BAB I : PENDAHULUAN
E. Manfaat Penelitian
3. Bagi Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumbangan pikiran bagi
Kepala Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Perikanan dan Kelautan
untuk menyetujui anggaran kegiatan tahunan yang akan dibuat.
4 suatu sistem informasi keuangan, yang bertujuan untuk menghasilkan dan melaporkan informasi yang relevan bagi berbagai pihak yang berkepentingan.
Suwardjono (2013:10) dalam (Korompot & Poputra, 2014) menyatakan bahwa akuntansi sebagai kegiatan penyediaan jasa mengisyaratkan bahwa akuntansi yang akhirnya harus diterapkan untuk merancang dan menyediakan jasa berupa informasi keuangan harus bermanfaat untuk kepentingan sosial dan ekonomik negara tempat akuntansi diterapkan
“Keuangan daerah dapat diartikan sebagai sepanjang belum
dimiliki/dikuasai oleh Negara atau daerah yang lebih tinggi serta
pihak-pihak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk semua hak dan
surat-surat penting atau mengarsipkan, dan kegiatan dokumentasi
lainnya. Dipihak lain, tata usaha keuangan pada intinya adalah “tata
buku yang merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara
sistematis di bidang keuangan berdasarkan prinsip, standardisasi,
dan prosedur tertentu sehingga dapat memberikan informasi actual
di bidang keuangan.”Tata usaha keuangan atau tata buku ilnilah
yang sering disebut dengan akuntansi keuangan keuangan daerah,
meskipun tidak tepat benar karena tata buku hanya merupakan
sebagian kecil dari akuntansi.
“Salah satu lingkup dari keuangan Negara adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), disamping barang-barang inventaris kekayaan negara dan Badan Usaha Milik Negara(BUMN)”
(Halim, 2007:11).
2. Laporan Keuangan
Roviyantie (2011) dalam (Diani, 2014) menyebutkan bahwa Laporan keuangan merupakan sebuah produk yang dihasilkan oleh bidang atau disiplin ilmu akuntansi.
Menurut Prasetya, (2005:123), dalam (Sari et al., 2018) “Secara umum laporan ini menyediakan informasi mengenai pososi keuangan, kinerja, dan arus kas dalam satu periode. Laporan keuangan adalah produk pertanggung jawaban manajemen dalam penggunaan sumber daya dan sumber dana yang dipercayakan kepadanya”.
“Penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah pada akhir tahun dikerjakan oleh fungsi akuntansi SKPKD (Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) dilakukan dengan cara mengkonsolidasikan laporan keuangan dari setiap SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dengan laporan keuangan SKPKD(Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah) yang prosesnya” (Tanjung, 2015:3).
Menurut PP No.71 tahun 2010 tentang “Standar Akuntansi Pemerintahan Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber alokasi dan pemakian sumber daya keuangan yang dikelola oleh pemerintahan pusat/daerah, yang mengambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan” (Untari, 2015).
Sesuai dengan siklus akuntansi, setelah menyusun neraca saldo
penyesuaian, disusunlah laporan-laporan keuangan dengan mengambil
data dari neraca saldo setelah penyesuaian. Berdasarkan Permendagri
Nomor 4 Tahun 2017 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah yang
selanjutnya disingkat LKPD adalah pertanggungjawaban pelaksanaan
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Komponen LKPD sebagaimana
dimaksud pada ayat 3 huruf c, meliputi:
6 anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan, dengan tujuan memberikan informasi tentang realisasi anggaran dan realisasinya menunjukkan tingkat ketercapaian target-target yang telah disepakati antara legislatif dan eksekutif sesuai dengan peraturan perundang – undangan(Rampengan et al., 2016).
3. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Entitas akuntansi salah satunya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) memiliki kewajiban menyelenggarakan akuntansi atas transaksi-transaksi pendapatan, belanja aset dan selain kas yang terjadi dilingkungan satuan kerja. PPK SKPD menyusun laporan keuangan untuk satuan kerja bersangkutan, proses pencatatan tersebut dilakukan oleh Pejabat Penatausahaan Keauangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (PPK-SKPD) dan pada akhir periode, dari catatan tersebut.
