BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Bahan-bahan Pembentuk darah
Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembentukan darah adalah :
1. Asam folat dan vitamin B12 : merupakan bahan pokok pembentuk inti sel.
2. Besi : sangat diperlukan dalam pembentukan hemoglobin.
3. Cobalt, magnesium, Cu, Zn.
4. Asam amino.
5. Vitamin lain : vitamin C. vitamin B kompleks dan lain-lain10 2.4 Mekanisme Regulasi
Mekanisme regulasi sangat penting untuk mengatur arah dan kuantitas pertumbuhan sel dan pelepasan sel darah yang matang dari sumsum tulang ke darah tepi sehingga sumsum tulang dapat merespon kebutuhan tubuh dengan tepat.
Produksi komponen darah yang berlebihan ataupun kekurangan (defisiensi) sama-sama menimbulkan penyakit. Zat-zat yang berpengaruh dalam mekanisme regulasi ini adalah :
a. Faktor pertumbuhan hemopoesis (hematopoietic growth factor)
10
i. Granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) ii. Granulocyte colony stimulating factor (G-CSF)
iii. Macrophage-colony stimulating factor (M-CSF) iv. Thrombopoietin
v. Burst promoting activity (BPA) vi. Stem cell factor (kit ligand)
b. Sitokon (Cytokine) seperti misalnya IL-3 (interleukin-3), IL-4, IL-5, IL-7, IL-8, IL-9, IL-9, IL-10.
Growth factor dan sitokin sebagian besar dibentuk oleh sel-sel darah sendiri, seperti limfosit, monosit, atau makrofag, serta sebagian oleh sel- sel penunjang, seperti fibroblast dan endotil. Sitokin ada yang merangsang pertumbuhan sel induk (stimulatory cytokine), sebagian lagi menekan pertumbuhan sel induk (inhibitory cytokine). Keseimbangan kedua jenis sitokin ini sangat menentukan proses hemopoesis normal.
c. Hormon hemopoetik spesifik yaitu Erythrpoietin : merupakan hormon yang dibentuk diginjal khusus merangsang precursor eritroid.
d. Hormon nonspesifik
Beberapa jenis hormone diperlukan dalam jumlah kecil untuk hemopoesis, seperti:
i. Androgen : berfungsi menstimulasi eritropoesis.
ii. Estrogen : menimbulkan inhibisi eritropoesis.
iii. Glukokortikoid.
iv. Growth hormon
11
v. Hormone tiroid
Dalam regulasi hemopoesis normal terdapat feedback mechanism: suatu mekanisme umpan balik yang dapat merangsang hemopoesisjika tubuh kekurangan komponen darah (positive loop) atau menekan hemapoesis jika tubuh kelebihan komponen darah tertentu (negative loop).11
Karakteristik darah Menurut Desmawati, (2013) karakteristik umum darah meliputi warna, viskositas, pH, volume, dan komposisinya:
1. Warna
Darah arteri bewarna merah muda karena banyak O2 yang berkaitan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena bewarna merah gelap/tua karena kurang O2 dibandingkan dengan darah arteri.
2. Viskositas
Viskositas darah ¾ lebih tinggi dari pada viskositas air yaitu sebesar 1.048- 1.006.
3. pH
pH darah bersifat alkaline dengan pH 7.35-7.45 (netral 7.00).
4. Volume
Pada orang dewasa volume darah sekitar 70-75 ml/kg BB, atau sekitar 4-5 liter.
Secara garis besar dapat dikatakan, bahwa fungsi darah ialah sebagai sarana transpor, alat homeostasis, dan alat pertahanan.
2.5 Komponen Darah
Darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut:
a. Plasma darah Lebih dari separuh bagian dari darah merupakan cairan
12
(plasma), yang sebagian besar mengandung garam-garam terlarut dan protein. Protein utama dalam plasma adalah albumin. Protein lainnya adalah antibodi (immunoglobulin) dan protein pembekuan. Selain itu plasma juga mengandung hormon, elektrolit, lemak, gula, mineral dan vitamin.
b. Butir-butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas:
1. Eritrosit : sel darah merah (SDM) - red blood cell (RBC).
2. Leukosit : sel darah putih (SDP) - white blood cell (WBC).
3. Trombosit : butir pembeku-platelet. Plasma darah dikurangi protein pembekuan darah disebut sebagai serum (Bakta, 2006).
