Bab V Hasil Penelitian dan Pembahasan
5.2. Pembahasan
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 36 pasien (72%) pasien imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan mengalami konstipasi. Jika dilihat dari data demografi, mayoritas responden yang mengalami tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal berada pada keseluruhan usia lebih dari 40 tahun (54%).
Setiap tahap perkembangan usia memiliki kemampuan mengontrol defekasi yang berbeda. Bayi belum memiliki kemampuan mengontrol secara penuh dalam buang air besar, sedangkan orang dewasa sudah memiliki kemampuan mengontrol secara penuh, dan pada usia lanjut proses pengontrolan tersebut mengalami penurunan (Hidayat, 2006). Menurut Price dan Wilson (2005) yang menyatakan bahwa bertambahnya usia pada pasien memiliki keterbatasan fisik menyebabkan waktu transit feses di kolon semakin lama sehingga kandungan air akan terus direabsorpsi sehingga feses menjadi kering, keras, susah dikeluarkan dan selanjutnya menjadi konstipasi.
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 18 pasien laki-laki (36%) dan 32 pasien perempuan (64%) yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Jika dilihat dari data demografi, mayoritas responden yang mengalami tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal berada pada jenis kelamin perempuan yaitu 25 pasien (50%) dari pada laki-laki yaitu 11 pasien (22%).
Menurut pendapat Harrington dan Haskvitz (2006) yang menyatakan bahwa konstipasi merupakan gangguan yang umum terjadi pada wanita dari pada
laki-laki. Pendapat ini lebih menekankan pada proses degeneratif yang berhubungan dengan memanjangnya waktu transit feces di kolon akibat penambahan usia. Hal serupa juga didapatkan pada studi yang dilakukan oleh Jacob dan Pamies (2001) yang menemukan bahwa wanita lebih berisiko terkena konstipasi sebesar 3 kali dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan kekuatan sfingter dan otot perut wanita yang lebih lemah dari laki-laki sehingga wanita cenderung sulit buang air besar dibandingkan laki-laki.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sri Diyanti (2018) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi konstipasi pada wanita yaitu peningkatan kadar progesteron pada wanita. Progesteron berpengaruh pada relaksasi otot polos yang menyebabkan penurunan pada tonus menimbulkan perpanjangan waktu transisi yang akan semakin lama. Fungsi utama pada hormon progesteron salah satunya yaitu progesteron menutupi aksi hormon yang disebut aldesteron. Progesteron menyumbat reseptor aldosteron dan memungkinkan tubuh untuk melepaskan kelebihan air. Peningkatan progesteron juga bisa mengakibatkan penurunan motilitas usus menyebabkan sisa makanan lebih lama berada di usus sehingga meningkatkan penyerapan air dan feses menjadi keras. Disamping itu selama tubuh menahan cairan , absorbsi cairan di usus meningkat sehingga isi usus cenderung kering dan keras yang memudahkan terjadinya konstipasi (Walsh &
Linda V, 2007).
Semakin lama pasien di rawat di rumah sakit maka akan berpengaruh terhadap kondisi fisik tubuh, terutama pada pasien yang mengalami keterbatasan fisik. Sebanyak 31 orang (62%) pasien yang rawat inap kurang dari 7 hari, dan 19
orang (38%) pasien yang rawat inap lebih dari 7 hari. Didapatkan data terbanyak yang mengalami konstipasi pada pada pasien imobilisasi yaitu lebih dari 7 sebanyak 18 pasien (36%) pasien mengalami perubahan eliminasi fekal. Hal ini berpengaruh terhadap kondisi aktivitas fisik yang berkurang. Aktivitas yang kurang akan menyebabkan otot-otot tubuh, salah satunya otot polos usus besar, akan mengalami penurunan fungsi fisiologis sehingga mengganggu proses defekasi. Jika otot polos pada usus besar mengalami penurunan fungsi, maka proses pencernaan tidak akan berjalan seoptimal biasanya. Proses pembentukkan feses di dalam usus besar dan rektum akan terhambat, sedangkan semakin lama feses berada di dalam usus besar maka akan semakin banyak air yang terserap oleh usus besar sehingga feses mengeras mengakibatkan terjadinya konstipasi (Nugroho, 2014).
