BAB I PENDAHULUAN
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.3. Bagi Instansi Kesehatan
1. Sebagai dasar data pertimbangan instansi kesehatan mengenai diadakannya penyuluhan pencegahan kanker leher rahim.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ANATOMI SERVIKS
Serviks merupakan bagian terendah dari uterus yang menonjol ke vagina bagian atas. Bagian atas vagina berakhir mengelilingi serviks sehingga serviks terbagi menjadi bagian atas (supravaginal) dan bagian bawah (portio). Di anterior bagian batas atas serviks yaitu ostium interna kurang lebih tingginya sesuai dengan batas peritoneum pada kandung kemih. Kanalis servikalis berbentuk fusiformis dengan lubang kecil pada kedua ujungnya, yaitu orifisium interna yang bermuara ke dalam uterus dan orifisium eksterna yang bermuara ke dalam vagina (Moore, 2002).
Ada beberapa bagian-bagian serviks yaitu endoserviks (kanal endoserviks), ektoserviks/eksoserviks (bagian vaginal serviks), Os Eksternal (pembukaan kanal endoserviks ke ektoserviks), Forniks (refleksi dinding vaginal yang mengelilingi ektoserviks), Os Internal (bagian batas atas kanal) (lihat Gambar 2.1.) .
Pada serviks terdapat zona trasformasi ( transformation zone), yaitu: area terjadinya perubahan fisiologis sel-sel skuamos dan kolumnar epitel serviks.
Terdapat 2 ligamen yang menyokong serviks, yaitu ligamen kardinal dan uterosakral. Ligamen kardinal adalah jaringan fibromuskular yang keluar dari segmen bawah uterus dan serviks ke dinding pelvis lateral dan menyokong serviks. Ligamen uterosakral adalah jaringan ikat yang mengelilingi serviks dan vagina dan memanjang hingga vertebra. Serviks memiliki sistem limfatik melalui rute parametrial, kardinal, dan uterosakral. (Tortora, 2009).
Gambar 2.1. Anatomi dari serviks (Marieb, 2001).
2.2. HISTOLOGI SERVIKS
Serviks adalah bagian bawah uterus yang berbentuk silindris dan struktur histologisnya berbeda dari bagian lain uterus. Lapisannya terdiri atas epitel selapis silindris penghasil mukus. Serviks memiliki sedikit serabut otot polos dan terutama (85%) terdiri atas jaringan ikat padat. Bagian luar serviks yang menonjol ke dalam lumen vagina dilapisi epitel gepeng berlapis.
Mukosa serviks mengandung kelenjar serviks berisi mukus, yang banyak bercabang. Mukosanya tidak banyak berubah selama siklus menstruasi dan tidak terlepas selama menstruasi. Selama kehamilan, kelenjar mukus serviks berproliferasi dan menyekresi lebih banyak mukus yang lebih kental.
Sekret serviks berperan penting pada pembuahan oosit. Saat ovulasi terjadi, sekret mukosanya menjadi encer dan memungkinkan masuknya sperma ke dalam uterus. Pada fase luteal atau selama kehamilan, kadar progesteron mengubah sekret mukosa sehingga menjadi lebih kental dan mencegah masuknya sperma beserta mikroorganisme ke dalam korpus uterus. Pelebaran serviks yang mendahului kelahiran disebabkan oleh kolagenolisis hebat, yang memudahkan perlunakannya (Junqueira, 2007).
Gambar 2.2. Potongan histologi dari serviks (Kumar, 2007).
2.3. KANKER SERVIKS
Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel kanker di mulut rahim/serviks yang abnormal. Disana, sel-sel kanker tersebut mengalami perubahan ke arah displasia atau keganasan (Supriyanto, 2010).
2.3.1. FAKTOR RISIKO
Kanker serviks tidak hanya disebabkan oleh penyebab tunggal, yaitu virus HPV, tetapi juga di pengaruhi oleh sejumlah faktor risiko. Faktor risiko ini sudah diteliti oleh para ahli dan dianggap mempengaruhi secara langsung terhadap perkembangan kanker. Faktor risiko juga disebut dengan faktor predisposisi, yaitu faktor atau kondisi yang bisa memicu terjadinya kanker serviks. Berikut ini faktor yang bisa memicu terjadinya kanker serviks (Riksani, 2016).