2.5.1 Eritrosit
Eritrosit membawa hemoglobin didalam sirkulasi. Ia merupakan cakram bikonkaf yang dibentuk dalam sumsum tulang. Pada mamalia, ia kehilangan intinya sebelum memasuki sirkulasi. Untuk mengangkut hemoglobin agar berkontak erat dengan jaringan dan agar pertukaran gas berhasil, eritrosit yang berdiameter 8 µm harus dapat secara berulang melalui mikrosirkulasi yang diameter minimumnya 3,5 µm, untuk mempertahankan hemoglobin dalam keadaan tereduksi (ferro) dan untuk mempertahankan keseimbangan osmotik walaupun konsentrasi protein (hemoglobin) tinggi dalam sel. Perjalanan secara keseluruhan selama masa hidupnya yang 120 hari diperkirakan sepanjang 480 km (300 mil). Untuk memenuhi fungsi ini, eritrosit adalah cakram bikonkaf yang fleksibel dengan kemampuan menghasilkan energy sebagai adenosin trifosfat (ATP) melalui jalur glikolisis anaerob (Embden-meyerhof) dan menghasilkan kekuatan pereduksi sebagai NADH melalui jalur ini serta sebagai nikotinamida adenine dinukleotida
13
fosfat tereduksi (NADPH) melalui jalur pintas heksosa monofosfat.12 2.5.2 Eritropoiesis
Pembentukan eritrosit (eritropoiesis) merupakan suatu mekanisme umpan balik. Ia dihambat oleh peningkatan kadar eritrosir bersirkulasi dan dirangsang oleh anemia. Ia juga dirangsang oleh hipoksia dan peningkan aklimatisasi ke tempat tinggi. Eritropoiesis dikendalikan oleh suatu hormon glikoprotein bersirkulasi yang dinamai eritropoietin yang terutama disekresikan oleh ginjal.13
Setiap orang memproduksi sekitar 1012 eritrosit baru tiap hari melalui proses eritropoiesis yang kompleks dan teratur dengan baik. Eritropoiesis berjalan dari sel induk menjadi prekursor eritrosit yang dapat dikenali pertama kali di sumsum tulang, yaitu pronormoblas. Pronormoblas adalah sel besar dengan sitoplasma biru tua, dengan inti ditengah dan nucleoli, serta kromatin yang sedikit menggumpal.
Pronormoblas menyebabkan terbentuknya suatu rangkaian normoblas yang makin kecil melalui sejumlah pembelahan sel. Normoblas ini juga mengandung sejunlah hemoglobin yang makin banyak (yang berwarna merah muda) dalam sitoplasma, warna sitoplasma makin biru pucat sejalan dengan hilangnya RNA dan apparatus yang mensintesis protein, sedangkan kromatin inti menjadi makin padat. Inti akhirnya dikeluarkan dari normoblas lanjut didalam sumsum tulang dan menghasilkan stadium retikulosit yang masih mengandung sedikit RNA ribosom dan masih mampu mensintesis hemoglobin.14
Sel ini sedikit lebih besar daripada eritrosit matur, berada selama 1-2 hari dalam sumsum tulang dan juga beredar di darah tepi selama 1-2 hari sebelum menjadi matur, terutama berada di limpa, saat RNA hilang seluruhnya. Eritrosit matur berwarna merah muda seluruhnya, adlah cakram bikonkaf tak berinti. Satu
14
pronormoblas biasanya menghasilkan 16 eritrosit matur. Sel darah merah berinti (normoblas) tampak dalam darah apabila eritropoiesis terjadi diluar sumsum tulang (eritropoiesis ekstramedular) dan juga terdapat pada beberapa penyakit sumsum tulang. Normoblas tidak ditemukan dalam darah tepi manusia yang normal
2.5.3 Membran Eritrosit
Membran eritrosit terdiri atas lipid dua lapis (lipid bilayer), protein membran integral, dan suatu rangka membrane. Sekitar 50% membran adalah protein, 40% lemak, dan 10 % karbohidrat. Karbohidrat hanya terdapat pada permukaan luar sedangkan protein dapat diperifer atau integral, menembus lipid dua lapis.15
2.6 Hemoglobin
Hemoglobin merupakan bagian dari eritrosit yang terdiri dari komponen heme dan globin. Heme merupakan gabungan protoporfirin dengan besi (Fe), sedangkan globin merupakan protein yang terdiri atas dua rantai alfa dan dua rantai beta.
