• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Kanker Serviks

2.3.4. Stadium Kanker Serviks

Tabel 2.1. Stadium kanker serviks menurut FIGO, 2009 (Pecorelli, 2009).

TINGKAT KRITERIA

Karsinoma serviks berdasar pemeriksaan mikroskopis, dengan terdalam invasi ≤ 5 mm dan ekstensi sebesar ≤ 7mm

Invasi stroma dengan kedalaman ≤ 3 mm dan invasi horizontal ≤ 7 mm Invasi stroma dengan kedalaman ≤ 5 mm dan invasi horizontal ≤ 7 mm Tampak lesi secara klinis, terbatas pada serviks, atau lesi mikrokopis yang lebih besar dari IA

Lesi ≤ 4 cm Lesi > 4 cm

Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bawah vagina

Tanpa invasi ke parametrium

Secara klinis terlihat ≤ 4 cm dalam dimensi terbesar Secara klinis terlihat > 4 cm dalam dimensi terbesar Tumor dengan invasi ke parametrium

Tumor meluas ke dinding panggul dan atau mencapai 1/3 bawah vagina dan atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal

Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai dinding panggul

Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan /atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal

Karsinoma telah melampaui panggul

Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan atau meluas keluar panggul kecil (true pelvis)

Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peritoneal, keterlibatan dari kelenjar getah bening supraklavikula, mediastinal, atau para aorta, paru, hati, atau tulang)

2.3.5. DIAGNOSIS

Diagnosis kanker serviks dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

2.3.5.1. ANAMNESIS

Sebagian besar wanita yang terdiagnosis kanker serviks bersifat asimptomatis.

Pada wanita yang memiliki gejala, stadium awal kanker serviks dapat memberikan keluhan seperti keputihan bercampur darah, edema pada kaki, nyeri pinggang,

tumor yang bertumbuh juga dapat menekan ke organ sekitar sehingga menimbulkan gejala lainnya (Schorge, 2008).

2.3.5.2. PEMERIKSAAN FISIK

Kebanyakan wanita dengan kanker serviks memiliki pemeriksaan fisik yang normal. Tetapi, seiring perjalanan penyakit, pembesaran kelenjar supraklavikular atau inguinal lymphadenopathy, edema tungkai, asites, ataupun penurunan suara nafas dengan auskultasi paru dapat menunjukkan adanya metastasis. Pada wanita yang diduga terkena kanker serviks, pemeriksaan genitalia eksterna dan vagina harus dilakukan. Dengan pemeriksaan spekulum, penampakan serviks dapat normal apabila kanker masih mikroinvasif. Sekret yang bersifat cair, purulen, atau bercampur darah, juga dapat dijumpai. Untuk alasan ini, kanker serviks dapat memiliki gambaran klinis yang serupa dengan penyakit lain, seperti leiomioma serviks, polip serviks, vaginitis, servisitis, plasenta previa, kehamilan servikal, kondiloma akuminata, herpetic ulcer, dan chancre. Pada pemeriksaan bimanual, dapat diraba pembesaran uterus akibat dari invasi dan pertumbuhan tumor. Pada kanker serviks tahap lanjut, perlu dilakukan pemeriksaan rektovaginal. Palpasi pada septum rektovaginal memberi gambaran septum yang tebal, keras, dan irregular. Invasi paling sering terjadi pada bagian proksimal posterior dari dinding vagina (Schorge, 2008).

2.3.5.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Diagnosis kanker serviks diperoleh melalui pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi. Pada dasarnya bila dijumpai lesi seperti kanker secara kasat mata harus dilakukan biopsi walau hasil pemeriksaan pap smear masih dalam batas normal. Sementara itu, biopsi lesi yang tidak kasat mata dilakukan dengan bantuan kolposkopi. Kecurigaan adanya lesi yang tidak kasat mata didasarkan dari hasil pemeriksaan sitologi serviks (pap smear). Diagnosis kanker serviks hanya berdasarkan pada hasil pemeriksaan histopatologi jaringan biopsi. Hasil pemeriksaan sitologi tidak boleh digunakan sebagai dasar penetapan diagnosis.