2.3.1.1. USIA
Usia >35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker serviks. Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker laher rahim.
Meningkatnya risiko kanker leher rahim pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia (Diananda, 2007).
Namun tidak mustahil wanita yang lebih muda dapat menderita penyakit ini jika mempunyai faktor risikonya. Wanita yang aktif secara seksual pada usia 20-35 tahun dan terinfeksi oleh Human Papilloma Virus (HPV) akan menderita kanker serviks dalam periode waktu 10-20 tahun (Syatriani, 2011).
2.3.1.2. AKTIFITAS SEKSUAL
Wanita dengan aktifitas seksual yang tinggi, dan sering berganti-ganti pasangan akan meningkatkan risiko kanker serviks. Berganti-ganti pasangan atau berhubungan seksual dengan pria yang sering berganti-ganti pasangan seksual akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak dan tidak terkendali sehingga menjadi kanker.
2.3.1.3. USIA BERHUBUNGAN SEKSUAL
Menikah pada usia 20 tahun dianggap terlalu muda untuk melakukan hubungan seksual dan berisiko terkena kanker leher rahim 10-12 kali lebih besar dari pada mereka yang menikah pada usia >20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita benar-benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari sudah menstruasi atau belum. Kematangan juga bergantung pada sel-sel mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh.
Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah wanita berusia 20 tahun ke atas (Diananda, 2007).
Pada wanita yang menjalin hubungan seks pada usia <20 tahun memungkinkan terjadinya perlukaan pada serviks. Luka yang ditimbulkan menjadi media yang mudah untuk mengalami infeksi, termasuk infeksi dari virus HPV yang menyebabkan kanker serviks. Selain itu, karena sel-sel mukosa serviks yang masih rentan terhadap rangsangan dari luar, termasuk zat-zat kimia yang dibawa sperma. Sel mukosa bisa berubah sifat menjadi kanker. Sifat sel kanker selalu berubah setiap saat, yaitu mati dan tumbuh lagi tanpa bisa di prediksi.
Dengan adanya rangsangan, sel bisa tumbuh lebih banyak dari sel yang mati, sehingga perubahannya tidak seimbang lagi. Kelebihan sel ini akhirnya bisa berubah sifat menjadi sel kanker. Lain halnya bila hubungan seks dilakukan pada usia di atas 20 tahun, dimana sel-sel mukosa tidak lagi terlalu rentan terhadap rangsangan (Riksani, 2016).
2.3.1.4. PENGGUNAAN ANTISEPTIK
Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker (Diananda, 2007). Pemilihan cairan pembersih juga harus diperhatikan dengan memilih pembersih khusus area kewanitaan yang kadar pH-nya 3-4 dan ada izin dari Departemen Kesehatan. Hindari pembersih kewanitaan dengan kadar pH yang tinggi karena akan mengakibatkan kulit kelamin menjadi keriput dan mematikan bakteri yang mendiami vagina. Iritasi yang berlebihan dan terlalu sering dapat merangsang perubahan sel yang berakhir dengan kejadian kanker.
Pencucian vagina menggunakan bahan kimia dengan kadar pH yang tidak cocok sebaiknya tidak dilakukan secara rutin, kecuali jika ada indikasi misalnya infeksi yang memerlukan pencucian dengan zat-zat kimia yang disarankan dokter.
Pembersih tersebut dapat membunuh kuman termasuk bacillus doderlain di vagina yang memproduksi asam laktat untuk mempertahankan pH vagina (Syatriani, 2011).
2.3.1.5. MEROKOK
Nikotin, mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru, maupun serviks.
Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin yang dikonsumsinya bisa menyebabkan kanker leher rahim (Diananda, 2007). Bahan karsinogenik spesifik dari tembakau dapat dijumpai dalam lendir dari mulut rahim pada wanita perokok. Bahan karsinogenik ini dapat merusak DNA sel epitel skuamosa dan bersama infeksi HPV dapat mencetuskan transformasi keganasan (Rasjidi, 2009). Risiko wanita perokok terkena 4-13 kali lebih besar dibandingkan wanita bukan perokok (Diananda, 2007).