2.6.1 Fungsi hemoglobin
Fungsi hemoglobin adalah mengangkut O2 dari paru dan dalam peredaran darah untuk dibawa ke jaringan. Ikatan hemoglobin dengan O2 disebut oksihemoglobin (HbO2), satu gram hemoglobin akan bergabung dengan 1,34 ml O2, terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin terkandung dalam satu sel eritrosit.
Disamping O2, hemoglobin juga membawa karbon monoksida dan dengan karbon monoksida membentuk ikatan karbon monoksihemoglobin (HbCO), juga berperan dalam keseimbangan pH darah. Sintesis hemoglobin terjadi selama proses eritropoisis, pematangan sel darah merah akan mempengaruhi fungsi hemoglobin
15
(Desmawati, 2013).
Tugas akhir hemoglobin adalah menyerap karbondioksida dan ion hidrogen serta membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari hemoglobin.
Terdapat paling sedikit 100 jenis molekul hemoglobin abnormal yang diketahui terdapat pada manusia, yang terbentuk akibat berbagai mutasi. Sebagian besar hemoglobin bermutasi karena molekul hemoglobin membawa O2 lebih sedikit dari hemoglobin normal (Nugraha, 2002).
2.6.2 Peningkatan dan penurunan hemoglobin
Peningkatan kadar hemoglobin tergantung oleh lamanya reksia, juga tergantung dari respons individu yang berbeda-beda. Kerja fisik yang berat juga dapat menaikkan kadar hemoglobin, hal ini disebabkan masuknya sejumlah eritrosit yang disimpan di dalam kapiler-kapiler ke peredaran darah atau karena hilangnya plasma (Bakta, 2006).
Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu usia, jenis kelamin, kehamilan, menstruasi, asupan makanan, kebiasaan minum teh atau kopi (dapat menurunkan penyerapan besi), kebiasaan merokok dan penyakit infeksi. Ada beberapa masalah klinis yang menyebabkan penurunan kadar hemoglobin seperti anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian cairan intravena berlebihan dan penyakit atau infeksi kronis, juga pemberian obat-obatan dalam waktu yang lama seperti antibiotika, aspirin, sulfonamide, primaquin, kloroquin
2.6.3 sintesis hemoglobin
Kandungan hemoglobin normal rata-rata 16 g/dl pada pria dan 14 g/dl pada wanita, yang semuanya terdapat dalam eritrosit. Didalam badan pria 70 kg ada sekitar 900 g hemoglobin serta 0,3 g hemoglobin dirusak dan 0,3 g disintesis setiap
16
jam. Bagian hem dari molekul hemoglobin disintesis dari glisin dan suksinil-KoA.21
2.6.4 Katabolisme hemoglobin
Bila eritrosit tua dirusak di dalam system retikuloendotel, maka bagian globin molekul hemoglobin dipecah dan hem diubah ke biliverdin. Pada manusia, kebanyakan biliverdin diubah ke bilirubin dan diekskresikan ke dalam empedu.
Besi dari hem digunakan kembali untuk sintesis hemoglobin; jika darah hilang dari badan dan defisiensi besi tidak dikoreksi, maka timbul anemia defisiensi besi.22 2.6.5 Pemberi Warna Merah Pada Darah
Protein heme berfungsi dalam pengikatan dan pengangkutan O2, serta fotosintesis. Gugus prostetik heme merupakan senyawa tetrapirol siklik, yang jejaring ekstensifnya terdiri atas ikatan rangkap terkonjugasi, yang menyerap cahaya pada ujung bawah spektrum visibel sehingga membuatnya berwarna merah gelap. Senyawa tetrapirol terdiri atas 4 molekul pirol yang dihubungkan dalam cincin planar oleh 4 jembatan metilen-α. Substituen β menentukan bentuk sebagai heme atau senyawa lain. Terdapat 1 atom besi fero (Fe2+) pada pusat cincin planar, yang bila teroksidasi, akan menghancurkan aktivitas biologik.22
Bercak darah merupakan elemen barang bukti yang penting di tempat kejadian perkara (TKP) merupakan barang bukti yang sangat penting.Selain dipergunakan untuk pemeriksaan DNA dan melakukan rekonstruksi kejadian, bercak darah di TKP dapat dipergunakan untuk memperkiraan umur bercak darah yang bermanfaat untuk membuat rentang waktu (time frame)kejadian terjadinya suatu peristiwa pidana.