Aktivitas fisik yang tinggi merangsang otot-otot dalam tubuh untuk beraktivitas (Driessen, et al., 2013). Aktivitas fi sik dapat mempengaruhi kinerja tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma sehingga dapat membantu kelancaran proses defekasi. Dengan meningkatnya kinerja otot-otot diatas, gerak peristaltik pada usus besar akan meningkat juga dan memudahkan untuk membantu kelancaran proses defekasi. Selain itu, jika otot-otot tubuh terbiasa digunakan untuk melakukan aktivitas, maka otot akan cenderung mengalami perlambatan penurunan fungsi, tidak terkecuali otot polos pada usus besar. Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri melakukan aktivitas fisik, terutama bagi lansia, karena ketika otot sudah mengalami penurunan fungsi, maka fungsi otot akan sulit dikembalikan seperti semula (Chu, et al., 2014).
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 23 pasien (46%) dengan diagnosa fraktur dan 27 pasien (64%) dengan diagnosa stroke yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Jika dilihat dari data demografi, mayoritas responden yang mengalami tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal yaitu dengan diagnosa stroke sebanyak 20 pasien (40%).
Stroke merupakan ketidaknormalan fungsi sistem saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh gangguan kenormalan aliran darah ke otak. World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa stroke merupakan suatu sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan fungsi otak secara fokal atau global yang dapat menimbulkan kematian atau kelainan yang menetap lebih dari 24 jam, tanpa penyebab lain kecuali gangguan vaskular (Rasyid, & Soertidewi, 2007).
Konstipasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor mekanis, faktor fisiologis, faktor fungsional, faktor psikologi, dan faktor farmakologis (Nanda, 2010). Faktor mekanis berkaitan dengan gangguan neurologis, pada pasien stroke disebabkan oleh penurunan beberapa fungsi neurologis. Pertama penurunan fungsi motorik yang menyebabkan terjadinya imobilisasi. Gangguan mobilitas dan ketidakberdayaan (deconditioning) adalah masalah yang paling sering dialami pasien stroke (Wahjoepramono, 2005). Pasien stroke yang dirawat di rumah sakit sering mengalami kelemahan anggota gerak, baik sebagian maupun seluruhnya yang menyebabkan pasien imobilisasi. Imobilisasi yang berkepanjangan berpotensi terjadi komplikasi, salah satunya adalah konstipasi.
Konstipasi dapat menyebabkan tekanan pada abdomen yang memicu pasien
mengejan saat berdefekasi. Pada saat mengejan yang kuat terjadi respons maneuver valsava yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial pada pasien stroke merupakan prognosis yang buruk. Proses defekasi dipercepat dengan adanya peningkatan tekanan intraabdomen dan kontraksi pada otot-otot abdomen. Proses defekasi dapat dihambat oleh kontraksi volunter otot-otot sfingter eksterna dan levator ani sehingga secara bertahap dinding rektum akan rileks dan keinginan defekasi akan hilang (Smeltzer & Bare, 2008)
Refleks defekasi ditimbulkan oleh refleks intrinsik yang diperantarai oleh sistem saraf enterik setempat. Jika feses memasuki rektum, peregangan dinding rektum menimbulkan sinyal-sinyal aferen yang menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltik di dalam kolon desenden, sigmoid dan rektum, serta mendorong feses ke arah anus. Sewaktu gelombang peristaltik mendekati anus, sfingter ani internus direlaksasi oleh sinyal-sinyal penghambat dari pleksus mienterikus, jika sfingter ani eksternus secara sadar, secara volunter berelaksasi dan bila terjadi pada waktu yang bersamaan akan terjadi defekasi (Guyton & Hall, 2006).
Terapi obat-obatan yang diberikan kepada pasien imobilisasi juga mempengaruhi terjadinya perubahan eliminasi fekal. Banyak jenis obat-obatan yang memiliki efek samping terjadinya perubahan eliminasi fekal pada pengguna.