2.3.1.6. RIWAYAT PENYAKIT KELAMIN
Wanita yang pernah terkena infeksi menular seksual juga memiliki risiko yang tinggi terkena kanker serviks. Hal ini karena HPV bisa ikut tertular bersamaan dengan penyebab penyakit kelamin lainnya saat berhubungan seksual. Kaitan antara perubahan abnormal serviks (dysplasia) dan kanker serviks yang berkaitan dengan HIV telah dikenal sejak tahun 1990. Dari hasil penelitian itu diketahui bahwa 40% wanita yang terinfeksi HIV mengalami dysplasia leher rahim yang dikenali dengan pemeriksaan pap smear. Sekalipun ada kaitan nyata antar HIV positif dengan dysplasia leher rahim, tetapi sebagian besar wanita yang mengalami lesi tersebut berada dalam tahapan atau tingkat yang rendah. Seperti halnya pada populasi wanita secara umum, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kanker tidak hanya akibat infeksi dari HIV semata (Riksani, 2016).
2.3.1.7. PARITAS
Wanita dengan paritas (jumlah kelahiran) yang banyak, apalagi dengan jarak persalinan yang terlalu pendek akan meningkatkan risiko kanker serviks. Dari berbagai literatur yang ada, seorang perempuan yang sering melahirkan (banyak
anak) termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim.
Dengan seringnya seorang ibu melahirkan, maka akan berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher rahim (Diananda, 2007).
2.3.1.8. KONTRASEPSI ORAL
Hingga kini para ahli belum memiliki kesepahaman mengenai mekanisme penggunaan kontrasepsi oral yang bisa meningkatkan risiko terjangkitnya kanker serviks. Guven et al (2009), menyimpulkan hipotesis bahwa kekentalan lendir pada serviks akibat penggunaan kontrasepsi oral berperan dalam terjadinya kanker serviks. Hal ini karena kekentalan lendir bisa memperlama keberadaan agen karsinogenik penyebab kanker berada di serviks yang terbawa melalui hubungan seksual. Fakta yang menunjukkan bahwa adanya hubungan antara penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama, setidaknya 5 tahun dengan peningkatan kejadian kanker serviks (Riksani, 2016).
2.3.1.9. SIRKUMSISI
Sirkumsisi (sunat) adalah tindakan medis berupa pembuangan sebagian atau seluruh bagian prepusium yang melingkupi kepala penis. Pasangan pria yang tidak disirkumsisi dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Infeksi HPV pada penis ditemukan pada 166 orang dari 847 laki-laki yang tidak disirkumsisi (19,6%), lebih tinggi dari pada yang disirkumsisi (16 dari 292 laki-laki yang disirkumsisi). Sirkumsisi menurunkan risiko kanker serviks pada pasangan karena menurunkan risiko infeksi HPV pada penis. Laki-laki yang tidak melakukan sirkumsisi dapat meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena kanker serviks melalui mekanisme yang diduga berasal dari smegma yang terdapat pada prepusium laki-laki. Kelenjar sebasea yang memproduksi smegma terdapat pada lapisan dalam prepusium. Cairan ini berguna untuk melumasi permukaan prepusium. Letak kelenjar ini di dekat pertemuan prepusium dan glans penis yang
membentuk semacam ”lembah” di bawah korona glans penis (bagian kepala penis yang berdiameter paling lebar). “Lembah” ini merupakan tempat berkumpulnya keringat, debris/kotoran, sel mati, dan bakteri. Apabila pria disirkumsisi, kotoran ini mudah dibersihkan (Diananda, 2007).
2.3.1.10. DEFISIENSI ZAT GIZI
Diet rendah karotenoid dan defisiensi asam folat juga dimasukkan dalam faktor risiko kanker serviks (Rasjidi, 2009). Hal ini dikaitkan dengan penurunan sistem kekebalan tubuh akibat defisiensi zat gizi yang mengakibatkan mudahnya terinfeksi HPV.
2.3.1.11. OBAT
Konsumsi obat penekan kekebalan tubuh misalnya sehabis menerima donor organ tubuh manusia juga meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
2.3.1.12. SOSIAL EKONOMI RENDAH
Risiko tinggi juga terjadi pada wanita yang berasal dari golongan dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah. Hal ini dikaitkan dengan kemampuan untuk mendapatkan asupan makanan yang bergizi dan penting untuk menjaga serta meningkatkan daya tahan tubuh, terutama dalam menahan serangan infeksi virus dari luar. Selain itu, sosial ekonomi yang rendah juga menyebabkan wanita memiliki akses yang terbatas terhadap perkembangan dunia kesehatan, termasuk pentingnya melakukan melakukan pendektesian dini kanker serviks, salah satunya melalui pemeriksaan pap smear (Riksani, 2016).