Pada bercak darah dengan kadar hemoglobin di bawah normal, akan cepat
17
mengalami proses oksidasi, karena oksigen yang terlarut pada hemoglobin lebih sedikit, kemudian didukung oleh berbagai faktor seperti keadaan suhu yang tinggi, kelembaban yang rendah dan paparan sinar matahari akan mempengaruhi cepatnya proses oksidasi. Bila dilihat secara kasat mata, proses perubahan warna ini akan mengalami percepatan dari awal mulanya berwarna merah, menjadi merah kecoklatan, kemudian berwarna coklat gelap, dan sampai akhirnya warna bercak darah tersebut berwarna kehitaman. Maka dari itu, bercak darah yang ditemukan di TKP memiliki kegunaan pada proses penyidikan terutama dalam memperkirakan waktu kejadian tindak kejahatan.4, 10
Bercak darah yang paling sering ditemukan di TKP adalah di lantai. Hal ini disebabkan tetesan darah yang jatuh ke lantai mengikuti arah dari gaya gravitasi bumi. Dalam mengamati bercak darah ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya warna dari lantai. Warna dari lantai memiliki pengaruh bagi pancaran warna bercak darah. Apabila lantai yang berwarna gelap maka pancaran warna bercak darah menjadi sedikit gelap dari warna aslinya, hal sebaliknya juga terjadi pada lantai yang memiliki warna yang terang. Selain itu jumlah dan volume tetesan darah memiliki pengaruh pada warna bercak darah, dikarenakan semakin banyaknya jumlah dan volume tetesan tersebut pada suatu objek, maka tingkat ketebalan permukaan akan semakin tebal menjadikan warna pada bercak darah lebih pekat dibandingkan jumlah dan volume tetesan yang sedikit.
Maka dari itu, dalam mendeskripsikan warna bercak darah, penyidik serta ahli forensik harus mempertimbangkan keadaan-keadaan tersebut, agar warna dari bercak darah yang ditemukan di TKP bisa diinterpretasi dengan baik.7,10
18 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian.
Penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan faktorial time-series design yang mengamati dan menilai perubahan warna bercak darah pada manusia dewasa dengan kadar hemoglobin normal berdasarkan kartu standar warna Natural Color System (NCS)
3.2.1 Tempat Dan Waktu Penelitian.
3.2.2 Tempat penelitian
Dilakukan di lingkungan Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.
3.2.3 Waktu penelitian
Dilakukan dalam periode waktu 10 September 2021-31 Desember 2021.
Tabel 3.1. Waktu Penelitia
KEGIATAN WAKTU PELAKSANAAN
September 2021
Oktober 2021 November 2021 Desember 2021
M
19
3.3 Biaya Penelitian
Tabel 3.2. Biaya Penelitian
No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp)
1 Pembuatan Proposal 1.000.000
2 Alat dan Bahan 2.500.000
3 Seminar Proposal Penelitian 2.500.000
4 ATK 7.000.000
5 Transportasi 2.000.000
6 Seminar Hasil Penelitian 2.000.000
7 Pembuatan Tesis 3 000.000
Jumlah Rp. 20.000.000
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang telah melakukan Medical Chek Up dan bersedia dijadikan objek penelitian.
3.4.2 Sampel
Sampel penelitian adalah semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati dengan kadar haemoglobin dibawah normal dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3.4.2.1 Besar Sampel
Semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati dengan kadar hemoglobin dibawah normal.
3.5 Tehnik Pengambilan Sampel
Sampel penelitian yang diperoleh dari data mahasiswa P3D FK
20
Universitas Malahayati menggunakan metode total sampling.
3.6 Kriteria Penelitian
3.6.1 Kriteria inklusi.
1. Semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang bersedia ikut serta dalam penelitian.
2. Semua mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang berjenis
kelamin laki-laki dengan Hb < 13 gr/dl dan yang berjenis kelamin wanita dengan Hb < 12 gr/dl.