Jenis terapi obat-obatan yang digunakan pasien yang menimbulkan perubahan eliminasi fekal yaitu konstipasi adalah ranitidine15 sebanyak 21 pasien (75%).
merupakan obat yang cenderung mempengaruhi terjadinya konstipasi pada pasien imobilisasi. Ranitidine merupakan antihistamin penghambat reseptor H2 yang berperan dalam efek histamin terhadap sekresi asam lambung.
Antagonis reseptor H2 menghambat produksi asam dengan cara berkompetisi secara reversibel dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada membran basolateral sel-sel parietal.
Obat ini diindikasikan untuka mengobati tukak lambung dan tukak duodenum. Akan tetapi manfaat terapi pemeliharaan dalam pencegahan tukak lambung belum diketahui secara jelas. Efek penghambatannya selama 24 jam, obat ranitidine 300 mg/hari menyebabkan penurunan 70% sekresi asam lambung;
sedangkan terhadap sekresi malam hari akan mengalami penghambatan. Oleh karena itu, obat-obat ini terutama efektif dalam menekan sekresi asam di malam hari (nokturnal), yang menggambarkan aktivitas utama sel parietal basal.
Antagonis reseptor H2 diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral, dengan konsentrasi puncak serum dicapai dalam 1-3 jam. Namun, hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan terhadap perubahan metabolisme dalam tubuh. Secara keseluruhan, insiden reaksi merugikan yang timbul akibat pemakaian antagonis reseptor H2 adalah terjadi efek samping yang umum terjadi antara lain diare dan konstipasi, sakit kepala, mengantuk, kelelahan, nyeri otot.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap 50 responden yang mengalami imobilisasi di ruang rawat inap terpadu (rindu) A4 dan B3 RSUP HAM Medan, perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sebanyak 36 pasien (72%) mengalami perubahan eliminasi fekal yaitu konstipasi, dengan data yang menunjukkan tanda dan gejala dari perubahan eliminasi fekal yaitu pasien cenderung tidak buang air besar dalam seminggu (70%).
6.2. Saran
6.2.1.Bagi Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini sebaiknya digunakan sebagai bahan acuan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang imobilisasi, khususnya pada pasien yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap perawat dan juga pada pasien yang tidak dapat melakukan perubahan posisi sendiri, dan melakukan pengkajian dini tanda dan gejala perubahan eliminasi fekal juga penting dilakukan perawat untuk mencegah terjadinya konstipasi terhadap pasien. Peran perawat sangat penting pada posisi dan pola makanan pasien seperti ini sehingga perawat harus lebih peka terhadap hal kecil yang terjadi pada kondisi pasien sehingga kasus terjadinya konstipasi dapat diminimalkan dalam pelayanan keperawatan.
6.2.2. Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini sebaiknya digunakan sebagai bahan acuan bagi calon perawat untuk perlu meningkatkan tindakan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien sehingga efek dari imobilisasi seperti perubahan eliminasi fekal dapat diminimalkan.
6.2.3. Bagi Penelitian Keperawatan
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan, dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi. Untuk itu, peneliti berikutnya diharapkan dapat meneliti pengetahuan perawat untuk mencegah terjadinya perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi dan dapat dilakukan di rumah sakit yang sama ataupun di rumah sakit yang berbeda untuk penelitian selanjutnya. Peneliti selanjutnya juga dapat menghubungkan lama hari rawat pasien imobilisasi dengan perubahan eliminasi fekal pada pasien imobilisasi.
6.3. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan yang perlu diperbaiki untuk penelitian selanjutnya.
Responden dalam penelitian ini masih sangat kurang untuk mewakili keseluruhan pasien yang ada di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sehingga diharapkan pada penelitian selanjutnya agar menambah jumlah responden penelitian sehingga dapat mewakili keseluruhan pasien yang ada di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
Daftar Pustaka
Agachan, et al. (1996). A Constipation Scoring System to Simplify Evaluation and Management of Constipated Patients. Cleveland Clinic Florida.
Akmal, M.,dkk. (2010). Ensiklopedi Kesehatan Untuk Umum. Yogyakarta:
Arruzz Media.
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatam Praktek. Jakarta : PT.
Rineka Cipta.
Bharucha, A.E. (2007). Constipation. Best Practice & Research Clinical Gastroenterelogy. Vol.21.No.4.
