• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Defekasi

Bab II Tinjauan Pustaka

2.2 Eliminasi Fekal

2.2.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Defekasi

Banyak faktor yang mempengaruhi proses eliminasi fekal. Pengetahuan akan faktor-faktor tersebut akan membantu mengantisipasi cara yang dibutuhkan untuk mempertahankan pola eliminasi normal (Potter & Perry, 2010).

a. Umur

Tahap perkembangan mempengaruhi eliminasi di sepanjang kehidupan. Bayi memiliki kapasitas lambung yang lebih kecil dan mengeluarkan enzim pencernaan yang lebih sedikit. Makanan akan lebih cepat melewati sistempencernaan bayi karena gerakan peristaltik yang cepat. Bayi tidak dapat mengontrol buang air besar karena masih belum berkembangnya neuromuskular. Perkembangan ini biasanya belum berkembang hingga usianya 2-3 tahun.

Perubahan pada fungsi digestif dan absorpsi nutrisi lansia lebih disebabkan oleh sistem kardiovaskular dan neurologi lansia. Daripada sistem pencernaan itu sendiri. Misalnya, arteriosklerosis menyebabkan menurunnya aliran darah mesenterika, yang kemudian akan mengurangi absorpsi pada usus halus (Meiner & Lueckenotte, 2006). Jika gerakan peristaltik berkurang, maka pengosongan esofagus juga akan berjalan dengan lambat. Lansia sering mengalami perubahan pada sistem gastrointestinal yang mengganggu pencernaan dan eliminasi.

Tonus otot pada dinding perineal dan sfingter anal akan berkurang pada lansia. Meskipun integritas sfingter eksternal tetap utuh, lansia sering mengalami kesulitan untuk mengontrol evakuasi fekal dan berisiko tinggi

mengalami inkontinensia. Impuls saraf juga akan melambat pada area anal dan beberapa individu menjadi kurang waspada akan kebutuhan defekasi dan karena gerakan otot tidak teratur dan berisiko mengalami konstipasi.

Khususnya klien yang berada pada fasilitas perawatan jangka panjang (Bosshard et al., 2004 dalam Potter & Perry, 2010).

b. Diet

Asupan makanan harian yang teratur dapat membantu mempertahankan pola peristaltik pada kolon. Serat, makanan yang tidak dicerna, membentuk bungkal sebagian besar fekal. Makanan yang membentuk bungkal adalah seluruh makanan yang terbuat dari gandum, buah segar dan sayur; membantu membuang lemak dan produk sisa dari tubuh secara lebih efisien. Dinding usus menegang, membentuk peristaltik, dan memulai refleks defekasi. Dengan menstimulasi gerakan peristaltik, makanan yang membentuk bungkal akan keluar dengan cepat melalui usus, dan mempertahankan feses tetap lembek. Memakan makanan tinggi serat dapat meningkatkan pola eliminasi yang normal jika faktor lainnya juga dalam keadaan normal. Saat tidak ada serat pada produk sisa yang melewati kolon , seseorang memiliki risiko terbentuknya polip (Miskovitz

& Betancourt, 2005).

Intoleransi makanan bukan merupakan alergi, tetapi beberapa makanan dapat menyebabkan tubuh mengalami stres selama beberapa jam setelah dicerna. Selanjutnya akan terjadi diare, kram, dan flatulens.

Misalnya, seseorang yang meminum susu sapi yang mengalami gejala

seperti di atas, bukan disebut alergi terhadap susu. Mereka memiliki sedikit enzim untuk mencerna susu gula laktosa dan disebut sebagai intoleransi laktosa (Mskovitz dan Betacourt, 2005 dalam Potter & Perry, 2010).

c. Asupan cairan

Asupan cairan yang tidak addekuat atau gangguan yang dapat menyebabkan kehilangan cairan (seperti muntah) mempengaruhi karakteristik feses. Cairan mengencerkan isi usus, mempermudah gerakan melalui kolon. Berkurangnya asupan cairan dapat memperlambat gerakan makanan melalui usus dan menyebabkan feses mengeras. Jika tidak ada kontraindikasi medis, orang dewasa harus minum enam atau delapan gelas (1500-2000 ml) cairan yang tidak mengandung kafein setiap hari.