3.6.2 Kriteria eksklusi.
1. Mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang tidak bersedia ikut serta dalam penelitian.
2. Mahasiswa P3D FK Universitas Malahayati yang berjenis kelamin laki-laki dengan Hemoglobin normal
3. Memiliki riwayat penyakit kelainan darah, penyakit-penyakit keganasan dan penyakit-penyakit infeksi lain.
4. Sedang mengkonsumsi obat-obat yang mempengaruhi proses pembentukan sel-sel darah, obat yang mempengaruhi proses pembekuan darah, obat-obat yang merubah viskositas darah dan obat-obat-obat-obat yang menyebabkan kerusakan sel-sel darah.
3.7 Variabel Penelitian
1. Variabel bebas: laki-laki Hb < 13 gr/dl, perempuan Hb < 12 gr/dl 2. Variabel tergantung: warna bercak darah
21
3.8 Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian 3.9 Defenisi Operasional
1. Bercak darah manusia dengan kadar hemoglobin darah dibawah normal adalah dua tetes darah yang diambil dari ujung jari tengah, kemudian diteteskan diatas keramik berwarna putih ukuran 40x40 cm.
2. Waktu yang ditentukan untuk pengamatan adalah jam 1, jam 2, jam ke-3, jam ke-4, jam ke-5, jam ke-6, jam ke-7, jam ke-8, jam ke-10, jam ke-12, jam ke-24, jam ke-48
3. Perubahan warna adalah perubahan pada bercak darah yang diamati sesuai dengan jam yang telah ditentukan, kemudian dibandingkan dengan kartu warna dan diberi kode sesuai dengan kode yang tertera pada kartu warna.
4. Umur bercak darah manusia adalah waktu yang dihitung sejak darah diteteskan hingga terjadi perubahan warna. yang dinilai dalam satuan jam.
Merupakan skala numerik ratio.
5. kadar hemoglobin darah dibawah normal adalah < 13-17 gr/dl, dan < 12-14 Waktu
Warna
Umur bercak darah Bercak Darah
22
gr/dl yang tertera pada lembar hasil medical checkup.
6. Alat pembanding warna yang digunakan adalah kartu warna Natural Color System (NCS) yang dikeluarkan oleh Scandinavian Colour Institute (SCI) of Stockholm, Sweden. Kartu ini pertama sekali di terbitkan oleh A.S. Forsius dalam bukunya yang berjudul Physica pada tahun 1611. Kartu ini kemudian disempurnakan oleh seorang ahli Fisiologis Jerman yang bernama Ewald Hering. Kartu warna ini berlaku secara internasional, dengan menggunakan kode-kode tertentu untuk tiap warna. Skala yang dipakai adalah kategorikal nominal.
3.10 Alat dan Bahan Penelitian 3.10.1 Alat
1. Lembaran hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh subjek penelitian.
2. Jam 3. Lancet
4. Keramik warna putih ukuran 30 x 30 cm.
5. Alat pengukur suhu ruangan.
6. Kartu warna Natural Colour System (NCS) 3.10.2 Bahan
Dua tetes darah subjek penelitian.
3.11 Cara Kerja
1. Pengumpulan data subjek penelitian dilakukan meliputi : nama, umur, jenis kelamin, alamat.
2. Pengecekan terhadap hasil pemeriksaan kesehatan subjek penelitian secara
23
menyeluruh yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3. Mengambil darah subjek penelitian dari ujung jari tengah dengan cara menusuk kulit dengan lancet dari ujung jari tengah sebanyak dua tetes dengan cara menusuk kulit dengan lancet, meneteskan diatas keramik dan membandingkan perubahan warna yang terjadi pada jam ke-1, jam ke-2, jam 3, jam 4, jam 5, jam 6, jam 7, jam 8, jam 10, jam ke-12, jam ke-24, jam ke-48, dengan menggunakan alat penelitian.
4. Suhu ruangan selama melakukan pengamatan 25˚C
5. Menentukan warna yang terjadi sesuai dengan waktu (jam) yang telah ditentukan berdasarkan persentase jumlah warna yang paling banyak muncul.
3.12 Pengolahan dan Analisa data
1. Editing
Memeriksa ketepatan dan kelengkapan semua data yang diperoleh. Data yang belum lengkap atau ada kesalahan dilengkapi dengan mewawancarai ulang subjek penelitian.
2. Coding
Data yang telah terkumpul dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode secara manual sebelum diolah dengan computer.
3. Entri
Memasukkan data yang telah dibersihkan kedalam program computer.
