahami ajaran Islam, atau kalau ia paham, berarti
ia mengingkarinya, yang justru lebih membahayakan daripada orang yang tidak mengetahuinya.
Keempat, aspek Sosial. Islam mengandung ajaran yang menciptakan kedamaian dan kerukunan, baik dalam intern umat Islam maupun dengan kalangan umat lain di luar Islam. Islam mengajarkan silaturahim, membangun hubungan kasih sayang dengan sesama Muslim. Islam mengajarkan hubungan kemanusiaan dengan umat lain, saling menghargai dan berbuat kebaikan. Di dalam al-Qur´ān diterangkan bahwa terhadap orang-orang di luar Islam yang tidak menyerang kaum Muslimin dan tidak mengusir dari negeri mereka, diajarkan sikap berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka. Tetapi untuk kalangan yang memusuhi umat Islam dan menampakkan kebencian, dilarang membangun hubungan kedekatan dengan mereka.
Bila merujuk kepada ayat al-Qur´ān yang memerintahkan orang beriman agar masuk ke dalam Islam secara totalitas, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengklaim bahwa Islam hanyalah ajaran ritual atau spiritual, tanpa ada hubungannya dengan soal ideologi atau kekuasaan. Bahkan faham ini (baca: sekuler) justru faham asing yang datang dari luar Islam dan dipaksakan kepada kaum Muslimin. Tujuannya adalah untuk menjadikan umat Islam dikuasai oleh orang kafir. Hal inilah yang dilarang keras oleh Allah Taala di dalam al-Qur´ān: "Allah sekali-kali tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk
menguasai orang Mukmin." (Q.S al-Nisā : 141). Yang aneh bin ajaib,
muslim yang memahami Islam secara benar seperti ini justru jadi olok-olokan kaum kafir dan munafik yang menuduh mereka sebagai kaum "Radikal" dan "intoleran". Siapa sebenarnya yang radikal?!