Bab IV Metodologi Penelitian
4.4 Pertimbangan Etik
Penelitian ini mendapatkan izin dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan telah mendapatkan izin penelitian dan prosedur pelaksanaan penelitian. Calon responden yang bersedia, maka dipersilahkan untuk menandatangani informed consent yang telah diberikan oleh rumah sakit tersebut. Tetapi jika responden tidak bersedia, maka calon responden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri selama proses berlangsung. Penelitian ini tidak menimbulkan risiko bagi individu yang menjadi responden. Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan tidak akan disebarluaskan serta data-data yang diperoleh dari responden hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
Prinsip etik yang dipenuhi adalah sebagai berikut: (1) Autonomy, komitmen terhadap responden dalam mengambil keputusan tentang penelitian.
Persetujuan yang dibaca dan ditandatangani responden sebelum penelitian menggambarkan penghargaan terhadap otonomi. Persetujuan yang ditandatangani merupakan jaminan bahwa peneliti telah mendapatkan persetujuan dari responden sebelum penelitian dilakukan; (2) Beneficence, melakukan niat baik; penelitian ini merupakan kegiatan positif untuk membantu responden; (3) Nonmaleficence, tidak mencederai orang lain; penelitian ini tidak berbahaya sehingga tidak akan mencederai responden; (4) Fidelity, kesetiaan; persetujuan untuk menepati janji;
(5) Justice, prinsip ini merujuk pada keadilan; dalam melakukan penelitian, peneliti melakukannya dengan cara yang sama kepada seluruh responden.
4.5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yaitu berisi data demografi resposden yang meliputi: kode responden, umur, jenis kelamin, diagnosa, dan lama hari rawat, terapi obat-obatan, terapi diet, agama, suku, pendidikan, pekerjaan. Bagian kedua yaitu kuesioner konstipasi. Kuesioner ini diadopsi dari tanda dan gejala konstipasi menurut Agatchan et al, 1996. Kuesioner ini bertujuan untuk mengidentifikasi responden yang mengalami konstipasi dengan cara mengkaji tanda dan gejala konstipasi. Terdapat delapan pertanyaan dalam mengkaji
responden, antara lain:Frekuensi buang air besar, mengedan saat buang air besar, merasa tidak puas saat buang air besar, merasa sakit perut, waktu yang digunakan saat buang air besar, bantuan yang digunakan saat ingin buang air besar, tidak berhasil buang air besar dalam 24 jam, seberapa sering mengalami susah buang air besar.
Dalam pertanyaan tersebut ada 7 pertanyaan yang menggunakan skala likert yaitu 0-4 dan 1 pertanyaan dengan penilaian 0-2. Pada penilaian 0-15, maka pasien tidak mengalami konstipasi dan pada peilaian 16-30, maka pasien diakategorikan mengalami konstipasi.
4.6. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 4.6.1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud. Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas yang tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto,2013). Instrumen penelitian ini berbentuk kuesioner yang diadopsi dari tanda dan gejala konstipasi menurut Agachan (1996), sehingga akan dilakukan uji validitas isi (content validity index) yang diuji oleh ahli bidang di perubahan eliminasi fekal yang diuji oleh dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara bagian Departemen Keperawatan Medikal Bedah (KMB) dengan nilai uji validitas yaitu 1.
Menurut Polit & Beck (2012) suatu alat ukur dianggap valid jika content validity index (CVI) > 0,6.
4.6.2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau leih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012). Instrumen penelitian ini berbentuk kuesioner yang diadopsi dari tanda dan gejala konstipasi menurut Agachan (1996). Uji reliabilitas dilakukan untuk menguji
konsisten responden dalam merespon instrumen. Uji reliabilitas dilakukan setelah uji validitas, hanya item yang valid saja yang dilibatkan dalam uji reliabilitas. Uji reliabilitas dilakukan dengan metode Cronbach dalam program SPSS for Windows. Uji reliabilitas akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada 30 responden di luar sampel penelitian dan nilai uji reliabilitasnya adalah 0,765. Menurut Polit & Beck (2012) suatu instrumen dikatakan reliabel jika nilai koefisiennya lebih dari 0,7.