Biopsi dapat dilakukan secara langsung tanpa bantuan anastesia dan dapat dilakukan secara rawat jalan. Pendarahan yang terjadi dapat diatasi dengan penekanan atau meninggalkan tampon vagina. Lokasi biopsi sebaiknya dapat diambil dari jaringan yang masih sehat dan dihindari biopsi jaringan nekrosis pada lesi besar. Bila hasil biopsi dicurigai adanya mikroinvasi, dilanjutkan dengan konisasi. Konisasi dapat dilakukan dengan pisau (cold knife) atau dengan elektrokauter (Aziz, 2006).

Indikasi konisasi pisau adalah pemeriksaan kolposkopi yang tidak memuaskan, kuret endoserviks yang positif, histologi biopsi yang menyatakan mikroinvasi, kesenjangan antara pap smear dengan histologi biopsi dan adenodisplasia. Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan berkisar 14-22% tetapi dengan teknik yang baik perdarahan dapat diatasi, kejadian stenosis osteum berkisar 17% (Andrijono, 2010).

2.3.6. TATALAKSANA

Secara umum, tatalaksana karsinoma serviks mencakup operasi, radioterapi, atau kombinasi radioterapi dan kemoterapi. Pemilihan tatalaksana tersebut disesuaikan dengan stadium penyakit. Penanganan komprehensif karsinoma serviks membutuhkan kerja sama antara bidang ginekologi-onkologi, radioterapi-onkologi, serta gizi klinik (Kapita Selekta, 2014).

2.3.7. PENCEGAHAN

Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atau pencegahan sekunder, yaitu pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum menunjukkan adanya gejala penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat atau masih berada pada stadium praklinik. Secara umum, kasus kanker mulut rahim dan kematian akibat kanker mulut rahim bisa dideteksi dengan mengetahui adanya perubahan pada daerah mulut rahim dengan cara pemeriksaan sitologi menggunakan tes pap smear atau pemeriksaan inspeksi visual asam (IVA)

Sesuai dengan American College of Obstetry and Gynecology dan National Cancer Institute, dianjurkan pemeriksaan tes pap smear dan panggul setiap tahun terhadap semua wanita yang aktif secara seksual atau yang telah berusia 18 tahun.

Setelah wanita tersebut mendapatkan tiga atau lebih tes pap smear normal, tes dapat dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang sesuai dengan yang dianjurkan dokter. Diperkirakan sebanyak 40% kanker serviks invasif dapat dicegah dengan skrining pap smear interval 3 tahun.

IVA merupakan tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 2 %) dan larutan iosium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya adalah untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker mulut rahim.

IVA tidak direkomendasikan pada wanita pasca menopause, karena daerah zona transisional seringkali terletak di kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo. IVA positif bila ditemukan adanya area berwarna putih dan permukaannya meninggi dengan batas yang jelas di sekitar zona transformasi (Rasjidi, 2009).

2.3.7.1. PENCEGAHAN PRIMER

Pencegahan primer adalah pencegahan terhadap penyebab penyakit seperti menunda onset aktivitas seksual, penggunaan kontrasepsi, dan penggunaan vaksinasi HPV.

Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara monogami akan mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan. Dokter merekomendasikan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan spermisida) yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus. Penggunaan lateks lebih dianjurkan daripada kondom yang dibuat dari kulit kambing. Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien bisa mengurangi infeksi Human Papiloma Virus, karena mempunyai kemampuan proteksi >90%. Tujuan dari vaksin propilaktik dan vaksin pencegah adalah untuk mencegah perkembangan infeksi HPV dan rangkaian dari event yang mengarah ke kanker serviks. Kebanyakan vaksin adalah

berdasarkan respon humoral dengan penghasilan antibodi yang menghancurkan virus sebelum ia menjadi intraseluler. Masa depan dari vaksin propilatik HPV sangat menjanjikan, namun penerimaan seluruh populasi heterogenous dengan tahap pendidikan berbeda dan kepercayaan kultur berbeda tetap dipersoalkan.