2.3.2. PATOGENESIS
Kanker serviks sering terjadi pada daerah peralihan antara ektoserviks dan endoserviks dimana banyak terdapat sel skuamosa. Adenocarcinoma dan squamous cell carcinoma merupakan gambaran yang lazim ditemukan pada
kanker serviks, namun squamous cell carsinoma terdapat pada lebih dari 80% lesi kanker serviks (ACS, 2013).
Penyebab utama karsinoma serviks adalah infeksi virus Human Papilloma Virus. HPV tipe 16, 18, 31, 33, 52, 58 termasuk dalam mukosotropik dan dihubungkan dengan karsinoma serviks. Kebanyakan kasus karsinoma serviks disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18. Protein yang dihasilkan oleh HPV 16 adalah E7, berikatan dengan gen supresor tumor Rb sehingga menyebabkan inaktivasi dari gen tersebut. Sedangkan HPV 18 menghasilkan protein E6 yang dapat menginaktivasikan gen supresor tumor p53. Akibat pengikatan protein itu menyebabkan efek karsinogenik. Transmisi HPV biasanya terjadi akibat kontak seksual.
Setelah individu terinfeksi HPV, maka dapat terjadi infeksi yang lokal dan stabil, atau membaik secara spontan, atau berkembang menjadi lesi derajat rendah (low grade squamous intraepithelial lesion/LSIL, disebut juga cervical intraepithelial neoplasia/CIN I). Sebagian CIN I dapat hilang tanpa pengobatan atau tidak berkembang, terutama pada perempuan muda. Diperkirakan, dari 1 juta perempuan yang terinfeksi, 10% di antaranya akan menjadi lesi prakanker serviks.
Perubahan prakanker tersebut terjadi pada perempuan berusia 30-40 tahun. Dari sejumlah lesi prakanker, sekitar 8% di antaranya akan menjadi carcinoma in situ (CIS), lalu 1,6% akan berkembang menjadi kanker ganas bila CIS tersebut tidak terdeteksi (Kapita Selekta, 2014).
Berdasarkan gambaran histologi, kelainan prakanker dapat diperingkatkan sebagai CIN I (diplasia ringan), CIN II (diplasia sedang), dan CIN III (diplasia berat dan carsinoma in situ). Namun, pada apusan sitologi, lesi prakanker dibagi hanya menjadi dua kelompok : SIL (squamous intra epithelial lesion) derajat ringan (low grade squamous intraepithelial lesion/LSIL) dan derajat berat (high grade squamous intraepithelial lesion/HSIL). Lesi derajat ringan sesuai dengan CIN I dan lesi derajat berat dengan CIN II dan CIN III (Kumar, 2007).
2.3.3. MANIFESTASI KLINIS
Walaupun telah terjadi invasi ke sel tumor dalam stroma, kanker serviks masih mungkin menimbulkan gejala. Tanda dini kanker serviks tidak spesifik seperti adanya sekret vagina yang agak banyak dan kadang-kadang dengan bercak pendarahan. Umumnya tanda yang sangat minimal ini sering di abaikan oleh penderita (Aziz, 2006).
Gejala sering kali baru terlihat ketika kanker telah berkembang lebih jauh dan telah menyebar ke daerah di dekatnya. Namun, harus segera berkonsultasi dengan dokter bila menemukan gejala-gejala berikut yaitu pendarahan vagina yang bersifat abnormal. Misalnya pendarahan setelah bersenggama, pendarahan setelah menopause, perdarahan dan bercak darah antar menstruasi, dan periode menstruasi yang lebih lama atau lebih berat dari biasanya. Keputihan yang tidak normal. Ciri-cirinya adalah kental, warnanya kuning atau kecoklatan, berbau busuk, dan terasa gatal. Rasa sakit saat bersenggama (Indrawati, 2009).
Pada stadium lanjut ketika tumor telah menyebar ke luar serviks dan melibatkan jaringan di rongga pelvis dapat dijumpai tanda lain seperti nyeri yang menjalar ke pinggul atau kaki. Hal ini menandakan keterlibatan ureter, dinding panggul, atau nervus skiatik. Beberapa penderita mengeluh nyeri berkemih, hematuria, perdarahan rektum sampai sulit berkemih dan buang air besar.
