• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Pendahuluan

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.3. Bagi Penelitian Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal dalam mengadakan penelitian yang terkait dengan perubahan eliminasi fekal pada pasien yang imobilisasi.

1.4. Batasan Penelitian

Batasan penelitian yang dilakukan peneliti dengan judul perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi yaitu kepada pasien gangguan neurologi dan pasien ortopedik.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Imobilisasi

2.1.1 Pengertian Imobilisasi

NANDA Internasional mendefinisikan gangguan mobilisasi fisik sebagai keterbatasan pada kemandirian, gerakan fisik pada tubuh, atau satu atau lebih ekstremitas. Gangguan tingkat mobilisasi fisik klien sering disebabkan oleh restriksi gerakan dalam bentuk tirah baring, restriksi fisik karena peralatan eksternal (misalnya gips atau traksi rangka, restriksi gerakan volunter, atau gangguan fungsi motorik dan rangka).

Imobilisasi dapat juga berbentuk tirah baring yang bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh, mengurangi nyeri dan untuk mengembalikan kekuatan. Individu normal mengalami tirah baring akan kehilangan kekuatan otot rata-rata 3% sehari (disuse atrophy). Imobilitas merupakan suatu kondisi yang relatif. Maksudnya, individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara normal, tetapi juga mengalami penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak, 2015). Imobilisasi suatu keadaan dimana penderita harus istirahat di tempat tidur, tidak bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau gangguan pada alat / organ tubuh yang bersifat fisik atau mental. Dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak yang terus-menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fisiologis (Bimoariotejo, 2009).

2.1.2 Jenis Imobilisasi

Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (2009), terdapat empat jenis imobilisasi, yaitu: (1) Imobilisasi fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada pasien dengan hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan tekanan di daerah paralisis sehingga tidak dapat mengubah posisi tubuhnya untuk mengurangi tekanan. (2) Imobilisasi intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan daya pikir, seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit. (3) Imobilisasi emosional, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri. Sebagai contoh, keadaan stres berat dapat disebabkan karena bedah amputasi ketika seseorang mengalami kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan sesuatu yang paling dicintai. (4) Imobilisasi sosial, merupakan keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya sehingga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.

2.1.3. Pengaruh Patologi Pada Mobilisasi

Banyak keadaan patologis yang mempengaruhi mobilisasi. Berikut merupakan gambaran tentang empat keadaan patologis akan diterangkan menurut Potter & Perry, 2010 :

1. Abnormalitas Postur. Abnormalitas postur kongenital atau yang di dapat memengaruhi efisiensi sistem muskuloskeletal, kesejajaran, keseimbangan, dan penampilan tubuh. Selama pengkajian, observasi

kesesejajaran tubuh dan rentang gerak klien. Postur yang abnormalitas dapat menyebabkan nyeri, ketidaksejajaran dan imobilisasi, atau keduanya. Pengetahuan tentang karakteristik, penyebab, dan terapi postur yang abnormal dibutuhkan untuk mengangkat, memindahkan dan memosisikan klien. Beberapa postur yang abnormal membatasi rentang gerak. Perawat memberikan intervensi untuk mempertahankan rentang gerak maksimum pada sendi yang tidak sakit, kemudian merencanakan intervensi untuk memperkuat otot dan sendi yang sakit, meningkatkan postur klien, dan secara adekuat menggunakan kelompok otot yang sakit dan tidak sakit. Rujukan dan/atau kolaborasi dengan terapi fisik meningkatkan intervensi perawat pada klien dengan postur yang abnormal.

2. Gangguan Perkembangan Otot. Cedera dan penyakit menyebabkan beberapa gangguan pada fungsi muskuloskeletal. Distrofi otot, misalnya, adalah sekelompok gangguan yang diturunkan yang dapat mennyebabkan degenerasi serat otot rangka. Distofi otot adalah penyakit otot yang paling sering dialami pada masa kanak-kanak. Klien dengan distrofi otot mengalami kelemahan yang progresif, kelemahan yang simetris, dan menyia-nyiakan sekelompok otot rangka, dimana akan meningkatkan ketidakmampuan dan deformitas (McCance dan Huether, 2005).