Pada SKPD ada dua klasifikasi transaksi-transaksi akuntansi yaitu:
transaksi-transaksi sebagai satuan kerja dan transaksi-transaksi sebagai pemerintah daerah. Dari kedua transaksi-transaksi tersebut SKPD menyusun laporan keuangan sebagai kantor pusat (home office).(Tanjung, 2015:2)
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah perangkat daerah
pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran atau barang yang
d. Melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya.
e. Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran.
f. Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak.
g. Mengadakan ikatan atau perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan.
l. Melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran atau pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.
m. Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah (Nurlan Darise, 2009:33).
d. Bendahara Penerimaan dan Pengeluaran (Nurlan Darise, 2009:34).
4. Tugas dan Wewenang Bendahara Pengeluaran a. Bendahara Pengeluaran SKPD
Kegiatan penatausahaan pengeluaran atau belanja, Bendahara Pengeluaran memiliki tugas dan wewenang untuk:
1) Mempersiapkan dokumen Surat Permintaan Pembayaran (SPP) Uang Persediaan (UP)/Ganti Uang (GU)/Tambah Uang (TU) dan Langsung(LS) serta lampirannya.
2) Mengajukan SPP UP UP/GU/TU dan LS kepada PPK-SKPD.
3) Meneliti kelengkapan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK.
4) Mengembalikan dokumen pendukung SPP LS yang diberikan PPTK, apabila dokumen tersebut tidak memenuhi syarat/tidak lengkap.
5) Menerima dan menyimpan uang persediaan.
6) Melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya.
7) Menata usahakan dan mempertanggungjawabkan pengeluaran
uang dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD.
8
8) Menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan (Tanjung, 2015:182).
b. Bendahara Pengeluaran Pembantu SKPD
Bendahara pengeluaran pembantu, dalam kegiatan penata usahaan pengeluaran atau belanja memiliki tugas dan wewenang untuk :
1) Mengajukan permintaan pembayaran menggunakan SPP-TU dan SPP-LS kepada PPK SKPD
2) Meneliti kelengkapan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK.
3) Mengembalikan dokumen pendukung SPP LS yang diberikan PPTK, apabila dokumen tersebut tidak memenuhi syarat/tidak lengkap.
4) Menerima dan menyimpan uang persediaan yang berasal dari Tambahan Uang Persediaan dan/atau pelimpahan UP dari Bendahara Pengeluaran
5) Melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya.
6) Menata usahakan dan mempertanggungjawabkan pengeluaran uang dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD.
7) Menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan(Tanjung, 2015:183).
5. Pengertian Anggaran dan Fungsi Anggaran a. Pengertian Anggaran
Hariadi, Yanuar dan Icuk (2010:7) dalam Korompot & Poputra, (2014) menyebutkan “Anggaran adalah estimasi yang akan dicapai selama periode tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial”.
Salah satu fungsi utama anggaran adalah sebagai salah satu instrument perencanaan. “Anggaran adalah rencana kuantitatif yang meliputi aspek keuangan dan non-keuangan” Fahrianta & Carolina (2012).
Anggaran Sektor Publik adalah perencanaan finansial tentang
perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan
terjadi di masa mendatang dengan melihat data yang diperoleh
dari masa lalu sebagai acuan penetapan anggaran. Dalam
organisasi sektor publik, penganggaran merupakan suatu proses
politik. Karena pada sektor publik anggaran harus
diinformasikan kepada publik untuk di kritik, didiskusikan, dan
2) Anggaran merupkan cetak biru aktivitas yang akan dilaksanakan di masa mendatang.
3) Anggaran sebagai alat komunikasi intern yang menghubungkan berbagai unit kerja dan mekanisme kerja antar atasan dan bawahan.
4) Anggaran sebagai alat motivasi dan persuasi tindakan efektif dan efisien dalam pencapaian visi organisasi.
5) Anggaran merupkan instrument politik .
6) Anggaran merupkan instrument kebijakan fiskal (Bastian, 2001:80).