4.7.Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan mengisi kuesioner dan lembar observasi. Pengumpulan data dimulai dengan cara mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada Fakultas Keperawatan USU dan Komisi Etik Keperawatan kemudian mengirim surat izin penelitian dari Fakultas Keperawatan USU ke RSUP H. Adam Malik Medan.
Setelah mendapat izin maka dilakukan pengumpulan data. Peneliti mencari responden sesuai dengan kriteria yang telah dibuat sebelumnya. Apabila peneliti sudah menemukan responden, peneliti menjelaskan tujuan dan manfat dari penelitian. Terlebih dahulu peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan dan manfaat dari penelitian kepada responden. Responden yang bersedia untuk menjadi sampel penelitan diminta untuk menandatangani surat persetujuan menjadi responden penelitian. Responden diminta untuk menjawab semua pernyataan yang diajukan peneliti dalam kuesioner. Jika responden kesulitan membaca kuesioner atau menuliskan jawaban, maka peneliti membacakan
pertanyaan kuesioner dan peneliti segera menuliskan jawaban responden atau mengulang pertanyaan kuesioner kepada responden apabila jawabannya kurang di pahami. Setelah peneliti selesai mengisi kuesioner dan lembar observasi maka seluruh data dikumpulkan kembali untuk diperiksa kelengkapannya dan dianalisa.
4.8. Metode Analisis Data 4.8.1. Pengolahan Data
Menurut Notoatmodjo (2012), proses pengolahan data ini melakukan tahap-tahap sebagai berikut:
a. Editing, peneliti memeriksa kelengkapan data dengan cara memeriksa kembali kuesioner penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti tidak menemukan adanya data yang hilang sehingga peneliti tidak perlu mengunjungi responden kembali untuk melengkapi kelengkapan data.
b. Coding, setelah dilakukannya pengeditan, selanjutnya dilakukan peng”kodean” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Seperti: Kode responden=1, jenis kelamin: laki-laki = 1, perempuan =2.
c. Entry data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program komputer yang sering digunakan untuk “entri data” penelitian adalah paket program SPSS for Window.
d. Cleaning, peneliti memastikan tidak ada data yang missing dengan cara menganalisis melalui perintah Analyze>Descriptive>Frequencies sehingga didapatkan semua data benar dan tidak ada missing data.
4.8.2. Analisa Data
Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean atau rata-rata, median dan standar deviasi. Pada umumnya analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase (Notoatmodjo, 2012).
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian dan pembahasan setelah dilakukan pengumpulan data pada bulan April – Mei di Ruang Rindu A4, Rindu B3 RSUP Haji Adam Malik Medan.
5.1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini akan menjabarkan tentang deskripsi karakteristik responden dan perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
5.1.1. Deskripsi Karakteristik responden
Deskripsi karakteristik responden mencakup usia, jenis kelamin, lama hari rawat, diagnosa, jenis diet, regimen obat. Dari 50 responden yang terkumpul, mayoritas >40 tahun (54%) dengan dominasi pasien berjenis kelamin perempuan (64%) dan lama hari rawat yaitu <7 hari (62%) dengan diagnosa yaitu stroke (54%) yang diberi terapi diet makanan biasa (64%).
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden (n=50) Variabel Frekuensi (n) Persentase (%) Usia
<40 Tahun 23 46%
>40 Tahun 27 54%
Jenis Kelamin
Laki-Laki 18 36%
Perempuan 32 64%
Lama Hari Rawat
<7 Hari 31 62%
>7 Hari 19 38%
Diagnosa
5.1.2. Angka Kejadian Perubahan Eliminasi Fekal (Konstipasi)
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada bulan April 2017 dengan menyebarkan kuesioner dan menanyakan kepada 50 pasien di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, mayoritas responden mengalami tanda dan gejala dari konstipasi (72%).