3. Kerusakan pada Sistem Saraf sentral. Kerusakan pada beberapa komponen sistem saraf pusat meregulasi gerakan volunter yang

menyebabkan gangguan kesejajaran tubuh, keseimbangan, dan mobilisasi. Trauma akibat cedera kepala, iskemia dan stroke atau cedera otak (cerebrovascular accident / CVA), atau infeksi bakteri seperti meningitis dapat merusak sebelum atau strip motorik pada korteks serebral. Kerusakan pada serebelum menyebabkan masalah pada keseimbangan dan gangguan motorik yang dihubungkan langsung dengan jumlah kerusakan strip motorik. Misalnya, seseorang dengan hemoragi serebral sisi kanan disertai nekrosis telah merusak strip motorik kanan yang menyebabkan himeplegia sisi kiri. Trauma pada korda spinalis juga dapat merusak imobilisasi. Misalnya, transeksi lengkap pada korda spinalis menyebabkan kehilangan kontrol motorik volunter bilateral di bawah sisi yang mengalami trauma karena serat motorik putus.

4. Trauma Langsung pada Sistem Muskuloskeletal. Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal menyebabkan memar, kontisio, keseleo, dan fraktur. Fraktur adalah terganggunya kontiunitas jaringan tulang.

Fraktur sering terjadi karena trauma eksternal langsung tetapi juga dapat disebabkan karena serangkaian beberapa deformitas tulang (misalnya fraktur patologis pada osteoporosis, penyakit paget, atau osteogenesis imperfekta). Anak muda biasanya mampu membentuk tulang yang baru dengan mudah dari pada orang dewasa, oleh karena itu mereka memiliki risiko yang rendah terhadap komplikasi setelah fraktur. Terapi biasanya meliputi memosisikan tulang yang fraktur pada

kesejajaran yang tepat dan mengimobilisasikan tulang tersebut untuk meningkatkan penyembuhan dan meningkatkan fungsi. Walaupun demikian, imobilisasi sementara ini dapat menyebabkan atrofi otot, kehilangan tonus otot, atau kekakuan sendi.

2.1.4. Patofisiologi Imobilisasi

Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot:

isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan

otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang.

Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung.

Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang.

Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang:

panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah.

Sendi adalah hubungan di antara tulang, diklasifikasikan menjadi:

1. Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang mendukung kekuatan dan stabilitas. Tidak ada pergerakan pada tipe sendi ini. Contoh: sakrum, pada sendi vertebra.

2. Sendi kartilaginous/sinkondrodial, memiliki sedikit pergerakan, tetapi elastis dan menggunakan kartilago untuk menyatukan permukaannya. Sendi kartilago terdapat pada tulang yang mengalami penekanan yang konstan, seperti sendi, kostosternal antara sternum dan iga.

3. Sendi fribrosa/sindesmodial, adalah sendi di mana kedua permukaan tulang disatukan dengan ligamen atau membran. Serat atau ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan, dapat bergerak dengan jumlah yang terbatas. Contoh:

sepasang tulang pada kaki bawah (tibia dan fibula) .

4. Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat digerakkan secara bebas dimana permukaan tulang yang berdekatan dilapisi oleh kartilago artikular dan dihubungkan oleh ligamen oleh membran sinovial. Contoh: sendi putar seperti sendi pangkal paha (hip) dan sendi engsel seperti sendi interfalang pada jari.

5. Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat, fleksibel mengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang dan kartilago. Ligamen itu elastis dan membantu fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif. Misalnya, ligamen antara vertebra, ligamen non elastis, dan ligamentum flavum mencegah kerusakan spinal kord (tulang belakang) saat punggung bergerak.

6. Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat, yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendon itu kuat, fleksibel, dan tidak elastis, serta mempunyai panjang dan ketebalan yang bervariasi, misalnya tendon akhiles/kalkaneus.

7. Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak mempunyai vaskuler, terutama berada disendi dan toraks, trakhea, laring, hidung, dan telinga. Bayi mempunyai sejumlah besar kartilago temporer. Kartilago permanen tidak mengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut dan penyakit, seperti osteoarthritis.

8. Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh. Area motorik volunter utama, berada di konteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur motorik.

9. Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian tubuh tertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi tubuh secara berkesinambungan. Misalnya proprioseptor pada telapak kaki berkontribusi untuk memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan.

Saat berdiri, ada penekanan pada telapak kaki secara terus menerus.

Proprioseptor memonitor tekanan, melanjutkan informasi ini sampai memutuskan untuk mengubah posisi (Asmadi, 2008).

2.1.5. Tingkat Imobilisasi

Tingkat imobilisasi dibagi atas 3 bagian, yaitu:

1. Imobilisasi Komplit : Imobilisasi dilakukan pada individu yang mengalami gangguan tingkat kesadaran.

2. Imobilisasi parsial : Imobilisasi yang dilakukan pada pasien yang mengalami fraktur dan gangguan pada sistem persarafam.

3. Imobilisasi karena pengobatan : Imobilisasi pada penderita gangguan pernapasan atau jantung. Pada klien tirah baring (bedrest) total, klien tidak boleh bergerak dari tempat tidur, berjalan, dan duduk di kursi. Keuntungan dari tirah baring antara lain mengurangi kebutuhan oksigen sel-sel tubuh, menyalurkan sumber energi untuk proses penyembuhan, dan mengurangi respons nyeri (Rosmalawati, 2016).

2.1.6. Perubahan Sistem Tubuh Akibat Imobilisasi.

Dampak dari imobilisasi dalam tubuh akan mempengaruhi sistem tubuh, seperti perubahan pada metabolisme tubuh, Ketidakseimbangan cairan dan

elektrolit, gangguan dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem pernapasan, perubahan kardiovaskular, perubahan sistem muskuloskeletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi, dan perubahan perilaku. (Hidayat, 2009).

2.1.7. Perubahan Metabolisme Pasien Imobilisasi

Perubahan mobilisasi akan memengaruhi fungsi metabolisme endokrin, resorpsi kalsium, dan fungsi sitem gastrointestinal. Sistem endokrin, menghasilkan hormon, mempertahankan dan meregulasi fungsi vital seperti : (1) berespons pada stres dan cedera, (2) pertumbuhan dan perkembangan, (3) reproduksi, (4) mempertahankan lingkungan internal, serta (5) produksi, pembentukan, dan penyimpanan energi.

Saat stres dan cedera terjadi, sistem endokrin memicu respons yang bertujuan untuk mempertahankan tekanan darah dan kehidupan. Sistem endokrin penting untuk mempertahankan homeostasis. Jaringan dan sel hidup pada lingkungan internal, dimana sistem endokrin membantu regulasinya dengan mempertahankan natrium, kalium, air, dan keseimbangan asam basa.

Sistem endokrin juga meregulasi metabolisme energi. Hormon tiroid meningkatkan laju metabolisme basa dan energi untuk selama aksi gastrointestinal dan hormon pankreatik.

Imobilisasi mengganggu fungsi metabolisme normal, seperti : menurunkan laju metabolisme; mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein;

menyebabkan ketidakseimbangan cairan, elektrolit dan kalsium; dan menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti nafsu makan dan peristaltik

berkurang. Namun demikian, pada proses infeksi, klien yang imobilisasi mengalami peningkatan BMR karena demam dan penyembuhan luka membutuhkan kebutuhan oksigen seluler.

Defisiensi kalori dan protein adalah ciri-ciri klien yang nafsu makannya berkurang karena imobilisasi. Tubuh secara konstan akan menyintesis protein dan menghancurkan protein menjadi asam amino ke bentuk lain protein. Saat klien imobilisasi, tubuh klien akan mengekskresikan nitrogen dari pada dicerna ke dalam bentuk protein, menghasilkan keseimbangan nitrogen negatif.

Kehilangan berat badan, peningkatan massa otot, dan kelemahan merupakan akibat dari katabolisme (pemecahan jaringan).