Sebagai tambahan, prevelansi tinggi infeksi HPV mengindikasikan bahwa akan butuh beberapa dekade untuk program imunisasi yang sukses dalam usaha mengurangi insiden kanker serviks (Rasjidi, 2009).

2.3.7.2. PENCEGAHAN SEKUNDER

Pencegahan sekunder adalah penemuan dini, diagnosis dini dan terapi dini terhadap kanker leher rahim seperti pemeriksaan pap smear. Hasil tes pap smear yang negatif sebanyak tiga kali berturut-turut dengan selisih waktu antar pemeriksaan satu tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. Untuk pasien (atau partner hubungan seksual yang level aktivitasnya tidak diketahui), dianjurkan untuk melakukan tes pap smear tiap tahun. Pasien yang memulai hubungan seksual saat usia < 18 tahun dan wanita yang mempunyai banyak partner (multiple partner) seharusnya melakukan tes pap smear tiap tahun, dimulai dari onset seksual intercourse aktif. Interval sekarang ini dapat diturunkan menjadi setiap 6 bulan untuk pasien dengan risiko khusus, seperti mereka yang mempunyai riwayat penyakit seksual berulang (Rasjidi, 2009).

2.4. PENGETAHUAN

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour) (Notoatmodjo, 2012).

2.4.1. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN Menurut Mubarak, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah sebagai berikut :

2.4.1.1. PENDIDIKAN

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain agar dapat memahami sesuatu hal. Tidak dapat dipungkiri bahwah semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya pengetahuan yang dimilikinya akan semakin banyak.

2.4.1.2. PEKERJAAN

Lingkungan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2.4.1.3. UMUR

Dengan pertambahan umur seseorang akan memahami perubahan fisik dan psikologi (mental).

2.4.1.4. MINAT

Minat sebagai kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu.

Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal, sehingga memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

2.4.1.5. PENGALAMAN

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

2.4.1.6. KEBUDAYAAN LINGKUNGAN SEKITAR

Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang. Kebudayaan lingkungan tempat kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.

2.4.1.7. INFORMASI

Kemudahan untuk memperoleh suatu infomasi dapat mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan yang baru.

2.4.2. PENGUKURAN PENGETAHUAN

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek penelitian atau responden (Mubarak, 2012).

2.5. KERANGKA TEORI

Berdasarkan pada masalah dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini maka kerangka teori dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.3. Kerangka teori.

2.6. KERANGKA KONSEP

Berdasarkan pada masalah dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini maka kerangka konsep dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.4. Kerangka konsep.

CIN (juta/thn) Kondiloma (ratusan

ribu/thn)

Sel epitel serviks

Mahasiswi Stambuk 2017 Fakultas Kedokteran

Pengetahuan Terhadap Faktor Risiko dan

CIN derajat berat (300.000/thn)

Metastasis (5000/thn) Kanker invasif (15.000/thn) Pajanan HPV

Infeksi episomal oleh HPV risiko rendah (6,11)

Integrasi virus HPV risiko tinggi (16, 18,

Infeksi persisten Usia, Aktifitas Seksual, Usia Berhubungan Seksual, Penggunaan Antiseptik,

Merokok, Riwayat Penyakit Kelamin, Paritas, Kontra Sepsi Oral, Sirkumsisi, Defisiensi Zat Gizi, Obat, Sosial Ekonomi Rendah

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. RANCANGAN PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang bertujuan mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan mahasiswi stambuk 2017 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara terhadap faktor risiko & pencegahan kanker serviks.