Tabel 5.2 Persentase Perubahan Eliminasi Fekal pada Pasien Imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan (n=50)
Perubahan Eliminasi Fekal Frekuensi Persentase (%) Tidak Konstipasi
Perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi mengacu pada sistem penilaian konstipasi yang diadopsi dari Agatchan (1996).
Berdasarkan pengelompokkan perubahan eliminasi fekal pasien imobilisasi, terdapat beberapa dari data demografi yang berpengaruh terhadap perubahan eliminasi fekal yaitu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 5.3 Persentase Perubahan Eliminasi Fekal pada Pasien Imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan berdasarkan data demografi (n=50)
Data Demografi Tidak Konstipsasi Konstipasi
(f) (%) (f) (%)
5.1.3 Constipation Scoring System (CSS)
Berdasarkan hasil penelitian tentang sistem penilaian konstipasi pada pasien imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan diperoleh bahwa 70% pasien mengalami kurang dari sekali seminggu buang air besar; 46% pasien sering mengalami kesulitan seperti mengedan saat buang air besar; 36% pasien memilih pernyataan jarang dan kadang-kadang merasa tidak puas saat buang air besar; 58%
pasien kadang-kadang merasa sakit perut saat buang air besar; 46%
pasien menggunakan waktu 10-20 menit saat buang air besar; 88%
pasien diberikan enema untuk memperlancar buang air besar; 42%
pasien 1-3 kali tidak berhasil buang air besar dalam 24 jam; 66% pasien 1-5 hari mengalami susah buang besar.
Tabel 5.4 Frekuensi dan Persentase Hasil Pernyataan Responden Tentang Tanda dan Gejala Perubahan Eliminasi yang Dirasakan (n=50) No Tanda dan Gejala Frekuensi Persentase
1. Frekuensi buang air besar
(0) 1-2 kali sehari 3 6%
(1) 2 kali seminggu 5 10%
(2) 1 kali seminggu 7 14%
(3) Tidak ada buang air besar dalam seminggu
35 70%
(4) Kurang dari sekali sebulan 0 0%
2. Mengedan saat buang air besar
(0) Tidak pernah 4 8%
(1) Jarang 6 12%
(2) Kadang-kadang 16 32%
(3) Sering 23 46%
(4) Selalu 1 2%
3. Merasa tidak puas setelah buang air
5. Waktu yang digunakan saat buang air besar
6. Bantuan yang digunakan saat buang air besar
5.2. Pembahasan
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 36 pasien (72%) pasien imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan mengalami konstipasi. Jika dilihat dari data demografi, mayoritas responden yang mengalami tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal berada pada keseluruhan usia lebih dari 40 tahun (54%).
Setiap tahap perkembangan usia memiliki kemampuan mengontrol defekasi yang berbeda. Bayi belum memiliki kemampuan mengontrol secara penuh dalam buang air besar, sedangkan orang dewasa sudah memiliki kemampuan mengontrol secara penuh, dan pada usia lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami penurunan (Hidayat, 2006). Menurut Price dan Wilson (2005) yang menyatakan bahwa bertambahnya usia pada pasien memiliki keterbatasan fisik menyebabkan waktu transit feses di kolon semakin lama sehingga kandungan air akan terus direabsorpsi sehingga feses menjadi kering, keras, susah dikeluarkan dan selanjutnya menjadi konstipasi.
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 18 pasien laki-laki (36%) dan 32 pasien perempuan (64%) yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Jika dilihat dari data demografi, mayoritas responden yang mengalami tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal berada pada jenis kelamin perempuan yaitu 25 pasien (50%) dari pada laki-laki yaitu 11 pasien (22%).