6. Belanja Langsung
Akuntansi belanja pada satuan kerja ini meliputi akuntansi belanja UP (Uang Persediaan), GU (Ganti Uang), TU (Tambah Uang), dan akuntansi belanja LS (Langsung) . UP atau uang persediaan adalah uang muka kerja yang bersifat pengisian kembali (revolving). Setiap SKPD biasanya akan mendapatkan UP diawal tahun anggaran dari Bendahara Umum Daerah. Belanja yang dilakukan oleh SKPD menggunakan uang persediaan ini dicatat dalam buku jurnal khusus belanja dengan mendebet akun belanja yang sesuai dan mengkredit Kas di Bendahara Pengeluaran. Secara periodik, Bendahara Pengeluaran SKPD akan membuat SPJ (Surat Pertanggungjawaban) Pengeluaran dan mengajukan Surat Permintaan (SPP) GU (Ganti Uang), yatiu penggantian uang persediaan (Pangkey & Pinatik, 2015).
Menurut UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, belanja daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode anggaran yang bersangkutan (Fahlevi & Ananta, 2015).
Berdasaran Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006
sebagaimana telah diubah dengan Permendagri No.59 Tahun 2007
dan adanya perubahan kedua dengan Peraturan Menteri Dalam
Negeri No.21 Tahun 2011 tentang perubahan kedua, belanja
langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari belanja
pegawai yang dimaksudkan untuk pengeluaran honorarium/ upah
10
dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintah daerah;
belanja barang dan jasa; dan belanja modal.
Berdasarkan Permendagri No. 21 tahun 2011 Belanja barang/jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa belanja barang pakai habis, bahan/material, jasa kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak/penggandaan, sewa rumah/gedung/gudang/parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas, perjalanan dinas pindah tugas dan pemulangan pegawai, pemeliharaan, jasa konsultansi, lainlain pengadaan barang/jasa, dan belanja lainnya yang sejenis serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat atau pihak ketiga (Fauzi, 2011)
7. APBN dan APBD
Menurut Undang-undang No. 17 tahun 2003 Tentang Keuangan Negara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dimaksud dengan APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Agar terjadi keseimbangan yang dinamis sebagai pedoman pengeluaran dan penerimaan negara dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan kenegaraan demi tercapainya peningkatan produksi, peningkatan kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi serta pada akhirnya ditujukan untuk tercapainya masyarakat adil dan makmur material maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 merupakan tujuan penyusunan APBN (Nyoman et al., 2018).
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan salah satu dokumen rencana kinerja dari aspek finansial, dimana anggaran itulah yang akan digunakan pemerintah daerah sebagai dasar untuk melakukan pembangunan daerahnya. Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri atas pendapatan daerah, belanja daerah, pembiayaan dan transfer. Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Standar Akuntansi Pemerintahan, struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri atas :
a. Anggaran pendapatan b. Anggaran belanja c. Transfer, dan
d. Pembiayaan (Cahya & Sari 2013).
Adisasmita (2011:3) mengutip dalam (Daling, 2013) APBD
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) adalah suatu rencana
operasional keuangan daerah, di satu pihak menggambarkan penerimaan
pendapatan daerah dan di lain pihak merupakan pengeluaran untuk yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
8. Realisasi
Erina & Suartana (2016) mengatakan “Pada proses penyusunan suatu anggaran partisipasi anggaran melibatkan pelaksanaan. Partispasi penganggaran melibatkan semua tingkat manajemen untuk ikut serta dalam mengembangkan rencana anggaran”.
Hingga saat ini penyusunan APBD masih dilakukan berdasarkan pertimbangan incremental budget yang seringkali tidak mempeerhatikan Kinerja Keuangan dalam APBD. Terjadinya inefisiensi karena belanja memiliki sifat yang relatif mudah dilakukan dan rentan akan kebocoran sehingga kemungkinan anggaran belanja dibuat lebih besar dari potensi realisasi belanja yang sebenarnya. Diharapkan realisasi pendapatan lebih besar jumlahnya dari anggaran pendapatan yang telah dibuat pada tahap pelaporan realisasi anggaran, dari potensi pendapatan yang mungkin didapat anggaran seringkali dibuat lebih kecil (Assidiqi, 2016).