Adapun pendekatan yang digunakan adalah cross sectional dimana seluruh sampel akan diamati satu kali dan pada satu saat.

3.2. WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN 3.2.1. WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan sejak April 2017 sampai Desember 2017 yang mencakup pengajuan judul, penelusuran kepustakaan, penulisan proposal, pembacaan proposal, pengumpulan, dan pengolahan data hingga penulisan dan pembacaan hasil.

3.2.2. LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3.3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1. POPULASI PENELITIAN

Populasi penelitian ini adalah semua mahasiswi stambuk 2017 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.

3.3.2. SAMPEL PENELITIAN

Sampel penelitian adalah seluruh subjek yang diambil dari populasi penelitian dengan teknik pengambilan total sampling, dimana sampel penelitian berupa semua mahasiswi stambuk 2017 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan memenuhi kriteria inklusi & eksklusi.

3.4. KRITERIA INKLUSI & EKSKLUSI

Adapun kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian sebagai berikut:

3.4.1. KRITERIA INKLUSI

 Semua mahasiswi stambuk 2017 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

 Bersedia menjadi sampel penelitian

3.4.2. KRITERIA EKSKLUSI

 Tidak bersedia menjadi sampel penelitian

 Tidak mengisi kuesioner dengan lengkap

3.5. METODE PENGUMPULAN DATA

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer. Data diperoleh dari pengisian kuesioner oleh responden.

3.6. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Data yang sudah diolah akan dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan komputerisasi untuk mengetahui gambaran pengetahuan mahasiswi stambuk 2017 terhadap faktor risiko & pencegahan kanker serviks. Hasil dari data tersebut disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi atau proporsi.

3.7. DEFINISI OPERASIONAL

3.7.1. MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN

Peserta didik yang terdaftar dan belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2017 yang berjenis kelamin perempuan.

3.7.2. PENGETAHUAN TERHADAP FAKTOR RISIKO KANKER SERVIKS

Segala sesuatu yang diketahui atau tingkat pemahaman responden terhadap faktor risiko kanker serviks.

 Cara Ukur

Cara ukur pada penelitian ini adalah dengan meminta responden untuk menjawab kuesioner.

 Alat ukur

Alat ukur dari penelitian ini adalah kuesioner untuk menilai pengetahuan mahasiswi terhadap faktor risiko kanker serviks.

Kuesioner ini berisikan pernyataan dengan kemungkinan jawaban benar atau salah.

Skor 1 untuk jawaban benar Skor 0 untuk jawaban salah

 Hasil ukur

Hasil ukur dari pengetahuan terhadap faktor risiko kanker serviks dapat dikategorikan sebagai:

1. Baik, bila persentase benar antara (rentang nilai 9-11) 2. Cukup/Sedang (rentang nilai 5-8)

3. Kurang ( rentang nilai 0-4)

 Skala ukur

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal.

3.7.3. PENGETAHUAN TERHADAP PENCEGAHAN KANKER SERVIKS Segala sesuatu yang diketahui atau tingkat pemahaman responden terhadap pencegahan kanker serviks.

 Cara Ukur

Cara ukur pada penelitian ini adalah dengan meminta responden untuk menjawab kuesioner.

 Alat ukur

Alat ukur dari penelitian ini adalah kuesioner untuk menilai pengetahuan mahasiswi terhadap faktor risiko kanker serviks.

Kuesioner ini berisikan pernyataan dengan kemungkinan jawaban benar atau salah.

Skor 1 untuk jawaban benar Skor 0 untuk jawaban salah

 Hasil ukur

Hasil ukur dari pengetahuan terhadap faktor risiko kanker serviks dapat dikategorikan sebagai:

1. Baik, bila persentase benar antara (rentang nilai 9-11) 2. Cukup/Sedang (rentang nilai 5-8)

3. Kurang ( rentang nilai 0-4)

 Skala ukur

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini berlokasi di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang beralamat di jalan Dr. Mansyur No.5 Medan.