Penyebaran ke kelenjar getah bening tungkai bawah dapat menimbulkan edema tungkai bawah, atau terjadi uremia bila telah terjadi penyumbatan kedua ureter (Aziz, 2006).
2.3.4. STADIUM KANKER SERVIKS
Tabel 2.1. Stadium kanker serviks menurut FIGO, 2009 (Pecorelli, 2009).
TINGKAT KRITERIA
Karsinoma serviks berdasar pemeriksaan mikroskopis, dengan terdalam invasi ≤ 5 mm dan ekstensi sebesar ≤ 7mm
Invasi stroma dengan kedalaman ≤ 3 mm dan invasi horizontal ≤ 7 mm Invasi stroma dengan kedalaman ≤ 5 mm dan invasi horizontal ≤ 7 mm Tampak lesi secara klinis, terbatas pada serviks, atau lesi mikrokopis yang lebih besar dari IA
Lesi ≤ 4 cm Lesi > 4 cm
Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bawah vagina
Tanpa invasi ke parametrium
Secara klinis terlihat ≤ 4 cm dalam dimensi terbesar Secara klinis terlihat > 4 cm dalam dimensi terbesar Tumor dengan invasi ke parametrium
Tumor meluas ke dinding panggul dan atau mencapai 1/3 bawah vagina dan atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai dinding panggul
Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan /atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal
Karsinoma telah melampaui panggul
Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan atau meluas keluar panggul kecil (true pelvis)
Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peritoneal, keterlibatan dari kelenjar getah bening supraklavikula, mediastinal, atau para aorta, paru, hati, atau tulang)
2.3.5. DIAGNOSIS
Diagnosis kanker serviks dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
2.3.5.1. ANAMNESIS
Sebagian besar wanita yang terdiagnosis kanker serviks bersifat asimptomatis.
Pada wanita yang memiliki gejala, stadium awal kanker serviks dapat memberikan keluhan seperti keputihan bercampur darah, edema pada kaki, nyeri pinggang,
tumor yang bertumbuh juga dapat menekan ke organ sekitar sehingga menimbulkan gejala lainnya (Schorge, 2008).
2.3.5.2. PEMERIKSAAN FISIK
Kebanyakan wanita dengan kanker serviks memiliki pemeriksaan fisik yang normal. Tetapi, seiring perjalanan penyakit, pembesaran kelenjar supraklavikular atau inguinal lymphadenopathy, edema tungkai, asites, ataupun penurunan suara nafas dengan auskultasi paru dapat menunjukkan adanya metastasis. Pada wanita yang diduga terkena kanker serviks, pemeriksaan genitalia eksterna dan vagina harus dilakukan. Dengan pemeriksaan spekulum, penampakan serviks dapat normal apabila kanker masih mikroinvasif. Sekret yang bersifat cair, purulen, atau bercampur darah, juga dapat dijumpai. Untuk alasan ini, kanker serviks dapat memiliki gambaran klinis yang serupa dengan penyakit lain, seperti leiomioma serviks, polip serviks, vaginitis, servisitis, plasenta previa, kehamilan servikal, kondiloma akuminata, herpetic ulcer, dan chancre. Pada pemeriksaan bimanual, dapat diraba pembesaran uterus akibat dari invasi dan pertumbuhan tumor. Pada kanker serviks tahap lanjut, perlu dilakukan pemeriksaan rektovaginal. Palpasi pada septum rektovaginal memberi gambaran septum yang tebal, keras, dan irregular. Invasi paling sering terjadi pada bagian proksimal posterior dari dinding vagina (Schorge, 2008).
2.3.5.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis kanker serviks diperoleh melalui pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi. Pada dasarnya bila dijumpai lesi seperti kanker secara kasat mata harus dilakukan biopsi walau hasil pemeriksaan pap smear masih dalam batas normal. Sementara itu, biopsi lesi yang tidak kasat mata dilakukan dengan bantuan kolposkopi. Kecurigaan adanya lesi yang tidak kasat mata didasarkan dari hasil pemeriksaan sitologi serviks (pap smear). Diagnosis kanker serviks hanya berdasarkan pada hasil pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi. Hasil pemeriksaan sitologi tidak boleh digunakan sebagai dasar penetapan diagnosis.