4. Cleaning Data
Memeriksa semua data yang telah dimasukkan kedalam program computer agar tidak terjadi kesalahan dalam pemasukan data.
24
5. Saving
Menyimpan data untuk siap dianalisis.
6. Analisis Data
Data dianalisis dan disajikan dalam tabel persentase frekwensi.
3.13 Ethical Clearance
Penelitian ini akan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara Medan dengan PERSETUJUAN PELAKSANAAN PENELITIAN KESEHATAN No 1197/KEP/USU/2021.
25 BAB IV
HASIL
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung merupakan salah satu Fakultas Kedokteran pada Universitas swasta di provinsi Bandar Lampung yang berdiri sejak tahun 1994 terletak di jalan Pramuka no 27 Bandar Lampung. Mahasiswa P3D P3D FK Universitas Malahayati merupakan mahasiswa yang sudah mendapat gelar Sarjana Kedokteran dan melakukan praktek kepaniteran klinik selama 2 tahun salah satunya di Rumah sakit dikota Medan yang di kordinator oleh ketua Koordniator Perwakilan Medan.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Distribusi frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok jenis kelamin Berdasarkan penelitian yang dilakukan sejak tanggal 23 Oktober 2021 sampai dengan 23 Desember 2021 diperoleh hasil dengan rincian sebagai berikut:
didapatkan kelompok jenis kelamin laki-laki sebanyak 11 sampel dan jenis kelamin perempuan sebanyak 19 sampel.
Gambar 4.2.1 Diagram distribusi frekuensi mahasiswa P3D kelompok jenis kelamin
11 19
0 20 40 60 80 100
Laki-laki Perempuan
Jenis Kelamin Sampel
Laki-laki Perempuan
26
4.2.2 Distribusi frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok kadar HB Distribusi Frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok kadar hemoglobin didapatkan kelompok hemoglobin 9-9,9 sebanyak 2 sampel, kelompok hemoglobin 10-10,9 sebanyak 5 sampel, kelompok hemoglobin 11-11,9 sebanyak 11, sedangkan kelompok hemoglobin 12-12,9 sebanyak 12 sampel.
Gambar 4.2.2 Diagram distribusi frekuensi mahasiswa P3D pada kelompok kadar HB
4.2.3 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-1
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-1 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-1 adalah NCS S 1580-R sebanyak 25 Sampel dan NCS S 2570-1580-R sebanyak 5 Sampel.
Ganbar 4.2.3 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-1
2 5
NCS S 1580-R NCS S 2570-R
JUmlah
Kode warna
Jam ke 1
27
4.2.4 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-2
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-2 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-2 adalah NCS S 3560-R sebanyak 22 sampel dan NCS S 2570-3560-R sebanyak 8 sampel.
Ganbar 4.2.4 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -2
4.2.5 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-3
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Berak Darah pada Jam ke-3 Didapatkan kode warna yang muncul pada jam ke-3 adalah NCS S 4550-Y90R sebanyak 30 sampel.
Ganbar 4.2.5 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -3
8
NCS S 2570-R NCS S 3560-R
Jumlah
28
4.2.6 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-4
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-4 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-4 adalah NCS S 4550-Y90R sebanyak 30 sampel.
Ganbar 4.2.6 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -4
4.2.7 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-5
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-5 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-5 adalah NCS S 8010-R10B sebanyak 25 sampel dan NCS S 5040-8010-R10B sebanyak 5 sampel.
Ganbar 4.2.7 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -5
30
29
4.2.8 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-6
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-6 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-6 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.
Ganbar 4.2.8 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-6
4.2.9 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-7
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-7 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-7 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.
Ganbar 4.2.9 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke -7
26
30
4.2.10 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-8
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-8 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-8 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.
Ganbar 4.2.10 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke- 8
4.2.11 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-9
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-9 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-9 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.
Ganbar 4.2.11 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke- 9
26
31
4.2.12 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-10
Distribusi Frekuensi kode warna Warna Bercak Darah pada Jam ke-10 Didapatkan kode warna yang dominan muncul pada jam ke-10 adalah NCS S 8502- R10 sebanyak 26 sampel dan NCS S 8010-R10B sebanyak 4 sampel.
Ganbar 4.2.12 Diagram distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke 10
4.2.13 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-11
4.2.13 Distribusi frekuensi kode warna bercak darah pada jam ke-11