Penelitian ini dilakukan pada 151 responden yang merupakan mahasiswi aktif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2017. Karakteristik yang diamati pada responden adalah usia dan jenis kelamin. Karakteristik usia responden terbagi atas enam, yaitu 16, 17, 18, 19, 20, dan 21 tahun. Karakteristik jenis kelamin responden adalah seluruhnya perempuan.

Tabel 4.1. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia.

Usia Reponden Frekuensi Persentase (%)

16 tahun 2 1,3

17 tahun 59 39,1

18 tahun 73 48,3

19 tahun 13 8,6

20 tahun 3 2

21 tahun 1 0,7

Pertambahan usia seseorang dapat menunjukkan kematangan mental dan fisik seseorang sehingga mempengaruhi baik tidaknya seseorang dalam proses belajar mengajar. Bertambahnya usia seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang tersebut, termasuk pengetahuan kesehatan reproduksi yang bisa juga diperoleh dari pengalamannya Hasil penelitian menunjukkan usia responden termuda adalah 16 tahun dan usia responden tertua adalah 21 tahun. Dari 151 responden (Tabel 4.1.) ditemukan sebahagian besar responden memiliki umur 18 tahun sebanyak 73 orang (48,3%) dan disusul peringkat ke-2 dengan umur 17 tahun sebanyak 59 orang (39,1%), sedangkan kelompok responden yang paling sedikit adalah usia 21 tahun sebanyak 1 orang (0,7%).

Pada penelitian ini, pengetahuan responden dinilai berdasarkan 22 pernyataan yang mencakup pengetahuan mengenai faktor risiko dan pencegahan kanker

serviks. Sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap kuesioner pengetahuan dimana 22 pernyataan tersebut telah valid dan reliable.

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi pengetahuan responden terhadap faktor risiko kanker serviks.

No Pernyataan Pengetahuan Benar (skor 1)

Salah (skor 0)

N % N %

1 Kanker serviks (leher rahim) adalah pertumbuhan sel-sel kanker di serviks yang tidak normal dan sel-sel kanker tersebut mengalami perubahan ke arah keganasan

146 96,7 5 3,3

2 Faktor pencetus yang mengawali terjadinya kanker leher rahim adalah infeksi virus (Human Papilloma Virus/HPV)

139 92,1 12 7,9

3 Berhubungan seksual atau menikah muda (sebelum usia 20 tahun) tidak ada hubungannya terhadap terjadinya kanker serviks pada wanita

105 69,5 46 30,5

4 Risiko terjadinya kanker leher rahim meningkat bila wanita memiliki pasangan seksual yang banyak

142 94 9 6

5 Berhubungan seksual dengan pria yang sudah melakukan hubungan seksual dengan banyak wanita tidak akan meningkatkan risiko kanker serviks

121 80,1 30 19,9

6 Berhubungan seksual dengan pria yang tidak disunat bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks

92 60,9 59 39,1

7 Wanita yang sering melahirkan merupakan salah satu faktor risiko dari kanker serviks

36 23,8 115 76,2 8 Merokok bukan salah satu faktor risiko

terjadinya kanker leher Rahim

92 60,9 59 39,1 9 Menggunakan narkoba bisa menyebabkan

kanker serviks

73 48,3 78 51,7 10 Menggunakan obat penekan kekebalan tubuh

misalnya pada saat sehabis menerima donor organ tubuh manusia akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks

44 29,1 107 70,9

11 Kekurangan asupan vitamin B9 (asam folat) bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker serviks pada wanita

88 58,3 63 41,7

Berdasarkan distribusi frekuensi responden terhadap faktor risiko kanker serviks (Tabel 4.2.), pernyataan yang paling banyak dijawab responden dengan benar adalah pernyataan nomor 1 sebanyak 146 orang (96,7%).