Biopsi dapat dilakukan secara langsung tanpa bantuan anastesia dan dapat dilakukan secara rawat jalan. Pendarahan yang terjadi dapat diatasi dengan penekanan atau meninggalkan tampon vagina. Lokasi biopsi sebaiknya dapat diambil dari jaringan yang masih sehat dan dihindari biopsi jaringan nekrosis pada lesi besar. Bila hasil biopsi dicurigai adanya mikroinvasi, dilanjutkan dengan konisasi. Konisasi dapat dilakukan dengan pisau (cold knife) atau dengan elektrokauter (Aziz, 2006).
Indikasi konisasi pisau adalah pemeriksaan kolposkopi yang tidak memuaskan, kuret endoserviks yang positif, histologi biopsi yang menyatakan mikroinvasi, kesenjangan antara pap smear dengan histologi biopsi dan adenodisplasia. Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan berkisar 14-22% tetapi dengan teknik yang baik perdarahan dapat diatasi, kejadian stenosis osteum berkisar 17% (Andrijono, 2010).
2.3.6. TATALAKSANA
Secara umum, tatalaksana karsinoma serviks mencakup operasi, radioterapi, atau kombinasi radioterapi dan kemoterapi. Pemilihan tatalaksana tersebut disesuaikan dengan stadium penyakit. Penanganan komprehensif karsinoma serviks membutuhkan kerja sama antara bidang ginekologi-onkologi, radioterapi-onkologi, serta gizi klinik (Kapita Selekta, 2014).
2.3.7. PENCEGAHAN
Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atau pencegahan sekunder, yaitu pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum menunjukkan adanya gejala penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat atau masih berada pada stadium praklinik. Secara umum, kasus kanker mulut rahim dan kematian akibat kanker mulut rahim bisa dideteksi dengan mengetahui adanya perubahan pada daerah mulut rahim dengan cara pemeriksaan sitologi menggunakan tes pap smear atau pemeriksaan inspeksi visual asam (IVA)
Sesuai dengan American College of Obstetry and Gynecology dan National Cancer Institute, dianjurkan pemeriksaan tes pap smear dan panggul setiap tahun terhadap semua wanita yang aktif secara seksual atau yang telah berusia 18 tahun.
Setelah wanita tersebut mendapatkan tiga atau lebih tes pap smear normal, tes dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang sesuai dengan yang dianjurkan dokter. Diperkirakan sebanyak 40% kanker serviks invasif dapat dicegah dengan skrining pap smear interval 3 tahun.
IVA merupakan tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 2 %) dan larutan iosium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya adalah untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker mulut rahim.
IVA tidak direkomendasikan pada wanita pasca menopause, karena daerah zona transisional seringkali terletak di kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo. IVA positif bila ditemukan adanya area berwarna putih dan permukaannya meninggi dengan batas yang jelas di sekitar zona transformasi (Rasjidi, 2009).
2.3.7.1. PENCEGAHAN PRIMER
Pencegahan primer adalah pencegahan terhadap penyebab penyakit seperti menunda onset aktivitas seksual, penggunaan kontrasepsi, dan penggunaan vaksinasi HPV.
Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami akan mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan. Dokter merekomendasikan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan spermisida) yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus. Penggunaan lateks lebih dianjurkan daripada kondom yang dibuat dari kulit kambing. Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien bisa mengurangi infeksi Human Papiloma Virus, karena mempunyai kemampuan proteksi >90%. Tujuan dari vaksin propilaktik dan vaksin pencegah adalah untuk mencegah perkembangan infeksi HPV dan rangkaian dari event yang mengarah ke kanker serviks. Kebanyakan vaksin adalah
berdasarkan respon humoral dengan penghasilan antibodi yang menghancurkan virus sebelum ia menjadi intraseluler. Masa depan dari vaksin propilatik HPV sangat menjanjikan, namun penerimaan seluruh populasi heterogenous dengan tahap pendidikan berbeda dan kepercayaan kultur berbeda tetap dipersoalkan.
Sebagai tambahan, prevelansi tinggi infeksi HPV mengindikasikan bahwa akan butuh beberapa dekade untuk program imunisasi yang sukses dalam usaha
Sebagai tambahan, prevelansi tinggi infeksi HPV mengindikasikan bahwa akan butuh beberapa dekade untuk program imunisasi yang sukses dalam usaha