Meningkatnya asupan cairan disertai minum jus buah dapat melembekkan feses dan meningkatkan peristaltik. Asupan cairan yang buruk dapat meningkatkan risiko konstipasi karena reabsorpsi cairan pada kolon terjadi, menyebabkan feses mengeras dan kering (Wilson, 2005 dalam Potter & Perry, 2010).

d. Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik dapat meningkatkan gerakan peristaltik, sedangkan imobilitas dapat menurunkan gerakan gerakan peristaltik. Dukung ambulasi, segera saat penyakit mulai sembuh atau sesegera mungkin setelah pembedahan, untuk mempertahankan gerakan peristaltik dan eliminasi normal. Mempertahankan tonus otot harus dilakukan selama

defekasi. Melemahnya otot abdomen dan dinding pelvis dapat mengganggu kemampuan untuk meningkatkan tekanan intraabdomen dan untuk mengontrol sfingter eksternal. Tonus otot terkadang melemah atau hilang karena menderita penyakit jangka panjang atau penyakit neurologis yang dapat mengganggu transmisi saraf. Perubahan yang terjadi pada otot abdomen dan dinding pelvis tersebut akan meningkatkan risiko konstipasi (Potter & Perry, 2010).

e. Faktor psikologis.

Stres emosional mengganggu fungsi hampir seluruh sistem pencernaan tubuh. Selama stres emosional, proses digestif terjadi dengan cepat dan gerakan peristaltik meningkat. Efek samping meningkatnya gerakan peristaltik adalah diare dan distensi abdomen oleh adanya gas.

Sejumlah penyakit yang ditemukan pada sistem pencernaan dihubungkan dengan stres. Penyakit tersebut meliputi ulkus kolitis, sindrom iritabilitas usus, ulkus lambung dan ulkus usus halus, serta penyakit crohn. Jika seseorang menjadi depresi, maka saraf otonom sistem pencernaan akan memperlambat penyampaian impuls dan menurunkan gerakan peristaltik, yang selanjutnya akan menyebabkan konstipasi (Potter & Perry, 2010).

f. Kebiasaan diri

Kebiasaan eliminasi seseorang akan mempengaruhi fungsi usus.

Sebagian orang dapat menggunakan fasilitas toilet sendiri di rumahnya, hal tersebut dirasa lebih efektif dan praktis. Jadwal kerja yang sibuk terkadang menghalangi individu memberikan respons yang tepat terhadap

defekasi, mengganggu kebiasaan sehari-hari dan menyebabkan gangguan yang mungkin terjadi yaitu konstipasi.

Klien dengan penyakit kronis atau dirawat di rumah sakit tidak selalu mampu mempertahankan privasi selama buang air besar. Di rumah sakit atau di tatanan perawatan jangka panjang, klien sering kali harus berbagi fasilitas kamar mandi dengan pasien lain yang memiliki kebiasaan higienis yang berbeda. Penyakit kronis juga membatasi kemampuan seseorang, toleransi aktivitas atau aktivitas fisik, sehingga klien perlu menggunakan pispot maupun pispot duduk. Penglihatan, suara, dan bau yang dihubungkan dengan fasilitas toilet yang digunakan bersama orang lain atau penggunaan pispot terkadang merupakan hal yang memalukan. Rasa malu ini dapat membuat klien menolak untuk melakukan buang air besar, yang akan memulai siklus konstipasi dan ketidaknyamanan (Potter &

Perry, 2010).

g. Posisi selama buang air besar

Duduk adalah posisi normal selama buang air besar. Toilet modern memfasilitasi posisi ini, memungkinkan seseorang bersandar ke depan, meningkatkan tekanan intraabdomen, dan mengontraksikan otot paha.