Dari penelitian tingkat pengetahuan mahasiswi terhadap faktor risiko dan pencegahan kanker serviks ini ditemukan responden lebih banyak menjawab benar sebanyak 8 pernyataan dari 11 pernyataan yang di berikan (Tabel 4.2.), seperti pengertian dari kanker serviks (96,7%) dan HPV sebagai faktor pencetus kanker serviks (92,1%). Sebagian besar responden juga sudah mengetahui bahwa berhubungan seksual terlalu dini dan memiliki pasangan seksual yang banyak merupakan faktor risiko kanker serviks, hal tersebut dapat dilihat dari jawaban responden yang menjawab benar pada soal pernyataan nomor 3 sebanyak 69,5%

dan pada soal pernyataan nomor 4 sebanyak 94%. Hanya pada 3 soal pernyataan saja responden lebih banyak menjawab salah. Responden tidak mengetahui bahwa wanita yang sering melahirkan merupakan salah satu dari faktor risiko kanker serviks (soal pernyataan nomor 7).

Tingkat pengetahuan responden mengenai faktor risiko kanker serviks dapat dikategorikan menjadi baik, cukup, & kurang (Tabel 4.3.).

Tabel 4.3. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden terhadap faktor risiko kanker serviks.

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik 31 20,5

Cukup 113 74,8

Kurang 7 4,6

Pengetahuan responden mengenai faktor risiko kanker serviks (Tabel 4.3.) sebagian besar memiliki pengetahuan yang cukup dengan jumlah responden 113 orang (74,8%), dan 31 orang (20,5%) responden memiliki pengetahuan yang baik, dan hanya 7 orang saja (4,6%) dari responden tersebut memiliki pengetahuan yang kurang terhadap faktor risiko kanker serviks.

Dalam data ini dapat kita nilai bahwa tingkat pengetahuan responden yaitu mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2017 secara

umum dapat dikatakan cukup. Sehingga dimasa mendatang responden perlu lebih meningkatkan pemahamannya terhadap faktor risiko kanker serviks agar dimasa mendatang prevalensi dari penyakit kanker serviks bisa diturunkan.

Hal ini sesuai dengan penelitian Prakash Kanayasan (2011) mengenai tingkat pengetahuan mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Angkatan 2007 Universitas Sumatera Utara mengenai faktor resiko terjadinya kanker serviks yang mayoritas berpengetahuan cukup, yaitu sebanyak 66% (Kanayasan, 2011).

Tabel 4.4. Distribusi frekuensi pengetahuan responden terhadap pencegahan kanker serviks.

No Pernyataan Pengetahuan Benar

(skor 1)

Salah (skor 0)

N % N %

1 Menghindari faktor-faktor resiko kanker serviks merupakan tindakan tepat dalam pencegahan kanker serviks

144 95,4 7 4,6

2 Menunda aktifitas seksual sampai usia 20 tahun bukan merupakan salah satu pencegahan terjadinya kanker serviks

89 58,9 62 41,1

3 Agar terhindar dari kanker leher rahim (serviks), sebaiknya tidak berganti- ganti pasangan

139 92,1 12 7,9

4 Agar terhindar dari kanker serviks, sebaiknya mempunyai banyak anak

138 91,4 13 8,6 5 Menggunakan kondom saat berhubungan

seksual bisa memproteksi diri dari virus kanker serviks

107 70,9 44 29,1

6 Vaksinasi virus HPV bukan sebagai pencegahan dari kanker serviks

115 76,2 36 23,8 7 Pap smear merupakan salah satu bagian dari

pengobatan kanker serviks

80 53 71 47

8 Pap smear merupakan deteksi awal untuk kanker serviks

138 91,4 13 8,6 9 Tujuan dari pemeriksaan pap smear untuk

menjaga kesehatan daerah kewanitaan dari semua penyakit kelamin

30 19,9 121 80,1

10 Pemeriksaan tes pap smear dianjurkan setiap tahun terhadap semua wanita yang sudah melakukan hubungan seksual

102 67,5 49 32,5

11 IVA(Inspeksi Visual Asam) bukan merupakan deteksi awal untuk kanker serviks

73 48,3 78 51,7

Berdasarkan distribusi frekuensi pengetahuan responden terhadap pencegahan kanker serviks (Tabel 4.4.), di dapatkan pernyataan yang paling banyak dijawab responden dengan benar adalah pernyataan no 1 sebanyak 144 orang (95,4%).