Centers for Disease Control and Prevention. (2013). Stroke Facts. Diperoleh pada tanggal 21 Januari 2015 melalui http://www.cdc.gov/stroke/facts.htm.
Craven, R.F., & Hirnle, C.J. (2007). Fundamentals of Nursing, Human Health and Function. (4th ed). Philadelphia: Lippincott, Williams & wilkins.
Dameria, et al. (2015). Mengatasi Konstipasi Pasien Stroke dengan Masase Abdomen dan Minum Air Putih Hangat. Jurnal Keperawatan Indonesia.
Vol 18 no. 1
Department of Health London. (2007). National stroke strategy. United States of American: Delmar Thomson Learning, Inc.
Emerson, E.,Baines, S. (2010). Health inequalities & people with learning disabilities in the united kindom. Learning Disabilities Observatory Supported by Department of Health.
Folden, Susan.L.,et al. (2002). Practice guidelines for the management of constipation in adult. Rehabilitation Nursing. Vol.27.No.5
Guy, H.,et al. (2013). Pressure Ulcer Prevention: Making a Difference Across a Health Authority. Journal of Nursing : Vol 22. No 12.
Hidayat. (2009). Pengantar kebutuhan dasar manusia aplikasi konsep dan proses keperawatan buku I. Jakarta: Salemba Medika.
Janice, P., et al. (2006). Development of a constipation risk assessment scale.
Journal of Orthopaedic Nursing. 10 : 186-197
Joyce & Jane. (2014). Keperawatan Medikal Bedah : Manajemen Klinis untuk Hasil yang Diharapkan Buku 2: Edisi 8. Singapore: Elsevier Ltd.
Kyle.,Gaye. (2006). Assessment and treatment of older patients with constipation.
Nursing Standard.Vol.21.No.8.
LeMone, P., dkk. (2011). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Vol 2 Edisi 5:
Penerbit Buku Kedokteran: EGC magnnesium intake and functional among young Japanese women.
European Journal of Clinical Nutrition.
Notoatmodjo. (2012). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Polit, D. F., & Beck, C. T. (2012). Nursing research: Generating and assesing evidence for nursing practice (9th ed.). Philadelphia: Lippincott.
Potter & Perry. (2010). Fundamental of Nursing Buku 3: Edisi 7. Singapore:
Elsevier Ltd.
Rahayu, S.,dkk. (2014). Hubungan frekuensi stroke dengan fungsi kognitif di rsud arifin achmad. Jurnal Universitas Riau. Jom Psik Vol. No.2
Rubens, et al. (2001). Adult constipation: a review and clinical guide. Journal of National Medical Association.
Setiadi. (2013). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan : Edisi 2.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Suheri. (2009). Gambaran Lama Hari Rawat dalam Terjadinya Luka Dekubitus pada Pasien Imobilisasi di RSUP Haji Adam Malik Medan. Skripsi. Medan : Fakultas Keperawatan USU.
Smeltzer, S.C.,Bare, B.G. (2007). Textbook of Medical Surgical Nursing Vols 3.
Philadelpia: Lippincott Reven Publisher.
Tania, M.N.,et al. (2014). Stroke: bowel dysfunction in patients admitted for rehabilitation. The Open Nursing Journal. 8.43-47.
LAMPIRAN 1
Jadwal Persiapan Proposal
No Aktivitas penelitian Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli
Minggu ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan judul penelitian
2 Menyusun Bab 1
3 Menyusun Bab 1-4
6 Menyusun Kuesioner
7 Meyerahkan proposal penelitian
8 Ujian sidang proposal
9 Revisi Bab 1-4
10 Uji Validitas
11 Uji etik
12 Pengajuan surat ke Adam Malik
13 Uji Reliabilitas
14 Pengumpulan Data
15 Pengolahan data
16 Penyusunan dan Laporan skripsi
LAMPIRAN 2
ISTRUMEN PENELITIAN
PERUBAHAN ELIMINASI FEKAL PADA PASIEN IMOBILISASI DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
KODE RESPONDEN
I. KUESIONER DATA DEMOGRAFI Petunjuk Pengisian :
a) Menjawab setiap pertanyaan yang tersedia dengan memberikan tanda checklist (√) dan menjawab titik pada tempat yang disediakan.
b) Semua pertanyaan harus dijawab.
c) Setiap pertanyaan diisi dengan satu jawaban.
d) Bila ada yang kurang dimengerti dapat ditanya kepada peneliti.