Menurut pendapat Harrington dan Haskvitz (2006) yang menyatakan bahwa konstipasi merupakan gangguan yang umum terjadi pada wanita dari pada
laki-laki. Pendapat ini lebih menekankan pada proses degeneratif yang berhubungan dengan memanjangnya waktu transit feces di kolon akibat penambahan usia. Hal serupa juga didapatkan pada studi yang dilakukan oleh Jacob dan Pamies (2001) yang menemukan bahwa wanita lebih berisiko terkena konstipasi sebesar 3 kali dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan kekuatan sfingter dan otot perut wanita yang lebih lemah dari laki-laki sehingga wanita cenderung sulit buang air besar dibandingkan laki-laki.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sri Diyanti (2018) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konstipasi pada wanita yaitu peningkatan kadar progesteron pada wanita. Progesteron berpengaruh pada relaksasi otot polos yang menyebabkan penurunan pada tonus menimbulkan perpanjangan waktu transisi yang akan semakin lama. Fungsi utama pada hormon progesteron salah satunya yaitu progesteron menutupi aksi hormon yang disebut aldesteron. Progesteron menyumbat reseptor aldosteron dan memungkinkan tubuh untuk melepaskan kelebihan air. Peningkatan progesteron juga bisa mengakibatkan penurunan motilitas usus menyebabkan sisa makanan lebih lama berada di usus sehingga meningkatkan penyerapan air dan feses menjadi keras. Disamping itu selama tubuh menahan cairan , absorbsi cairan di usus meningkat sehingga isi usus cenderung kering dan keras yang memudahkan terjadinya konstipasi (Walsh &
Linda V, 2007).
Semakin lama pasien di rawat di rumah sakit maka akan berpengaruh terhadap kondisi fisik tubuh, terutama pada pasien yang mengalami keterbatasan fisik. Sebanyak 31 orang (62%) pasien yang rawat inap kurang dari 7 hari, dan 19
orang (38%) pasien yang rawat inap lebih dari 7 hari. Didapatkan data terbanyak yang mengalami konstipasi pada pada pasien imobilisasi yaitu lebih dari 7 sebanyak 18 pasien (36%) pasien mengalami perubahan eliminasi fekal. Hal ini berpengaruh terhadap kondisi aktivitas fisik yang berkurang. Aktivitas yang kurang akan menyebabkan otot-otot tubuh, salah satunya otot polos usus besar, akan mengalami penurunan fungsi fisiologis sehingga mengganggu proses defekasi. Jika otot polos pada usus besar mengalami penurunan fungsi, maka proses pencernaan tidak akan berjalan seoptimal biasanya. Proses pembentukkan feses di dalam usus besar dan rektum akan terhambat, sedangkan semakin lama feses berada di dalam usus besar maka akan semakin banyak air yang terserap oleh usus besar sehingga feses mengeras mengakibatkan terjadinya konstipasi (Nugroho, 2014).
Aktivitas fisik yang tinggi merangsang otot-otot dalam tubuh untuk beraktivitas (Driessen, et al., 2013). Aktivitas fi sik dapat mempengaruhi kinerja tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma sehingga dapat membantu kelancaran proses defekasi. Dengan meningkatnya kinerja otot-otot diatas, gerak peristaltik pada usus besar akan meningkat juga dan memudahkan untuk membantu kelancaran proses defekasi. Selain itu, jika otot-otot tubuh terbiasa digunakan untuk melakukan aktivitas, maka otot akan cenderung mengalami perlambatan penurunan fungsi, tidak terkecuali otot polos pada usus besar. Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri melakukan aktivitas fisik, terutama bagi lansia, karena ketika otot sudah mengalami penurunan fungsi, maka fungsi otot akan sulit dikembalikan seperti semula (Chu, et al., 2014).
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 23 pasien (46%) dengan diagnosa fraktur dan 27 pasien (64%) dengan diagnosa stroke yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Jika dilihat dari data demografi, mayoritas responden yang mengalami tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal yaitu dengan diagnosa stroke sebanyak 20 pasien (40%).