Berdasarkan Tabel 4.4. responden lebih banyak menjawab benar sebanyak 9 pernyataan dari 11 pernyataan yang di berikan seperti pada pernyataan menghindari faktor risiko merupakan pencegahan kanker serviks (95,4%) dan tidak berganti-ganti pasangan agar terhindar dari kanker serviks (92,1%).

Seorang wanita dengan beberapa mitra seksual harus menggunakan kondom untuk mengurangi resiko tertular penyakit menular seksual apapun. Selain itu Wanita yang telah memiliki 3 atau lebih kehamilan cukup bulan memiliki peningkatan risiko terkena kanker leher rahim.(ACS, 2013)

Sebanyak 91,4% responden mengetahui bahwa pemeriksaan pap smear merupakan deteksi awal dari kanker seviks tetapi hal itu tidak berbanding lurus dengan pernyataan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam) sebagai deteksi awal kanker serviks, karena sebanyak 51,7% responden tidak mengetahui bahwa IVA merupakan deteksi awal dari kanker serviks. Hal tersebut membuktikan bahwa tingkat kepopuleran pap smear lebih tinggi dibanding dengan pemeriksaan IVA.

Tingkat pengetahuan responden mengenai pencegahan kanker serviks dapat dikategorikan pada tabel 4.5. berikut.

Tabel 4.5. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden terhadap pencegahan kanker serviks.

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik 49 32,5

Cukup 95 62,9

Kurang 7 4,6

Berdasarkan Tabel 4.5. dapat diketahui bahwa pengetahuan responden mengenai pencegahan kanker serviks sebagian besar memiliki pengetahuan yang cukup dengan jumlah responden 95 orang (62,9%), dan 49 orang (32,5%) responden memiliki pengetahuan yang baik, dan hanya 7 orang saja (4,6%) dari responden tersebut memiliki pengetahuan yang kurang terhadap pencegahan kanker serviks.

Dalam data ini dapat kita nilai bahwa tingkat pengetahuan responden yaitu mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2017 secara umum dapat dikatakan cukup. Sehingga dimasa mendatang responden perlu lebih meningkatkan pemahamannya terhadap pencegahan kanker serviks agar dimasa mendatang prevalensi dari penyakit kanker serviks bisa diturunkan.

Hal ini sesuai dengan penelitian Kesavanraj A/L Konarsigaran (2015) mengenai tingkat pengetahuan mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Angkatan 2011 Universitas Sumatera utara mengenai pencegahan terjadinya kanker serviks yang mayoritas berpengetahuan cukup, yaitu sebanyak 43,5% (Konarsigaran, 2015). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dari mahasiswi Fakultas Kedokteran terhadap pencegahan kanker serviks lebih tinggi daripada mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Sumatera utara, walaupun sebahagian besar responden masih sama-sama dalam kategori cukup. Hal tersebut mungkin

Hal ini sesuai dengan penelitian Kesavanraj A/L Konarsigaran (2015) mengenai tingkat pengetahuan mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Angkatan 2011 Universitas Sumatera utara mengenai pencegahan terjadinya kanker serviks yang mayoritas berpengetahuan cukup, yaitu sebanyak 43,5% (Konarsigaran, 2015). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dari mahasiswi Fakultas Kedokteran terhadap pencegahan kanker serviks lebih tinggi daripada mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Sumatera utara, walaupun sebahagian besar responden masih sama-sama dalam kategori cukup. Hal tersebut mungkin

Dokumen terkait