Perubahan metabolisme lainnya yang berhubungan dengan imobilisasi adalah resorpsi kalsium dari tulang. Imobilisasi menyebabkan pelepasan kalsium ke dalam sirkulasi. Secara normal, ginjal mengeksresikan kelebihan kalsium. Namun, jika ginjal tidak mampu berespons dengan tepat, maka terjadilah hiperkalsemia. Fraktur patologi terjadi jika reabsorpsi kalsium terus terjadi, karena klien tirah baring atau tetap imobilisasi.

Gangguan fungsi gastrointestinal karena berkurangnya mobilisasi dapat bervariasi. Kesulitan mengeluarkan feses (konstipasi) adalah gejala umum yang ditemukan, meskipun pseudiare sering terjadi akibat impaksi fekal (akumulasi feses yang mengeras). Waspadai bahwa temuan ini bukanlah diare yang seperti biasanya, tetapi feses yang mengandung air dikeluarkan di sekitar area impaksi. Jika tidak segera diatasi, impaksi fekal akan menyebabkan obstruksi usus mekanik yang secara sebagian atau keseluruhan akan

menghambat lumen intestinal, menghambat pengeluaran cairan dan gas yang normal. Cairan yang berada dalam intestinal menyebabkan distensi dan meningkatkan tekanan intraluminal. Selanjutnya, fungsi intestinal mengalami depresi: terjadi dehidrasi, absorpsi berhenti, serta ketidakseimbangan cairan dan elektrolit memburuk.

2.2. Eliminasi Fekal

2.2.1. Pengertian Eliminasi Fekal

Eliminasi fekal merupakan produk-produk sisa, seperti feses, secara teratur sangat penting untuk mendukung fungsi normal tubuh. Gangguan pada eliminasi biasanya merupakan gejala awal yang menunjukkan adanya masalah dalam sistem pencernaan gastrointestinal atau sistem pencernaan tubuh yang lainnya. Pola dan kebiasaan eliminasi fekal sangat bervariasi pada masing-masing individu karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan beberapa faktor.

Dengan mengetahui eliminasi normal serta faktor-faktor yang dapat meningkatkan, menghambat atau menyebabkan gangguan eliminasi dapat membantu mengatasi masalah eliminasi klien. Menghormati privasi klien dan kebutuhan emosional merupakan bentuk asuhan keperawatan pendukung.

Pengukuran yang didesain untuk meningkatkan eliminasi normal juga dibutuhkan untuk meminimalkan ketidaknyamanan klien (Potter & Perry, 2010).

2.2.2. Sistem Tubuh Yang Berperan Dalam Eliminasi Fekal

Eliminasi produk sisa yang teratur merupakan aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada sistem gastrointestinal dan sistem tubuh lainnya. Telah terbukti bahwa

pengeluaran feses yang sering, dalam jumlah besar, karakteristiknya normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya insiden kanker kolorektal.

(Robinson dan Weigley dalam fundamental keperawatan, 2006).

Organ saluran pencernaan dibagi menjadi dua bagian, yaitu: organ saluran gastrointestinal bagian atas dan organ saluran gastrointestinal bagian bawah.

1. Saluran Gastrointestinal Bagian Atas a. Mulut

Proses pencernaan dimulai di mulut dan diakhiri pada usus halus. Mulut secara mekanis dan kimiawi memecah nutrisi ke ukuran dan bentuk yang dapat digunakan. Gigi mengunyah makanan, memecahnya menjadi ukuran yang dapat dilewati dalam proses menelan. Saliva, yang diproduksi oleh kelenjar saliva di mulut, melarutkan dan melembutkan makanan dalam mulut untuk mempermudah proses menelan (Potter & Perry, 2010).

b. Faring

Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan esophagus. Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel). Di sini juga terletak persimpangan antara jalan nafas dan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut, di depan ruas tulang belakang. Ke atas bagian depan berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium (Tarwoto dan Wartonah, 2010).