Stroke merupakan ketidaknormalan fungsi sistem saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh gangguan kenormalan aliran darah ke otak. World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa stroke merupakan suatu sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan fungsi otak secara fokal atau global yang dapat menimbulkan kematian atau kelainan yang menetap lebih dari 24 jam, tanpa penyebab lain kecuali gangguan vaskular (Rasyid, & Soertidewi, 2007).
Konstipasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor mekanis, faktor fisiologis, faktor fungsional, faktor psikologi, dan faktor farmakologis (Nanda, 2010). Faktor mekanis berkaitan dengan gangguan neurologis, pada pasien stroke disebabkan oleh penurunan beberapa fungsi neurologis. Pertama penurunan fungsi motorik yang menyebabkan terjadinya imobilisasi. Gangguan mobilitas dan ketidakberdayaan (deconditioning) adalah masalah yang paling sering dialami pasien stroke (Wahjoepramono, 2005). Pasien stroke yang dirawat di rumah sakit sering mengalami kelemahan anggota gerak, baik sebagian maupun seluruhnya yang menyebabkan pasien imobilisasi. Imobilisasi yang berkepanjangan berpotensi terjadi komplikasi, salah satunya adalah konstipasi.
Konstipasi dapat menyebabkan tekanan pada abdomen yang memicu pasien
mengejan saat berdefekasi. Pada saat mengejan yang kuat terjadi respons maneuver valsava yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial pada pasien stroke merupakan prognosis yang buruk. Proses defekasi dipercepat dengan adanya peningkatan tekanan intraabdomen dan kontraksi pada otot-otot abdomen. Proses defekasi dapat dihambat oleh kontraksi volunter otot-otot sfingter eksterna dan levator ani sehingga secara bertahap dinding rektum akan rileks dan keinginan defekasi akan hilang (Smeltzer & Bare, 2008)
Refleks defekasi ditimbulkan oleh refleks intrinsik yang diperantarai oleh sistem saraf enterik setempat. Jika feses memasuki rektum, peregangan dinding rektum menimbulkan sinyal-sinyal aferen yang menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltik di dalam kolon desenden, sigmoid dan rektum, serta mendorong feses ke arah anus. Sewaktu gelombang peristaltik mendekati anus, sfingter ani internus direlaksasi oleh sinyal-sinyal penghambat dari pleksus mienterikus, jika sfingter ani eksternus secara sadar, secara volunter berelaksasi dan bila terjadi pada waktu yang bersamaan akan terjadi defekasi (Guyton & Hall, 2006).
Terapi obat-obatan yang diberikan kepada pasien imobilisasi juga mempengaruhi terjadinya perubahan eliminasi fekal. Banyak jenis obat-obatan yang memiliki efek samping terjadinya perubahan eliminasi fekal pada pengguna.
Jenis terapi obat-obatan yang digunakan pasien yang menimbulkan perubahan eliminasi fekal yaitu konstipasi adalah ranitidine15 sebanyak 21 pasien (75%).
merupakan obat yang cenderung mempengaruhi terjadinya konstipasi pada pasien imobilisasi. Ranitidine merupakan antihistamin penghambat reseptor H2 yang berperan dalam efek histamin terhadap sekresi asam lambung.
Antagonis reseptor H2 menghambat produksi asam dengan cara berkompetisi secara reversibel dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada membran basolateral sel-sel parietal.
Obat ini diindikasikan untuka mengobati tukak lambung dan tukak duodenum. Akan tetapi manfaat terapi pemeliharaan dalam pencegahan tukak lambung belum diketahui secara jelas. Efek penghambatannya selama 24 jam, obat ranitidine 300 mg/hari menyebabkan penurunan 70% sekresi asam lambung;
sedangkan terhadap sekresi malam hari akan mengalami penghambatan. Oleh karena itu, obat-obat ini terutama efektif dalam menekan sekresi asam di malam hari (nokturnal), yang menggambarkan aktivitas utama sel parietal basal.