9. Kinerja
Kinerja secara umum merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu “Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran,tujuan,misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic planning) suatu organisasi”
(Bastian, 2001:329).
Marizka (2010:41) dalam (Daling, 2013) mengungkapkan bahwa
analisis belanja daerah sangat penting dilakukan untuk mengevaluasi
apakah pemerintah daerah telah menggunakan APBD secara ekonomis,
12
efisien, dan efektif. Sejauh mana pemerintah daerah telah melakukan efisiensi anggaran, menghindari pengeluaran yang tidak perlu dan pengeluaran yang tidak tepat sasaran.
10. Pengukuran Kinerja
“Purnamasari (2019) mengatakan pengukuran kinerja keuangan mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan kinerja keuangan suatu instansi serta mengevaluasi kinerja keuangan dan menetapkan tujuan untuk kinerja masa mendatang” (Rawis et al., 2020).
Menurut Mahsun (2016) dalam (Nusarifa Tantri & Irmawati, 2018)
“Pengukuran kinerja merupakan suatu sistem yang bertujuan untuk membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan nonfinansial”.
Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran kinerja juga digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan sasaran (goals and objectives) dengan elemen kunci sebagai berikut:
a. Perencanaan dan penetapan tujuan.
b. Pengembangan ukuran yang relevan.
c. Pelaporan formal atas hasil.
d. Penggunaan informasi (Verasvera, 2016).
11. Indikator Kinerja
“Indikator Kinerja menggambarkan tingkat pencapaian sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan dengan ukuran kuantitatif dan kualitatif yang memperhitungkan elemen indikator yang terdiri atas : indikator masukan (Inputs), keluaran (Outputs), hasil (Outcomes), manfaat (Benefits) dan dampak (Impacts)” (Bastian, 2001:337).
(Nusarifa Tantri & Irmawati, 2018) mengatakan “Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan”.
Persyaratan penyusunan indikator dan sasaran kinerja menurut Darise
(2007) adalah:
a. spesifik dan jelas, sehingga tidak ada kemungkinan kesalahan interpretasi,
b. dapat diukur secara objektif,
c. harus menangani aspek aspek objektif yang relevan
d. harus berguna untuk menunjukkan keberhasilan operasional, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak,
e. sensitif terhadap perubahan,
f. terukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dan
g. dapat dikumpulkan, diolah, dan dianalisis datanya dengan biaya yang tersedia
.12. Konsep Efisiensi
Konsep produktifitas berhubungan dengan efisiensi. Pengukuran efisiensi dengan melakukan perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost of output). Proses kegiatan operasional dapat dikatakan efisien apabila suatu produk atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan prnggunaan sumber daya dan dana yang serendah – rendahnya (spending well) (Rampengan et al., 2016).
Dengan penggunaan sumber daya dan dana yang serendah – rendahnya maka proses kegiatan operasional dapat dicapai.
“Keputusan menteri dalam negeri no. 690.900-327 tahun 1996,
Dalam rumus diatas dapat dijelaskan bahwa output penelitian ini
adalah anggaran belanja langsung dan input adalah realisasi belanja
langsung. Adapun rumusnya :
14
(
)...(2) Sumber : (Suherlan, 2014)
13. Konsep Efektivitas
“Efektivitas menurut Mardiasmo (2009:132) memiliki dasar dengan pencapaian tujuan atau target kebijakan (hasil guna) efektivitas merupakan hubungan antara keluaran dengan tujuan atau sasaran yang harus dicapai. Kegiatan operasional dikatakan efektif apabila proses kegiatan mencapai tujuan dan sasaran akhir kebijakan (spending wesely)” (Muryanti, 2017).