c. Esofagus

Saat makanan memasuki esofagus atas, makanan akan melewati sfingter atas, otot sirkular mencegah udara masuk ke dalam esofagus dan mencegah refluks makanan ke dalam tenggorokan. Bolus makanan turun ke esofagus dan didorong melalui gerakan peristaltik, mendorong makanan melewati seluruh sistem pencernaan.Saat makanan didorong melewati esofagus, makanan akan melewati sfingter esofageal bawah atau kardiak, yang berada di antara esofagus dan ujung atas lambung. Sfingter ini berfungsi untuk mencegah refluks isi lambung ke esofagus (Potter &

Perry, 2010).

d. Lambung

Lambung berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan dan cairan;

mencampur makanan, cairan, dan enzim-enzim pencernaan; serta mengosongkan isinya ke dalam usus halus. Lambung memproduksi dan menyekresikan asam hidroklorida (HCI), mukus, enzim pepsin, dan faktor-faktor intriksi. Pepsin dan HCI membantu dalam pencernaan protein. Mukus melindungi mukosa lambung dari asam dan aktivitas enzim. Faktor intriksi penting untuk absorpsi vitamin B12 (Potter & Perry, 2010).

2. Saluran Gastrointestinal Bagian Bawah a. Usus Halus

Sugmentasi dan gerakan peristaltik pada usus halus membantu dalam proses pencernaan serta absorpsi. Klimus bercampur dengan enzim-enzim pencernaan (seperti empedu dan amilase). Reabsorpsi pada usus halus

sangat efisien hingga klimus mencapai ujung akhir usus halus, dan membentuk suatu konsistensi penccernaan (Potter & Perry, 2010).

Usus halus memiliki tiga bagian : duodenum, jujenum, dan ileum.

Duodenum memiliki panjang kurang lebih 8-11 inchi (20-28 cm), dan meneruskan proses pembentukan kimus yang berasal dari lambung.

Jujenum memiliki panjang kurang lebih 8 kaki (2,5 meter), mengabsorpsi karbohidrat dan protein. Ileum memiliki panjang kurang lebih 12 kaki dan mengabsorpsi air, lemak, serta garam empedu. Usus halus, khususnya duodenum dan jujenum, lebih banyak mengasorpsi nutrisi dan elektrolit.

Ileum mengabsorpsi vitamin tertentu, zat besi, dan garam empedu. Nutrisi diabsorpsi ke dalam cairan limfa atau pembuluh darah pada dinding usus (Melewati mukosa). Makanan apapun yang tidak yang tidak dapat dicerna oleh usus halus, seperti makanan berserat, makanan tersebut akan utuh hingga mencapai sekum pada sisi bawah kanan abdomen. Sekum berada pada awal usus besar (Potter & Perry, 2010).

Kerusakan pada usus halus dapat mengganggu proses pencernaan.

Misalnya, keadaan seperti inflamasi, pembedahan reseksi, atau obstruksi lain yang mengganggu gerakan peristaltik, Mengurangi area absorpsi, atau menghambat perjalanan kimus. Selanjutnya, akan terjadi defisiensi elektrolit dan nutrisi (Potter & Perry, 2010).

b. Usus Besar atau Kolon

Sistem pencernaan bagian bawah disebut dengan usus besar (kolon) karena diameternya lebih besar dari pada usus halus. Meskipun

panjangnya 5-6 kaki (1,5-1,8 m) jauh lebih pendek, tetapi usus ini lebih besar. Usus besar dibedakan atas sekum, kolom, dan rektum. Usus besar merupakan organ utama eliminasi fekal. Posisinya membentuk tanda tanya, dan sebagian besar melingkari usus halus (Potter & Perry, 2010).

Kimus memasuki usus besar melalui gerakan peristaltik dan melewati vulva ileosekal, yaitu lapisan otot sirkular yang mencegah regurgitasi.

Kolon dibedakan atas kolon asendens, kolon transversum, kolon desendens, dan kolon sigmoid. Lapisan otot kolon memungkinkan kolon membantu dan mengeliminasi sejumlah hasi besar sisa pencernaan dan gas (flatus). Kolon memiliki tiga fungsi, yaitu: absorpsi, sekresi, dan eliminasi.