Antagonis reseptor H2 diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral, dengan konsentrasi puncak serum dicapai dalam 1-3 jam. Namun, hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan terhadap perubahan metabolisme dalam tubuh. Secara keseluruhan, insiden reaksi merugikan yang timbul akibat pemakaian antagonis reseptor H2 adalah terjadi efek samping yang umum terjadi antara lain diare dan konstipasi, sakit kepala, mengantuk, kelelahan, nyeri otot.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap 50 responden yang mengalami imobilisasi di ruang rawat inap terpadu (rindu) A4 dan B3 RSUP HAM Medan, perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sebanyak 36 pasien (72%) mengalami perubahan eliminasi fekal yaitu konstipasi, dengan data yang menunjukkan tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal yaitu pasien cenderung tidak buang air besar dalam seminggu (70%).
6.2. Saran
6.2.1.Bagi Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini sebaiknya digunakan sebagai bahan acuan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang imobilisasi, khususnya pada pasien yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap perawat dan juga pada pasien yang tidak dapat melakukan perubahan posisi sendiri, dan melakukan pengkajian dini tanda dan gejala perubahan eliminasi fekal juga penting dilakukan perawat untuk mencegah terjadinya konstipasi terhadap pasien. Peran perawat sangat penting pada posisi dan pola makanan pasien seperti ini sehingga perawat harus lebih peka terhadap hal kecil yang terjadi pada kondisi pasien sehingga kasus terjadinya konstipasi dapat diminimalkan dalam pelayanan keperawatan.
6.2.2. Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini sebaiknya digunakan sebagai bahan acuan bagi calon perawat untuk perlu meningkatkan tindakan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien sehingga efek dari imobilisasi seperti perubahan eliminasi fekal dapat diminimalkan.
6.2.3. Bagi Penelitian Keperawatan
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan, dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi. Untuk itu, peneliti berikutnya diharapkan dapat meneliti pengetahuan perawat untuk mencegah terjadinya perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi dan dapat dilakukan di rumah sakit yang sama ataupun di rumah sakit yang berbeda untuk penelitian selanjutnya. Peneliti selanjutnya juga dapat menghubungkan lama hari rawat pasien imobilisasi dengan perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi.
6.3. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan yang perlu diperbaiki untuk penelitian selanjutnya.
Responden dalam penelitian ini masih sangat kurang untuk mewakili keseluruhan pasien yang ada di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sehingga diharapkan pada penelitian selanjutnya agar menambah jumlah responden penelitian sehingga dapat mewakili keseluruhan pasien yang ada di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
Daftar Pustaka
Agachan, et al. (1996). A Constipation Scoring System to Simplify Evaluation and Management of Constipated Patients. Cleveland Clinic Florida.
Akmal, M.,dkk. (2010). Ensiklopedi Kesehatan Untuk Umum. Yogyakarta:
Arruzz Media.
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatam Praktek. Jakarta : PT.
Rineka Cipta.
Bharucha, A.E. (2007). Constipation. Best Practice & Research Clinical Gastroenterelogy. Vol.21.No.4.
Centers for Disease Control and Prevention. (2013). Stroke Facts. Diperoleh pada tanggal 21 Januari 2015 melalui http://www.cdc.gov/stroke/facts.htm.
Craven, R.F., & Hirnle, C.J. (2007). Fundamentals of Nursing, Human Health and Function. (4th ed). Philadelphia: Lippincott, Williams & wilkins.
Dameria, et al. (2015). Mengatasi Konstipasi Pasien Stroke dengan Masase Abdomen dan Minum Air Putih Hangat. Jurnal Keperawatan Indonesia.
Dameria, et al. (2015). Mengatasi Konstipasi Pasien Stroke dengan Masase Abdomen dan Minum Air Putih Hangat. Jurnal Keperawatan Indonesia.