Bagi klien yang tidak melakukan mobilisasi dan berbaring di tempat tidur, buang air besar terkadang sulit dilakukan. Posisi telentang tidak memungkinkan pasien untuk mengontraksi otot yang diperlukan selama buang air besar. Jika keadaan klien memungkinkan, tinggikan kepala tempat tidur; bantu klien untuk berada pada posisi duduk normal di pispot,

sehingga dapat meningkatkan kemampuan buang air besar (Potter & Perry, 2010).

h. Nyeri

Umumnya kegiatan buang air besar tidak menyebabkan nyeri. Namun, sejumlah keadaan dapat menyebabkan ketidaknyamanan, misalnya seperti hemoroid, pembedahan rektum, fistula rektum, dan pembedahan abdomen.

Pada keadaan tersebut, klien menekan keinginan untuk buang air besar untuk menghindari rasa nyeri, dan kemudian akan menyebabkan konstipasi (Potter & Perry, 2010).

i. Kehamilan

Pada saat kehamilan berkembang, ukuran janin bertambah dan menimbulkan tekanan pada rektum. Obstruksi yang sementara ini disebabkan karena janin menghambat jalan keluar feses. Gerakan peristaltik yang lambat selama trimester ketiga sering menyebabkan konstipasi. Ibu hamil sering mengedan saat buang air besar atau melahirkan akan menyebabkan pembentukan hemoroid (Potter & Perry, 2010).

j. Pembedahan dan anestesi

Agen anestesi general yang digunakan selama pembedahan dapat menghentikan gerakan peristaltik secara temporer. Agen anestesi inhalasi akan menghalangi impuls parasimpatis ke otot intestinal. Aksi anestesi ini akan memperlambat dan menghentikan gelombang peristaltik. Klien yang

menerima anestesi lokal dan regional memiliki risiko rendah untuk mengalami gangguan eliminasi, karena anestesi tersebut mempengaruhi aktivitas usus secara minimal atau tidak sama sekali.

Beberapa pembedahan yang memanipulasi usus besar secara langsung akan menghentikan sementara gerakan peristaltik. Keadaan ini disebut dengan ileus paralisis, biasanya terjadi 24-48 jam. Jika klien tetap tidak aktif atau tidak mampu makan setelah pembedahan, berarti fungsi normal usus mengalami hambatan.

k. Medikasi

Beberapa obat-obatan memiliki reaksi tertentu pada usus; misalnya obat-obatan untuk memperlancar defekasi atau mengontrol diare. Obt-obatan yang digunakan untuk keadaan akut dan kronis sering memiliki efek sekunder terhadap pola eliminasi fekal.

Laksatif dan katartik melembekkan konsistensi feses dan mendukung gerakan peristaltik. Meskipun sama, efek laksatif lebih ringan dari pada reaksi yang diberikan oleh katartik. Jika digunakan dengan tepat, laksatif dan katartik dapat mempertahankan pola eliminasi normal. Namun, penggunaan katartik yang memanjang dapat menyebabkan usus besar kehilangan tonus ototnya, sehingga menjadi kurang responsif terhadap stimulasi laksatif. Penggunaan laksatif yang berlebihan juga dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan elektrolit. Minyak mineral, laksatif, mengurangi absorpsi vitamin yang larut dalam lemak. Laksatif juga mempengaruhi efikasi obat-obatan yang lain dengan mengganggu

waktu transitnya (misalnya waktu yang dibutuhkan obat-obatan agar tetap berada di sistem pencernaan dan dapat diabsorpsi), (Potter & Perry, 2010).

l. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang meliputi pengkajian visual struktur sistem pencernaan membutuhkan beberapa persiapan (misalnya obat-obatan, katartik, dan/atau enema) untuk memastikan bahwa usus kosong.

Klien juga tidak diizinkan makan atau minum setelah tengah malam pada hari sebelum prosedur pemeriksaan seperti kolonoskopi, endoskopi, dan pemeriksaan lainnya yang membutuhkan visualisasi sistem pencernaan bagian bawah dilakukan. Pemeriksaan diagnostik menyebabkan perubahan pada pola eliminasi, seperti meningkatnya gas atau feses lembek, hingga klien kembali ke pola makan yang normal