Usus besar mengabsorpsi air, natrium, dan klorida dari makanan yang dicerna yang telah melewati usus halus. Orang dewasa yang sehat mengabsorpsi lebih dari satu galon air dan satu ons garam dari kolon setiap 4 jam. Jumlah air yang diabsorpsi dari kimus bergantung pada kecepatan gerakan isi kolon. Kimus normalnya membentuk massa yang lembek. Jika gerakan peristaltik bergerak cepat secara abnormal, hanya sedikit waktu yang digunakan untuk absorpsi air, sehingga feses menjadi sedikit cair. Jika kontraksi peristaltik lambat, maka air akan terus diabsorpsi dan akan terbentuk feses dengan massa yang keras, yang dapat menyebabkan konstipasi (Potter & Perry, 2010).

Fungsi sekresi usus adalah membantu keseimbangan elektrolit.

Bikarbonat disekresikan untuk menggantikan ion klorida. Kolon mengeksresikan 4-9 mEq kalium setiap hari. Gangguan yang serius pada

fungsi kolon (seperti diare) dapat menyebabkan gangguan elktrolit yang parah (Potter & Perry, 2010).

Kontraksi peristaltik yang lambat menyebabkan isi kolon bergerak di sepanjang kolon. Isi usus merupakan stimulus utama kontraksi. Gerakan peristaltik yang kuat mendorong makanan yang tidak diccerna ke dalam rektum. Gerakan ini terjadi hanya tiga atau empat kali sehari, disertai gerakan yang paling kuat selama beberapa saat setelah waktu makan (Potter & Perry, 2010).

Rektum adalah bagian terakhir dari usus besar. Pada rektum, bakteri mengubah isi fekal menjadi bentuk terakhirnya. Rektum secara normal berfungsi untuk mengosongkan produk-produk sisa (feses) sesaat sebelum buang air besar. Rektum dibentuk oleh lipatan-lipatan jaringan yang tersusun secara vertikal dan transversal, yang dapat membantu menahan fekal selama defekasi. Masing-masing lipatan disusun oleh arteri dan vena yang dapat mengalami distensi karena tekanan selama seseorang mengedan. Distensi ini sering menyebabkan pembentukan hemoroid (Potter & Perry, 2010).

2.2.3. Proses Pembentukan Feses

Setiap harinya, sekitar 750 cc chyme masuk ke kolon dari ileum. Di kolon, chyme tersebut mengalami proses absorbsi air, natrium, dan klorida. Absorbsi ini dibantu dengan adanya gerakan peristaltik usus. Dari 750 cc chyme tersebut, sekitar 150-200 cc mengalami proses reabsorbsi.

Chyme yang tidak direabsorbsi menjadi bentuk semisolid yang disebut feses (Asmadi, 2008).

Selain itu, dalam saluran cerna banyak terdapat bakteri. Bakteri tersebut mengadakan fermentasi zat makanan yang tidak dicerna. Proses fermentasi akan menghasilkan gas yang dikeluarkan melalui anus setiap harinya, yang kita kenal dengan istilah flatus. Misalnya, karbohidrat saat difermentasi akan menjadi hidrogen, karbondioksida, dan gas metan.

Apabila terjadi gangguan pencernaan karbohidrat, maka akan ada banyak gas yang terbentuk saat fermentasi. Akibatnya, seseorang akan merasa kembung. Protein, setelah mengalami proses fermentasi oleh bakteri, akan menghasilkan asam amino, indole, statole, dan hydrogen sulfide. Oleh karenannya, apabila terjadi gangguan pencernaan protein, maka flatus dan fesesnya menjadi sangat bau (Asmadi, 2008).

2.2.4. Proses Defekasi

Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi, yaitu terletak di medula dan sumsum tulang belakang. Apabila terjadi rangsangan parasimpatis, sfingter anus bagian dalam akan mengendur dan usus besar menguncup. Refleks

Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi, yaitu terletak di medula dan sumsum tulang belakang. Apabila terjadi rangsangan parasimpatis, sfingter anus bagian dalam akan mengendur dan usus besar menguncup. Refleks