Umur Responden :
II. KUESIONER KONSTIPASI
Lingkarilah jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diberikan dan jawablah pertanyaan sesuai dengan sejujur mungkin mengenai kebiasaan buang air besar dan kesulitan buang air besar:
No Item Penilaian Skor Penilaian Hasil
1 Berapa kali Bapak/Ibu buang air besar setiap harinya?
(0) 1-2 kali sehari (1) 2 kali seminggu (2) 1 kali seminggu (3) Tidak buang air besar dalam seminggu
(4) Kurang dari sekali . m sebulan
2 Apakah Bapak/Ibu sering mengedan saat buang air besar?
(0) Tidak pernah (1) Jarang
(2) Kadang-kadang (3) Sering
(4) Selalu 3 Apakah Bapak/Ibu sering merasa
tidak puas setelah buang air besar?
(0) Tidak pernah (1) Jarang
(2) Kadang-kadang (3) Sering
(4) Selalu 4 Apakah Bapak/Ibu sering merasa
sakit perut saat buang air besar ?
(0) Tidak pernah (1) Jarang
(2) Kadang-kadang (3) Sering
(4) Selalu 5 Berapa lama waktu yang Bapak/Ibu
gunakan saat buang air besar?
(0) Kurang dari 5 menit (1) 5-10 menit
(2) 10-20 menit (3) 20-30 menit (4) lebih dari 30 menit 6 Ketika Bapak/Ibu susah untuk
Buang air besar, bantuan apa yang digunakan saat buang air besar?
(0) Tidak ada (1) Enema (2) Laksatif 7 Berapa kali Bapak/Ibu pernah tidak
berhasil buang air besar dalam 24 jam? 8 Seberapa sering Bapak/Ibu
mengalami konstipasi (susah buang
LAMPIRAN 3
TAKSASI DANA PROPOSAL & SKRIPSI
NO KEGIATAN BIAYA
1 Menyiapkan proposal sampai sidang proposal
Biaya internet dan pulsa modem
Kertas A4 80 gr 2 rim
Biaya rental dan print proposal
Fotokopi sumber-sumber daftar pustaka
Memperbanyak Proposal 2 Pengumpulan data dan analisa data
Ethial Clearence Fakultas Keperawatan USU
Fotokopi inform consent dan instrumen penelitian
Cinderamata untuk responden
Rp. 100.000,00
Rp. 60.000,00 Rp. 200.000,00
3 Pengumpulan Laporan Skripsi
Kertas A4 80 gr 2 rim
Biaya rental dan print skripsi
Penjilidan
Fotokopi laporan penelitian
Rp. 70.000,00 Rp. 100.000,00 Rp. 100.000,00 Rp. 100.000,00
4 Biaya tak terduga Rp. 100.000,00
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6
LAMPIRAN 7
Perhitungan Content Validity Indeks (CVI) Koefisien Validity Isi-Aikens
∑ Keterangan :
S =
Lo = Angka Penilaian validitas terendah C = Angka Penilaian validitas tertinggi R = Angka yang diberikan oleh penilai n = Jumlah penilai ahli
1. Instrumen Perubahan Eliminasi Fekal (Konstipasi)
Item Skor (R) S = R-Lo Validity Indeks
Validator 1 Validator 2 Validator 3 ∑
P1 4 4 4 9
P2 4 4 4 9
P3 4 4 4 9
P4 4 4 4 9
P5 4 4 4 9
P6 4 4 4 9
P7 4 4 4 9
P8 4 4 4 9
TOTAL
LAMPIRAN 8
a. Listwise deletion based on all variables in the procedure.