Keputusan mentri dalam negri no. 690.900-327 Tahun 1996, kriteria tingkat efektifitas anggaran belanja sebagai berikut: Jika hasil Perbandingan lebih dari 100%, maka anggaran belanja sangat efektif a. Jika hasil pencapaian antara 90%-100%, maka anggaran belanja
dikatakan efektif
b. Jika hasil pencapaian antara 80%-90%, maka anggaran belanja dikatakan cukup efektif
c. Jika hasil pencapaian antara 60%-80%, maka anggaran belanja dikatakan kurang efektif
d. Jika hasil pencapaian antara 60%, maka anggaran belanja dikatakan tidak efektif (Palilingan et al., 2020).
Rumus efektivitas belanja sebagai berikut : (
)...(3) Sumber : (Palilingan et al., 2020)
Maka diperoleh dengan cara membandingkan realisasi anggaran belanja langsung dengan target anggaran belanja langsung (Mardiasmo, 2009:132) adapun rumusnya:
…...(4)
Sumber : (Sabrina, 2018)
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Berikut ini adalah hasil penelitian terdahulu yang menjadi referensi penulis dalam melakukan penelitian:
Jan 2008- Des 2010 Jan 2015-Des 2016 Jan 2015- Des 2020
Permasalahan 1. Bagaimana
16
atau dengan kata lain tidak ada realisasi anggaran belanja yang melebihi dari anggaran belanja yang telah ditetapkan.
menunjukkan kategori efisien, karena nilai persentase efisiensi yang dicapai kurang dari 100%. Sementara itu, jika dilihat dari rasio efektivitas menunjukkan kategori efektif, karena nilai persentase yang dicapai lebih dari 100%.
Sumber : (Jamiatul Muhdinati, 2017) & (Fahrianta & Carolina, 2012)
Antara penelitian terdahulu terdapat persamaan dan perbedaan yang penulis lakukan dengan hasil penelitian terdahulu sebagai berikut:
1. Persamaan antara Riswan Yudhi Fahrianta dan Viani Carolina (2012) dan Jamiatul Muhdinati (2017), yaitu topik yang diteliti anggaran sektor publik.
2. Perbedaan antara penelitian terdahulu yang penulis lakukan dengan hasil Riswan Yudhi Fahrianta dan Viani Carolina (2012) dan Jamiatul Muhdinati (2017) yaitu pada objek yang diteliti, variabel penelitian dan periode penelitian.
Lanjutan
18
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian tugas akhir ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif, menganalisis suatu data kejadian dengan data yang ada untuk dapat mengambil hasil kesimpulan. Agar mengetahui perbandingan anggaran dan realisasi belanja langsung serta tingkat efektivitas dan efisiensi pada Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2016 sampai 2020 dengan mendeskripsikan variabel berupa anggaran dan realisasi belanja langsung dengan penyelesaian masalah pada subjek penelitian.
B. Variabel Penelitian
Agar tidak salah dalam mengartikan maka diperlukan adanya pendefinisian variabel-variabel penelitian dari istilah pokok pada penelitian ini.
Variabel yang terdapat dalam penelitian ini ada 2 yaitu:
1. Kinerja Anggaran Belanja Langsung Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan
Kinerja anggaran belanja langsung Pelabuhan Perikanan
Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan
mengenai rencana kerja untuk tahun anggaran 2016 dan 2020 yang
digambarkan sebagai satuan pernyataan perkiraan penerimaan dan
pengeluaran yang diharapkan akan terjadi dalam tahun tersebut. Tingkat
pencapaian hasil yang telah direncanakan yang kemudian dihubungkan
dengan tujuan yang dipegang, setelah itu pimpinan dapat mengetahui
dampak positif dan negatif dari suatu kebijakan operasional yang telah
dilaksanakan. Dalam hal ini, data anggaran tahun 2016 sampai 2020
akan menjadi tolak ukur dalam pengukuran tingkat efektivitas dan
efisiensi.
2. Kinerja Realisasi Belanja Langsung Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan
Kinerja realisasi belanja langsung Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan dengan menggunakan data realisasi belanja langsung tahun 2016 sampai 2020 menjadi tolak ukur dalam pengukuran tingkat efektivitas dan efisiensi yang merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan dikonfirmasikan kepada Sekretaris Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan mengenai tindakan yang nyata atau adanya pergerakan/perubahan dari rencana yang sudah dibuat atau dikerjakan untuk tahun anggaran 2016 sampai 2020.