Lampiran 9
Frequency Table
Lama_rawat_inap
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Valid D3/ 1 2.0 2.0 18.0
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Regimen_Obat4
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Pertanyaan_5
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Stroke Count 7 20 27
% within Lama_rawat_inap 41.9% 58.1% 100.0%
% within Score 92.9% 50.0% 62.0%
% of Total 26.0% 36.0% 62.0%
> 7 hari Count 1 18 19
Expected Count 5.3 13.7 19.0
% within Lama_rawat_inap 5.3% 94.7% 100.0%
% within Score 7.1% 50.0% 38.0%
% of Total 2.0% 36.0% 38.0%
Total Count 14 36 50
Expected Count 14.0 36.0 50.0
% within Lama_rawat_inap 28.0% 72.0% 100.0%
% within Score 100.0% 100.0% 100.0%
% within Score 78.6% 58.3% 64.0%
Expected Count 1.4 3.6 5.0
% within Score 100.0% 86.1% 90.0%
% of Total 28.0% 62.0% 90.0%
Total Count 14 36 50
Expected Count 14.0 36.0 50.0
% within Regimen_Obat4 28.0% 72.0% 100.0%
% within Score 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 28.0% 72.0% 100.0%
LAMPIRAN 11
Riwayat Hidup
Nama : Amelia Elisabeth Naibaho Tempat Tanggal Lahir: Medan, 11 Mei 1997 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jl. Merak I Blok V No 81, P. Mandala Alamat e-mail : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. SD Betania Tahun 2002-2008
2. SMP Katolik Tri Sakti 1 Medan Tahun 2008-2012 3. SMA Negeri 8 Medan Tahun 2012-2014 4. Fakultas Keperawatan USU Tahun 2014-Sekarang
Lampiran 12
MASTER TABEL PENELITIAN PERUBAHAN ELIMINASI FEKAL PADA PASIEN IMOBILISASI DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN
Responden Usia Diagnosa Lama
Imobilisasi
21 2 2 2 2 2 3 3 1 2 2 2 1 2 16
22 1 2 1 2 1 3 1 0 2 1 2 0 2 11
23 2 2 2 2 1 3 3 0 3 2 2 1 2 16
24 2 2 1 2 1 2 3 1 3 2 2 1 2 16
25 2 1 1 2 2 3 2 2 1 2 2 3 2 17
26 1 1 1 1 2 3 2 2 2 2 2 1 2 16
27 1 2 1 2 2 2 1 0 2 1 0 0 1 7
28 1 2 1 2 2 3 2 0 1 2 2 1 2 13
29 2 1 2 1 1 3 3 2 2 3 2 1 2 18
30 1 1 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 18
31 2 1 2 2 2 3 3 1 2 2 2 1 2 16
32 1 1 1 2 2 3 3 2 2 2 2 0 2 16
33 2 1 1 2 1 3 3 1 2 2 2 1 2 16
34 2 2 2 1 2 3 3 1 3 3 2 1 2 18
35 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 2 1 2 17
36 1 2 2 2 2 2 3 1 3 3 2 0 2 16
37 2 2 1 2 2 3 2 1 3 3 2 0 1 15
38 2 2 1 2 2 3 3 0 3 3 2 1 1 16
39 1 1 1 3 1 1 2 0 2 1 2 0 0 8
40 2 2 2 1 2 3 3 1 2 3 2 0 2 16
41 2 2 1 1 2 3 3 1 2 2 2 1 2 16
42 1 1 1 3 1 2 2 1 1 1 2 0 2 11
43 1 1 1 2 1 0 0 0 2 1 0 0 0 3
44 2 1 2 1 1 3 3 2 2 2 2 2 2 18
45 2 1 1 2 1 3 3 2 2 3 2 2 1 18
46 2 1 1 1 1 3 2 1 2 4 2 1 1 16
47 2 2 1 2 1 3 3 0 2 3 2 1 2 16
48 1 2 1 2 2 3 3 2 2 3 2 0 2 17
49 1 2 1 2 2 0 1 0 0 1 0 0 0 2
50 2 2 2 1 2 3 3 2 2 2 2 1 2 17
Catatan :
Usia: 1=<40 tahun, 2=>40 tahun Lama imobilisasi: 1=<7 hari, 2= >7hari Jenis Diet: 1=M2, 2=MB, 3=MBTKTP Diagnosa: 1=Fraktur, 2=Stroke
Jenis Klelamin: 1=Laki-laki, 2=Perempuan