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data terdapat dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Data Kualitatif
Data kualitatif yang penulis kumpulkan berupa struktur organisasi, uraian tugas, catatan dan dokumen yang digunakan dan fungsi yang terkait Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang dikumpulkan penulis yang berkaitan dengan anggaran berupa Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Data Primer
20
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya, yang berupa hasil wawancara dengan Bendahara Pengeluaran Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
b. Data Sekunder
Data sekunder penelitian ini diperoleh dalam bentuk dokumen, catatan, dan informasi lainnya yang berkaitan dengan penyusunan anggaran kegiatan keuangan dan pertanggungjawaban realisasi kegiatan keuangan.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Wawancara (interview)
Teknik wawancara yang dilakukan penulis adalah mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara langsung dengan Bendahara Pengeluaran untuk mengetahui penyebab naik atau turunnya tingkat efektivitas dan efisiensi pada anggaran dan realisasi belanja kegiatan keuangan di Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
2. Dokumentasi
Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang berbentuk tulisan, gambar atau sebagainya yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
3. Teknik Pengamatan (Observasi)
Teknik pengamatan yang dilakukan penulis adalah pengamatan secara langsung dengan kegiatan yang berhubungan anggaran dan realisasi belanja langsung pada Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
E. Teknik Analisis Data
Secara sistematis teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun data yang didapat dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi.
Teknik analisis data yang digunakan adalah :
1. Mengumpulkan data realisasi belanja langsung tahun 2016 sampai 2020.
2. Mengumpulkan data anggaran belanja langsung tahun 2016 sampai 2020 3. Memasukkan data anggaran dan realisasi belanja langsung tahun 2016
sampai 2020 tersebut ke dalam rumus efektivitas belanja.
……..(2)
4. Memasukkan data anggaran dan realisasi belanja langsung tahun 2016 sampai 2020 tersebut ke dalam rumus efisiensi belanja.
(
)...(4) 5. Memasukkan hasil perhitungan efektivitas dan efisiensi belanja langsung
tahun 2016 sampai 2020 ke dalam tabel efektivitas belanja dan tabel efisiensi belanja.
6. Mendeskripsikan hasil perhitungan efektivitas dan efisiensi belanja
langsung tahun 2016 sampai 2020.
22
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Pelabuhan Perikanan Banjarmasin a. Profil Pelabuhan Perikanan Banjarmasin
Pelabuhan Perikanan Banjarmasin merupakan Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) yang bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan.
Berkedudukan dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan. Pelabuhan Perikanan Banjarmasin ini terletak di Jalan Barito Hulu, RT 26, RW 02, No.47, Kelurahan Pelambuan, Kecamatan Banjarmasin Barat.
Hal ini berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Unsur-Unsur Organisasi Dinas Kelautan dan Perikanan Dan Unit – Unit Pelaksana Teknis Di Lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan, serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : PER.16/MEN/2006 bahwa Pelabuhan Perikanan mempunyai fungsi mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari pra produksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran.
b. Visi dan Misi Pelabuhan Perikanan Banjarmasin 1) Visi Pelabuhan Perikanan Banjarmasin
Visi Pelabuhan Perikanan Banjarmasin yang merupakan
bagian integral dari visi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
Kalimantan Selatan adalah“Terwujudnya Pelabuhan
Perikanan Banjarmasin yang tertib, nyaman dan maju
sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan“
Perumusan visi tersebut dilatar belakangi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
a) Lokasi Pelabuhan Perikanan Banjarmasin yang strategis, sebagai pusat produksi dan distribusi hasil perikanan tangkap yang dapat dijangkau dari berbagai wilayah Kalimantan, Jawa dan Sulawesi melalui darat maupunperairan.
b) Tuntutan peningkatan pengelolaan manajamen Pelabuhan
b) Tuntutan peningkatan pengelolaan manajamen Pelabuhan
Dalam dokumen
TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya pada Program Studi Akuntansi
(Halaman 17-0)